Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Waspada
Aku memutuskan untuk kembali pulang dengan naik taksi. Sempat juga kubeli dua buah novel islami yang saat itu sedang booming. Baru saja langkahku sampai di halaman rumah, aku langsung disuguhi pemandangan luar biasa. Bunda Aisyah yang berdiri di teras menghadang langkahku dengan berkacak pinggang.
Oh em ji, siap-siap mendapat omelan. Ini mertua apa musuh ya? Baru dua hari jadi mertua sudah menunjukkan taring begini.
“Siang, Bunda!” seruku dengan sneyum lebar, berusaha mengusir kemurkaan bunda Aisyah dnegan acraku.
Eh tapi caraku tidak berhasil, terbukti muka Bunda Aisyah malah semakin sangar.
“Kamu kemana saja? Aku kan tadi menyuruhmu beres-beres rumah dan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Tapi kamu malah pergi. Dan lihat, ini jam berapa? Pakaian belum dicuci. Bagaimana bisa kering?” hardik Bunda Aisyah yang tentunya memperlihatkan ekspresi emosi tingkat dunia.
Ya ampun, belum kelar masalah dengan Rico, eh mertua yang cantik jelita ini malah bikin masalah baru.
“Oke, siap, Bunda! akan kukerjakan semuanya! Bunda jangan marah-marah sama menantu, nanti kualat loh. Heheeee…” seruku sambil lari ngibrit memasuki rumah. Tidak kupedulikan suara keras Bunda Aisyah yang mengomel-ngomel mengumpatiku.
Aiiissh… Mertua galakku malah makin merepet. Ya sudahlah, biarkan saja. Nanti paling-paling dia capek sendiri.
Aku meuju ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari dapur.
“Buset!” pekikku terbelalak melihat pakaian kotor menumpuk di keranjang sudut kamar kecil itu. Yasalam, itu pakaian berapa lama bisa sampai menggunung begitu? Kulihat ada pakaian Rendi juga di sana. Artinya itu jumlah pakaian kotor sebelum aku menikah dnegan Rico. Walah-walah… rasanya kesabaranku diuji. Pingin banget sih ngejitak mak mertua, tapi dosa euiy. Entar malah aku beneran yang kualat. Hiiiy…
Pukul dua siang pekerjaanku yang tidak ada jeda akhirnya selesai juga. Eh, tapi urusan menyapu halaman, memangkas bunga dan mengepel tidak kukerjakan. Tubuhku lelah sekali. Gerah. Aku ingin mandi.
Baru saja aku melangkah hendak masuk kamar, kulihat Rico masuk. Pria itu sudah pulang. Aku tersenyum dan memasang wajah manis kepadanya. Dia membalas dengan senyum tipis yang kusadari adalah senyuman palsu.
Aku balik badan lalu menyambut tangan pria itu, menyalaminya, mencium punggungnya penuh takzim.
“Maaf, aku kucel banget ya? Ini aku mau mandi. Aku baru saja selesai beres-beres rumah,” kataku saat mendapati tatapan Rico yang berbeda kepada pakaian dan penampilanku.
Rico mengangguk. “Kamu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri?”
“Ya. Bunda menyuruhku memasak, mencuci baju, menyapu dan semuanya pekerjaan rumah. Jadi kukerjakan saja,” jawabku dnegan senyum lebar. Sekalian berusaha memberi tahukan kepadanya kalau bunda Rico tuh menggemaskan sekali, suka menumpahkan pekerjaan sepenuhnya kepadaku.
“Aku akan carikan seseorang untuk membantumu mengurus rumah ini,” ujar Rico. “Kau pasti lelah seharian di rumah hanya untuk mengurus rumah, seharusnya aku tidak membiarkanmu menjadi lelah begini.” Rico mengusap keningku yang basah oleh keringat.
Huh! Aku tahu ini drama! Semoga akan secepatnya berlalu drama ini.
“Apa kau tidak kemana-mana hari ini akibat mengerjakan semua pekerjaan rumah?” Tanya Rico menatapku tajam. Meski pria itu sedang berusaha membuat dirinya romantis, tapi aku sangat tahu dia bukan tipe pria romantis yang hobi memanjakan wanita. Rico memiliki paras wajah yang terlihat sangar meski tanpa harus marah, garis wajah tegas dan tatapan gelap yang dingin. Dia juga kuakui aslinya dingin. Tapi dia berusaha membuat dirinya menjadi hangat saat bersamaku.
“Aku tadi sempat keluar sebentar. Nggak full di rumah seharian kok,” jawabku.
“Kemana?” Rico menuju ke meja, menuangkan air mineral ke gelas melalui teko.
Aku harus jawab apa? Jika aku berbohong, aku takut efeknya akan buruk. Oke, lebih baik jujur saja. “Ke toko buku.”
“Toko buku mana?”
“Gramedia terdekat.”
“Pergi naik apa?” Rico meneguk air mineral.
Tunggu tunggu, sepertinya aku sedang diselidiki oleh pria ini. Aku harus menjawab dengan tepat.
“Naik, taksi,” jawabku.
“Kau sedang diperintah bunda untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tapi kau sempat pergi ke toko buku. Itu tentu akan mempersulit dirimu sendiri.” Rico meletakkan gelas ke meja.
“Ada diskon buku, jadi aku beli. Takut ketinggalan diskon.” Sebenarnya aku tidak mengejar diskon. Soal diskon, itu hanya kebetulan saja. Untungnya aku sempat beli buku.
“Kau bisa pesan kepadaku, aku tentu akan belikan untukmu tanpa harus kau keluar rumah.”
Hmm… Pintar sekali Rico ngeles.
“O ya? kalau begitu, lain kali aku akan berpesan padamu saja kalau ada sesuatu yang kuinginkan. Kupikir kamu nggak suka dengan hal-hal berbau urusan wanita, aku takut merepotkanmu. Tapi kalau sudah tahu begini, aku akan akan dengan senang hati berpesan padamu saja.”
“Ada kecelakaan di dekat toko buku itu, apa kau tidak melihatnya?”
“Eh? Kamu juga ada di sana?”
“Ya.”
“Kecelakaan itu kan terjadi pagi tadi, memangnya kamu nggak kerja? Kok kamu ada di lokasi yang berlawanan arah dengan tempat kerjamu?”
“Aku tidak jadi bekerja. Ada urusan lain dengan temanku, masih soal pekerjaan juga,” jawab Rico santai, tanpa menunjukkan gelagat apa pun.
“Ya sudah, aku mandi dulu. Biar wangi.” Aku melenggang masuk ke kamar. Pikiranku semakin tak karuan sekarang. Apakah Rico sudah mulai mencurigaiku kalau aku mengetahui niat pria itu? Dia tampak menyelidikiku. Oke, aku harus waspada.
TBC
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih