NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:377.4k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34 - Linimasa yang Terbakar

Pukul tiga sore, nama Alina masuk daftar pencarian populer.

Bukan nama lengkapnya. Hanya potongan yang dipakai akun gosip.

Mantan Istri Wicaksono.

Alina membacanya dari ponsel Nadia sambil berdiri di tengah ruko yang belum selesai dicat.

Di luar, tukang sedang menurunkan papan kayu. Di dalam, Mbak Rini memotong kain sampel seolah dunia maya tidak punya kuasa atas guntingnya.

Lia berjalan mondar-mandir. "Aku ingin melempar sesuatu."

"Jangan lempar meteran," kata Mbak Rini tanpa mengangkat kepala. "Kita cuma punya dua."

Lia berhenti. "Mbak Rini, ini krisis."

"Krisis kalau klien batal bayar. Kalau orang komentar, biarkan saja. Mereka tidak ikut menjahit."

Alina hampir tertawa.

Nadia menyerahkan tablet. "Ada tiga narasi yang didorong. Pertama, kamu memakai uang Adrian untuk membuka usaha bersama Damar. Kedua, kamu meninggalkan rumah karena sudah punya pria lain. Ketiga, kamu memanfaatkan penyakit Vania untuk menekan Adrian."

"Rapi," kata Alina.

"Terlalu rapi untuk spontan."

Damar berdiri dekat pintu, wajahnya tenang tapi rahangnya kaku. Nara sudah dijemput sopir sekolahnya setengah jam lalu, jadi ia tidak mendengar percakapan orang dewasa.

"Namaku ikut dipakai," kata Damar. "Aku bisa membuat pernyataan."

Alina memandangnya. "Kalau kamu bicara sekarang, mereka akan bilang aku bersembunyi di belakang pria."

"Kalau aku diam, mereka memakai namaku untuk menyerangmu."

"Aku tahu."

Nadia mengetuk layar. "Ada cara tengah. Pernyataan hukum dari kantor saya, bukan dari Pak Damar. Fokus pada pencemaran nama baik dan penyebaran data pribadi. Tidak perlu emosional."

Lia mengangkat tangan. "Aku juga punya cara. Kita unggah foto Alina sedang ngepel lantai dan tulis: pria kaya mana yang menyuruh perempuan ini beli pembersih kamar mandi sendiri?"

"Lucu," kata Nadia.

"Itu persetujuan?"

"Bukan."

Alina duduk di kursi lipat. Ia membaca beberapa komentar lagi. Tidak banyak. Cukup untuk tahu arah serangannya.

Satu akun menulis:

Wanita seperti ini biasanya terlihat sabar sampai rekeningnya penuh.

Alina menatap kalimat itu lebih lama.

Dulu, komentar seperti itu mungkin membuatnya gemetar. Ia akan takut Adrian marah, takut Ratna merasa malu, takut Arka suatu hari membaca dan membencinya.

Sekarang rasa takut itu masih ada, tetapi tidak memimpin.

Ia membuka folder dokumen di laptop. Ada salinan putusan, salinan kesepakatan harta bersama, dan catatan bahwa dana Rp25 miliar bukan pemberian pribadi Adrian melainkan penyelesaian atas aset yang diperoleh selama perkawinan.

Ada juga surat dari Prof. Hadi yang menyatakan rujukan medis Vania tidak berkaitan dengan tuntutan finansial Alina.

"Kita unggah sebagian," kata Alina.

Nadia menatapnya. "Yakin?"

"Bagian yang tidak membuka data medis pribadi. Cukup angka, sumber, dan dasar hukum."

"Adrian akan terseret."

"Dia sudah di dalam cerita ini."

Damar berkata pelan, "Kamu tidak perlu melindungi namaku."

"Aku tidak sedang melindungi kamu."

"Lalu?"

"Aku sedang menjaga agar cerita tetap pada tempatnya. Ini tentang mereka yang mencoba membuat kerja perempuan terlihat seperti hasil pria lain."

Damar diam.

Nadia mulai menyusun pernyataan. Bahasa hukum pendek, dingin, tanpa drama. Lia membantu memilih foto yang tidak membuat studio terlihat seperti tempat pamer kemewahan. Alina memilih foto meja kerja, tumpukan pola, dan kunci ruko di atas kontrak sewa.

Unggahan itu naik di akun resmi Ruang Sela yang baru dibuat dua hari lalu.

Pernyataan:

Ruang Sela adalah studio desain independen milik Alina Prameswari. Modal awal berasal dari penyelesaian harta bersama yang sah berdasarkan proses Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Tuduhan mengenai penggunaan dana pihak ketiga, hubungan personal dengan investor pria, atau pemanfaatan kondisi medis seseorang adalah tidak benar. Kami sedang menempuh langkah hukum terhadap penyebar fitnah dan data pribadi.

Di bawahnya, Nadia menautkan firma hukumnya.

Lia menambahkan satu kalimat singkat yang disetujui Alina:

Kami buka minggu depan. Yang ingin jahit, silakan. Yang ingin mengarang, tunggu surat somasi.

Komentar berubah cepat.

Sebagian masih menyerang. Sebagian mulai bertanya. Sebagian lain, yang lebih suka drama dengan bukti, mulai membongkar akun pertama yang mengunggah foto Alina dan Damar.

Dalam satu jam, nama Adrian Wicaksono ikut naik.

Di kantor Wicaksono Group, Adrian sedang rapat ketika Hendra masuk dan membisikkan sesuatu. Ia membuka ponsel, membaca unggahan Ruang Sela, lalu melihat namanya disebut di komentar ribuan kali.

Pak Adrian benar kasih mantan istri 25M?

Kenapa harus bayar sebesar itu kalau istrinya yang salah?

Vania siapa sebenarnya?

Adrian meminta rapat ditunda.

Direktur keuangan menatap heran, tetapi tidak bertanya.

Di ruang kerjanya, Adrian membaca semua berkas yang diunggah Alina. Tidak ada satu pun kalimat yang menyerangnya secara langsung. Justru karena itu, pukulannya terasa lebih bersih.

Ia tidak bisa membantah.

Karena semuanya benar.

Hendra berdiri di depan meja. "Kita perlu pernyataan?"

Adrian menutup mata sebentar.

"Ya."

"Arahnya?"

"Konfirmasi perceraian. Konfirmasi penyelesaian harta bersama. Tegaskan tidak ada pihak ketiga sebagai alasan perceraian."

Hendra menunggu. "Tentang Vania?"

Adrian membuka mata. "Jangan bawa data medis. Tapi tegaskan pengobatannya tidak pernah menjadi dasar untuk menyerang Alina."

"Itu akan membuat Bu Vania tersinggung."

"Hendra."

"Ya, Pak."

"Aku sudah terlalu lama mengukur kebenaran dari siapa yang akan tersinggung."

Hendra mengangguk.

Pernyataan Wicaksono Group keluar malam itu. Singkat. Resmi. Kaku.

Adrian Wicaksono dan Alina Prameswari telah menyelesaikan proses perceraian melalui jalur hukum yang berlaku. Penyelesaian harta bersama dilakukan secara sah. Tuduhan mengenai perselingkuhan, pemerasan, atau penyalahgunaan dana adalah tidak berdasar.

Tidak ada kata cinta.

Tidak ada permintaan maaf.

Tapi untuk pertama kalinya, Adrian berdiri di sisi fakta yang selama ini ia biarkan Alina pegang sendirian.

Di rumah Wicaksono, Vania membaca pernyataan itu dengan tangan dingin.

Bimo meneleponnya.

"Kamu lihat?"

"Lihat."

"Kak Adrian mulai berubah."

"Diam, Bim."

"Aku cuma bilang. Kalau dia terus begini, semua yang dulu kita atur bisa balik ke kita."

Vania menutup mata. "Kita?"

Bimo terdiam.

"Jangan pakai kata kita kalau yang muncul di foto itu hasil kirimanmu."

"Aku hanya mempercepat."

"Kamu mempercepat kebodohan."

Vania memutus panggilan.

Ia membuka Instagram. Akun-akun yang kemarin mengasihaninya sekarang mulai menanyakan kenapa ia selalu ada di tengah rumah tangga orang lain. Beberapa komentar masih membelanya, tetapi nadanya tidak sekuat dulu.

Vania mengetik story.

Kadang orang sakit pun tetap disalahkan.

Ia hendak menekan unggah.

Lalu mengingat syarat Prof. Hadi: tidak menggunakan status penyakit untuk klaim publik atau proses hukum.

Jari Vania berhenti.

Untuk pertama kalinya, kalimat sakitnya sendiri menjadi perangkap.

Di Ruang Sela, Alina mematikan lampu setelah semua orang pulang. Dinding belum rapi, lantai masih berdebu, tetapi akun studio mendapat ratusan pesan. Sebagian memesan konsultasi. Sebagian hanya mengirim dukungan.

Satu pesan dari nomor Adrian masuk.

Aku sudah membuat pernyataan.

Alina membaca, lalu membalas:

Saya lihat.

Adrian mengetik lama.

Maaf karena baru sekarang.

Alina menatap layar.

Dulu, ia menunggu satu kalimat itu seperti menunggu hujan di musim kering.

Sekarang kalimat itu datang saat ia sudah punya atap sendiri.

Ia meletakkan ponsel di meja tanpa membalas. Bukan karena ingin menghukum Adrian. Ia hanya tidak punya energi untuk merawat rasa bersalah orang lain.

Lia mengintip dari pintu. "Dia?"

"Ya."

"Minta maaf?"

"Ya."

"Kamu mau balas?"

"Tidak malam ini."

Lia mengangguk, kali ini tanpa komentar pedas.

Kadang kedewasaan seorang teman adalah tahu kapan harus diam, bahkan jika mulutnya penuh amunisi.

Alina mengambil sapu dan membersihkan sisa debu di dekat pintu. Gerakan itu sederhana, hampir membosankan. Tetapi malam itu, menyapu ruang kerjanya sendiri terasa lebih berguna daripada menulis kalimat panjang untuk pria yang baru belajar mengerti.

Setiap debu yang terkumpul di pengki terasa seperti bukti kecil bahwa sesuatu bisa dibereskan tanpa menunggu izin siapa pun.

Ia tidak membalas lagi.

Di luar, papan nama sementara Ruang Sela masih berupa kertas yang ditempel di kaca.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang tahu namanya bukan hanya mantan istri Wicaksono.

Dan bagi beberapa orang, itu jauh lebih mengancam daripada perceraian.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!