NovelToon NovelToon
ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

ASMARADANA PUTRI MAHKOTA

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Romantis / Ketos / Romansa / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.

“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”

“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”

Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35.

Dalilah.

Aku mengangkat wajahku dari sepucuk surat berwarna merah jambu dengan tanda tangan di bawahnya.

^^^Revi, kesayangan Lilah.^^^

^^^Yang sendiri di sekolah.^^^

Aku tersenyum memandangi surat itu, seperti ada wajah Revi disitu.

Aku sudah membaca surat ini berkali-kali sampai kumal, sampai aku hafal tanda baca yang ditorehkan Revi disurat ini.

Aku menggulingkan tubuhku, lalu memandangi surat ini lagi. Surat ini seperti amunisi. Membuat jantungku meledak karena kata-katanya.

^^^Dear my princess.^^^

BACANYA SAMBIL SENYUM, ITU SYARATNYA!

Pertama-tama, akan ada hikmah dari semua yang terjadi. Betapapun berat hukuman yang kamu jalani sekarang, kamu harus tahu kalau aku gak berubah buat kamu. Aku masih sama, mas Revi yang mencintai kamu! Sekalipun dunia berpaling darimu, aku masih ada di rumah mommy. Menunggumu.

Humpp... Aku sengaja nulis surat ini, karena gak ada cara lain untuk menghubungimu. Kamu baik kan? Jangan lupa makan yang banyak! Aku gak mau pangling karena kamu kurusan. Nanti kalau aku bawa kebut-kebutan, kamunya kabur kanginan. Kan repot. Hehehe... Canda sayang.

Tapi tenang, Aku bawakan banyak coklat untukmu, sebagai ganti senyumku yang suka membuatmu tersipu. ^_^

Satu lagi. Kamu gak usah mikirin siapa yang iseng sama kamu. Kamu gak akan pernah melihatnya lagi setibanya di sekolah nanti. Dia sudah aku tendang ke langit ke tujuh! Kamu juga gak perlu penasaran siapa dalang dari semua kejadian ini. Kamu hanya perlu tetep sayang sama aku, pahlawanmu.

Aku capek nulis suratnya panjang-panjang. Udah kayak nulis pelajaran, harus mikir lagi! Udah ya, cukup ini saja untuk mewakili seluruh perasaanku selama berhari-hari ini.

Gak boleh nyerah! Kita berdua punya akal bulus untuk tetap berduaan! Sssttt...

Have a nice dream untuk setiap malam-malammu, anggap saja ini adalah A little Lullaby.

Kissing you my princess. Dalam mimpi! Bisa bonyok aku kalau bener-bener menciummu kemarin. Hahaha, jangan mupeng ya. Bibirku memang seksi. Tapi nanti kalau kamu sudah punya KTP, aku akan melakukannya tanpa kamu minta. Biar kita langsung dinikahin. Hahaha.

Amin! Aku pamit. Sehat-sehat ya, kalau sakit periksa!

Aku melipat kertas itu sambil tersenyum getir.

Diantara semua kalimat yang membuatku ngakak, aku justru penasaran dengan siapa orang yang Revi tendang ke langit ke tujuh. Siapa orang yang ingin menjatuhkan keluargaku.

Rasanya aku malah tidak tenang karena tidak tahu siapa yang menggangguku. Kira-kira siapa ya?

Aku menyelipkan suratnya ke bawah bantal saat terdengar suara pintu terbuka lebar.

"Ibunda..." ujarku sambil mengulum senyum.

"Kenapa wajahmu seperti itu? Sudah makan?" tanya Ibunda sambil duduk di tepi ranjang.

"Sudah! Tadi Lilah buat nasi goreng sama telur ceplok." jawabku sambil mendekati Ibunda, "Ibunda sudah gak ada kegiatan di istana?" tanyaku sambil memandang matanya. Sudah tidak sembab. Syukurlah.

"Sudah tidak ada kegiatan apapun

Ibunda capek. Adikmu Pandu bikin konten horor di sekolah. Dia nyebutin siapa-siapa saja yang menjadi penghuni sekolah! Tadi Ibunda habis ke sekolahnya, Pandu diminta untuk menetralisir energi negatif yang disana. Mana dia mau! Yang ada dia malah ngakak karena banyak siswa-siswi yang gak masuk." Ibunda mendesah lelah setelah mengurai panjang kalimatnya.

"Tau gak alasan apa yang dia bilang ke Ibunda mengenai konten horor itu?" tanya Ibunda padaku. Aku menggeleng, masalahku sudah banyak, sudah tidak mau memikirkan hal lainnya.

"Dia bilang penghuninya pengen istirahat dengan tenang!"

"Mana bisa! Orang gentayangan minta istirahat dengan tenang!" sergahku cepat.

Ibunda malah terkekeh sambil mengambil bantal dan memeluknya.

"Adikmu bikin drama untuk menutupi kejadian kemarin. Sekarang orang-orang justru mendatanginya untuk bertanya kemampuannya dalam melihat mahluk halus." jelas Ibunda, diiringi helaan nafas panjang.

"Bagaimana keadaanmu? Masih takut bertemu dengan Ayahanda? Atau eyang?" tanya Ibunda sambil tersenyum simpul.

Aku balik tanya, "Bagaimana dengan Ibunda? Eyang masih marah? Atau Ayahanda masih memilih menepi?"

Ibunda menggeleng pelan, "Biasa-biasa saja. Sudah bisa dikendalikan lagi." jawab Ibunda ringan.

"Ibunda yakin? Lilah rasa ada yang masih mengganjal." Aku menatap Ibunda dengan lekat, Ibunda terkekeh saat melihat wajahku yang penasaran.

"Apa yang mengganjal? Surat dari Revi belum datang? Atau coklatnya sudah habis?"

Aku mendesis jengkel lalu menyandarkan kepalaku di lengan Ibunda.

"Jadi gak ada yang bisa aku rahasiakan nih? Lilah harus terbuka sekalipun itu sesuatu yang privat?" tanyaku basa-basi.

Ibunda semakin terkekeh sambil merogoh bawah bantal yang menjadi tempat bersembunyi surat cinta pertamaku.

"Hati-hati, nanti cuma kena ilermu dan gak bisa disimpan lama!" ledek Ibunda sambil menyerahkan surat itu.

Aku mengambilnya lalu memandanginya penuh arti, "Apa Ibunda punya surat cinta?"

"Tidak! Cara pacarmu itu terlalu old school Mbak sudah gak zaman!" ledek Ibunda lagi.

Aku mendengus kesal, akhir-akhir ini Ibunda kalau datang ke kamarku hanya meledek saja.

"Apa Ibunda dan Om Nanang pernah ciuman waktu pacaran?" tanyaku tanpa tedeng aling-aling. Ibunda melirikku, wajahnya bersemu merah.

"Lilah dan Jani jelas berbeda! Berbeda dari segala kondisi. Jani rakyat biasa yang diangkat derajatnya oleh ayahmu. Sedangkan Lilah derajatnya sudah ada di atas tanpa perlu merangkak seperti Jani."

"Apa Ibunda pernah ciuman dengan Om Nanang tidak?" tanyaku lagi.

Ibunda mengacak-acaknya rambutku, seperti Om Nanang kalau melakukannya.

"Dengarkan dulu ceritanya! Terkadang-kadang dari cerita kamu bisa menyimpulkan maknanya!" jelas Ibunda lembut.

"Kalau hanya dari cerita saja semua bisa menyimpulkan, tapi kenyataannya! Orang gak bisa menerka sendiri dan menyimpulkan semua yang terjadi hanya dari opininya sendiri!"

"Ngeyel banget sih sama kayak Jani!" Ibunda mencubit hidungku. Lalu terkekeh kecil lagi saat aku mengaduh sakit.

"Jawab, Bun!" ujarku dengan nada memaksa.

"Rahasia... Cukup Ibunda dan Om Nanang saja yang tahu! Kamu anak kecil tidak boleh tahu. Nanti semakin pengen! Repot Ayahanda. Semalam suntuk cuma begadang memikirkan anak gadisnya yang sudah jatuh cinta dan minta cium!"

Ibunda tertawa lalu mengusap air matanya yang membasahi ujung matanya.

"Ah... yang paling merana saat anak gadisnya memiliki seorang pacar ada seorang Ayah. Ayahanda gusar karena takut kamu patah hati dan sedih! Karena sekalinya patah, hati sudah tidak lagi sama meskipun yang menyakiti hati adalah ekspetasi. Tapi, Ibunda beruntung kamu memiliki mas Revi! Dia manis, Ibunda suka. Dia seperti om Nanang saat muda. Pintar nyanyi, main gitar, dan bibirnya sepertinya juga manis." Ibunda tersenyum sambil menutup wajahnya.

"Oh Shit!" umpatku tanpa sadar, "Ibunda pernah ciuman sama om Nanang. Oh... Ayahanda pasti cemberut, pantas saja kalau om Nanang lagi ngobrol dengan Ibunda. Ayahanda menatap tajam kearahnya."

Ibunda tertawa kecil, "Besok Ayahanda mau bicara. Datanglah ke ruang keluarga. Setelah sarapan pagi. Ibunda harap, kamu bisa diajak kompromi dengan apapun yang Ayahanda katakan." Ibunda merapikan rambutku, menatapku penuh harap.

"Ayahanda tidak hanya menanggung kita, tapi banyak rasa yang memenuhi hatinya. Jadi Lilah anak Ayahanda yang cantik, jangan buat Ayahanda semakin cepat tua ya. Ibunda masih butuh Ayahanda karena hanya ciuman Ayahanda yang murni tanpa campuran madu apalagi racun!"

Aku mengangguk. Seulas pertanyaan justru berkembang di pikiranku.

Bibir rasanya manis? Apa iya...

...Happy Reading 😆...

1
Ena Ariani
kerennn
Cicak Speed
Halah jam jati2
Cicak Speed
Jani Jani malah nangis Ki pie to
Cicak Speed
q ngakak Mas Jati isane ngomng lutut q lemass
Cicak Speed
ikut bubu aku
Cicak Speed
setress rev mesakne
Cicak Speed
pinter koe Lil
Cicak Speed
ngapa Ndu mau pingsan
Cicak Speed
ga nyangka baskara duhh
Rasty Inarra
sepanjang baca ko mong guyu aku Lil
Rasty Inarra
om nanng curang baca duluan
Cicak Speed
ngekeek malah rekkk Lilah kamu kesambet apa sehh
Cicak Speed
pantunh pancuran Om
Sri Wahyuni
mas revi 🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Wahyuni
gara" ada arunika, sy jd pengen baca ulang mbak lilah, smbil nunggu upadate 💕💕💕💕
Camera Gaming
novel kk author bagus alur ceritanya aku suka tapi banyak b.inggrisnya apala lh sy yg gagap b inggris🤣🤣🤣
Camera Gaming
novel om nanang judulnya apa sih
ig : skavivi_selfish: Cinta Di Ujung Senja, tapi versi chat story
total 1 replies
Nining Setyaningsih
Luar biasa
Bundanya Syahdan
baru kali ini membaca novel yang lain dr yang lain, terinakasih thoorr 🤩
Ida Erwanti
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!