Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.
Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.
Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTARUNGAN TERAKHIR
💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Suasana di ruang rapat utama perusahaan yang biasanya megah dan penuh kehormatan kini berubah menjadi arena pertarungan psikologis yang sangat dingin dan menegangkan. Matahari pagi yang bersinar terang menerobos masuk melalui jendela kaca yang besar, seolah berusaha menembus kegelapan dan kebohongan yang selama ini tersimpan rapi di dalam gedung itu. Di satu sisi meja panjang duduk Dante bersama timnya dan beberapa perwakilan dari otoritas hukum yang telah berhasil ia ajak bekerja sama dengan bukti-bukti awal yang kuat. Di sisi berlawanan, duduk Pak George dengan wajah yang tenang dan masih mempertahankan sikap wibawanya, disertai beberapa pengacara dan pengawal pribadinya. Ekspresinya masih sulit dibaca, seolah apa yang sedang terjadi hanyalah masalah sepele baginya atau sekadar salah paham biasa.
Dante menatap sosok di hadapannya dengan tatapan tajam namun sorot matanya dipenuhi rasa sedih dan kekecewaan yang mendalam. Sulit bagi dirinya untuk menerima kenyataan bahwa sosok yang dulu sering bercerita tentang sejarah perusahaan dan memberinya nasehat kehidupan ternyata adalah dalang dari semua malapetaka yang menimpa mereka.
"Selamat pagi, Pak George," buka Dante dengan nada suara yang tenang namun tegas, berusaha menahan emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. "Saya yakin Bapak sudah tahu tujuan kami mengundang Bapak ke sini hari ini. Kami memiliki banyak hal untuk dibicarakan dan dibuktikan."
Pak George tersenyum tipis, senyum yang terlihat ramah namun terasa sangat sinis dan merendahkan. Ia menyilangkan tangannya di dada, menatap balik Dante dengan pandangan yang seolah mengasihaninya.
"Selamat pagi juga untukmu anak muda. Aku memang mendengar ada sedikit masalah atau kekacauan yang sedang terjadi belakangan ini. Dan aku sangat berharap kau memanggilku ke sini bukan untuk menuduhku dengan hal-hal yang tidak masuk akal dan merugikan nama baikku serta perusahaan yang sudah kita bangun bersama ini," jawab Pak George dengan nada yang santai namun memiliki tekanan tersembunyi, seolah ingin menekan Dante agar ragu-ragu.
Dante menghela napas panjang, berusaha menetralkan emosinya. Ia memberi isyarat kepada Pak Herman untuk menunjukkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan.
"Kami tidak main-main atau membuat tuduhan tanpa dasar, Pak. Kami memiliki bukti yang cukup kuat dan valid. Mulai dari jejak transaksi keuangan yang mencurigakan, rekaman komunikasi, hingga kesaksian dari para pelaku dan korban yang telah Bapak manfaatkan," ujar Dante sambil menunjuk ke arah layar proyektor dan tumpukan berkas di atas meja. "Kami tahu bahwa Bapak adalah dalang dari semua sabotase, serangan terancam, dan usaha untuk mengambil alih kekuasaan secara paksa dan licik ini."
Pak George tetap mempertahankan wajah tenangnya, meski matanya berkedip sedikit lebih cepat dari biasanya sebagai tanda refleks. Ia tertawa kecil dengan nada yang terdengar dingin.
"Kau semakin pandai berimajinasi, Dante. Atau mungkin terlalu banyak menonton film aksi. Aku tidak mengerti dari mana kau mendapatkan bukti-bukti itu dan siapa orang jahat yang memfitnahku. Semua yang aku lakukan selama ini hanyalah demi kebaikan dan kemajuan perusahaan ini. Dan kau menuduhku sebagai penjahat hanya berdasarkan bukti-bukti yang entah dari mana asalnya ini?" bantah Pak George dengan lantang, berusaha meyakinkan orang-orang di ruangan itu seolah dialah korban fitnah.
Namun, Dante tidak terpengaruh oleh gaya main lamanya itu. Ia memberi isyarat lagi, dan sesaat kemudian pintu ruangan terbuka. Seorang petugas mendorong kursi roda yang diduduki oleh Pak Adam. Meskipun kondisinya masih lemah, wajahnya masih pucat, dan tubuhnya masih dibalut perban di beberapa bagian, namun tatapan matanya tajam dan tegas. Kehadiran Pak Adam seolah menjadi pukulan telak bagi pertahanan Pak George. Wajahnya yang tadinya santun dan percaya diri seketika berubah menjadi kaget dan terkejut, meski ia berusaha menyembunyikannya secepat mungkin.
"Pak George, sepertinya Bapak tidak menyangka akan melihat saya hidup dan sehat di sini, bukan?" ucap Adam dengan suara lemah namun tegas, menatap lurus ke arah wajah George. "Saya sudah menceritakan semuanya kepada Dante dan tim penyidik. Saya menceritakan bagaimana Bapak memaksa saya bekerja sama, bagaimana Bapak mengancam keselamatan keluarga saya, dan bagaimana Bapak menyusun rencana jahat ini dari awal."
Wajah Pak George mulai terlihat memerah menahan amarah yang mulai meledak. Permukaannya yang tenang mulai retak. Ia menunjuk ke arah Adam dengan wajah marah.
"Dasar pembual! Kau hanya korban yang telah dihasut dan dimasuki ide gila! Kau ingin menjatuhkanku agar kau bisa mereposisi dirimu sebagai pahlawan! Jangan harap kau bisa memanipulasi situasi!" sergah George dengan nada tinggi, namun suaranya mulai terdengar tidak seyakin sebelumnya.
Tidak berhenti di situ, Dante kembali berbicara dengan nada yang lebih berat dan penuh penekanan, sambil menunjuk ke arah bukti di depannya.
"Kami juga sudah menemukan bukti transfer dana dari perusahaan kita ke rekening-rekening pribadi milik Bapak dan rekanan Bapak yang tidak sah. Kami juga menemukan dokumen perencanaan strategi yang mengarah pada pengambilalihan paksa serta rekaman percakapan antara Bapak dengan pemimpin pasukan yang tertangkap waktu itu. Bapak tidak bisa menyangkalnya lagi. Permainan Bapak sudah berakhir."
Satu per satu bukti dipaparkan di hadapan Pak George. Dari bukti finansial yang rumit hingga bukti komunikasi yang jelas. Wajah Pak George perlahan berubah dari marah menjadi panik, dari panik menjadi putus asa. Pertahanan bentengnya runtuh satu per satu seiring dengan munculnya bukti-bukti itu. Terakhir, ketika rekaman percakapan strategi dari markas pusat dimainkan di ruangan itu, wajah Pak George akhirnya kehilangan semua warna dan keyakinannya. Ia tahu bahwa ia sudah benar-benar kalah dan terperangkap dalam lubang yang ia buat sendiri.
George tertawa dengan nada yang sinis namun penuh kepahitan dan kekalahan. Ia menundukkan kepalanya sebentar, lalu mengangkatnya kembali menatap Dante dengan sorot mata yang penuh kebencian namun juga rasa kekalahan.
"Baiklah... Baiklah, kau berhasil menang, Dante. Kau memang cerdik dan beruntung. Kau berhasil mengumpulkan semua ini dan menjebakku," ujar George dengan suara berat dan dingin. "Tapi kau harus tahu alasannya. Kau tahu betapa sulitnya membangun perusahaan ini dari awal bersama ayahmu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa peranku dan jasaku diabaikan. Aku merasa aku berhak mendapatkan lebih dari sekadar gelar penasihat. Aku merasa aku berhak memegang kendali penuh atas apa yang telah aku bangun dengan keringat dan darahku."
Jawaban itu membuat hati Dante semakin sakit. Ternyata semua malapetaka dan penderitaan yang terjadi hanyalah karena masalah ambisi dan ketidakpuasan satu orang.
"Apakah ambisi dan keserakahan Bapak sebesar itu hingga Bapak rela mengorbankan nyawa orang-orang yang tidak bersalah dan merusak apa yang sudah kita bangun susah payah bersama?" tanya Dante dengan nada kecewa yang mendalam.
George mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh, meski wajahnya terlihat sedih. "Dalam bisnis dan kekuasaan, pengorbanan itu wajar, Dante. Kau terlalu muda dan terlalu naif untuk mengerti hal itu. Tapi sudahlah... Aku kalah, dan aku terima konsekuensinya."
Dante memberi isyarat kepada petugas keamanan dan polisi yang ada di ruangan itu. "Maaf, Pak. Tapi Bapak harus bertanggung jawab atas semua kejahatan dan kekacauan yang Bapak buat. Mulai hari ini kekuasaan dan hak Bapak di sini dicabut."
Petugas segera bergerak mendekati Pak George dan memborgol tangannya. Meskipun ia menolak sedikit dan memaki dalam hati, namun ia tahu perlawanannya sudah sia-sia. Saat ia digiring keluar dari ruangan itu, ia menoleh sejenak ke arah Dante dengan tatapan penuh kebencian yang membara. Namun, Dante hanya membalasnya dengan tatapan kasihan dan sedih.
Setelah kepergian George dan rombongannya, suasana di ruangan itu berubah menjadi hening namun terasa lega. Ancaman utama telah berhasil dilumpuhkan dan kebenaran telah terungkap. Dante berjalan mendekati Pak Adam dan menepuk bahunya dengan lembut.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih atas keberanian dan pengorbanan Bapak. Maafkan saya karena sempat mencurigai Bapak," ucap Dante dengan tulus.
Pak Adam tersenyum lemah namun lega. "Tidak apa-apa, Tuan. Yang penting sekarang musuh utama sudah tertangkap dan keamanan perusahaan terjamin kembali."
Dante kemudian menatap seluruh tim dan orang-orang di ruangan itu dengan wajah yang lebih tenang dan penuh harapan. Hari ini mungkin merupakan hari yang berat dan pahit bagi mereka semua. Mereka kehilangan sosok yang di hormati dan percaya.
BERSAMBUNG
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^