Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Donasi yang Membeli Neraka
Marwan meminta semua orang pulang.
Tidak ada yang menurut.
Reading naskah Mahardika berubah menjadi ruang krisis kedua. Arga menutup akses ruangan. Maya mengambil alih komunikasi sponsor. Bima memeriksa kurir dan jalur pengiriman. Lestari memverifikasi dokumen donasi lama. Damar duduk di pojok dengan wajah orang yang menyadari filmnya kalah dramatis dari hidup nyata.
Ayla berdiri di depan layar, membaca dokumen itu berulang.
Donasi Prameswari Group untuk Institut Biomedis Nusantara.
Empat belas tahun lalu.
Nominal besar, tetapi tidak aneh untuk perusahaan sebesar Prameswari. Keterangan resmi: program riset pemulihan trauma anak korban perdagangan manusia.
Kalimat yang indah.
Kalimat seperti pintu depan rumah sakit.
Di belakangnya mungkin neraka.
Marwan muncul di layar video call dari rumah. Wajahnya berkeringat. Ratna duduk di belakangnya, menangis. Alina berdiri di sisi lain ruang reading, memeluk tubuh sendiri. Reno berada di dekat Ayla, tetapi tidak berani bicara.
Arga berkata, “Pak Marwan, kami butuh penjelasan kronologis.”
Marwan mengusap wajah. “Prameswari Group memang pernah menyumbang ke institut itu. Saat itu Ayla sudah hilang hampir setahun. Ada proposal riset tentang pemulihan trauma anak korban penculikan dan perdagangan manusia. Mereka bilang hasilnya bisa membantu korban seperti... seperti Ayla kalau ditemukan.”
Suara Ratna pecah.
Ayla tidak bergerak.
Arga bertanya, “Siapa yang mengajukan proposal?”
“Saya tidak ingat detailnya.”
Maya memotong dingin, “Cobalah lebih keras.”
Marwan menatap Maya, tetapi tidak berani marah. “Ada seorang dokter. Surya Atmadja mungkin ada di tim, tapi nama yang datang ke kantor bukan dia. Saya... saya perlu cari arsip.”
Lestari berkata dari laptop, “Pak, dokumen digital menunjukkan kontak awal melalui konsultan bernama Hendra Kusuma.”
Bima mengangkat kepala. “Dokter palsu tadi malam memakai nama Hendra.”
Ruangan diam.
Surya benar-benar suka lingkaran kecil.
Ayla akhirnya bicara. “Jadi saat aku hilang, kalian membayar institut yang mungkin memakai anak hilang untuk eksperimen.”
Ratna menangis lebih keras. “Kami tidak tahu.”
Ayla menatap layar. “Kalian sering sekali tidak tahu.”
Marwan terlihat seperti ditampar. “Ayla, kalau Papa tahu—”
“Jangan.”
Satu kata itu membuat Marwan berhenti.
Ayla menatapnya tanpa emosi yang jelas. “Jangan pakai kalimat kalau tahu. Semua orang di rumah ini memakai ketidaktahuan seperti selimut. Alina tidak tahu obat membunuh orang. Ibu tidak tahu yayasan dipakai. Kamu tidak tahu donasimu masuk ke mana. Enak sekali.”
Tidak ada yang berani menjawab.
Reno memejamkan mata. Alina menunduk. Ratna menutup wajah.
Arga melihat Ayla, tetapi tidak memotong.
Dia tahu ini bukan bagian penyelidikan yang bisa diselesaikan dengan pertanyaan.
Ini sesuatu yang sudah tertunda bertahun-tahun.
Maya berkata pelan, “Ayla.”
Ayla mengangkat tangan. “Aku baik.”
Maya tidak percaya. Arga juga tidak. Tetapi mereka membiarkannya berdiri.
Lestari memecah sunyi. “Dokumen donasi ini asli.”
Ratna hampir jatuh dari kursi.
Lestari cepat menambahkan, “Tapi lampiran tujuan penggunaan dana berbeda dengan file internal institut. Di dokumen Prameswari, dananya untuk program pemulihan trauma. Di file internal Surya, donasi itu masuk ke kategori MB series continuation.”
Bima mengumpat.
Arga bertanya, “Artinya dana itu dialihkan?”
“Kemungkinan besar. Tapi apakah pihak Prameswari tahu atau tidak, belum bisa dipastikan.”
Ayla tertawa pendek.
Belum bisa dipastikan.
Kalimat resmi yang sangat sopan untuk menghancurkan orang.
Marwan menatap Ayla dari layar. “Papa akan buka semua arsip perusahaan. Semua. Kalau ada orang di perusahaan yang terlibat, Papa sendiri yang serahkan.”
Ayla menatapnya.
“Dan kalau kamu yang terlibat?”
Ratna berteriak pelan, “Ayla!”
Marwan pucat, tetapi menjawab, “Kalau Papa terlibat, Papa juga akan bertanggung jawab.”
Untuk pertama kalinya, jawaban Marwan tidak terdengar seperti penghindaran.
Terlambat, tentu saja.
Tetapi tidak kosong.
Arga berkata, “Kami akan kirim tim forensik ke arsip Prameswari Group.”
Marwan mengangguk. “Saya izinkan.”
Maya menatap layar. “Bukan hanya izinkan. Anda akan membantu aktif. Kalau ada satu dokumen hilang, publik akan tahu keluarga Anda membiarkan yayasan anak hilang menjadi alat eksperimen.”
Marwan menegang. “Saya mengerti.”
Maya tersenyum dingin. “Bagus.”
Damar yang sejak tadi diam tiba-tiba berbisik, “Aku rasa film ini harus ditunda.”
Semua menoleh.
Dia mengangkat tangan. “Aku tahu ini bukan prioritas, tapi cerita film kami terlalu mirip kasus. Kalau tetap jalan tanpa penyesuaian, publik bisa mengira kami mengeksploitasi korban.”
Reno mengangguk pelan. “Aku setuju.”
Alina berkata, “Kalau ditunda, orang akan makin curiga.”
Reno menatapnya. “Lebih baik dicurigai daripada benar-benar tidak punya hati.”
Alina terdiam.
Kalimat itu memukulnya lebih keras karena datang dari Reno.
Ayla menatap Reno. Kakak laki-laki itu berubah cepat beberapa hari terakhir. Mungkin terlalu cepat, karena kenyataan memaksanya berlari.
Arga menerima pesan. “Kurir mengaku mengambil buket dari loker pengiriman otomatis. Tidak tahu pengirim. Tapi kamera memperlihatkan orang yang memasukkan paket.”
Dia mengirim gambar ke layar.
Wajah pria itu tidak terlihat jelas, tetapi posturnya dikenal Ayla.
Pria bertopi hitam yang pernah berdiri dekat pagar kampus.
“Dia mengawasi kampus,” kata Ayla.
Arga menatapnya. “Kamu pernah lihat?”
“Hari latihan. Setelah pesan ancaman.”
“Kenapa baru bilang?”
“Aku baru yakin.”
Arga tampak ingin memarahinya, tetapi menahan diri karena ruangan penuh orang. “Kita bahas nanti.”
“Tidak sabar.”
Bima bergumam, “Aku tidak mau hadir saat nanti.”
Lestari memperbesar gambar. “Aku bisa coba cocokkan dengan CCTV kampus.”
Ayla mengirim foto yang pernah dia ambil di lapangan. “Pakai ini.”
Lestari berhenti. “Kamu mengambil foto?”
“Aku mahasiswi animasi. Observasi visual.”
Bima menatap Arga. “Dia selalu punya alasan.”
Arga menjawab, “Saya tahu.”
Beberapa menit kemudian, Lestari mendapatkan kecocokan parsial. Pria bertopi itu memakai kartu akses sementara Universitas Naratama atas nama vendor dokumentasi ospek.
Nisa tiba-tiba mengirim pesan pada Ayla.
Ayla, ada orang kampus nanya-nanya soal kamu. Katanya dari dokumentasi. Aku takut.
Ayla membalas cepat:
Di mana kamu?
Nisa:
Studio animasi.
Ayla menatap Arga.
“Dia di kampus.”
Arga sudah berdiri sebelum dia selesai bicara.
“Bima, tim ke Naratama. Sekarang.”
Reno bertanya, “Siapa?”
Ayla mengambil jaket.
“Orang Surya.”
Ratna menangis lagi. “Ayla, jangan pergi sendiri.”
Ayla berhenti.
Kalimat itu sederhana. Terlambat. Namun kali ini bukan perintah menjaga nama baik, bukan pembelaan untuk Alina, bukan permintaan agar dia mengalah.
Jangan pergi sendiri.
Ayla tidak menoleh.
“Aku tidak sendiri.”
Arga berdiri di sampingnya.
Maya mengambil tas.
Bima sudah berlari keluar.
Di layar, Marwan menatap putrinya dengan wajah hancur.
“Ayla.”
Dia akhirnya menoleh.
Marwan berkata pelan, “Bawa temanmu pulang.”
Ayla menatapnya dua detik.
Lalu mengangguk.
Mobil mereka melaju menuju Universitas Naratama sebelum sore turun. Untuk pertama kalinya, kampus bukan panggung Alina, bukan tempat Ayla berpura-pura jadi mahasiswi biasa.
Kampus menjadi target.
Dan Nisa, gadis pertama yang memilih berdiri di samping Ayla tanpa meminta apa pun, ada di dalamnya.
Surya baru saja membuat kesalahan baru.
Di mobil menuju kampus, Arga memberi instruksi tanpa jeda.
“Bima masuk dari gerbang belakang. Tim kampus tahan semua akses keluar. Lestari, tarik CCTV studio animasi dan vendor dokumentasi. Maya, jangan masuk area sebelum aman.”
Maya menjawab dari mobil belakang, “Aku tersinggung.”
“Silakan tersinggung di luar perimeter.”
Bima tertawa melalui radio. “Pak Arga mulai beradaptasi.”
Ayla menatap jalan di depan. “Dia belajar karena terpaksa.”
Arga meliriknya. “Kamu tahu orang itu mungkin memakai Nisa untuk menarikmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau kamu masuk tanpa melihat situasi—”
“Aku tidak akan.”
Arga berhenti bicara sebentar.
Ayla menoleh. “Apa?”
“Saya menunggu bagian kamu menambahkan tapi.”
“Tidak ada tapi.”
Itu membuat Arga lebih khawatir, bukan lebih tenang.
Ayla menggenggam ponsel. Nisa belum membalas pesan berikutnya. Di layar, pesan terakhir masih terbuka.
Ada orang kampus nanya-nanya soal kamu.
Gadis itu seharusnya tidak terseret. Nisa hanya mahasiswi animasi yang terlalu jujur, terlalu mudah khawatir, dan terlalu bodoh untuk meninggalkan Ayla sendirian di hari pertama. Di dunia Ayla, orang seperti itu jarang bertahan dekat bahaya.
Karena itu Ayla biasanya menjauh lebih dulu.
Kali ini terlambat.
Mobil berhenti mendadak di depan gerbang samping Universitas Naratama. Seorang satpam kampus berlari menghampiri.
“Pak, studio animasi terkunci dari dalam. Ada satu mahasiswa di dalam. Lampu mati.”
Ayla sudah turun sebelum Arga membuka pintu.
Arga menyusul. “Ayla, ingat. Tidak sendiri.”
Dia berhenti satu detik.
Lalu mengangguk.
“Tidak sendiri.”
Mereka berlari menuju gedung studio.
Di lantai dua, koridor gelap. Di pintu studio animasi, tertempel kertas putih dengan tulisan spidol hitam.
MB-07, pilih: temanmu atau ingatanmu.
Ayla menatap tulisan itu.
Lalu tersenyum.
Senyum yang membuat Arga mengangkat senjata lebih erat.
Karena kali ini, Surya bukan hanya membuka luka lama.
Dia menyentuh orang yang Ayla putuskan untuk lindungi.