NovelToon NovelToon
Zuraida & Si Kembar

Zuraida & Si Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Ibu Tiri
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.

Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Zuraida sudah sangat gerak dengan beberapa tingkah laku anak-anak yang ada di sekolah yang menurut suaminya sekolah terbaik.

Ini terakhir kalinya terjadi pada Sean. Besok tidak ada lagi. Zuraida sudah memutuskan anak-anak harus pindah sekolah.

Wajah Sean dipenuhi pewarna merah seperti warna pada seragamnya. Sebelum pulang ke rumah Zuraida sudah terlebih dahulu membersihkan wajah Sean. Mengganti seragam dengan pakaian biasa yang baru dibelinya supaya tak menimbulkan banyak pertanyaan setibanya di rumah.

"Aku ikut ke kamarmu Zuraida."

Zuraida membawa Sean ke kamarnya. Anak itu langsung rebahan di sofa.

"Kamu akan bilang sama daddy."

"Iya, daddymu harus tahu. Dan saya harap kalian bisa pindah sekolah. Sekolah mahal internasional tidak menjamin apa pun."

"Kalau daddy tetap mau kami sekolah di sana bagaimana Zuraida?."

"Saya rasa kali ini daddy kalian akan mendengarkan kalian. Bismillah saya percaya itu."

"Tapi kamu temani kami ya?."

"Tentu saja saya akan menemani kalian."

Usai percakapan itu Sean tidur pulas di sofa. Tidak mau meski Zuraida memintanya tidur di kasur.

Di lain tempat Wilona ada dalam pelukan Susan. Menangis tersedu usai bercerita panjang lebar pada Susan. Tadinya ia mau menemui Edwin membicarakan hubungan mereka namun tak jadi karena Edwin bersama perempuan lain. Matanya sendiri menyaksikannya di depan apartemen.

Tangisnya mereda, Wilona mengusap jejak air matanya.

"Apa aku balik lagi sama Arfan?," tanyanya dengan suara parau.

"Terserah kamu aja, orang aku udah nggak minat lagi sama Arfan."

Bibir Wilona terangkat senyum walau sedikit.

"Kamu nggak ada usaha sih."

"Bukan nggak ada, kamu tahu sendiri Arfan tipe suami setia. Begitu juga Arfan setia pada Zuraida. Tapi sama kamu mungkin bisa goyah. Secara kamu kan ibu dari anak-anaknya."

"Kamu nggak marah kan kalau aku rujuk sama Arfan."

"Nggak." Jujurnya.

"Kamu udah nggak tertarik lagi sama Edwin?."

Wilona terdiam sejenak, memikirkan.

"Kalau nggak, bagaimana Edwin sama aku aja?."

"Jangan!," respon cepat Wilona.

Susan tersenyum sinis.

"Serakah kamu Wilona, Arfan mau Edwin juga mau." Cibir Susan

Wilona kembali terdiam. Pikirannya berkecamuk, mau menerima kembali Edwin atau rujuk dengan Arfan. Tapi...

"Aku minta jangan dekati Edwin. Lebih baik cari pria lain saja."

Perasaan dan pikirannya sudah jauh lebih tenang. Wilona pergi dari rumah Susan.

Wilona baru sampai di rumah. Mama Arfan langsung menanyainya.

"Kamu dari mana saja Wilona? Sampai Sean dijemput Zuraida. Katanya kamu mau ada untuk anak-anakmu. Baru sehari saja Sean sekolah kamu sudah tak menjemputnya."

"Aku ada urusan, Ma. Di mana sekarang Sean?."

"Masih tidur di kamar Zuraida."

Tanpa mengucap sepatah kata pun Wilona segera menuju kamar Zuraida. Hatinya tak terima jika Sean atau Sena menerima perempuan itu.

"Bangun Sean!," teriak Wilona saat memasuki kamar Zuraida tanpa izin.

Sean yang sudah bangun hanya menatap mommynya.

Q

"Kenapa kamu menelepon Zuraida? Kamu bisa kan menelepon mommy?."

"Udah, tapi mommy nggak angkat. Terus Ibu Guru tanya lagi nomor siapa yang aku hafal. Aku bilang Zuraida." Jujur Sean.

"Seharusnya kamu telepon daddy, pasti daddy bisa jemput kamu. Bukannya kamu telepon Zuraida." Masih aja mengomel.

Sean tak membantah lagi. Diam lebih baik untuk menghindari omelan mommynya.

"Ke kamarmu sekarang!," perintahnya sembari menarik tangan Sean.

Sean menurut, sedikit berlari karena merasa diseret oleh mommynya.

Sean dan Sena duduk berhadapan dengan mommy mereka. Wilona memperingatkan keduanya untuk tidak melibatkan Zuraida dalam kehidupan mereka. Zuraida hanya orang asing, bukan keluarga. Kalau perlu buat Zuraida pergi dari rumah.

Sepergi mommy mereka Sean dan Sena terdiam. Saling tatap dengan wajah yang entahlah. Mereka bingung. Berat melakukan perintah mommy mereka. Sean dan Sena sudah pernah merasakan kebaikan dan ketulusan Zuraida.

Tapi tak mungkin juga tak melakukan permintaan mommy mereka. Secara mereka sangat menyayangi mommy mereka.

"Sebenarnya aku marah sama kamu Sen." Jujur Sean buka obrolan.

"Marah kenapa?."

"Kamu lebih memilih teman-temanmu. Tak mengenalku saat di sekolah."

"Aku minta maaf Sean. Tapi sekarang aku tak berteman lagi dengan mereka. Tentu saja aku akan memilihmu karena kamu saudara aku. Mau kan kamu memaafkan aku Sean?."

"Iya, aku memaafkanmu."

Si kembar berpelukan.

Makan malam telah selesai. Arfan mengajak anak-anaknya ke ruang kerja. Dengan percaya dirinya Wilona mau ikut dengan mereka. Tetapi sayangnya dengan tegas Arfan menolak keikutsertaan Wilona di dalamnya. Justru Arfan mengajak Zuraida untuk hadir bersama mereka.

Kesal sudah pasti. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Untung saja ada mama Arfan yang menghiburnya.

Di dalam ruang kerja terjadi percakapan yang sangat hangat di antara mereka yang disebut sebagai keluarga. Tak ada suara yang lebih kencang antara satu sama lain. Tak ada perintah karena merasa hebat. Semua setara, bicara dengan baik dan pelan.

Sebagai orang tua Zuraida dan Arfan sangat mendengarkan semua cerita detail dari kedua anaknya tanpa ada penghakiman. Tanpa menyalahkan dan menyudutkan.

Tak ada hardikan, semua bicara baik, sopan dan jujur.

"Baik, setelah daddy mendengar kalian bertiga. Terutama Sean dan Sena yang mengalami langsung. Kalian akan pindah sekolah. Daddy dan ibu kalian akan mengurusnya. Dan anak-anak itu mereka sudah mendapatkan hukuman sekaligus pertolongan."

Sean dan Sena bisa bernapas lega. Mereka akan pindah sekolah dan tentu saja besar harapan mereka akan sekolah baru yang lebih baik.

Pun dengan Zuraida, ikut merasa senang. Arfan mau mendengarkan suara kecil mereka.

Akhirnya mereka keluar dari ruangan kerja. Sean dan Sena langsung ke kamar untuk tidur. Zuraida dan Arfan menghadapi Wilona dan mamanya yang menghadang.

"Habis bicara apa sih di sana? Wilona dan mama nggak dilibatkan."

"Bukan apa-apa, Ma. Biasa urusan anak-anak."

"Seharusnya aku dilibatkan, aku mommynya."

"Aku rasa kamu nggak perlu ikut campur untuk urusan yang satu ini."

"Seharusnya kamu libatkan Wilona apa pun itu tentang anak-anak kalian. Bukan Zuraida." Sinis mama.

"Ada beberapa hal yang menurutku Wilona tak perlu tahu dan cukup itu menjadi urusanku dan istriku saja."

Mama dan Wilona seketika bungkam. Arfan dan Zuraida bisa pergi dari sana tanpa drama lagi.

Malam semakin larut, dinginnya sampai menusuk tulang. Hujan turun sangat lebat. Wilona tidur tak nyenyak karena suara geledek yang saling bersahutan. Biasanya ada Arfan yang memeluknya. Tapi sekarang...

Wilona tidur memeluk guling. Tiba-tiba saja ia mengingat Edwin. Air matanya jatuh tumpah. Tak mau tersiksa di dalam kamar dengan memikirkan Edwin, Wilona keluar mengenakan pakaian tidur dilapisi jaket sweater tebal.

"Arfan," panggil Wilona sambil berlari mendekati Arfan yang baru mau masuk ke kamarnya.

Arfan menoleh.

"Ada apa?."

"Aku takut tidur sendiri." Lirih Wilona.

Arfan tahu itu tapi ia harus mengabaikannya karena mereka bukan suami istri lagi.

Duuuuaarrrr

Bunyi geledek terdengar kencang menggetarkan. Seketika Wilona memeluk Arfan erat.

Bersambung

1
Mai_mai
cepat lah ketahuan tentang sena kalo bisa pindah sekolah saja
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor cerita bagus bgt .
𝐈𝐬𝐭𝐲
sena udah salah jalan semoga orang tuanya segera menyadarinya... dan Sena masih bisa di selamatkan kalo bisa pindah dari sekolahan itu...
Soraya
q mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!