Adiyanto Prasetyo, psikiater muda berprestasi. Ia dijuluki 'Dokter Cinta' karena metode pengobatannya yang unik, yaitu menggunakan 'CINTA' sebagai medianya. Ia ahli dalam melakukan pendekatan emosional dengan pasiennya, dan hampir semua pasiennya dapat sembuh dengan metode yang ia terapkan tersebut.
Meskipun ia ahli dalam 'percintaannya' dengan para pasien, namun ternyata Ia masih terjerat dengan kisah masa lalunya yang menyisakan kenangan buruk untuknya, bahkan karena hal itu akhirnya ia tidak bisa menjalin hubungan dengan wanita lainnya.
Suatu ketika ia dipertemukan kembali dengan wanita 'masa lalu'-nya dalam sebuah pekerjaan. Ia merasa sangat bahagia dan berharap untuk bisa bersamanya menata masa depan, namun wanita itu memberikan persyaratan untuknya, jika ia mampu menyembuhkan seorang pasien 'spesial' maka mereka bisa bersama di masa depan.
Mampukah 'Dokter Cinta' menyembuhkannya dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya? Ataukah ada takdir lain yang akan terjadi di hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Empat
Dokter Adi memarkirkan mobilnya di tempat pertama kali ia memarkirkan mobilnya ketika akan ke rumah Lia.
"Yang mana rumah Lia?" tanya suster Rina sambil memperhatikan lingkungan yang ada di sekitarnya.
"Rumah Lia masih jalan lagi ke dalam, mobil tidak bisa masuk ke sana." terang dokter Adi.
Ketika hendak membuka pintu mobil, dokter Adi menahan tangan suster Rina. Suster Rina tersentak dan menoleh ke arah dokter Adi.
"Dua orang di warung itu pelakunya." ucap dokter Adi pelan. Suster Rina terkejut, ia segera menoleh ke arah dua orang yang tampak sedang bersenda gurau di warung dekat dokter Adi memarkirkan mobilnya.
"Pelakunya dua orang?" tanya suster Rina. Dokter Adi menggeleng, lalu ia mengangkat tangannya dan menunjukkan kelima jarinya, ia memberi kode kalau pelakunya ada 5 orang.
"Hah?!" Suster Rina tampak sangat terkejut. Dokter Adi mengangguk pelan. Suster Rina kembali memperhatikan kedua orang itu dengan seksama.
"Mereka masih bisa hidup normal seperti itu." ucap dokter Adi.
Dokter Adi, suster Rina, dan Dina turun dari mobil. Kedua pelaku pelecehan Lia itu memperhatikan mereka.
"Eh, pak dokter kan ya?!" seru pria yang kehilangan 3 jarinya.
"Iya, mas!" sahut dokter Adi. Dengan terpaksa dokter Adi, suster Rina, dan Dina menghentikan langkah mereka untuk sejenak meladeni pertanyaan para pelaku itu.
"Mau ketemu pak Tanto lagi ya pak dokter?!" tanyanya lagi.
"Iya." jawab dokter Adi singkat.
"Kak Lia-nya kapan pulang, pak dokter?" tanya pria dengan luka di pipinya menyambung obrolan temannya.
"Sebentar lagi." ucap dokter Adi penuh keyakinan. Suster Rina melirik ke arah dokter Adi.
"Waaah seru nih!" sambung pria yang bertubuh paling besar itu.
"Kenapa mas?" tanya dokter Adi meminta penjelasan atas ucapan pria itu.
"Sudah lama desa ini kehilangan pesonanya!" terang pria itu. Ia tertawa keras bersama temannya itu.
"Iya, pak dokter! Kami sudah lama merindukan kak Lia!" tambah pria dengan luka di pipi. Dokter Adi merasa sangat geram dengan ucapan para pelaku itu, tangannya sudah terkepal dengan kuat, tapi ia tidak mau mencari masalah jadi ia menyembunyikan di belakang tubuhnya. Suster Rina memperhatikan sikap dokter Adi itu.
"Oh begitu. Banyak juga ya fans Lia." ledek dokter Adi, ia tersenyum pada kedua pelaku itu tapi karena perasaan geramnya senyum itu terlihat sinis.
"Oke kalau begitu kami lanjut dulu mas!" pamit dokter Adi.
"Oh iya pak dokter, silahkan!" sahut kedua pelaku secara bersamaan.
Dokter Adi, suster Rina, dan Dina kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Lia.
"Ini rumah Lia." ucap dokter Adi begitu tiba di depan rumah Lia. Suster Rina mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dokter Adi mengetuk pintu utama rumah itu, dan tidak lama kemudian munculah ibu Tanto dari balik pintu.
"Pak dokter! Mari masuk!" seru Ibu Tanto.
"Selamat pagi, bu." sapa dokter Adi ramah. Dokter Adi, suster Rina, dan Dina duduk di kursi yang ada di ruang tamu, sementara itu ibu Tanto memanggilkan pak Tanto. Suster Rina dan Dina memperhatikan setiap sisi ruangan itu.
"Itu yang namanya Lia ya ma?" tanya Dina dengan suara berbisik sambil menunjuk ke foto Lia yang tergantung di dinding.
"Iya. Cantik, kan?!" puji suster Rina.
"Iya." ucap Dina sambil menganggukkan kepalanya.
"Dina tahu tentang Lia?" tanya dokter Adi kepada suster Rina. Suster Rina mengangguk.
"Iya, Dina tahu. Aku sering menceritakan tentang Lia kepadanya." jawab suster Rina.
"Selamat pagi, pak dokter!" seru pak Tanto yang baru saja muncul.
"Selamat pagi, pak!" sahut dokter Adi. Mereka saling berjabat tangan.
"Perkenalkan pak, ini suster Rina! Dia yang merawat Lia dari awal Lia masuk di rumah sakit." Dokter Adi memperkenalkan suster Rina kepada pak Tanto.
"Terima kasih banyak suster sudah merawat putri kami selama ini." seru pak Tanto.
"Sudah kewajiban saya untuk merawat Lia dengan baik, pak." ucap suster Rina. Pak Tanto dan suster Rina saling berjabat tangan.
"Lalu adek ini?" tanya pak Tanto.
"Oh ini putri saya pak." aku suster Rina.
"Iya pak. Kebetulan kami mau ada urusan bersama jadi saya ajak mereka ikut sebentar ke sini karena ada yang mau saya sampaikan sebentar dengan bapak." terang dokter Adi.
"Saya pikir ini tadi istri dan anak pak dokter." seru pak Tanto.
"Mungkin suatu saat jadi seperti itu pak!" Semuanya tertawa, mereka menganggapnya seperti sebuah candaan padahal dokter Adi mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Suster Rina tersipu.
"Oh iya tadi pak dokter bilang mau ada yang disampaikan dengan saya, apa ya pak dokter?" tanya pak Tanto.
"Saya datang kemari untuk mengundang bapak dan ibu mengunjungi Lia di rumah sakit." terang dokter Adi.
"Apa bapak dan ibu bisa bertemu dengan Lia hari senin besok?" tanya dokter Adi.
"Bisa, pak dokter!" jawab pak Tanto dengan penuh keyakinan.
"Tapi, apa Lia akan baik-baik saja kalau kami datang ke sana?" tanya pak Tanto. Sesaat pak Tanto tampak meragu.
"Justru di sini saya mau menguji, apakah Lia memang sudah mengalami kemajuan atau tidak. Pertemuan bapak-ibu dengan Lia nanti akan banyak membantu proses penyembuhan Lia." terang dokter Adi.
"Bapak mau membantu saya, kan?!" tanya dokter Adi.
"Mau, pak dokter! Kalau semuanya demi kesembuhan putri kami, apapun akan kami lakukan!" seru pak Tanto. Matanya tampak berkaca-kaca.
...
"Aku sangat berharap rencana pertemuan Lia dengan keluarganya ini dapat berjalan lancar." ucap dokter Adi pelan tanpa mengalihkan pandanganya dari jalanan yang ada di hadapannya. Suster Rina menatap dokter Adi dengan seksama.
"Kalau ini berhasil aku berencana untuk membawa Lia ke lingkungan rumahnya." Dokter Adi membenarkan genggaman tangannya pada setir mobilnya.
"Apa Lia akan baik-baik saja?" tanya suster Rina. Suster Rina terus menatap dokter Adi.
"Pasti akan terjadi sesuatu pada Lia, tapi kita perlu membiasakan Lia kembali pada kehidupan normal di luar rumah sakit." terang dokter Adi.
"Kenapa kita tidak membawa Lia ke tempat lain saja bukan ke lingkungan rumahnya? Akan sangat menyakitkan untuk Lia kalau dia melihat para pelakunya lagi." tukas suster Rina. Dokter Adi menghela nafasnya.
"Iya, kamu benar! Pasti akan sangat menyakitkan untuknya, tapi kalau Lia mau sembuh, dia harus menang melawan rasa sakitnya itu." Ekspresi dokter Adi berubah menjadi sangat serius. Dokter Adi terdiam sejenak, matanya terus menatap lurus ke depan, tapi sesaat kemudian perlahan ia mengalihkan pandangannya ke suster Rina yang sedari tadi menatapnya. Mereka saling menatap sejenak.
"Kamu yang tahu dengan pasti bagaimana rasa sakit itu, tapi bukankah yang terbaik adalah melawannya?" tanya dokter Adi pelan. Suster Rina mengangguk pelan.
"Lia beruntung ada kamu di sisinya." ucap suster Rina dengan suara berbisik.
...
Jangan lupa like di setiap episodenya, vote, dan share ya supaya lebih banyak yang baca cerita ini..
Dukungan darimu sangat berarti untukku.. ❤
Terima kasih 😘🤗🥰
Salah satunya adalah:
Karakter dan sifat seseorang bisa dibentuk karena orang lain.
benci dokter Adi 😡