Bagaimana jadinya kalau kau yang menjadi pelampiasan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akan melahirkan
Sejak satu jam yang lalu, Lisa hanya bisa memandangi Rayhan yang bekerja keras di rumahnya. Mulai dari menyapu, membersihkan halaman serta mencuci pakaiannya. Wanita itu mendesah pasrah, Rayhan tidak bisa dihentikan. Pria itu tampaknya kecanduan membantunya.
Sejujurnya Lisa sangat bersyukur Rayhan telah banyak berubah banyak, tetapi masih ada hal yang mengganjal di hatinya. Ia takut kalau ini semua hanyalah mimpi indahnya.
"Apa kau harus pergi ke pasar? Lisa, biar aku saja yang pergi. Kau beristirahatlah di rumah. Berikan saja catatan bahan makanan yang ingin kau beli.”
Kali ini pria itu memaksa ingin berbelanja ke pasar, tetapi Lisa tidak mengizinkannya. Ia ingin bergerak atau berjalan sesering mungkin agar saat persalinan nanti tidak kesulitan.
"Tidak mau! Aku harus berjalan sesering mungkin, Rayhan!" tegas Lisa membuat pria itu tidak berkutik. Rayhan hanya bisa menjaga wanita itu dengan berjalan di belakangnya.
Hari persalinan Lisa semakin dekat, dapat dilihat dari cara berjalan wanita itu. Rayhan memperhatikannya. Wanita itu lebih mudah lelah dan sering mengeluh kalau anak di dalam perutnya sering menendang-nendang. Pria itu sering menyembunyikan matanya jika mendengar perkataan Lisa. Ia tidak ingin Lisa melihat matanya yang berkaca-kaca penuh haru.
Lisa sesekali menoleh ke belakang, ia tahu kalau Rayhan tidak akan pernah meninggalkannya. Saat pandangan mereka bertemu, pria itu memberikannya senyuman terbaik yang dia miliki. Terang saja wajah Lisa merona dibuatnya. Tidak dapat disangkal kalau ia gugup. Untuk itu Lisa kembali menghadap ke depan dan sedikit mempercepat jalannya. Ia menahan senyumnya sendiri.
Sampai di luar gang, ada sesuatu yang menarik perhatian Rayhan. Matanya tiba-tiba tidak berkedip melihat sesuatu yang baru melintas di depannya dengan kecepatan rendah.
Mobilnya.
Tak salah lagi, ia baru saja melihat mobilnya yang hilang melintas di jalan raya.
Rayhan berdiri kaku seraya menatap tajam mobilnya, melaju semakin lambat hingga akhirnya berhenti di halte dekat pasar.
Tanpa memberitahu Lisa, Rayhan segera berlari ke arah halte. Kakinya semakin cepat melompat ketika melihat seorang pria bertubuh lebih besar darinya turun dari mobil itu, lalu berbicara dengan beberapa pria lainnya yang tadi menunggu di halte. Salah satu pria menunggu di halte tersebut melihat-lihat kondisi mobil.
Apa yang mereka lakukan? Apa mereka sedang melakukan transaksi pembelian mobilku? Tidak akan aku biarkan, batin Rayhan.
Pria-pria itu adalah preman yang sering mencuri mobil orang-orang asing di desa ini. Mereka memereteli mesin mobilnya terlebih dahulu baru setelah itu menjualnya, dan itulah yang sedang terjadi pada Rayhan. Kemudian yang lebih mengherankan, sepertinya polisi-polisi di wilayah ini seolah menutup mata dan telinga atas kejadian perbuatan kriminal mereka.
***
Lisa merasakan kepergian Rayhan ketika ia melintasi jalan dan tidak melihat pria itu lagi. Wanita itu memutar kepalanya, mencari-cari sosok Rayhan.
Ke mana perginya pria itu? Ada rasa kehilangan di hatinya setiap kali Rayhan menghilang dari pandangannya.
Akhirnya, Lisa melihat Rayhan kini tengah berada di dekat halte. Memperhatikan sekelompok pria yang sedang berbincang dan tertawa. Wanita itu bisa melihat kedua tangan pria itu mengepal. Ia pun mengernyit, apa yang sedang dilakukan Rayhan di sana?
Karena penasaran, Lisa mengurungkan niat untuk masuk ke dalam pasar. Ia ingin melihat apa yang akan dilakukan pria itu terlebih dahulu.
Di tempatnya, Rayhan mengawasi sekelompok preman dari jarak dekat. Mereka mungkin tidak mengenalinya, tetapi Rayhan yakin kalau mobil berwarna hitam itu miliknya.
Pria itu pun berjalan mendekat dan bersikap seperti orang biasa untuk mendengarkan percakapan mereka.
"Hahaha! Kau yakin kondisinya masih bagus, Rio? Aku tidak ingin membeli mobil yang sudah rongsokan!"
"Rongsokan katamu?! Kau bisa lihat sendiri betapa mulusnya mobil ini! Aku mendapatkannya dengan susah payah. Kau tahu?"
Rayhanmendengkus. Benar-benar berengsek!
"Kalau begitu, aku akan perlihatkan dulu kepada bos. Siapa tahu dia ingin menawar harga yang lebih tinggi. Kalau uangku hanya sebanyak itu, Rio!"
"Baiklah, tak masalah. Yang jelas harganya tidak ada diskon lagi!"
Sudah cukup. Rayhan tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia pun berjalan mendekati sekelompok preman itu dan berdiri terlalu dekat dengan pria yang bernama Rio. Kontan saja pria-pria tersebut memandang Rayhan heran bercampur marah. Seorang pria tidak dikenal menginterupsi pembicaraan mereka.
"Selamat pagi, saudara-saudaraku! Kalau boleh tahu, bisakah aku ikut menawar mobil ini?" celetuk Rayhan.
Mereka langsung menjaga jarak dengan Rayhan, lalu berpandangan satu sama lain.
"Ya! Siapa kau?!" bentak pria yang bernama Rio.
Rayhan mendengkus lalu melipat tangannya di dada. "Kau memang tidak punya rasa terima kasih. Sudah mencuri mobilku, lalu sekarang membentakku. Apa kau ingin aku membeli mobilmu ini, ya? Aku tahu persis berapa harganya, Bung."
Rio dan temannya berjengit. Mereka tidak menyangka kalau Rayhan adalah pemilik mobil yang sedang mereka transaksikan, tetapi mereka tidak takut dengan Rayhan. Terlebih lagi pria itu bukan warga di wilayah kekuasaan mereka.
"Pria sepertimu adalah pemilik mobil ini? Huh, yang benar saja! Lihat dulu penampilanmu! Bajuku mungkin lebih mahal dari kemeja lusuh yang kau kenakan itu. Hahaha!"
"Hahaha ...." teman-temannya ikut tertawa.
Rahang Rayhan mengeras. Belum pernah seumur hidupnya ia dihina oleh berandalan-berandalan tengik seperti mereka.
Ditatapnya satu-satu wajah itu dengan seringaian bengis. Rayhan tidak takut sama sekali meskipun ini daerah kekuasaan mereka. Ia merasa dirinya benar dan orang-orang yang melanggar hukum harus segera ditangkap pihak yang berwajib.
Rayhan semakin mendekat pada Rio dan meraih kerah jaketnya. Ia yakin kalau Rio adalah ketua kelompok itu.
Rio membelalakkan matanya pada Rayhan. Berani-beraninya pria asing itu mencengkeram jaketnya. Ia bisa melihat mata merah dan berair pria itu, alis matanya bertaut tajam. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana Rayhan jika dalam keadaan emosi. Pria itu memang telah lama berubah, telah lama pula bisa menahan emosinya, tetapi orang-orang di hadapannya sekarang telah membangkitkan dirinya yang lama.
"Jangan pernah menghinaku! Kau kira aku takut pada kalian, ya?!" desis Rayhan.
Rio mendengkus. Ia mengangkat kedua tangannya ketika teman-temannya ingin maju untuk menarik tubuh Rayhan. pria berbadan besar itu ingin melawan Rayhan seorang diri. Lagi pula tubuhnya lebih besar dari Rayhan.
"Hei, pria asing! Sebenarnya kau ini siapa? Aku pernah melihatmu di sini. Apa kau warga gelap? Kau tahu tidak, setiap warga baru di sini harus melapor pada kami, dan bicara tentang mobil ini, enak saja kau mengakui ini mobilmu! Kami yang menemukannya! Jadi, lepaskan tanganmu sebelum aku membuatmu menyesal seumur hidup," ucap Rio
Rayhan semakin mengencangkan cengkeramannya. Napasnya menderu panas di wajah Rio, sementara wajahnya telah memerah.
Lisa tercekat di kejauhan. Jantungnya berdegup kencang. Ada apa dengan Rayhan? Tiba-tiba mendekati pria-pria itu dan mencengkeram leher salah satunya. Lisa melihat kanan dan kiri sebelum menyeberang jalan. Ia harus memisahkan Rayhan dari pria-pria itu.
Lisa tahu siapa mereka, tetapi selama ini selalu menghindarinya. Dulu mereka sering sekali mengganggunya, tetapi Linda selalu ada untuk melindungi. Wanita itu mempercepat langkah kakinya ketika melihat salah satu dari mereka menendang kaki Rayhan, hingga pria itu berlutut di depan Rio.
Lisa menutup mulutnya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Ada beberapa warga yang melihat, dan memilih untuk diam dan menonton saja.
Rayhan melenguh ketika kedua lututnya terbentur keras dengan lantai semen yang dipijaknya. Ia mendongak dan menatap marah pada Rio.
"Sudah aku peringatkan padamu untuk melepaskanku. Sekarang pergilah! Kami mempunyai urusan lebih penting darimu!" bentak Rio. Teman-temannya yang lain berdiri mengelilingi Rayhan. Namun, bukan Rayhan namanya jika dia takut. Pria itu berdiri dengan cepat, lalu meninju tepat dilambung Rio. Kecepatan Rayhan tidak bisa terelakkan. Hasilnya, pria itu meraung kesakitan seraya memegangi perutnya.
Melihat itu teman-temannya memegangi kedua tangan Rayhan hingga mustahil untuk pria itu bisa bergerak. Pria itu mengarahkan seluruh tenaganya untuk menumbangkan satu persatu dari mereka. Rayhan melayangkan tendangannya, membuat salah satu pria di samping kanannya mengeluh karena Rayhan berhasil menendang tulang keringnya.
Lalu, terjadilah perkelahian antara Rayhan dan delapan orang preman. Lisa merasa tubuhnya gemetar karena ketakutan, sementara orang-orang di sekeliling mereka hanya bisa menyaksikan dengan wajah ngeri.
Lisa memberanikan diri untuk mendekati perkelahian itu. Ia tidak yakin Rayhan bisa mengalahkan kelompok Rio.
"Hentikan!" teriak Lisa.
Bertepatan dengan itu, Rayhan jatuh menelungkup di kaki Lisa. Dadanya naik turun masih menahan emosi. Air mata Lisa telah mengalir deras. Ia menjatuhkan keranjang rotannya dan berusaha membantu Rayhan untuk berdiri. Jeritannya tertahan saat melihat hidung dan mulut pria telah dipenuhi darah segar, sedangkan pipi dan matanya sangat merah akibat terkena pukulan.
"Lisa, pergilah!" desis Rayhan.
Lisa menangkup wajah babak belur Rayhan dengan tangan mungilnya. "Rayhan, aku mohon jangan lawan mereka. Mereka adalah musuh warga sini. Tidak ada yang pernah melawan mereka," ujar Lisa. Suaranya benar-benar serak. Ia menyeka darah di tepi bibir Rayhan.
"Mereka tidak bisa dibiarkan begitu saja Lisa. Mereka yang mencuri mobilku!"
"Ya, ya, ya! Apa kau ingin meminta restu dulu kepada wanita ****** itu?!"
Rayhan tercekat mendengar teriakan dari Rio, sedangkan Lisa membeku di tempatnya.
Rayhan membalikkan tubuhnya dengan lambat, tetapi berbahaya. Matanya bertambah merah dan berair, julukan yang Rio berikan pada Lisa beberapa detik yang lalu telah menggetarkan jantungnya.
Pria itu murka.
"Kau memanggilnya apa?" tanya Rayhan tajam. Suaranya besar dan serak.
"Wanita ******! Apa kurang jelas?!" teman Rio yang menyahut.
Rayhan mengepalkan kedua tangannya hingga mati rasa. Lisa menatap pria itu, lalu menggelengkan kepala. Ia tidak ingin Rayhan bertindak dalam emosinya yang memuncak seperti ini. Dari jarak sedekat ini, ia bisa merasakan aura panas dari tubuh pria itu. Urat-urat nadi di keningnya terlihat jelas.
"Rayhan, aku mohon ...." cicit Lisa.
"Atas dasar apa kau mengatakan calon istriku seperti itu?!" tanya Rayhan, jelas-jelas mengabaikan ketakutan Lisa di belakangnya. Rayhan melangkahkan kakinya lambat-lambat menuju Rio dan teman-temannya.
Rio tertawa mencemooh sebelum menjawab, "Oh, jadi Nona Destia ini adalah calon istrimu? Wah, kau cukup beruntung menikahinya. Ia sangat cantik menurutku, tetapi sayangnya wanita yang hamil tanpa suami bukanlah wanita baik-baik."
Rayhan berhenti dua langkah di depan Rio. Ia menatap penuh kebencian pada lawannya. Mata elang Rayhan mulai membengkak.
"Kau tahu, wanita yang kau hina itu adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku. Lebih berarti dari hidupku sendiri. Kemudian untuk kau ketahui, pria berengsek yang telah menghamilinya adalah aku."
Rio dan teman-temannya terpaku, sementara Lisa tidak bisa menahan air matanya untuk tidak mengalir lebih deras lagi.
Rayhan melangkah lagi. Kini ia benar-benar berniat untuk menghabisi Rio dan siapa saja yang telah menyinggung perasaannya, dicengkeramnya jaket Rio, lalu tanpa bisa dicegah, Rayhan membenturkan kepalanya ke kening pria itu.
Sontak teman-teman Rio terperanjat melihat bos mereka terpental dari belakang. Rayhan menahan sakit yang amat luar biasa dikepalanya, lalu menjatuhkan diri ke bawah dan duduk di atas perut Rio. Rio masih memegangi kepalanya yang berdenyut. Rayhan mencengkeram telinga kanan Rio dengan tangan kirinya, kemudian menghantam wajah pria itu dengan pukulan yang sangat keras.
Mendengar memekik, teman-temannya segera menarik tubuh Rayhan. Namun, entah mengapa saat itu tubuh pria itu lebih kuat. Rayhan terus menghantam wajah bertubi-tubi dengan pukulan kedua tangannya. Ternyata hinaan Rio untuk Lisa tadi telah menimbulkan kekuatan baru untuknya. Rayhan tidak merasakan sakit dari tendangan dan pukulan yang dia dapat dari kelompok Rio di punggung serta kepalanya. Ia melepaskan semua kemarahannya dengan memukuli pria ini tanpa henti.
Lisa hampir ambruk di tempatnya jika tidak ada seseorang yang menahan tubuhnya dari belakang. Beberapa warga sudah mendekat dan ada di antara mereka yang menghubungi polisi. Lisa berpegangan erat pada seseorang yang tengah memeluknya dari belakang.
"Kak, Ya Tuhan!"
Linda memeluk tubuh Lisa dengan erat, sementara ayahnya yang datang bersamanya berjalan cepat menuju perkelahian di halte.
"Hentikan!" raung Herman.
"Aaarrgghh!"
Bersamaan dengan teriakan Herman, terdengar pula teriakan kesakitan dari Rayhan. Lisa tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu hingga akhirnya tumbang di atas Rio.
Rayhan memegangi tengkuknya yang berdenyut hebat. Ternyata ada seseorang yang memukulnya dengan potongan balok. Pria itu merasakan napasnya sesak. Ia tidak bisa melihat dengan jelas lagi dan hanya bisa merasakan sekelebat bayangan orang-orang yang meninggalkannya.
Herman tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk mencegah Rio dan teman-temannya yang kabur. Rio dibopong tiga orang temannya untuk masuk ke dalam mobil Rayhan dan langsung tancap gas. Begitu pula dengan sekelompok yang ingin membeli mobil Rayhan. Mereka semua tidak ingin berurusan dengan Herman yang merupakan orang terkaya dan berkuasa di daerah ini.
Rayhan merasakan kepalanya berdarah. Herman berlutut di samping pria itu dan bergidik ngeri melihat wajah Rayhan yang penuh dengan luka.
"Ya Tuhan, Rayhan! Kenapa bisa seperti ini? Ayo kita ke rumah sakit, Nak!" Herman membantu Rayhan untuk duduk.
Sementara itu di tempatnya, Linda mendengar Lisa meringis. Lisa berkeringat dingin.
Linda menatap cemas. Ia takut Lisa trauma sebab melihat perkelahian yang baru saja terjadi.
"Kak, kau tidak apa-apa? Ya, bicaralah!" ucap Linda.
Lisa menatap Linda dengan mata sendu. Ia berusaha mengatur napas. Ada sesuatu yang hangat mengalir di pahanya. Wanita itu berusaha menunduk untuk melihat ke bawah. Mau tidak mau Linda juga mengikuti arah pandang Lisa.
Dalam hitungan detik matanya melebar. Ia bisa melihat cairan bening mengalir di kaki Lisa yang saat ini memakai gaun khusus ibu hamil. Linda tidak bisa menutup mulutnya yang sedang terperangah. Ia dan Lisa saling pandang untuk sesaat.
"Linda ... cairan amnionku. Lin, sepertinya aku akan melahirkan."
BERSAMBUNG ....
tetaplah sesuai jalur Allah, pastinya kebahagian akan selalu menghampiri kita, sekalipun badai tozan menhpaskan n mengombang ambingkan jiwa.. tp pastinya Allah, memberikan reqard atas ujian yg telah kt jalani, baik d dunia n d akhirat, ada balasanya.
ttp semangat k.. storymu spt realita kt dunia, ini penuh dg fatamorgana bila kita tidaj kuat iman.
ttp bersyukur dg apa yg kt puny, jaga diri..
cha yo.. 😘😍😘😍😘😍😍😘😍😘😍
wis ga paham, terlalu saintis, yg ku tau air ketuban.. krn q ngalami pas anak ke 2.wkkwkwkw🤣😂😆😅😄😃😁😁