Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Tidak Membalas
Udara pasar grosir yang biasanya riuh oleh deru Metromini dan teriakan kuli panggul, mendadak terasa membeku. Wangi soto gerobakan berbaur dengan uap solar yang menyengat dari aspal basah, menambah pengap atmosfer pagi yang kusam.
Nara berdiri mematung di depan ruko, jemarinya mencengkeram tas ransel kanvasnya hingga buku jarinya memutih. Di sebelahnya, Pak Wirawan terhuyung mundur. Wajah pria tua itu pias tanpa darah, kacamata tebalnya merosot ke ujung hidung yang basah oleh keringat dingin.
"Ini... ini maksudnya apa, Ra?" suara Pak Wirawan gemetar. Tangannya yang memegang alat solder tua bergetar hebat. "Utang kita ke Koh Abun kan udah lunas? Kwitansi stempel basah kemarin lu sendiri yang pegang, Ra!"
Nara melangkah maju, memeriksa kertas merah yang ditempel kasar di atas rantai besi. Tulisan mesin tik di atasnya kaku, berstempel firma hukum yang asing.
"Penyitaan sepihak atas nama hak tanggungan kompensasi," baca Nara lantang. Amarah membakar batinnya, namun ia menolak menjatuhkan air mata di depan publik pasar. "Ini ilegal, Pak! Mereka nggak berani sebut nama Koh Abun di sini. Ini bukan dari distributor."
"Tapi gemboknya baru, Ra," Pak Wirawan jatuh terduduk di atas undakan semen teras toko. Bahunya merosot tuntas. "Barang-barang baru di dalam... kulkas, televisi stok baru dari Regan... kalau mereka angkut, kita bayar pakai apa senin besok?"
Nara membalikkan badan cepat saat langkah sepatu pantofel mengkilap terdengar mendekat dari arah koridor ruko grosir. Bau parfum murah yang menyengat langsung memotong hawa payau pasar.
Dion Hartawan melangkah datang dengan kemeja garis-garis yang rapi, berjas denim tipis dengan senyum yang dipaksakan melebar. Di belakangnya, berdiri Binsar, preman botak pesuruh distributor yang kemarin sempat diredam oleh pager Koh Abun.
"Eh, Nara. Tumben toko jam segini belum buka?" Dion berhenti tiga langkah di depan Nara, matanya memindai rantai besi dengan gaya prihatin yang palsu. "Waduh, kok digembok? Lu ada masalah utang lagi?"
Nara menatap lurus ulu hati mental Dion. "Jangan berlagak bego, Yon. Lu yang taruh rantai ini, kan?"
"Gue? Nggak usah nuduh sembarangan, Ra. Gue cuma mahasiswa biasa," Dion tertawa hambar, bersedekap menantang konfrontasi. "Tapi gue dapet info dari bokap gue, ruko bapak lu ini ternyata masih terikat jaminan ganda di Bank Industri Negara atas nama badan hukum lama. Koh Abun mungkin udah lepas klaim utang, tapi kreditur baru pelabuhan Priok punya hak sita kompensasi."
Nara memajukan tubuhnya, memangkas jarak. "Kreditur baru? Maksud lu Logistik Pradana Mandiri? Keluarga Tomy?"
Dion memutar gelas es jeruk yang ia bawa dari warung sebelah. "Bokapnya Tomy itu partner bisnis bokap gue, Ra. Lu hancurin proyek kabel Surabaya gue lewat jalur Soegeng, lu pikir gue bakal diam aja melihat lu pesta modal sepuluh juta dari Regan?"
Dion merendahkan suaranya, masuk ke mode konfrontasi pekat. "Regan boleh punya otak taktis buat menjebak kontrak gue. Tapi di jalur hukum aset Glodok, bapak lu cuma remah-remah yang gampang gue remukkan lewat satu panggilan telepon ke dinas sita niaga."
Pak Wirawan mendongak dengan mata kemerahan, napasnya tersengal di dada kiri. "Dion... kamu temen sekelas Nara... kok kamu tega ngerusak toko orang tua?"
"Bapak diam aja, nggak usah ikut campur urusan bisnis anak muda," gertak Binsar maju, membusungkan dadanya yang tegap di depan Pak Wirawan.
"Jangan sentuh bapak gue, Bajingan!" Nara berteriak, badannya langsung bergeser menjadi perisai hidup di depan ayahnya. Dagu keras kepalanya terangkat tinggi. "Dion! Kontrak sita ini cacat hukum perdata! Gue bakal bawa berkas kliring kemarin sore ke kejaksaan niaga siang ini juga!"
"Silakan lapor, Ra," cibir Dion, senyumnya mengandung keserakahan yang tidak disembunyikan. "Tapi proses pengadilan butuh waktu tiga bulan. Senin besok toko lu tetap dikunci, barang di dalam bakal disita sebagai jaminan denda, dan agensi iklan baru lu bakal mati sebelum punya kantor."
Nara menelan ludah pelan. Badai di kepalanya bergolak liar. Realita hukum perdata tahun sembilan puluh tiga memukul idealisme akademisnya. Dion benar. Jalur birokrasi yang lambat akan membunuh bisnis ayahnya dalam hitungan hari.
Regan berdiri di balik pilar beton ruko grosir seberang jalan, lima puluh meter dari posisi mereka. Kedua tangannya masuk ke saku celana jeans pudar. Topi pet hitamnya ditarik rendah, menyembunyikan kilat mata predator paruh bayanya yang sedari tadi merekam setiap gesture Dion.
Otak tua di tubuh mudanya bekerja secepat mesin pencatat kliring bank.
Ini bukan sekadar kecelakaan bisnis. Ini sabotase terstruktur. Dion menggunakan sisa jaringan Logistik Pradana yang sedang sekarat akibat audit pajak Priok untuk melakukan serangan balik kilat. Mereka mau merampas ruko Glodok ini sebagai kapital darurat untuk menutup denda giro kosong dua belas juta rupiah milik Dion yang jatuh tempo senin esok jam sepuluh pagi.
Regan menarik napas panjang, mengisi paru-paru mudanya dengan hawa panas Glodok. Ini momen napas tenang yang ia butuhkan untuk menyusun skenario eksekusi berikutnya.
Siklus dopamin pembaca harus terjaga. Jika ia melangkah maju secara terbuka sekarang dan merobek rantai besi itu dengan kekuatan fisik, identitas PT Samudera Inti sebagai gurita keuangan bayangan akan terekspos sebelum krisis moneter seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan datang. Musuh-musuh besar di tingkat rektorat dan taipan Mangga Dua akan waspada. Ia harus menghancurkan Dion dari balik layar, membiarkan hukum finansial yang memotong leher bajingan kecil itu secara elegan.
Regan memutar tumitnya perlahan, berjalan menuju telepon umum koin di sudut koridor pasar. Ia memasukkan kepingan ratusan perak bergappan wayang, menekan nomor pager Herman.
"Bang, lu ke salon sekarang. Potong rambut rapi," perintah Regan saat suara Herman menjawab di balik kabel spiral. "Bawa map merah akta gedung Menteng dan slip kliring Sukardi. Kita temui pengacara keluarga Pradana di Palmerah jam satu siang ini."
"Hah? Kita mau bayar utang mereka, Re?" suara Herman melengking kebingungan.
"Kita beli surat hak tagih hutang mereka dari Bank Industri Negara," jawab Regan dingin. "Kita balik statusnya. Sore ini, kita yang segel rumah keluarga Dion."
Regan menutup telepon putar tersebut dengan bunyi klik yang tegas. Ia berjalan kembali ke arah ruko Toko Sinar Jaya, melangkah pelan membelah keriuhan pasar tanpa menarik perhatian Dion yang masih sibuk mengintimidasi Nara.
Regan berhenti tepat di samping undakan semen tempat Pak Wirawan terduduk. Ia mengabaikan tatapan sinis Binsar dan senyum meremehkan dari Dion.
"Re? Kenapa lu ke sini?" Nara menoleh cepat, getaran cemas di matanya tidak bisa disembunyikan lagi. "Dion bawa orang-orang Priok. Tempat ini lagi nggak aman."
"Gue cuma mau antar makanan buat Bapak, Ra," Regan meletakkan sebungkus nasi uduk hangat yang ia beli di warung depan ke atas pangkuan Pak Wirawan. Wajah mudanya kelewat tenang, hampir tidak wajar untuk ukuran orang yang rukonya baru saja disita preman.
Dion tertawa terbahak-bahak, memukul kap mobil Civic Estilo merahnya berulang kali hingga memancing perhatian pedagang lain. "Hahaha! Lu lihat nih, Ra! Pacar lu yang sok misterius itu cuma bisa bawa nasi uduk saat toko lu digulung! Heh, anak buruh! Lu nggak mau pakai jalur informasi dewa lu itu buat buka gembok ini? Mana proksi Surabaya lu? Mana bankir tua lu? Hahaha!"
Beberapa pedagang ruko sebelah ikut tersenyum sinis, menganggap Regan sebagai remaja miskin yang mati kutu berhadapan dengan kekuatan modal anak garmen.
Regan tidak membalas makian Dion dengan satu patah kata pun. Ia menunduk perlahan, menyentuh bahu Pak Wirawan dengan genggaman tangan yang kokoh sekeras rahang besi.
"Bapak makan dulu ya," suara Regan rendah, berat, memancarkan kesabaran takdir yang kokoh. "Paling lambat jam empat sore nanti, gembok ini bakal patah sendiri. Percaya sama Regan, Pak."
Pak Wirawan mendongak dengan mata berair, meremas bungkusan nasi uduk itu dengan jemari bergetar. "Uangnya, Re... uang barang lu di dalam..."
"Barang di dalam aman, Pak. Nggak akan ada satu butir debu pun yang berani mereka geser dari toko ini," ucap Regan flat.