Rumah tangga diibaratkan sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas! Dimana suami sebagai nahkodanya, sementara isteri dan anak berperan sebagai penumpangnya. Nahkoda bertugas mengemudikan perahu agar perahu bisa sampai ditujuan dengan selamat, sementara penumpang akan mengikuti kemanapun perahu itu berlayar.
Terkadang dalam perjalanan berlayar kita dibuat bahagia dengan keindahan di lautan, angin sepoi-sepoi dan ikan-ikan yang berenang di lautan menjadi kebahagiaan yang akan kita dapatkan selama berlayar.
Lalu bagaimana jika ditengah perjalanan perahu dihadapkan dengan hantaman keras gelombang ombak dan juga badai di lautan?
Sama halnya dengan rumah tangga, gelombang ombak bisa kita artikan pihak ketiga atau wanita idaman lain.
Perahu akan bisa bertahan dari terjangan badai dan ombak besar, jika nahkoda sekuat tenaga mempertahankan kemudinya agar tetap seimbang, meski dihantam ombak dahsyat sekalipun. Tapi jika nahkoda memutuskan untuk tidak mempertahankan kemudi perahunya.
Maka yang akan terjadi adalah! Badan perahu akan retak lalu perlahan akan dimasuki oleh debit air laut yang semakin lama akan semakin menenggelamkan perahu hingga membuat PERAHU KARAM.
Begitu juga dengan rumah tangga, jika ditengah perjalanan dalam kehidupan berumahtangga, seorang suami tidak bisa tahan dengan godaan dari wanita lain, dan tidak mau mempertahankan pernikahannya!
Membiarkan wanita idaman lain untuk terus memasuki kehidupan rumah tangganya.
Maka yang akan terjadi adalah pernikahan itu akan hancur dan berujung dengan perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sepanjang perjalanan, Dimasta begitu gelisah dengan keputusan pengadilan nanti. Tapi Suci selalu menenangkannya setiap saat, Suci pun selalu menemani Dimasta saat persidangan kemarin-kemarin.
Qiara yang sudah lebih dulu sampai di pengadilan, merasakan kegelisahan yang sama seperti yang dirasakan Dimasta, meskipun Darren sudah menjamin bahwa Qiara akan memenangkan gugatan! Tapi tetap saja, gelisah tak tenang adalah sikap manusiawi.
"Aduh Qi, udah duduk napa! Sidang Lo kan masih setengah jam lagi," kata Nadine.
"Iya Qia, Papah percaya sama nak Darren dia pasti bisa buktikan ucapannya!" kata Papahnya Qiara.
"Mamah kemana Pah? Kok dia engga ikut kesini?" tanya Qiara.
"Mamahmu lagi arisan kalung diamond! Nanti katanya abis itu dia mau ke rumah nemenin si kembar, ga mau dia kesini!" kata Papahnya Qiara.
"Huhhhh, oke oke tenang!" kata Qiara.
Tak lama Darren datang bersama dengan akuntan dari perusahaan Qiara! Sehari sebelum sidang terakhir ini, Darren memang meminta penjelasan Qiara terkait seluruh aset, yang dimiliki dan sumber dari aset tersebut, agar bisa dipelajari lebih terperinci oleh Darren.
"Bang Lo darimana aja si? Qiara demam panggung nih bang!" kata Nadine.
"Emangnya gue mau nyanyi apa Nad," kata Qiara.
"Siang Bu Qia," sapa tenaga akuntan dari MQ. Entertainment itu.
"Siang Bu Devi! Maaf ya saya jadi merepotkan," kata Qiara.
"Engga Bu, tidak apa-apa saya senang bisa membantu," kata tenaga akuntan tersebut.
Meskipun Qiara masih tidak mengerti mengapa Darren sampai meminta orang akuntan perusahaannya untuk ikut dipersidangan.
Tak lama Dimasta, Suci dan pengacaranya tiba di pengadilan! Dimasta sangat kesal terhadap Qiara, karena telah membeberkan bukti-bukti yang akan membuatnya kalah dipersidangan ini.
Dimasta dan Suci enggan menyapa Qiara, padahal Qiara dan Darren sudah menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. Akhirnya sidang terakhir segera dimulai.
Hakim pun sudah memasuki ruang sidang, disusul oleh Qiara dan yang lainya. Qiara duduk didepan hakim bersanding dengan Dimasta sama ketika keduanya duduk bersanding di pelaminan! Hanya saja kini keduanya duduk berjauhan dengan perasaan yang sangat berbeda ketika duduk di pelaminan dulu.
Hakim pun memulai persidangannya!
Setelah menerima dan menimbang dengan bukti-bukti yang telah diberikan oleh pihak Qiara.
"Dengan ini saya putuskan! Bahwa saudari Marry Qiara dan saudara Dimasta Bagaskara telah resmi bercerai. Adapun hak asuk dari anak-anak jatuh pada saudari Qiara, serta hakim memutuskan bahwa pembagian harta gono-gini sebesar 90 persen jatuh pada saudari Qiara. Dengan nafkah wajib yang akan ditanggung oleh saudara Dimasta setiap bulannya, sebesar 40 juta wajib diberikan untuk anak-anak saudari Qiara." kata Hakim.
Tok, tok, tok. Hakim telah mengetuk palu tanda disahkannya seluruh gugatan Qiara terhadap Dimasta.
Degg,, jantung Dimasta mendadak sakit mendengar putusan hakim. Putusan ini sangat jauh dengan apa yang dikatakan pengacaranya, tentang Dimasta akan memperoleh harta sebesar 35 persen, namun kenapa di sidang terakhir ini Dimasta justru hanya mendapatkan harta sebesar 10 persen saja, apalagi dengan nafkah wajib yang harus dia bayarkan setiap bulannya sebesar itu.
Ekspresi bahagia dan tangis haru kini dirasakan oleh Qiara, serta orang-orang yang telah mendukung dan mensupportnya sampai sejauh ini. Qiara pun tersenyum kearah Darren, dan untuk pertama kalinya Darren membalas senyuman Qiara dengan begitu manis.
"Keberatan Pak Hakim! Atas dasar apa klien saya hanya menerima harta Gono gini sebesar 10 persen saja?" tanya pengacara.
Tenaga akuntan perusahaan Qiara pun maju untuk menambah berkas yang diperlukan hakim untuk menjelaskan tentang keberatan Dimasta dan pengacaranya.
Hakim menjelaskan bahwasanya, MQ. Entertainment adalah perusahaan yang semula dibentuk sebelum pernikahan Qiara dan Dimasta digelar, dan juga atas aliran dana dari Papahnya Qiara, sehingga harta atau saham di perusahaan tersebut termasuk dalam harta bawaan pra nikah milik Qiara dan keluarganya.
Dimasta pun melirik tajam kearah Darren. Sumpah demi apapun Dimasta baru kali ini menemukan pengacara seperti Darren yang mampu mengupas tuntas sampai ke akar-akarnya begini. Bisa apa Dimasta dengan harta hanya 10 persen saja! Otomatis jabatannya di perusahaan akan diambil oleh Qiara, dan dengan mudah Qiara bisa memutuskan untuk memecatnya dan memberikan dana 10 persen itu agar Dimasta pergi dari perusahaan itu.
Qiara bangkit dari kursi dan memberikan salaman terakhir pada Dimasta! Namun Dimasta yang sudah sangat dirugikan oleh keputusan hakim, tak mau membalas jabatan tangan Qiara terhadapnya. Dimasta menatap Qiara dengan penuh kebencian.
"Puas kamu Qiara? Setelah ini apalagi yang akan kamu perbuat terhadap aku? Kamu ingat Qiara, aku ini adalah Papih dari anak-anak kamu, masa depanku hancur itu berarti masa depan anak-anak kita juga tidak baik-baik saja," kata Dimasta.
"Masa depan kamu hancur! Minta bantu dong sama kekasih kamu mas, ga usah panik gitu! Dan gak usah repot-repot mikirin anak-anak, aku sangat bisa kok untuk mengurus mereka dan masa depan mereka," kata Qiara, lalu pergi dari hadapan Dimasta.
Kemenangan Qiara disambut oleh pelukan hangat Papah dan sahabatnya Nadine, sementara Darren justru hanya tertunduk dihadapan Qiara. Mereka keluar dari ruang sidang.
"Bang Darren! Terimakasih banyak ya, ini benar-benar diluar ekspektasi aku bang! Ga nyangka banget ini jauh melebihi bang," kata Qiara dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi!" kata Darren, yang langsung berjalan hendak meninggalkan Qiara.
"Ettttt, ettt! Mau kemana abangku sayang," kata Nadine yang menarik kerah belakang kemeja Darren.
"Apa si de! Abang mau balik ke kantor!" kata Darren.
"Enak aja! Pokoknya kita wajib nih buat merayakan kemenangan Qiara! Makan-makan bareng gitu," kata Nadine.
"Nah iya betul itu Papah setuju Qia! Masa nak Darren sudah membantu banyak, pergi gitu aja!" kata Papahnya Qiara.
"Nah bener kan Om! Nih sama Bu Devi juga dia kan berjasa membuatkan laporan keuangan tentang dana perusahaan sampai si Dimas itu gigit jari kaya sekarang Qi," kata Nadine.
Belum sempat Qiara menjawab pertanyaan Nadine. Terdengar teriakan dari dalam ruangan sidang, dimana didalam sana hanya tinggal Dimasta dan Suci saja.
Aaaaaaaa...
"Sial-sial! Breng sek!" teriak Dimasta sambil memukul-mukul kursi.
"Mas udah dong! Kamu harus sabar," kata Suci.
"Sabar? Sabar kamu bilang? Aku kehilangan jabatanku di kantor! Aku kehilangan harta segitu banyaknya! Dan aku kehilangan hak asuh anak-anakku! Kamu bilang aku harus sabar?" teriak Dimasta yang tak lagi bisa membendung emosinya yang menyeruak keluar, sehingga membuat Suci menjadi sasaran amukannya.
❤️❤️❤️
Makasih banyak-banyak buat semua yang masih setia baca novel ini! Atas Like kalian, komen sampai rame banget! Pokoknya ikutin terus ceritanya sampai nanti tamat ya Mak😁
memang ya pelakor semakin di depan
cerita enak' di baca
pisah adalah jalan yang terbaik.
yang menabur benih kejahatan dia juga yang menuai hasilnya siapa yg berselingkuh dia juga yg nemuin kehancuran dihidupnya.