NovelToon NovelToon
GADIS KECIL KESAYANGAN CEO

GADIS KECIL KESAYANGAN CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Eka Sugairti

Kesialan dapat menimbulkan keajaiban??

Benarkah itu??

Kisah seorang gadis berusia 18 thn bernama Gaby Debbara Fernando, gadis yang diusir oleh ayahnya karena kesalahan yang entah apa itu. Kecelakaan yang membuatnya harus masuk rumah sakit, justru malah menimbulkan keajaiban dalam kehidupannya. Bagaimana tidak??

Kecelakaan yang dialaminya mungkin merupakan kecelakaan yang paling beruntung, sebab ia dapat bertemu dengan Ardiaz Sunjaya.

Ya...Pengusaha muda yang sukses bernama Ardiaz Sunjaya, siapa yang tidak mengenalnya. Ardiaz pria tertampan sedunia ini jatuh cinta pada seorang gadis biasa??

Begitu banyak gadis cantik dari kalangan atas, namun ia hanya jatuh cinta pada Gaby.

Penasaran dengan perjuangannya??

Langsung baca aja yak...

Jangan lupa like, vote, rate ya...

Kalo ada saran dan masukan silahkan ajukan di kolom komentar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Sugairti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 34

Tak terasa malam pun tiba, Gaby berdandan selama hampir 2 jam bersama Anny. Gaby hanya diam dan menurut saat Anny sedang meriasnya.

"Bi, jangan terlalu tebal. Nanti wajah ku gatal!" Ucap Gaby lembut.

"Ah, iya baiklah." Jawab Anny dengan gemetar.

Beberapa menit kemudian...

Gaby tampil cantik dengan gaun yang tak kalah cantik dari dirinya. Gaby menuruni tangga dengan sangat anggun. Bahkan Kangjian pun terpesona oleh kecantikan Gaby.

"Nona cantik sekali!" Puji Kangjian sambil sedikit membungkuk.

"Terima kasih," jawab Gaby dengan senyum manis.

Kangjian mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh tangan Gaby.

Mereka berdua kemudian berkendara menuju tempat Ardiaz berada. Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai ditempat tujuan.

Sebuah gedung besar yang memancarkan sinar kecil. Terdapat sebuah nama yang terpasang disana. Yakni, 'Sunjaya Group'.

"Kenapa tuan Ardiaz mengundangku keperusahaanya?" Batin Gaby bertanya-tanya setelah melihat gedung besar yang berdiri kokoh dihadapannya.

Gaby masuk kedalam bersama dengan Kangjian. Mereka menaiki lift agar cepat sampai pada tujuan mereka. Lantai 10 adalah tujuan Gaby dan Kangjian. Gaby perlahan melangkah keluar dari lift. Tak selang berapa langkah setelahnya Gaby kini berada disebuah ruangan yang cukup besar, sebuah ruang kerja Ardiaz sendiri. Kangjian mempersilahkan masuk Gaby lalu ia menunggu diluar.

Gaby melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan, tampaklah ruangan tersebut yang gelap gulita. Hanya sebuah lilin-lah yang memancarkan cahaya kecil. Didepan lilin tersebut juga tampak Ardiaz yang sedang duduk menunggu kedatangan Gaby dengan ekspresi dingin tak ada senyuman sama sekali. Namun, bagi Gaby Ardiaz sangat tampan dan mempesona.

"Ah, tuan Ardiaz hari ini sangat tampan!" Batin Gaby mengagumi ketampanan Ardiaz.

Ardiaz bangkit berdiri mendekati Gaby. Ia menatap Gaby dengan tatapan dingin. Tak selang berapa lama kemudian Ardiaz menggenggam tangan Gaby dan menariknya pelan menuju sebuah jendela besar.

Tampaklah sebuah meja lengkap dengan dua buah kursi dan hidangan makan malam yang romantis. Tak lupa terdapat lilin yang menambah cahaya terang juga vas bunga kecil terdapat beberapa bungan mawar merah yang menambah kesan romantis.

Ardiaz membawa Gaby kepembatas lalu menatap kearah jalanan. Sorot lampu dari rumah, apartemen, kendaraan, bahkan sinar bulan dan bintang sangat indah dan manis. Gaby tersenyum takjub melihat pemandangan malam dari atas gedung perusahaan Ardiaz.

"Cantik!!" Ucap Gaby terkagum.

Ardiaz tersenyum kecil mendengar ucapan Gaby. Ia kemudian menatap langit malam yang dipenuhi ribuan bintang.

"Saya tahu kau akan menyukainya!" Sahut Ardiaz pelan.

Ardiaz kembali menatap Gaby yang masih terpesona dengan keindahan malam. Tatapan Ardiaz tertuju pada lengan kanan Gaby, sontak saja Ardiaz menggenggamnya dan mengamati lengan kanan Gaby.

"Gelang dari siapa ini?!" Tanya Ardiaz dengan nada marah.

"Eh?" Gaby kebingungan kemudian menatap gelang kecil yang terpasang dilengan kanannya.

Gaby menarik lengannya dari genggaman Ardiaz, lantas melepas gelang yang terikat dilengan kanannya.

"Ini pemberian Bryan!" Jawab Gaby sambil menyerahkan gelang tersebut.

"Gelang jelek seperti ini kau memakainya?" Tanya Ardiaz setelah menerima gelang tersebut dan mengamatinya.

"Saya hanya menghargai pemberian orang lain," jawab Gaby dengan wajah murung.

"Gelang ini seharusnya dibuang!" Sahut Ardaz hendak membuang gelang pemberian Bryan.

"Ah, jangan!!" Teriak Gaby sambil memegang tangan Ardiaz menghentikan niatnya untuk membuang gelang tersebut.

"Kenapa? Apa kau menyukai orang itu?" Tanya Ardiaz dingin.

"Ti-tidak, bukan seperti itu. Hanya saja jika dia tau kalau gelangnya hilang, Bryan akan curiga!" Jawab Gaby melepas tangan Ardiaz.

"Cih! Bilang saja jika kau suka!" Ucap Ardiaz tak suka.

"Ah, tidak bukan seperti itu!" Gaby merasa bersalah karena ia melarang Ardiaz yang hendak membuang gelang tersebut.

Ardiaz mengabaikan ucapan Gaby lalu berbalik tak menatap Gaby lagi. Sontak hal itu membuat Gaby tak enak hati, ia pun menyusul Ardiaz dengan berlari kecil. Ardiaz terus berjalan dengan perasaan hampa. Gaby memegang tangan Ardiaz agar ia menghentikan langkahnya.

Ardiaz berhenti berjalan, ia kemudian berbalik lantas setelahnya Gaby mendorong pelan tubuh Ardiaz hingga membentur dinding dibelakangnya. Gaby menyandarkan telapak tangannya pada dinding yang dibelakangi Ardiaz.

Seketika jantung Ardiaz berdetak dengan kencang, sangat dekat itulah yang ia ucapkan ketika melihat Gaby yang berada didepannya. Hanya tersisa beberapa senti jarak antara keduanya. Gaby menatap Ardiaz dengan tatapan memohon dan bersalah. Ia menghembuskan nafasnya dengan cepat, karena jantungnya yang terus berdetak dengan hebat.

"Ekhem...," ucap Ardiaz berpura-pura batuk.

"Saya mohon, jangan buang gelang itu. Sa-saya juga tidak berniat melukai hati tuan. Saya tidak mencintai Bryan, tolong tuan percaya pada saya!" Sahut Gaby dengan nada memohon.

Ardiaz membuang nafas pelan, ia membenarkan posisi berdirinya. Lantas ia mengamati gelang pemberian Bryan untuk Gaby.

"Baiklah, saya tidak akan membuangnya." Jawab Ardiaz pelan.

"Ingatlah ini, meski ini pemberian pria itu. Tapi, sekarang aku yang nemasangkannya jadi anggaplah ini pemberian dari saya!" Lanjutnya sambil memasang gelang tersebut dilengan kanan Gaby.

Gaby tersenyum penuh berterima kasih. Namun, tatapan Ardiaz masih begitu dingin. Ardiaz memeluk pinggang Gaby lalu menariknya dan memutarkannya hingga membentur tembok. Yang semula punggung Ardiaz membentur dinding kini bergantian dengan Gaby yang membentur dinding.

"Ah!!" Gaby terkaget saat Ardiaz memutarnya.

Tatapan Ardiaz begitu dingin, Gaby memperhatikan wajah Ardiaz dengan seksama.

"Setelah dilihat lagi, wajah Ardiaz terlihat kusam!" Batin Gaby setelah melihat wajah Ardiaz yang kusam.

Ardiaz mengambil sebuah kotak yang berada disaku jasnya kemudian membukanya dan mengambil sebuah gelang didalamnya. Lantas ia memasangkan gelang tersebut ditangan kiri Gaby, setelahnya Ardiaz memberikan kecupan hangat ditangan kiri Gaby. Wajah Gaby kembali memerah, ia merasa malu dan gugup setelah Ardiaz mencium punggung tangannya.

Namun, tatapan Ardiaz masih begitu dingin. Sebuah tatapan yang penuh dengan luka kehidupan, Gaby menatapnya dengan sangat iba.

"Berjanjilan kau tidak akan meninggalkanku!" Pinta Ardiaz dengan nada pelan.

Gaby terkejut dengan perkataan Ardiaz.

Secara tiba-tiba Ardiaz memeluk Gaby. Gaby terkejut dengan tingkah Ardiaz yang memeluknya secara tiba-tiba.

"Melihat caranya memeluk dan berbicara seperti tadi, aku bisa merasakan bahwa tuan Ardiaz sangat terluka!" Batin Gaby yang kembali merasa bersalah.

"Ingatlah, jangan pernah berpindah kehati lain sebelum kau menjawab lamaranku. Aku paling benci dengan seorang yang menganggtungkan aku lalu pergi bersama pria lain sebelum menjawa lamaranku!!" Sahut Ardiaz dengan suara serak.

"Ah! Apa tuan Ardiaz menangis?" Pikir Gaby.

Pikiran Gaby diliputi kebingungan, ia tak tahu harus menjawab apa. Lamaran Ardiaz? Ia juga belum mendapatkan jawaban yang paling tepat. Sekian lama Gaby terdiam.

Gaby tersenyum kecil namun penuh kehangatan. Ia kemudian membalas pelukan Ardiaz dengan lenganya yang hangat. Pelukan Gaby dapat menghangatkan tubuh serta pikiran Ardiaz. Gaby mengusap pelan belakang kepala Ardiaz dengan lembut.

"Baiklah, saya tidak akan pernah menghancurkan hati tuan. Saya juga tidak akan menyakiti tuan," jawab Gaby dengan nada lembut.

"Saya... saya disini hadir untuk memberikan kehangatan untuk tuan!" Lanjut Gaby dengan senyum hangat.

1
Ratna Fika Ajah
Thor, kok yo masalah trus yo yo.
Ratna Fika Ajah
Luar biasa
Alifah Azzahra💙💙
Mampir yah Thor 🥰
Nur Syamsi
waduh mna body guar tuan Rogad
Nur Syamsi
author bikin Ardiaz sembuh belum merasakan kebahagiaan bersama isterinya
Nur Syamsi
kapang Gabynya bahagia author terlalu banyak orang yg jahat padanya.....bahagiain Thor Gabynya
Nur Syamsi
ulat bulu Tdk punya malu, dsar
Nur Syamsi
haa sesak baca ketiga persahabatan kepala klan....
Nur Syamsi
author jgn pisahin Ardiaz ma Gaby, biarkan mrk bahagia bersama adik angkatnya yg menolong dr tabrak lari ...🙏🙏
Nur Syamsi
akhirnya....luluh jg Gabynya....
Nur Syamsi
Nikah betulan saja author Tdk usah nikah kontrak, masalah kakeknya Gaby nti Ardiaznya yg tanggung jawab....
Nur Syamsi
tidak adek tidak kakak sama" liciknya makanya jangan buat tantangan dan meremehkan orang Shani,
Nur Syamsi
Roger membuat Kanjian menahan kencingnya 🤣🤣🤣
Nur Syamsi
dasar Tio iblis ...
Nur Syamsi
siapa pria misterius it
Nur Syamsi
Ardias terjatuh Krn ngantuk at lelah Krn penyakitnya
Nur Syamsi
hati hati Gaby mrk turunan mafia
Nur Syamsi
kenapa Ardiaz Tdk merekomendasikan Gaby ntuk kerja di perusahaannya saja ya
Nur Syamsi
penyakit dan Surat dg pengirim misterius,
Nur Syamsi
Brian Brian ternyata sama liciknya ma si adik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!