Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.
*******
Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.
Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.
Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Cukup Saya
Resa terus mencermati Syafi, dugaannya benar. Hanya anak-anak yang membuat Syafi ceria. Setelah anak-anaknya Kembali ke kelas, Syafi yang biasa Kembali lagi. Resa hanya bisa menghela napasnya, dia orang baru, tidak mengenal bagaimana Syafi. Pikiran Resa entah terbang kemana, sangat berharap Dirga bisa membina rumah tangga yang sebenarnya bersama wanita impiannya. Sesekali Syafi mau berbicara dengan Resa, atau dengan dua pengasuh Gavin dan Gilang.
Berbeda jauh dengan keadaan di Gedung Ozage Cryton Group. Di sana semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Tidak terkecuali Sam dan Dirga. Mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Dirga masih sibuk dengan tumpukkan berkas yang menunggu sentuhan tangannya. Saat melihat berkas kerja sama dengan Ohoana Group, seketika darah Dirga mendidih, dia belum memberi perhitungan pada pemilik Perusahaan Ohoana Group itu, yaitu Arnaff. Sangat malas menyentuh berkas yang berkaitan dengan Perusahaan Arnaff, tapi dia harus professional dalam mengemban tugas, walau dirinya sangat membenci Arnaff.
Lembar demi lembaran kertas dia baca, ada perasaan bangga saat membaca berkas tersebut. Di mana Perusahaan Ozage Crypton Group memutus semua kontrak kerja sama yang dengan Ohoana Group setelah proyek lama selesai. Selesai membaca berkas itu, Dirga segera merapikannya kembali semua berkas, bangkit dari posisinya, meraih berkas yang tadi dia baca. Langkah kakinya begitu semangat menuju ruangan Sam.
Mendengar pintu ruangan yang terbuka membuat fokus Sam yang tadi hanya ter-arah pada layar laptop, kini sorot matanya ter-alih memandang kearah pintu, terlihat dari arah itu Dirga berjalan begitu cepat kearahnya. “Kenapa kau sepanik ini? Resa hanya mengajak istrimu jalan-jalan, bukan membawanya kabur,” goda Sam.
Dirga meraih salah satu kursi yang ada di depan meja kerja Sam. Langsung menyerahkan berkas yang membuatnya bingung, tapi dia juga bahagia. “Ini ... kenapa Tuan melakukan ini semua?”
Sam meraih berkas yang Dirga sodorkan padanya. “Owh … aku kira apaan.” Wajah itu sangat datar, tidak menujukkan expresi apapun.
“Tuan, ini urusan perusahaan, tolong jangan main-main.” Dirga masih tidak percaya denga napa yang dia baca sebelumnya.
“Aku tidak main-main, aku tidak mau bekerja sama dengan seorang pembunuh. Yang Arnaff bunuh bukan hanya Kamal dan Ardhin, tapi juga jiwa istrimu. Lihat saja, semua denda dan yang lainnya sudah aku bayar.”
“Tuan, saya tahu Arnaff keterlaluan, tapi Tuan yang membalas seperti ini, ini tidak adil. Bagaimanapun, Arnaff sahabat Tuan juga keluarga dari tante Ramida. Jangan hancurkan ikatan itu hanya karena saya, Tuan.”
“Jangankan satu Arnaff, 1000 Arnaff aku lepas, asal kamu tetap bersamaku, kau kira aku tidak tau? Kau ingin pergi dari perusahaan ini hanya karena malas bekerja sama dengan Arnaff?!” Sorot mata Sam sungguh tajam, menggambarkan yang punya diri menahan kekesalannya.
“Tuan, cukup saya yang marah pada Arnaff, Anda jangan. Saya rela pergi asal persahabatan Tuan dan Arnaff, jangan hancur.”
“Kamu itu teman, sahabat, bawahan, juga keluargaku yang special. Saat semua orang bersorak sorai atas segala keputusanku, kamu satu-satunya yang berani berteriak menentangku, memberiku nasehat, menjelaskan akibat dari keputusan yang aku ambil. Yah … walaupun tidak semua nasehatmu ku dengari, misal saat aku memutuskan menikahi Vania. Semua orang bahagia dengan keputusanku, hanya kamu yang menasehatiku, kalau aku tidak akan dapat kebahagiaan dari wanita seperti Vania. Ternyata kamu benar. Dirga, janganlah berubah, tetaplah jadi sahabatku yang berani menegur bahkan memarahiku saat aku keliru. Aku Lelah di kelilingi orang yang hanya bisa bertepuk tangan dengan segala keputusanku. Ingat nyamuk mati karena tepukkan tangan. Teman sepertimu, bagaimanapun akan aku pertahankan.”
Dirga membuang kasar napasnya, selama ini dia merasa kalau kurang aj*r pada Sam, ternyata Tuannya sama sekali tidak dendam padanya. Bangkit dari posisinya, berjalan cepat mendekati Sam.
Brukkk!
Langsung memeluk Sam. “Terima kasih, Tuan.”
Sam tersenyum, dia menepuk punggung Dirga. “Sejak kapan kau secengeng ini? Seingatku, kau orang yang sangat tegar.” Masih menepuk punggung Dirga.
“Maaf.” Dirga segera melepaskan pelukannya. Keduanya melanjutkan pembicaraan tentang pekerjaan mereka, termasuk pemutusan kerja sama dengan perusahaan Arnaff.
****
Di kediaman Arnaff.
Arnaff dan Alvi merasa mantap untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Alvi pun sudah mengirim surat pengundurkan dirinya, dari sekolahan anak-anak tersebut.
Arnaff memperkenalkan Alvita kepada kedua orang tuanya. Sekaligus untuk meminta restu. Pandangan mata Leti dan Rinto masih menyoroti dua orang yang duduk berdampingan di depan matanya. Arnaff dan Alvita masih kompak, sama-sama menundukkan wajah mereka.
“Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, kalian yakin akan menikah?” tanya Rinto.
“Yakin, pah. Aku dan Alvi bersahabat sejak lama,” jawab Arnaff.
Melihat penampilan Alvi, Leti sedikit ragu untuk memberi restu, tapi dia tidak mau mengulangi kesalahannya
yang dulu, mentang pilihan Arnaff. “Apakah kamu siap menjadi ibu sambung bagi Nadira, Alvi?”
Pertanyaan Leti membuat Alvi harus menegakkan kepalanya.
“Pasti siap, mama. Alvi seorang guru, dia mengajar anak-anak TK. Anak-anak adalah bagian dari Alvi. Puluhan anak saja dia jaga dengan sepenuh jiwa, apalagi seorang Nadira.” Arnaff yang menjawab pertanyaan Leti.
"Tapi ... saya sudah mengundurkan diri, alasan saya, saya ingin fokus dengan keluarga," sela Alvi.
“Guru?” Leti tampak tidak
percaya.
“Saya juga menjalani karir di dunia modelling, tante," ucap Alvi buka suara.
Leti sudah berjanji pada Arnaff, akan memberi restu pada siapapun nanti yang Arnaff pilih untuk jadi istrinya. “Kapan kalian akan menikah?”
“Belum tahu, kami ingin mempersiapkan semuanya sedikit demi sedikit dulu. Lagian aku dan Alvi sangat sibuk,” jawab Arnaff.
Di sekolahan Gavin dan Gilang.
Bel sekolah Kembali terdengar, riuh suara teriakan diiringi gemuruh pantulan suara sepatu kaki-kaki mungil itu. Anak-anak manis itu berlarian menuju orang tua atau pengasuh mereka masing-masing. Tidak terkecuali Gavin dan Gilang. Keduanya juga berlari menghambur kearah mama mereka.
“Anak-anak, mau pulang apa, jalan-jalan?”
“Jalan-jalan.” Kompak jawaban yang sama Gavin dan Gilang lontarkan.
“Fiy, kita pulang setelah makan siang saja, ya ….”
“Iya Nona.”
“Jangan Nona, panggil nama saja,” pinta Resa.
Syafi hanya tersenyum dan
menganggukkan kepalanya. Gavin dan Gilang berjalan menuju mobil bersama pengasuh mereka masing-masing, di-ikuti Syafi di belakang mereka, sesekali Syafi menggoda kedua anak laki-laki itu, tidak jarang tawa lepas dari Gavin dan Gilang. Sedang Resa masih sibuk mengetik pesan pada layar ponselnya, sesekali senyuman terukir di wajahnya ketika membaca balasan pesan yang di kirim suaminya.
Sampai ketemu sayang, di Restoran
biasa.
Setelah membaca pesan suaminya,
Resa segera menyimpan benda pipih persegi Panjang itu kedalam tasnya.
Mempercepat langkahnya, karena jauh tertinggal di belakang. Di tempat Parkir, supir pribadi Resa sudah membuka semua pintu mobil, saat melihat majikannya dari kejauhan. Melihat majikannya memberi senyuman, Pak Iman supir setia Resa hanya bisa membalas dengan senyuman pula. Majikannya ini sungguh ramah dan murah senyum.
“Kita makan siang ke Restoran
biasa ya pak,” titah Resa. Mereka semua segera menempati tempat mereka masing-masing. Melihat semua penumpang sudah masuk, Pak Iman segera menutup pintu mobil tersebut, berlari kecil memutari mobil, menuju pusat kendali. Mengintip sekali lagi lewat spion yang ada di depan matanya, semuanya siap, perlahan Pak Iman
melajukan mobil yang dia kendarai, mninggalkan Gedung sekolahan, menuju Restoran yang dimaksud majikannya.
Bersambung 😷🤧🤧🤧