Arsel seorang pengangguran spesialis pembobol kotak amal, suatu hari saat dia dikejar masa ia tersambar petir dan tersadar di dunia berbeda dimana sihir dan pedang berada.
Sejak itu petualangan yang penuh berbahaya harus dilaluinya untuk bisa bertahan hidup di dunia sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 : Bertemu Pemilik Wilayah
Hari ini aku dan Emi pergi ke sebuah kota di wilayah iblis, tidak seperti biasanya aku dan Emi mengenakan baju formal seperti pegawai kantoran. Emi bahkan memakai kacamata berbingkai untuk membuatnya lebih intelektual, dengan tubuhnya yang telah berubah menjadi wanita dewasa akan sulit mengenalinya.
Sekilas kami seperti seorang birokrat atau sebagainya. Singkatnya kami sudah menerima uang dari guild dan sekarang kami akan melangkah lebih jauh untuk membuat sebuah negara.
Emi menggunakan sihir teleportasi hingga kami berdua muncul di tempat lokasi di mana bangunan di sini tidak jauh berbeda dari bangunan manusia hanya saja semuanya diisi oleh ras iblis.
Aku seorang manusia tapi sepertinya mereka tidak berniat menyerangku secara tiba-tiba, mereka hanya mengawasiku sampai akhirnya aku berhenti di sebuah mansion mewah.
Di sana seorang pelayan menyambut kami lalu mengarahkan kami keruangan pribadi dimana seorang yang menyambutku selanjutnya adalah wanita berambut merah muda sebahu dengan gaun panjang terbuka dengan warna serupa, dan hampir tidak menyembunyikan seluruh bagian dadanya serta punggungnya.
Ia sekilas mirip iblis namun sejujurnya dia merupakan seekor naga, tanduknya menegaskan hal itu.
"Kalian akhirnya datang juga, biar aku perkenalkan namaku... akulah Helen, aku pemilik wilayah ini," dia mengatakannya selagi menepuk dadanya.
Itu bergoyang dengan sempurna.
Aku sudah menikah jadi aku tahu bagaimana rasanya saat menyentuhnya jadi tidak membuatku tertarik lagi.
Dia bangsawan di wilayah iblis yang memiliki wilayah yang ingin aku beli seutuhnya.
"Silahkan duduk, dan tolong buat minuman untuk keduanya."
"Saya mengerti."
Kami menerimanya lalu duduk saling berhadapan meskipun aku tidak tahu harus melihat kemana karena posisi kami hanya dipisahkan oleh meja kecil.
Aku berusaha membuat situasinya senatural mungkin.
"Aku sudah mendengarnya, kalian telah datang kemari untuk menanyakan soal pembelian wilayahku namun aku selalu tidak ada di tempat, aku minta maaf soal itu."
"Tidak apa, sebelumnya kami akan memperkenalkan diri dulu.. aku Arsel dan ini Emi seperti yang kami ungkapkan kami ingin membeli tanah Anda, kudengar anda malah mengosongkannya karena beberapa alasan."
"Benar, tanah di sana sangat tandus dan juga sangat dekat dengan perbatasan manusia... itu sangat buruk jika mereka tiba-tiba menyerang kami, aku mengatakannya pada raja iblis yang baru dan ia bilang aku bisa menjualnya ke siapapun jika ada seseorang yang menginginkannya."
"Raja iblis yang baru?" aku berpura-pura bodoh untuk mencoba sedikit menggali informasi.
"Ah yah, raja sebelumnya dikatakan telah terbunuh oleh manusia dan raja iblis yang baru dinobatkan dan mulai mencoba balas dendam dengan sebuah peperangan... padahal raja iblis sebelumnya sangat tidak menginginkan hal ini terjadi benar-benar ironi."
Jadi itu rencananya, dia membuat seolah manusia yang telah bersalah dalam hal ini.
Sungguh ironi karena sebenarnya raja iblis yang dia maksud ada di sebelahku dan dengan senang meminum teh yang baru ditaruh di meja.
Aku pun mengikutinya untuk membuat tempo dalam pembicaraan.
"Aku manusia apa tidak apa jika menjualnya padaku?"
"Tentu saja tidak masalah jika kamu mau memenuhi beberapa persyaratan, kalian bilang ingin membuat wilayah bukan.. kami akan senang bahwa sebagian penduduknya adalah berasal dari ras kami."
Ini mungkin sebuah antisipasi bahwa kami tidak berniat menyerang ras iblis nantinya. Namun aku sudah memiliki jawaban untuk itu.
"Jangan khawatir, kami tidak berada di kubu manusia atau iblis yang kami buat adalah negara netral tanpa memihak peperangan tentu jika seseorang mencoba menyentuh kami, kami juga tidak akan diam."
Aku menambahkan ancaman diakhir jika di masa depan nanti ada yang mencoba merebut negara kami, kami akan langsung berperang.
Ekpresi Helen tersenyum lebar memberikan rasa ketertarikannya.
"Dengan kata lain negara yang ingin kau bangun akan dihuni beberapa ras."
"Benar, aku tidak keberatan ras naga juga untuk tinggal nantinya... akan senang ada ras yang kuat bergabung."
"Hoh, aku ini ratu naga loh.. aku tidak bisa mengabulkan hal itu ada aturan kuat di ras kami. Tapi jika kau bisa mengalahkanku dan membuatku melayanimu mungkin kau bisa melakukannya."
Aku tidak cukup bodoh untuk menantang naga dalam kondisiku seperti ini, tapi jika aku bisa menariknya dalam kubuku itu adalah hal sangat menguntungkan.
"Aku tidak keberatan untuk keluar dari ras iblis loh."
"Dengan kekuatanku yang sekarang sangat sulit tapi bisakah aku meminta waktu."
Mendapati perkataanku Helen tertawa.