NovelToon NovelToon
Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Jenderal, Rotiku Bukan Untukmu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Transmigrasi / Fantasi / Tamat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.

Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Napas Damian memburu, hangat dan tertahan, tepat di depan permukaan kulit pipi Aurelia yang sedingin es akibat ketakutan. Jarak di antara mereka begitu tipis, hingga Damian bisa mencium aroma vanila dan ragi yang melekat pada helai rambut wanita itu—aroma yang selama berbulan-bulan telah menghantuinya di tengah dinginnya tenda militer di perbatasan utara.

Namun, ketika Aurelia menepis tangannya dengan gerakan sarat akan penolakan mutlak, Damian tidak membalas dengan kekerasan seperti yang selalu ia lakukan di masa lalu. Ia justru mematung. Jemarinya yang tadi terulur menggantung canggung di udara, sebelum akhirnya perlahan ia jatuhkan kembali ke sisi tubuhnya dengan gerakan yang sarat akan kekalahan batin.

Di luar, badai salju mengamuk dengan keganasan yang tak terlukiskan. Suara deru angin yang menghantam dinding kayu toko roti terdengar bagaikan raungan binatang buas yang tertahan, seolah alam semesta sendiri sedang menuntut pertanggungjawaban atas dosa-dosa yang selama ini ia sembunyikan di balik seragam militernya.

Damian menarik tubuhnya sedikit menjauh, memberikan ruang bagi Aurelia untuk bernapas, meski ia tetap mengunci langkah wanita itu di antara rak kayu dan tubuhnya yang menjulang. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan keheningan menyergap mereka sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan seumur hidupnya: menanggalkan segala atribut arogansi yang selama ini menjadi identitasnya.

"Aku tidak datang ke sini untuk memaksamu kembali," suara Damian pecah. Itu bukan lagi suara seorang Jenderal yang memerintah pasukan, melainkan bisikan pria yang hancur oleh kesadarannya sendiri. "Aku datang karena aku tidak bisa lagi bernapas dengan normal di rumah yang sunyi itu, di mana bayanganmu ada di setiap sudut, namun dirimu tidak pernah ada."

Aurelia membeku, matanya yang hijau masih menatap Damian dengan kewaspadaan yang tidak pernah luntur.

Damian menunduk. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, tatapan pria itu tidak tertuju pada musuh di medan tempur atau pada peta strategi perang, melainkan tertuju pada lantai kayu yang kasar, menghindari manik mata yang kini menatapnya dengan sisa-sisa trauma yang menyakitkan.

"Aurelia... aku salah," ucapnya, setiap kata terasa seperti menelan duri panas yang menyayat kerongkongannya. "Selama ini, aku menutup mata. Aku mengabaikan keberadaanmu, aku menganggap dirimu sebagai beban politik yang tidak penting, dan aku... aku memperlakukanmu seolah kamu hanyalah pion yang bisa kucampakkan sesuka hatiku."

Suara badai di luar semakin mengeras, seolah menertawakan pengakuan sang Jenderal yang kini tampak begitu kecil.

"Aku telah menjadi monster dalam hidupmu," lanjut Damian, jemarinya terkepal kuat di balik kain mantelnya, buku-buku jarinya memutih. "Setiap kali kamu menatapku dengan mata yang penuh ketakutan itu, hatiku baru menyadari betapa kejamnya diriku. Aku tidak hanya mengabaikanmu, aku telah menghancurkan dirimu. Dan untuk itu... aku tidak layak meminta pengampunan."

Damian menatap Aurelia kembali. Kali ini, tatapannya begitu rapuh, begitu transparan, hingga Aurelia bisa melihat dengan jelas rasa takut yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan menghuni mata pria sedingin es itu.

Itu adalah ketakutan seorang pria yang baru menyadari bahwa ia telah kehilangan sesuatu yang paling berharga tepat setelah ia menghancurkannya.

"Aku takut," bisik Damian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru badai. "Aku takut jika kamu tidak akan pernah memaafkanku. Aku takut jika sisa hidupku akan ku habiskan dengan kenyataan bahwa aku adalah alasan mengapa kamu lebih memilih hidup menderita di kota kecil ini daripada berada di sisiku. Ketakutan itu... jauh lebih menyesakkan daripada luka pedang mana pun yang pernah kuterima."

Ia merendahkan tubuhnya, tidak secara intimidatif, melainkan secara harfiah merendahkan posturnya di hadapan Aurelia, seolah ingin menunjukkan bahwa benteng pertahanan yang selama ini ia bangun telah rata dengan tanah. Damian tidak lagi menuntut. Ia tidak lagi memerintah. Ia hanya berdiri di sana, seorang pria yang telanjang oleh rasa bersalah, menunggu vonis yang akan dijatuhkan oleh wanita yang telah ia lukai.

Keheningan kembali menyergap, dihiasi oleh napas Aurelia yang perlahan mulai teratur meski matanya masih berkaca-kaca karena guncangan emosional.

Damian menunggu. Detik-detik berlalu dengan sangat lambat. Setiap detik yang berlalu tanpa jawaban dari Aurelia dirasakannya bagaikan vonis mati yang tertunda. Ia merasa dunianya sedang dipertaruhkan di dalam toko roti sempit yang terjebak badai ini.

Namun, di tengah ketegangan yang menyesakkan, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras dari arah pintu depan toko yang sudah terkunci mati oleh salju tebal.

Gedebug!

Suara itu bukan berasal dari badai, melainkan dari hantaman benda tumpul pada struktur pintu. Dan sebelum Damian atau Aurelia sempat bereaksi, celah di bawah pintu depan perlahan mulai rembes oleh cairan berwarna merah pekat yang mengalir masuk, mencairkan tumpukan salju di ambang pintu, sementara di balik pintu kayu itu, suara geraman dingin dari sekelompok pria bersenjata yang telah mengepung toko tersebut terdengar—karena ternyata, pelarian Aurelia telah memicu sebuah konspirasi besar yang melibatkan faksi rahasia kerajaan yang tidak ingin sang saksi hidup tetap bernapas—

1
Murni Dewita
finish
Dian Utami
shania petakut thor harus nya pemberani
Ketoprak Encok: huhuhu.... makasih koreksinya kak
total 1 replies
Renjana
👣
mampir diceritaku juga ya😊
Murni Dewita
lanjut dan tetap semangat
Murni Dewita
gantung thor
Murni Dewita
gantung thor double up donk
Ketoprak Encok: sip kak
total 1 replies
Murni Dewita
👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!