NovelToon NovelToon
Nona Kota Di Posko Kkn

Nona Kota Di Posko Kkn

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”

Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31.

Alya masih duduk di teras posko sambil memandangi karung goni berisi cempedak yang baru saja diantar oleh salah seorang warga. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya.

Tak lama kemudian, Rizki keluar dari dalam posko sambil membawa handuk di pundaknya.

“Buset, Al... itu karung isi apa?” tanyanya sambil menunjuk karung di samping Alya.

“Cempedak.”

“Dikasih sama pak Anto tadi.”

“Masa sih?”

Adrian langsung mendekat.

“Satu karung?”

Alya mengangguk sambil tertawa kecil.

“Iya. Aku juga kaget.”

Reza yang baru keluar ikut melongo.

“Al... lain kali jangan bilang suka satu buah.”

“Bilang aja suka sama kebunnya sekalian.”

Ucapan Reza langsung membuat semuanya tertawa.

Alya hanya menggeleng geli.

“Kalian ini ada-ada aja.”

“Lo belom mandi?” tanya Adrian.

Alya melirik ke arah dalam posko nampak masih ada beberapa anak-anak yang mau mandi.

“Aku nanti aja deh.”

“Yaudah, kami duluan.”

“Iya.”

Setelah rizki dan reza pergi, Alya masuk ke dalam posko.

Ia membuka koper besarnya lalu mengambil beberapa bungkus keripik buah.

Saat itulah dimas yang sedang duduk memainkan ponsel melirik isi koper Alya.

“Buset...Al, koper lo isinya makanan semua?”

Alya tertawa pelan.

“Papi yang nyiapin, Katanya biar aku nggak kelaparan selama KKN.”

Dimas menggeleng kagum.

“Pantes aja banyak banget.”

“Kalau mau ambil aja,” ujar Alya santai.

“Serius?”

“Iya.”

Dimas mengambil satu bungkus keripik stroberi.

“Makasih ya, Al.”

“Sama-sama.”

Belum lama mereka mengobrol, Alya tiba-tiba memegang perutnya.

“Kenapa, Al?” tanya Rizki.

“Kayaknya perutku agak nggak enak, Mungkin kebanyakan nyobain buah tadi.”

Dimas terkekeh.

“Yaudah, istirahat dulu sana.”

Alya mengangguk pelan lalu segera berjalan menuju kasur untuk beristirahat, berharap rasa tidak nyaman di perutnya segera hilang.

Alya berbaring di kasurnya sambil memegangi perut.

“Duh... semoga cuma masuk angin,” gumamnya pelan.

Ia memejamkan mata beberapa saat, berharap rasa mulas itu berkurang. Namun bukannya membaik, perutnya justru kembali berbunyi pelan.

Bruuk...

Alya langsung membuka mata.

“Ya Tuhan... jangan sekarang, dong,” keluhnya lirih.

Ia menoleh ke arah luar posko.

Suara tawa Adrian dan Dion yang sedang mengobrol di teras masih terdengar samar.

Beberapa teman yang lain juga masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Alya mengembuskan napas panjang.

“Aku harus keluar sebentar,” gumamnya.

Perlahan ia bangkit dari kasur, lalu mengambil tisu dan sebotol air minum.

Baru saja hendak melangkah keluar kamar, Tiara yang melihatnya langsung bertanya,

“Al, mau ke mana?”

Alya tersenyum tipis sambil tetap memegangi perutnya.

“Ke belakang bentar, Perutku agak nggak enak.”

Tiara mengangguk pelan.

“Oh... yaudah, hati-hati ya.”

“Iya.”

Alya pun berjalan pelan menuju belakang posko, berharap tidak ada yang memperhatikannya.

Sementara itu, Adrian yang melihat Alya berjalan tergesa-gesa hanya mengernyit bingung.

“Si Alya kenapa?”

Dion mengangkat bahu.

“Nggak tahu, Mungkin masuk angin.”

Keduanya kembali melanjutkan obrolan tanpa berpikir macam-macam, sementara Alya mempercepat langkahnya dengan satu harapan sederhana.

Semoga belum terlambat...

Beruntung, suasana di belakang posko sedang sepi.

Alya mengembuskan napas lega.

“Syukurlah...”

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan wajah yang jauh lebih tenang.

“Fiuh...”

“Udah mendingan,” gumamnya pelan.

Ia berjalan santai kembali ke arah posko sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Baru saja menginjak anak tangga, Dion langsung menoleh.

“Loh, Al.”

“Udah baikan?”

Alya mengangguk kecil.

“Iya. Kayaknya tadi kebanyakan nyicipin buah.”

Adrian langsung terkekeh.

“Makanya.”

“Dari karamunting, rambusa, cempedak, semuanya dicobain.”

“Perut lo protes tuh.”

“Ih, apaan sih.”

Alya memonyongkan bibir.

“Namanya juga penasaran.”

“Ya nggak nyangka enak-enak semua.”

Ucapan itu kembali mengundang tawa.

Tak lama kemudian, Arga yang sejak tadi sibuk di depan laptopnya menutup layar laptop tersebut.

Ia melirik sekilas ke arah Alya.

“Kalau perut masih nggak enak, jangan makan buah dulu.”

“Minum air putih yang banyak.”

Alya tersenyum tipis.

“Iya.”

“Makasih.”

Arga hanya mengangguk pelan sebelum kembali merebahkan tubuhnya.

Sementara itu, Dion menyenggol bahu Adrian pelan.

“Liat tuh.”

“Mode perhatian Arga muncul lagi.”

“Udah, diem,” bisik Adrian sambil menahan tawa.

Mereka berdua saling berpandangan, lalu memilih tidak menggoda Arga lagi.

Suasana posko pun kembali tenang.

Angin sore berembus pelan melewati jendela-jendela kayu, sementara masing-masing mulai menikmati waktu istirahat setelah seharian beraktivitas.

Menjelang sore, suasana posko kembali ramai.

Rizki dan Reza terlihat sedang bermain kartu di ruang tamu.

Dion dan Adrian sibuk saling mengejek sambil menonton video lucu di ponsel.

Andre memilih merebahkan diri di atas tikar, sedangkan Dimas membantu Nadia dan Laura merapikan beberapa peralatan dapur.

Alya sendiri duduk di teras sambil menikmati semilir angin sore.

Sesekali ia memandangi halaman depan posko yang mulai dipenuhi anak-anak desa yang sedang bermain.

Mereka tampak berlarian sambil tertawa riang.

“Eh, Kak Alya!”

Salah seorang anak melambaikan tangan.

Alya pun membalas lambaian itu.

“Halo!”

“Udah main lagi, ya?”

“Iya!”

“Kakak besok ikut main lagi sama kami?”

Alya tersenyum hangat.

“Kalau nggak ada kegiatan, Kakak ikut.”

“Yeay!”

Anak-anak itu kembali berlarian dengan wajah sumringah. Melihat pemandangan itu, senyum Alya ikut mengembang.

Tak lama kemudian, Arga keluar dari dalam posko sambil membawa segelas kopi. Ia berdiri di samping pintu, menikmati suasana sore yang mulai teduh.

“Ana-anak itu suka sama kamu,” ucap Arga tiba-tiba.

Alya menoleh.

“Serius?”

Arga mengangguk pelan.

“Kelihatan, Mereka selalu nyariin kamu.”

Alya terkekeh kecil.

“Mungkin karena aku sering bagi permen.”

“Bukan cuma itu.”

“Mereka nyaman sama kamu.”

Jawaban singkat Arga membuat Alya terdiam sejenak.

Belum sempat ia membalas, Dion tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa sebungkus kerupuk.

“Waduh...Ganggu nggak nih?”

Alya langsung melempar tatapan kesal.

“Dion!”

Cowok itu malah tertawa.

“Lanjut, lanjut.”

“Anggap aja gue nggak ada.”

Arga hanya menggeleng pelan, sementara Alya menahan tawa melihat tingkah Dion yang memang tidak pernah bisa diam.

Suasana sore di posko kembali dipenuhi canda, membuat rasa lelah setelah seharian bekerja perlahan menghilang.

Tak lama kemudian, matahari mulai tenggelam di balik pepohonan.

Langit yang semula biru perlahan berubah jingga keemasan.

Angin sore pun bertiup semakin sejuk.

“Udah mau magrib,” gumam Adrian sambil melihat langit.

“Iya.”

“Ayo beres-beres dulu,” sahut Dimas.

Mereka pun mulai merapikan halaman posko.

Kursi plastik yang tadi dipakai duduk dipindahkan kembali ke teras.

Sisa bungkus makanan dibuang ke tempat sampah.

Sementara itu, Alya mengangkat keranjang berisi buah-buahan pemberian anak-anak desa lalu membawanya masuk ke dalam rumah.

“Al.”

“Simpan cempedaknya di dapur aja.”

“Biar nggak kepanasan,” ujar Nadia.

“Iya.”

Alya mengangguk lalu menyeret karung cempedak itu perlahan menuju dapur.

“Berat banget...” gumamnya pelan.

Melihat Alya kesulitan, Arga yang baru saja lewat langsung menghentikan langkahnya.

“Biar aku.”

Tanpa menunggu jawaban, Arga mengangkat karung itu dengan mudah lalu meletakkannya di sudut dapur.

“Nah, di sini aja.”

Alya tersenyum lega.

“Makasih, Ar.”

“Hm.”

Arga hanya mengangguk singkat sebelum kembali keluar.

Semua itu tak luput dari perhatian Laura, Ia yang sedang menyusun piring di rak dapur mengembuskan napas pelan.

Tatapannya sempat berhenti pada Alya, lalu beralih ke Arga yang sudah berjalan keluar.

Perasaan kesal di dalam hatinya kembali muncul.

Di sisi lain, Alya sama sekali tidak menyadarinya, Ia justru sibuk menyusun buah-buahan di dalam sebuah keranjang agar tidak berserakan.

“Besok kita makan cempedak lagi, ya,” celetuk Dion yang tiba-tiba muncul di depan pintu dapur.

Alya tertawa kecil.

“Kalau satu karung ini sih, kayaknya seminggu juga belum habis.”

“Syukur deh.”

“Berarti stok camilan kita aman.”

Ucapan Dion kembali mengundang tawa teman-temannya, membuat suasana posko terasa hangat menjelang malam.

1
Aylnn_
...
Aylnn
Bagus Sekali..
Aylnn
bagus kak..
cintaa
lanjut thor🙏🙏
Aylnn_: Besok sy update yah Kak..🙏🥰
total 1 replies
cintaa
ditunggu kelanjutannyaa 🙏💪
Aylnn_: Sudah update yaa kak..
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr tapi banyakin yaa maaf kalo ngelunjakk🙏🙏🙏
Aylnn_: Sudah Update yaa kak, itu saya buat kan 3 bab yahh kak semoga suka🥰
total 1 replies
cintaa
hmm... mana yaa kak lanjutannya🙏🙏
Aylnn_: sudah update ya kak, maaf kemarin² saya sibuk🙏🥰
total 1 replies
cintaa
lanjut thorr💪💪💪💪
Aylnn_: Oke besok pagi yaa kk..
total 1 replies
Muh Adhil
hahah author nya tega banget sama alya 🤣
Aylnn_: Yaa Ampunn..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!