NovelToon NovelToon
Bukan Suami Harapan

Bukan Suami Harapan

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Tamat
Popularitas:249.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: juleha2606

Area 18+ Viona Nurulita seorang pewaris dari Yani grup, Pernah menjalin hubungan dengan seorang pria yang bernama Hendra. Namun semua harus kandas karena ternyata, Hendra adalah anak tirinya sang ayah. Mereka baru dikenalkan setelah mereka sudah berencana menikah.

Viona shock dan beberapa bulan mengurung diri di kamar. Sampai akhirnya ia bangkit dari keterpurukan, dan berusaha untuk melupakan pujaan hatinya itu.

Kemudian ia bertemu dengan seorang pemuda miskin, yang harus menghidupi ibu dan ketiga adiknya. Sementara adik bungsu nya terkena sakit parah. Viona dan pemuda itu menikah demi tujuannya masing-masing. Mau tahu kelanjutannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juleha2606, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cantik

"Biar aku yang lihat," ucap Sidar sambil beranjak dari duduknya berjalan menghampiri pintu.

Blak!

Setelah pintu terbuka, tampak seorang lelaki tua berdiri menunggu dibukakannya pintu. "Paman Edi? masuk Paman."

Keduanya memasuki rumah. Dan pak Edi pun merasa heran dengan sedikit perubahan di rumah tersebut, ia berdiri di depan pintu mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tengah itu.

Dari balik pintu dapur, muncul Fatir dan Adam langsung menyambut hangat kedatangan pamannya, Edi.

"Duduk dulu Paman? masih pagi kok," ucap Fatir dengan senyum ramahnya.

Edi berjalan sambil berkata. "Wah-wah, banyak berubah ya keadaan di rumah ini," mata Edi terkagum-kagum apalagi melihat sekilas ke dalam dapur yang juga berubah.

"Ah, biasa aja Paman. Bibi mana? kok gak ikut!" tanya Fatir sambil melihat ke depan kali saja bibinya ada di belakang.

"Itu, bibi mu gak ikut. Sakit lutut katanya, jadi mohon maaf saja gak bisa hadir ataupun menyaksikan mu menikah. Tapi, Fatir sebenarnya kamu mau menikah sama siapa? kalau bukan dengan Soraya." Edi menatap penasaran keponakannya.

"Bukan, Paman. Bukan dia." Jawab Fatir, lalu melihat ke arah Adam yang sudah bersiap pergi menjemput sang bunda.

"Adam pergi dulu, Mas. Jemput ibu."

"Iya, hati-hati ya Dam?"

"Baik, Mas." Adam pun pergi membawa helm dan menggunakan motor baru.

"Waduh, motornya pun baru, hebat kalian," pak Edi menggeleng kagum.

Sidar datang, menyuguhkan secangkir teh panas. "Silakan Paman!"

"Iya, makasih Sidar. Oya Paman minta maaf belum sempat menjenguk adik mu di rumah sakit." Sesal pak Edi.

"Tak apa Paman. Doa nya saja. semoga cepat sembuh." Lalu Fatir menerima telepon dari Darma yang bilang mau berangkat menjemput.

"Sidar, siap-siap sana?" Titah Fatir pada sang adik. "Sebentar lagi mas Darma datang menjemput kita.

"Pakaian Mas Fatir yang mau dibawa mana Mas?" tanya Sidar.

"Em ... ada di paper bag. Gak banyak kok, orang tiap hari juga ke sini," sahut sang kakak.

Pak Edi nyeruput teh nya perlahan sampai tuntas habis. "Apa tak ada lagi yang mau ikut? tetangga mungkin."

"Tidak, Paman. Aku tak ingin merepotkan orang lain, cukup kita saja," tutur Fatir menatap datar.

Sekitar 30 menit kemudian. Mobil Darma datang. Dan langsung masuk. "Eh, ada Paman. Apa kabar Paman?"

"Baik Darma. Ini Paman jadi heran sekaligus kagum, melihat perubahan di rumah ini, sofa baru, meja makan baru juga dan baru saja Adam memakai motor baru pula. Serba baru," ungkap pak Edi menggeleng heran.

Darma cuma tersenyum penuh arti pada paman sang sahabat. Kemudian Darma melirik ke arah Fatir yang tampak cerah. "Wah. Wajahmu berseri nih. Tampak seperti bulan purnama yang sedang bersemayam."

"Sialan, aku kira rembulan sedang bersinar, rupanya cuma yang bersemayam. Bersembunyi dong ya?" sahut Fatir menggeleng.

"Habis pucat. Nggak bisa tidur ya? atau ... menghabiskan waktu sama sang kekasih? secara menghabiskan waktu terakhir." Suara Darma pelan.

"Ngaco, menghabiskan waktu gimana maksudnya? asli Dar. Aku gak bisa tidur semalam, lepas sampai pagi." Lagi-lagi Fatir menggeleng.

"Nggak sabar ya pengen ehem-ehem dengan istri!" Darma menggoda pemuda yang kini mengenakan batik itu.

"Sembarangan. Ngaco aja kalau ngomong. Oya istri mu mana?"

Fatir dan Darma terpaut usia beberapa tahun, lebih tua Darma. Namun perusahabatan mereka begitu dekat sehingga tak canggung dalam berkata meskipun usia Darma di atas Fatir.

"Istri aku? sudah nangkring lah di tempat acara. Dari semalam malah, aku juga pulang malam sendiri dari sana."

"Baby mu di sana juga?" pertanyaan Fatir sedikit kurang masuk akal bagi Darma.

"Iya lah, masa istri ku nginep, anaknya ditinggal, ada-ada saja bapak?" Darma menepuk bahu Fatir.

"Ya, kali aja gitu." Fatir terkekeh.

"Tapi tempat tidurnya masih koyak, jelek. Belum diganti ya?" celetuk pak Edi yang habis jalan-jalan melihat isi rumah Fatir.

"Sebentar lagi juga pasti ganti Paman. Rumah ini akan di sulap seketika, dari luar biasa aja. Tapi di dalam luar ... biasa." Jawab Darma.

"Apaan sih kamu? ngarang ah." Protes Fatir tak setuju dengan ucapan Darma.

"Eh, gak percaya. Lihat saja nanti." Darma yakin sambil menyunggingkan senyumnya.

Setelah sekian lama meraka berbincang. Adam kembali membawa bu Afiah. Sang bunda.

Beliau tersenyum ramah pada adik suaminya yang telah tiada itu.

"Apa kabar Mbak. Maaf belum bisa menjenguk ke rumah sakit. Istri saya juga sakit."

"Baik, tak apa. Doanya saja." tutur bu Afiah. Kemudian berlalu mau siap-siap, hatinya memang terasa sakit. Mengingat saudara, khususnya keluarga dari suami yang seharusnya turut perhatian pada anak-anaknya malah sok tak perduli. Dengan segala alasan. Sekilas ia mengusap pipinya yang basah.

Tidak lama kemudian, ia kembali dengan berbeda kostum. Pakaian yang katanya Viona belikan, sangat pas di tubuh dirinya. Begitupun kerudungnya sangat nyaman.

"Hualah ... nyaman banget dipakainya. Ini kali ya yang membedakan harga." Gumamnya bu Afiah pada Sidar.

"Iya, dong Bu. Mahal ... kapan lagi kita merasakan yang mahal-mahal bu, nunggu Aku kerja, masih lama toh." Timpal Sidar sambil menarik bibirnya tersenyum lebar.

Pak Edi akan dibonceng Adam. Darma, Sidar dan Fatir juga Ibunya berempat di mobil Darma. Mobil pun langsung meluncur ke rumah Viona. Dan Alisa sudah bolak balik menelpon suaminya.

"Nak Alisa di mana?" tanya bu Afiah pada Darma.

"Istri saya sudah di sana, Bu. Tempat sahabatnya. Viona," sahut Darma.

"Oh, gitu. Tapi apa kira-kira kita gak akan malu dengan keluarganya?" ucap bu Afiah dengan nada cemas.

"Santai saja, Bu. Viona baik sekali, ibu dan oma nya juga sayang sama Fatir. Makanya Fatir dibelikan motor baru segala! kan kalau mereka jahat. gak mungkin memberi kado dari sebelum nya gitu." Darma meyakinkan dengan terus fokus menatap jalanan.

Fatir menerima sebuah pesan dari adik sang bunda. Yang mengatakan akan menyusul dari belakang. "Katanya paman Lukman mau nyusul Bu."

Bu Afiah menoleh pada Fatir. "Ibu harap, kamu bisa menitipkan diri pada mereka, Nak. Jangan kecewakan kebaikan mereka." Lirih bu Afiah.

"Insya Allah, Bu. Mohon doa nya ya Bu." Fatir mengangguk dan mencium tangan sang bunda.

"Tentu, Nak. Pasti akan Ibu doa kan!" bu Afiah memeluk putranya dengan mata yang meneteskan air bening.

****

Di kediaman Viona, begitu ramai dengan kehadiran sanak dan saudara. Kalau undangan belum pada datang, sebab resepsinya baru akan dimulai nanti pukul 14 siang.

Viona sudah siap dengan kebaya pengantin nya. Di tambah riasan pengantin yang sungguh membuat semua orang terkagum-kagum akan kecantikan Viona.

"Vi, kamu cantik banget ya Allah ... pantas banyak laki-laki yang ngejar kamu--"

"Ngejar? emangnya kau pikir aku penjahat di kejar. Ngarang nih orang, parah." Viona memotong perkataan Alisa yang sedang menggendong balita nya, Azam.

"Ha ha ha ... kamu itu cantik banget Vi. Banyak laki-laki yang suka sama kamu, tapi kamu itu selalu menutup hati," ucap Alisa tak henti-hentinya berdecak kagum.

Bu Asri masuk. "Masya Allah ... Vi, cantik sekali putri Mama," ucap bu Asri lantas memeluk Viona penuh kasih dan sayang.

"Mama bisa aja." Gumam Viona dalam pelukan sang ibunda.

Bu Asri melepas pelukannya. Memberi jarak antara mereka berdua, menatap lekat putri satu-satunya itu. "Akhirnya. Vi sebentar lagi akan menjadi istri, jadilah istri yang baik sayang." Suara bu Asri serak menahan rasa harunya. Matanya pun sudah berkaca-kaca.

"Mama ini sedih atau bahagia sih?" tanya Viona sambil menggerakkan jemarinya mengusap pipi wanita paruh baya itu.

"Bahagia dong Vi ... masa nggak," jawab Alisa. Bu Asri pun menoleh dan memberi senyuman.

"Semoga pilihan Vi, adalah pria terbaik." Harap bu Asri.

"Insya Allah ..." sahut Alisa. Viona dan orang yang ada di kamar itu. Seperti perias dan yang lainnya.

Derap langkah kaki begitu nyaring mendekati pintu kamar Viona dan semua yang ada di sana mengarahkan pandangan ke arah pintu ....

****

Yang sudah baca, hendaklah meninggalkan jejaknya ya? agar aku tambah semangat lagi Makasih reader ku semua🙏

1
Ardina L
semangat bang Fatir
Maulana ya_Rohman
selesai sudah maraton nya..... walaupun gak comned di setiap bab nya...
Juleha2606: terima kasih kk🙏
total 1 replies
Maulana ya_Rohman
selamt....
slamat.... selamat......
Maulana ya_Rohman
🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
jadi kepo sipa sih yang bikin onar🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
😑😑😑😑😑😑😑😑😑
Maulana ya_Rohman
semoga gak di gantung lagi😢🤧
Maulana ya_Rohman
keciduk🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Maulana ya_Rohman
jadi kepo🤔🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
siapa ya🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
masih takut jujur😑😑😑
Maulana ya_Rohman
gak tau apa terjadi yang sbnernya.... knp protes,😱😱😱😱😱😱😱
Maulana ya_Rohman
😑😑😑😑😑😑
Maulana ya_Rohman
masih nyimak....
sempet ketumpuk² sma yang laen....🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Juleha2606: kk baru mampir di sini.
total 1 replies
Sativa Kyu
👍👍👍
Nina Hani Anissa
aku sukacerita viona dan fatir.ad kelanjutanya ga
Juleha2606: Lanjutannya di "Gadis Satu Milyar Ku"
total 1 replies
Gde Arya Arthana
bagus
Dedew
meleleh sama Abang Fatir😂
Dedew
ini gimana to,Uda pada nikah tapi masih pada jalan SM mantan🤨
Dedew
duhh kenapa jadi banyak konflik nya🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!