Novel ini berkisah tentang pencarian seseorang dalam menemukan Tuhan-nya. Seorang tersebut adalah mantan seorang preman kawakan.
Namanya Hazri. Pemuda asal Jombang, Jawa Timur, itu merantau ke Jogja hanya untuk menuntut ilmu. Tapi, nasib membawanya menjadi ketua geng preman kelas atas ternama di Jogja, Kopen.
Kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Hazri membuatnya disegani. Sebagai ketua geng Hazri pun akrab dengan kehidupan super keras dan kejam.
Suatu ketika, ia terpaksa membunuh seorang anggota geng di Jepang. Hal itu membuatnya harus menjalani pelarian selama berbulan-bulan. Dan, selama perjalanan itulah, perjalanan Hazri dalam mencari Tuhan pun dimulai. Dari sekedar risih tidak sholat sedangkan yang lain sholat, Hazri pun mulai menjalankan ibadah wajib tersebut.
Lantas bagaimana kisah selanjutnya? Putus asakah Hazri dalam mencari Tuhan-nya? Bagaimana pula dengan nasib geng Kopen dan anak buahnya?
Simaklah perjalanan sang tokoh dan pergolakan psikologinya. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon azhar muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. ambarrukmo plaza
Jam sembilan pagi, keesokan harinya, Hazri sudah tiba di salah satu bank. Tanpa di duga Hazri melihat ada Dewi yang sedang duduk menunggu antrean, sepertinya hendak membayar uang kuliah. Susan pun melihat sang pujaan hati dengan senyum-senyum. Hazri tahu tapi pura-pura cuek, dan langsung saja naik ke lantai dua tidak pakai singgah ke bangku tunggu, kebetulan suasana sedang ramai. Walau tahu Hazri hanya bercanda, tapi bete juga Dewi dicuekin begitu. Cemberutlah dia. Seorang teman yang mengajak berbincang dijawabnya dengan tidak terlalu ramah. Untuk tidak ikutan kesel temannya itu.
Di dalam ruangan kepala bank, di lantai dua, mereka berbicara tentang mekanisme transfer uang yang akan dilaksanakan itu. Beberapa formulir yang harus ditanda tangani Hazri sudah disiapkan oleh pihak bank, tinggal tanda tangan saja maka selesai sudah urusan. Maklum Hazri sebagai nasabah prioritas utama, setinggkat dengan direktur bank sendiri.
“Mau dikosongkan rekeningnya, Bang Hazri?”
“Satu miliar saja. Sisakan sedikit buat makan...”
Kepala bank itu tertawa kecil sambil menuliskan nomor rekening bank-nya Ko’ Ling ke salah satu formulir. Setelah semuanya beres, dia menyerahkan formulir itu ke Hazri untuk tanda tangan. Hazri pun menandatanganinya.
“Sudah, Bang?” tanya Kepala Bank.
Hazri mengangguk.
Dia memanggil bawahannya lewat telepon kantor lalu menyerahkan dokumen itu kepadanya untuk segera diurus.
“Mudah-mudahan bisa masuk hari ini, Bang Hazri.” katanya.
“Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, Bang, sudah menjadi tugas saya.”
Mereka ngobrol sebentar, sekedar basa-basi saja. Setelah semua dianggap cukup Hazri pun berpamitan. Dia menyerahkan amplop berisi uang yang telah disiapkannya sedari berangkat tadi. “Untuk jajan anak-anak...”
Awalnya Kepala Bank itu menolak, namun setelah melihat situasi benar-benar aman maka di menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih banyak, Bang Hazri, kok jadi repot-repot begini...,” kilahnya tersenyum.
Hazri pun tersenyum maklum. Setelah sekian lama bergelut di dunia bisnis, dia tidak asing dengan tingkah Kepala Bank ini. Awalnya menolak, lama-lama juga diembat. Lumayan dengan uang bonus tersebut bisa digunakannya untuk jajan di dunia malam.
Kepala Bank itu mengantarnya turun. Karena Hazri berkata ada sedikit perlu dengan seseorang di bawah maka Kepala Bank itu pun tahu diri. Dia mencukupkan mengantar sampai anak tangga terakhir, lalu kembali ke ruangannya. Sudah tidak sabar rupanya untuk menghitung uang yang di amplop yang terasa lumayan tebal itu...
Di belakang tempat duduk Dewi. “Halo, Dew...,” sapa Hazri cengar cengir.
Dewi menoleh. Begitu melihat Hazri, raut wajahnya langsung dipasang cemberut. Makin manis lah wajah Dewi.
Hazri menahan tawa. “Ya sudah kalau marah. Tadinya sih mau ngasih hadiah...,” dia pura-pura hendak beranjak pergi.
“Eeee..., tunggu, Mas,...beneran ini?” seketika raut wajah Dewi berseri.
“Nggak jadi ah.”
“Hemh, mau kupeluk ?” ancam Dewi sambil bangkit dari tempat duduknya. Meyakinkan juga aktingnya.
Gawat. “Iya, iya, aku menyerah...,” Hazri cepat-cepat kembali duduk di tempatnya semula sambil mengangkat tangan. Wajahnya cengengesan.
Dewi tersenyum manis sambil pindah ke samping Hazri. Menyenderlah dia. “Mau dikasih hadiah apaan sih, Mas?” dia berbisik manja.
“Apa saja. Pokoknya murah...,” balas Hazri, masih cengengesan.
“Yang murah ya...? aku sih pengennya TV layar datar, Mas.” Dewi memang ingin televisi sebab miliknya yang di kamar kos rusak, korsleting.
“Yah, itu mah kemurahan...,”
“Biarin. Pengenya itu...,” rajuk Dewi.
“Bener?”
Dewi mengangguk.
“Oke. Kapan kita berangkat nih?”
“Eemm, jam satu gimana, Mas? Soalnya masih ada kuliah.”
Hazri tersenyum. “Oke. Nanti aku jemput jam satuan.”
Dewi pun tersenyum senang. “Aku tunggu di depan kampus ya, Mas...”
Hazri mengangguk. Lalu, pergi ke bank satunya meninggalkan Dewi yang sedang mengurus administrasi kuliah.
Sama, di sana juga tinggal tanda tangan saja. Setelah beres, kasih uang juga seperti tadi ke Kepala Bank. Persis sejawatnya, awalnya menolak terus pelan-pelan keluar tanduknya. Uang dilawan...
Jam di HP Hazri menunjukkan pukul dua belas siang. Tanggung juga kalau mau makan siang, belum terlalu lapar. Langsung saja meluncur balik ke arah kampusnya Dewi. Dihitung sama macetnya, kira-kira pas jam satu sampai di sana.
Tidak meleset jauh. Jam satu kurang sedikit Hazri sudah tiba di depan kampusnya Dewi. Tampak Dewi sudah ada di situ. Dia hendak memasukkan Pajero ke pelataran parkir gedung kampus ternama itu, tapi dilihatnya Dewi telah berjalan menuju ke arahnya maka Hazri menunggu di pinggir jalan raya. Dia keluar membukakan pintu. Dewi pun masuk ke mobil gagah itu.
Pajero kembali melaju. “Enaknya beli di mana?” tanya Hazri.
“Di Ambarrukmo Plaza saja Mas. Banyak pilihannya.”
Hazri agak sedikit tersontak mendengar kata ‘Ambarrukmo’. Seperti pernah dengar sebelumnya, tapi kapan itu?.
Dewi melihat Hazri sedang memikirkan sesuatu. “Kenapa, Mas? Apa mau pindah ke tempat lainnya?”
Hazri pun cepat-cepat menghilangkan lamunannya, “Eh... nggak usah di situ saja.” mungkin hanya firasat saja.
Jalanan di depan mereka tampak padat merayap.
“Makin gila aja Jogja ya Mas...,” kata Dewi di tengah kemacetan.
“Iya, macet sampai kayak begini. Cepetan kalau jalan kaki.”
“Macet sih biasa. Itu loh, pembunuhan yang di kawasan Kampus Orange...,”
Hazri langsung diam mematung.
“Orang kok sadis dan tega banget sih? Hampir lima puluh orang loh yang mati. Hiiih, ngeri...,” Dewi bergidik.
“Bukannya empat puluh?” tanya Hazri.
“Empat puluh itu yang langsung, sepuluh meninggal satu persatu di rumah sakit. Ada tuh beritanya di koran hari ini. Mas belum baca?”
Hazri menggeleng. Baru tahu juga sekarang.
“Belum lagi orang Jepang yang dipenggal kepalanya, terus yang di warkop. Haduuh, ampun deh...,” Dewi bergidik lagi, sungguh-sungguh ngeri dia.
Seketika hening pun menyergap dalam mobil itu. Dewi diam bersama rasa ngerinya, sementara Hazri diam dalam pikirannya sendiri.
“Makan dulu, yuk!” Hazri memecah kesunyian.
“Nanti saja, Mas, TV dulu ya...” rajuknya.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai. Hazri membawa Pajero masuk ke gedung parkir bertingkat di Ambarrukmo Plaza itu. Langsung naik ke lantai lima walau di lantai-lantai bawah banyak slot kosong. Hazri punya alasan kenapa dia memilih lantai tertinggi dan sepi itu. Saat sampai di situ, hanya ada tiga mobil terparkir. Sepi, tidak nampak seseorang pun.
Sebenarnya, beberapa saat sebelum masuk pintu gerbang Plaza, Hazri sudah merasa ada yang mengikutinya. Hari-hari setelah peristiwa ‘Kopi Item Habis’ dia memang selalu memasang ajian ‘Cakra Buana’ untuk jaga-jaga, dengan tenaga dalam seperlunya saja. Tadi, menjelang masuk gerbang, ajian ‘Rogo Swara’ telah berkedip. Memberitahu kemungkinan adanya ancaman terhadap dirinya.
Hazri berjalan tenang mengiringi Dewi menuju lift. Diam-diam, batinnya mengamati situasi. Honda City hitam yang barusan masuk parkir menarik radar ‘Rogo Swara’ nya. Tahulah dia, empat orang di dalam mobil itu yang sedang mengancamnya. Namun, biang preman ini tenang-tenang saja masuk lift bersama Dewi. Seolah belum sadar situasi.
Bukan dibuat-buat, Dewi kelihatan senang sekali diajak Hazri membeli TV layar datar yang sedang ngetren itu. Boleh milih sendiri tanpa memikirkan budget lagi. Maka sibuklah dia kesana-kemari pilih-pilih TV di toko elektronik itu, diiringi pelayan toko. Hazri tidak ikutan, dibiarkan saja Dewi berkeliaran bebas. Walau kelihatannya cuma duduk, sebenarnya Hazri sedang mengamati situasi. Benar saja, tiga orang berpotongan Jepang diam-diam terus mengamatinya dari jauh. Berlagak seolah turis yang sedang berbelanja.
Hazri menghampiri Dewi. “Dewi, aku mau ke toilet dulu. Rada mules nih perut. Santai saja milihnya, nggak usah terburu-buru. Tapi, tunggu aku di sini, jangan kemana-mana. Nanti hilang diculik orang loh...”
Dewi mengangguk tersenyum manis. Pelayan toko itu pun ikut tersenyum. Hazri pun berjalan menuju lift. Pelan-pelan ketiga turis berpotongan Jepang itu mengikutinya....
Secuil Kopi
Plaza Ambarrukmo merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbaik di Yogyakarta dan Jawa Tengah yang berlokasi di pusat kota dan di wilayah strategis Yogyakarta. Berada di kawasan warisan budaya yang kental dengan nilai historis, Plaza Ambarrukmo dibangun dengan perpaduan konsep arsitektur klasik dan desain interior modern. Plaza Ambarrukmo menyediakan area retail seluas 45.000 m2, terdiri dari 7 lantai dengan lebih dari 230 brand internasional dan lokal yang eksklusif serta menawarkan pengalaman berbelanja, kuliner dan hiburan yang tidak terlupakan.
Plaza Ambarrukmo memberikan konsentrasi penuh terhadap kenyamanan & rasa aman bagi customer yang berbelanja dengan menerapkan protokol kesehatan terkait virus Covid 19. Customer diwajibkan menggunakan masker, pengecekan suhu di setiap titik pintu masuk, memperhatikan jaga jarak saat berbelanja di area tenant. Plaza Ambarrukmo menyediakan fasilitas hand sanitizer & wastafel untuk cuci tangan di berbagai titik, penyemprotan desinfektan secara berkala, serta bekerjasama dengan tim satgas Covid 19 untuk penerapan kedisiplinan dalam pelaksanaan protokol kesehatan di area Plaza Ambarrukmo.
The Ambarrukmo adalah tujuan warisan terpadu yang diresmikan pada 28 Mei 2013 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur serta Raja Kraton Yogyakarta. Mengusung tagline: "Eat, Pray & Love di Jogja" perpaduan indah gaya hidup, budaya dan modern melalui tiga elemen: Plaza Ambarrukmo sebagai belanja dan tujuan kuliner, Museum Ambarrukmo sebagai representasi keagungan budaya dan Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel sebagai simbol kehangatan dan kenyamanan dengan layanan kelas satu serta hotel Grand Ambarrukmo Yogyakarta sebagai hotel bintang 4 yang menawarkan perpaduan konsep modern dan tradisional.
favorit
👍❤