PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sore yang Terlalu Sering Kulewati di Luar Rumah
Kehidupanku perlahan kembali berjalan dengan normal. Aku sudah tidak terlalu memikirkan semua hal yang sebelumnya membuat pikiranku kacau, tentang Kenan ataupun kejadian-kejadian yang pernah membuatku merasa tidak nyaman. Walaupun terkadang perasaan itu masih datang tanpa diminta dan kembali mengganggu pikiranku, aku berusaha untuk tidak terlalu larut di dalamnya. Aku mulai belajar bahwa tidak semua hal harus terus kupikirkan, karena semakin dalam aku memikirkannya, semakin sulit pula aku melepaskan diri dari perasaan itu.
Akhir-akhir ini, aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama teman-temanku. Salah satu orang yang paling dekat denganku saat itu adalah Flora. Hubunganku dengannya sudah semakin dekat hingga kami seperti kakak dan adik. Hampir setiap ada kesempatan, kami selalu bersama, entah itu di sekolah, sepulang sekolah, atau ketika sedang mengerjakan tugas.
Rumah Flora berada di desa sebelah dari desaku. Jaraknya memang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi jarak itu tidak pernah benar-benar menjadi penghalang bagi persahabatan kami. Setelah pulang sekolah, aku sering pergi ke rumah Flora dengan alasan ingin mengerjakan tugas bersama.
Kadang memang kami benar-benar membuka buku dan menyelesaikan tugas sekolah, tetapi tidak jarang setelah itu kami justru menghabiskan waktu dengan bermain dan bercerita tentang banyak hal.
Begitu pula sebaliknya. Flora juga sering datang ke desaku untuk menemuiku.
Suatu hari sebelum pulang sekolah, Flora menghampiriku dengan wajah yang terlihat bersemangat.
"Hitas, nanti sore datang, ya, ke rumahku. Kita kerjakan tugas yang tadi. Jangan lupa ajak Vita juga."
Aku langsung menganggukkan kepala. "Iya, nanti aku datang."
Aku, Flora, dan Vita memang sangat dekat. Walaupun rumah Flora cukup jauh dari rumah kami, hal itu tidak pernah mengurangi keinginan kami untuk bertemu. Rasanya selalu ada saja alasan untuk berkumpul, entah mengerjakan tugas, bermain, atau sekadar duduk bersama sambil membicarakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Setiap sore sepulang sekolah, aku semakin jarang berada di rumah. Hampir setiap hari aku keluar dengan alasan mengerjakan tugas bersama teman-teman. Namun, sejujurnya, tidak semua waktu yang kami habiskan benar-benar digunakan untuk belajar.
Setelah tugas selesai, kami lebih banyak bermain, tertawa, dan menghabiskan waktu bersama hingga tanpa sadar sore mulai berubah menjadi malam.
Aku terlalu menikmati kebersamaan itu hingga sering lupa bahwa ada seseorang di rumah yang mulai memperhatikan kebiasaanku.
Bapak.
Malam itu, setelah aku pulang, Bapak memanggilku. Nada suaranya membuat langkahku langsung berhenti.
"Hitas."
Aku menoleh dan menghampirinya. "Iya, Pak?"
Bapak memandangku cukup lama sebelum akhirnya berbicara. "Kenapa akhir-akhir ini kamu sering pulang sore?"
Pertanyaan itu membuatku terdiam sesaat.
"Bapak nggak suka kalau kamu sering pulang terlambat. Kalau memang mau mengerjakan tugas, kerjakan saja di rumah."
Aku menundukkan kepala. "Iya, Pak. Maaf. Nanti Hitas buat tugasnya di rumah."
Bapak kembali berbicara dengan nada yang tidak terlalu keras, tetapi cukup membuatku memahami bahwa beliau benar-benar tidak menyukai kebiasaanku itu.
"Iya, Hitas. Masalahnya kamu ini anak perempuan. Tidak enak juga sama tetangga kalau sering pulang malam seperti itu. Jangan sampai jadi kebiasaan. Bapak tidak suka, ya."
Aku masih menundukkan kepala sambil mengangguk pelan.
"Iya, Pak. Hitas mengerti."
"Bapak tidak melarang kamu berteman atau keluar rumah. Kamu boleh jalan, boleh bermain, tetapi pulangnya harus tepat waktu."
"Iya, Pak."
Aku tidak membantah sedikit pun. Aku hanya diam dan menganggukkan kepala karena jauh di dalam hati, aku tahu bahwa Bapak benar. Aku memang terlalu sering keluar rumah dengan alasan mengerjakan tugas, padahal tidak semua yang kulakukan di luar rumah benar-benar berkaitan dengan sekolah.
Entah kenapa, setelah mendengar perkataan Bapak, mataku mulai terasa panas. Aku tidak marah kepadanya. Aku juga tidak merasa bahwa Bapak terlalu mengekangku. Justru karena aku tahu bahwa aku yang salah, aku hanya bisa menahan tangis sambil berdiri diam di hadapannya.
Bapak akhirnya berkata, "Sudah, sana kembali ke kamar."
Aku segera berjalan menuju kamar sambil mengusap air mata yang mulai jatuh. Namun, ternyata malam itu nasihat untukku belum benar-benar selesai.
Begitu masuk ke kamar, Kak Ucaluna langsung menatapku.
"Kan Kakak sudah bilang, jangan terlalu sering keluar rumah," katanya. "Kalau memang mau keluar, harus jelas. Tidak mungkin juga mengerjakan tugas selama itu. Kamu pasti bohong, kan? Kakak tahu kamu. Kakak hafal sekali sama kamu."
Aku langsung menghela napas panjang. Rasanya kepalaku sudah cukup penuh setelah dimarahi Bapak.
"Aduh, Kak. Hitas sudah dimarahi Bapak, jangan tambah marahin Hitas lagi."
Kak Ucaluna tidak langsung menjawab. Aku tahu sebenarnya ia tidak bermaksud membuatku semakin sedih. Sejak Mama tidak ada, Kak Ucaluna memang semakin sering memperhatikanku. Hampir setiap sore ia selalu mengingatkan agar aku tidak pulang terlalu malam dan tidak terlalu sering keluar rumah.
Mungkin caranya terkadang terdengar seperti sedang memarahiku, tetapi aku tahu ada rasa khawatir di balik semua perkataannya.
Aku hanya duduk diam di dalam kamar sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi. Hari-hari bersama Flora dan Vita memang membuatku merasa lebih bahagia. Bersama mereka, aku bisa tertawa, bermain, dan untuk sementara melupakan berbagai hal yang pernah membuatku sedih. Namun, malam itu aku mulai menyadari bahwa kesenangan tidak seharusnya membuatku melupakan rumah dan orang-orang yang menungguku pulang.
Aku mengusap sisa air mata di wajahku sambil menarik napas perlahan.
Aku memang sudah tidak memiliki Mama yang akan memarahiku ketika pulang terlambat. Tidak ada lagi suara Mama yang menyuruhku segera pulang atau bertanya dari mana aku sejak sore. Namun, itu bukan berarti tidak ada lagi orang yang peduli kepadaku.
Bapak masih ada.
Kak Ucaluna juga masih ada.
Dan malam itu, di tengah rasa sedih karena dimarahi, aku perlahan memahami bahwa kemarahan mereka bukan karena mereka tidak ingin aku bahagia bersama teman-temanku.
Mereka hanya tidak ingin aku terlalu jauh dari rumah.
...***...