NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di dalam kamar yang gelap, pengap, dan sunyi itu, Jonathan duduk memeluk lutut di sudut ruangan. Matanya merah dan bengkak, tatapannya kosong menatap dinding yang kusam.

Sudah berhari-hari dia tidak makan, tidak tidur nyenyak, dan tidak berbicara dengan siapa pun. Dunianya rasanya berakhir saat napas terakhir Papahnya berhenti, dan rasa sakit itu masih terasa begitu perih, menusuk setiap inci tubuhnya.

Dia merasa hancur, merasa tidak berdaya, merasa bahwa dirinya kini tidak ada apa-apanya. Dia sengaja mengurung diri, sengaja menjauh, karena dia tidak ingin orang lain—terutama Aletta—melihat betapa rapuh dan hancurnya dirinya saat ini.

Namun, keheningan itu tiba-tiba pecah.

Dari luar pintu kamar, terdengar suara teriakan yang nyaring, kencang, dan penuh kepanikan. Suara Rosa terdengar melengking, disusul suara gaduh dan bunyi benda jatuh yang keras.

"TOLONG!!! ALETTA!!! ALETTA KENAPA?! ALETTA JATUH DARI TANGGA!!! TOLONG DUNGS!!! JOOOO!!!KELUAR!!! ALETTA KENA MUSIBAH!!!"

Darah Jonatan seketika berdesir hebat. Jantungnya berpacu jauh lebih cepat daripada sebelumnya, rasanya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum melompat keluar dari dadanya.

Nama itu... nama yang paling dia cintai, nama yang menjadi sisa nyawanya saat ini, diteriakkan dalam kepanikan dan bahaya. Rasa sakitnya sendiri, rasa sedihnya, rasa malunya... semuanya hilang seketika, tergantikan oleh ketakutan yang murni dan liar.

Tanpa pikir panjang, tanpa peduli apa penampilannya, tanpa peduli rasa lelahnya yang luar biasa, Jonathan melompat bangkit dari lantai.

Dia berlari terhuyung-huyung menuju pintu, memutar kuncinya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu mendorong pintu itu terbuka lebar sampai membentur dinding.

"ALETTA!!! ALETTA!!!" teriak Meldi dengan suara parau dan pecah, matanya liar mencari-cari ke segala arah. Napasnya memburu, keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat.

Dia berlari keluar kamar, menyusuri lorong panjang itu dengan langkah kacau, matanya menyapu setiap sudut ruangan, setiap anak tangga, setiap bayangan, mencari sosok yang dikhawatirkannya.

Di kepalanya hanya ada satu pikiran Aletta terluka. Aletta jatuh. Aletta sakit. Gue harus samperin dia. Gue harus selamatkan dia.

Dia tidak tahu itu hanya sandiwara. Dia hanya tahu bahwa dunia ini akan runtuh sepenuhnya jika ada apa-apa dengan Aletta.

Saat Jonatan masih berputar-putar panik di dekat tangga, matanya berputar ke belakang, ke arah lorong tempat dia berasal. Di sana, perlahan muncul sosok Aletta yang berdiri tegak, utuh, tidak terluka sedikit pun, berjalan mendekatinya dengan wajah pucat dan mata berkaca-kaca.

"Aku di sini, Jo... aku nggak apa-apa..." ucap Aletta pelan, berusaha menenangkan.

Namun, ketegangan, rasa takut, dan kepanikan yang memuncak di dada Jonathan tadi berubah drastis menjadi rasa marah yang meledak-ledak saat dia sadar bahwa semua ini hanyalah rekayasa.

Rasa takut luar biasa yang baru saja dia rasakan, rasa hancur yang dia pikir akan dia alami, ternyata hanya sebuah kebohongan.

Perasaan campur aduk itu membuat akal sehatnya hilang sesaat. Dia merasa dipermainkan, merasa dikhianati, merasa kesal luar biasa karena ketenangan dan kesedihannya dilukai dengan cara seperti ini.

Dengan emosi yang tidak lagi terkontrol, Jonatan berbalik badan dengan kasar. Saat Aletta berusaha mendekat untuk menenangkan, Jonatan mengangkat tangannya secara refleks, penuh kemarahan dan keterkejutan, lalu mendorong tubuh Aletta dengan kekuatan yang tidak dia sadari.

"Kamu pikir kamu ngapain hah?!" bentak Jonatan keras.

Dorongan itu begitu kuat dan tiba-tiba. Tubuh Aletta yang ringkih dan lemah kaget sekali. Dia mundur terhuyung-huyung ke belakang, kakinya tersandung ubin lantai yang tidak rata, dan punggungnya serta kepalanya terbentur keras pada sudut meja kayu jati yang ada di dekat situ.

BRAK!

Suara benturan itu terdengar nyaring dan mengerikan. Tubuh Aletta langsung terkulai lemas, matanya terbalik ke atas, dan dalam sekejap dia kehilangan kesadaran, jatuh terduduk lalu terbaring diam di lantai dingin.

Suasana seketika menjadi hening total.

Jonathan tertegun kaku, tangannya masih terangkat di udara, matanya melotot tak percaya melihat apa yang baru saja dia lakukan. Kemarahan di matanya lenyap seketika, berganti rasa ngeri, kaget, dan penyesalan yang tak terkira.

Rinjani yang melihat kejadian itu dari ujung lorong langsung berteriak histeris dan berlari mendekat. Wajahnya merah padam, matanya menatap anaknya dengan kemarahan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"JONATHAN!!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" bentak Rinjani dengan suara tinggi dan bergetar karena marah. Dia berlutut di samping tubuh Aletta yang terbaring pucat, memegang kepala gadis itu dengan lembut.

"Kamu gila ya?! Kamu kasar sama Aletta?! Dia datang ke sini cuma buat sayang sama kamu, cuma buat nungguin kamu! Dia nggak pernah minta apa-apa sama kamu! Dan kamu balasnya kayak gini?! Kamu benar-benar kelewatan, Jo! Kamu beneran keterlaluan!"

Teriakan Rinjani itu menusuk hati Meldi jauh lebih tajam dari pada pisau. Dia berdiri diam di tempat, gemetar hebat, menatap tangan sendiri yang baru saja dia gunakan untuk melukai satu-satunya wanita yang paling dia cintai dan dia lindungi seumur hidupnya.

Dia ingin bergerak, ingin meminta maaf, tapi kakinya terasa berat sekali, seolah tertanam di tanah.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan air mata yang mulai jatuh kembali, Jonathan perlahan berlutut di samping Aletta. Dia mengambil alih posisi dari ibunya, mengangkat kepala Aletta pelan-pelan ke atas pangkuannya.

Dia melihat ada sedikit memar di bagian samping kepala dan bahu gadis itu, bekas benturan keras tadi.

"Maafin aku... maafin aku... aku nggak sengaja... aku nggak bermaksud..." gumam Jonathan berulang kali, suaranya tak terdengar, penuh rasa bersalah yang membakar seluruh hatinya.

Dia mengambil kain basah yang disodorkan Rosa, lalu dengan gerakan yang sangat pelan, hati-hati, dan penuh penyesalan, dia mengompres bagian yang memar itu. Tangannya gemetar setiap kali menyentuh kulit Aletta, takut sekali menyakiti gadis itu sedikit saja lagi.

Berapa lama waktu berlalu, rasanya seperti berjam-jam bagi Jonathan. Dia terus membelai wajah pucat itu, mencium keningnya berkali-kali, berbisik ribuan kata maaf yang tak pernah cukup. Hingga akhirnya, perlahan-lahan kelopak mata Aletta bergerak, dan dia membuka matanya perlahan.

Pandangan Aletta masih kabur, namun saat dia sadar dan melihat wajah Jonathan yang begitu dekat, penuh air mata dan kepedihan... tubuhnya sedikit tersentak mundur secara refleks.

Matanya menatap Jonathan lekat-lekat, namun tidak ada senyum, tidak ada kata rindu, tidak ada pelukan. Hanya keheningan.

Keheningan yang dingin dan menyakitkan.

Aletta bangkit duduk perlahan, menjauhkan sedikit jarak dari Jonathan. Dia mengusap pelipisnya yang masih terasa nyeri dan berdenyut.

Dia menatap pemuda itu dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran rasa sedih, kecewa, kaget, dan rasa sakit yang mendalam.

Dia masih belum menyangka, sama sekali belum percaya, bahwa tangan yang selama ini begitu lembut membelainya, tangan yang selalu melindunginya, tangan yang dia percaya sepenuhnya... tadi baru saja mendorongnya dengan kasar hingga dia jatuh dan pingsan.

"Al... Aletta... maafin aku ya... aku mohon..." pinta Jonathan dengan suara parau, mencoba menggenggam tangan Aletta. Namun Aletta hanya menarik tangannya perlahan, lalu menunduk diam.

"Aku nggak apa-apa..." jawab Aletta lirih, suara itu datar, jauh, dan dingin. "Cuma sedikit sakit aja... nanti juga hilang."

Keheningan itu lebih menyakitkan daripada ribuan kata makian. Bagi Jonathan, diamnya Aletta adalah hukuman terberat yang pernah dia terima. Dia tahu, dia telah merusak kepercayaan itu sedikit. Dia tahu, ketakutan kini mulai bersarang di hati gadisnya.

Untuk mencairkan suasana yang begitu berat, dan untuk menjelaskan betapa kacaunya dirinya belakangan ini—betapa emosinya tidak stabil karena rasa sakit yang mendalam—Jonathan menarik napas panjang. Dia menatap mereka semua Aletta yang diam, Fahri yang sedih, dan Rinjani yang masih tampak kecewa namun iba.

Perlahan, dengan suara yang lemah dan bergetar, Jonathan mulai bercerita tentang hal yang selama ini hanya dia dan ayahnya yang tahu.

"Kalian semua... kalian tahu Papah sakit, kalian tahu Papah butuh uang buat berobat, buat cuci darah, buat obat-obatan mahal..." mulai Jonathan, matanya berkaca-kaca menatap ruangan kosong seolah melihat bayangan ayahnya di sana.

"Tapi ada satu hal yang kalian semua nggak tahu... bahkan Mamah pun nggak pernah tahu sampai sekarang."

Dia menelan ludah yang pahit, lalu melanjutkan dengan suara yang makin parau.

"Papah itu... penyakitnya sudah ada sejak aku masih kecil. Bertahun-tahun dia berjuang sendirian. Bertahun-tahun dia menahan rasa sakit itu diam-diam, nggak pernah ngeluh, nggak pernah bilang susah. Dia selalu bilang dia baik-baik aja, biar kami semua—terutama Mamah—nggak khawatir."

"Dia tahu Mamah kerja keras cari uang, pergi jauh-jauh demi biaya pengobatan. Dia tahu Mamah rela ninggalin rumah demi uang. Papah selalu bilang ke aku, 'Jo, Mamah kerja keras, itu tanda cintanya. Uang itu penting, Nak, biar Papah bisa terus ada di sini sama kamu.'"

Air mata Jonathan jatuh kembali, membasahi pipinya yang kering.

"Tapi... beberapa bulan terakhir ini... sebelum beliau pergi... beliau sering banget ngomong sama aku kalau beliau sebenernya nggak butuh uang sebanyak itu, Jo... beliau sebenernya nggak butuh obat semahal itu... beliau cuma butuh satu hal DI TEMANI."

Suara Jonathan pecah. Dia menunduk dalam, bahunya naik turun menahan isak tangis.

"Papah sering bilang, 'Jo, buat apa papah punya obat paling bagus kalau seharian di rumah sepi? Buat apa papah punya uang banyak kalau papah makan sendirian, tidur sendirian, sakit pun sendirian? Papah lebih rela sakit tapi ada orang di sebelah papah, ada yang ngobrol, ada yang pegang tangan papah... dari pada papah sehat secara fisik tapi hati papah mati rasa karena kesepian.'"

Rinjani menangis tersedu-sedu mendengar itu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Penyesalannya kembali datang menyerang lebih hebat dari sebelumnya. Dia baru sadar sekarang. Dia sibuk mencari materi demi nyawa suaminya, tapi suaminya mati perlahan karena kesepian dan kurang kasih sayang.

"Papah berjuang bertahan hidup bukan karena obatnya, bukan karena uangnya... tapi karena aku," lanjut Jonathan.

"Dia bertahan demi aku. Dia mau terus ada buat aku. Dia mau nemenin aku tumbuh besar. Dia berjuang melawan rasa sakitnya sendirian cuma karena dia nggak mau aku sedih, nggak mau aku khawatir. Dia kuat banget, dia sabar banget... dan aku... aku merasa gagal banget jadi anak. Aku nggak bisa bikin dia bahagia, aku nggak bisa nemenin dia terus, aku malah bikin dia khawatir lihat aku kayak gini."

Aletta yang mendengar cerita itu pun akhirnya meneteskan air mata. Dia ikut sedih, ikut merasakan betapa besarnya pengorbanan Yuda, dan betapa beratnya beban yang dipikul Jonathan sendirian selama ini.

Perlahan, rasa takut dan dingin di hatinya mulai berkurang, berganti rasa iba dan kasih sayang yang kembali tumbuh. Dia mulai mengerti... emosi Jonathan kacau bukan karena dia jahat, tapi karena rasa sakit dan rasa kehilangan yang terlalu besar untuk ditanggung manusia biasa.

Matahari sudah terbenam sepenuhnya, langit malam mulai gelap. Jonathan sadar hari sudah larut, dan Aletta harus pulang ke rumah. Dia bangkit berdiri dengan berat, lalu menatap Aletta yang masih diam namun tampak lebih tenang dari sebelumnya.

"Ayo... aku antar kamu pulang," ucap Jonathan pelan, suaranya masih penuh penyesalan.

Sepanjang perjalanan menuju rumah Aletta, suasana hening kembali menyelimuti. Tidak ada obrolan, tidak ada canda, tidak ada sentuhan tangan seperti biasanya.

Aletta duduk diam di belakang motor, menjaga jarak sedikit, memeluk pinggang Jonathan dengan canggung dan lemah. Jonathan menyadarinya, dan rasa sakit itu kembali menusuk dadanya. Dia tahu, bekas dorongan tadi bukan hanya di bahu Aletta, tapi juga di hatinya.

Sesampainya di rumah Aletta, Baskara dan Puspa sudah menunggu di beranda. Begitu melihat Jonathan yang tampak begitu kurus, pucat, dan sedih, mereka berdua langsung menghampiri dengan wajah penuh belas kasih.

"Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya ya, Nak... atas kepergian Papah Yuda," ucap Baskara lembut, menepuk bahu Jonathan dengan kasih sayang.

"Beliau orang baik, beliau pasti bahagia di sisi-Nya sekarang."

Puspa pun mengangguk, menahan air matanya. "Maafkan kami kalau nggak bisa bantu banyak, Nak. Kamu yang kuat ya, Nak. Ingat, di sini ada kami, kamu nggak sendirian."

Mereka kemudian mengundang Jonathan untuk masuk dan ikut makan malam bersama.

"Ayo masuk dulu, makan malam bareng kami ya, Nak. Kamu pasti belum makan dari kemarin kan? Ayo, sekadar isi perut aja," ajak Puspa ramah.

Awalnya, Jonathan menggeleng pelan. Dia merasa tidak pantas, merasa malu, merasa tidak punya selera sama sekali. "Makasih Tante... Om... tapi aku nggak lapar. Aku mau pulang aja..."

Namun, saat dia menoleh ke arah Aletta yang berdiri diam di samping ibunya. Wajah gadis itu masih murung, masih banyak diam, matanya menatap lantai, tak berani menatap mata Jonathan secara langsung.

Pandangan itu... pandangan dingin dan takut itu... rasanya menghancurkan hati Jonathan lebih dari apa pun. Dia tidak mau jarak ini makin melebar. Dia harus berusaha memperbaiki semuanya, meski sedikit demi sedikit.

Jonathan pun mengangguk pelan. "Baiklah... Tante. Aku ikut makan."

Di meja makan, suasana masih berat. Makanan lezat tersaji, tapi rasanya hambar bagi mereka semua. Jonathan makan dengan sangat pelan, sesekali melirik ke arah Aletta yang duduk di seberangnya. Gadis itu makan sedikit saja, matanya selalu menunduk, jarang berbicara.

Akhirnya, Jonathan meletakkan sendoknya. Dia menatap Aletta lekat-lekat, lalu berbicara dengan suara lirih namun penuh ketulusan, di hadapan kedua orang tua Aletta yang sedang duduk di sana.

"Om, Tante... maafin Jo ya..." suaranya bergetar hebat, menunduk dalam menatap piringnya yang masih penuh.

"Maafin saya karena udah bikin keributan, udah bikin Aletta sakit, udah kasar sama dia tadi... Saya nggak bermaksud, saya bener-bener nggak bermaksud."

"Saya lagi kacau banget, saya lagi hancur banget, saya nggak bisa kendalikan emosi saya sama sekali... tapi itu nggak alasan buat nyakitin dia, saya tahu. Saya salah besar, saya malu banget sama diri saya sendiri."

Dia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Aletta yang masih menunduk diam, bahunya sedikit menegang seolah masih waspada.

"Al... aku minta maaf lagi... dari hati yang paling dalam," lanjut Jonathan, air matanya mulai menggenang lagi.

"Aku nggak tahu apa yang ada di pikiran aku waktu itu. Aku kaget, aku panik, aku marah karena aku pikir kamu beneran kenapa-kenapa... terus pas tahu itu cuma sandiwara, rasanya emosi aku meledak sendiri, aku nggak sadar tangan aku bergerak."

"Sakit nggak? Pasti sakit banget ya... badan kamu sakit, tapi hati kamu pasti lebih sakit lagi ya? Maafin aku... aku janji, nggak akan pernah lagi. Aku bakal jaga diri aku, bakal jaga emosi aku, biar nggak pernah nyakitin kamu sedikit pun lagi."

Suasana meja makan hening sejenak. Baskara dan Puspa hanya diam, membiarkan anak-anak itu menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, dengan hati yang terbuka.

Perlahan, Aletta mengangkat wajahnya. Matanya masih merah, masih terlihat lelah dan sedih, tapi dia menatap Jonathan dengan pandangan yang lebih tenang. Dia melihat betapa hancurnya wajah pemuda itu, betapa menyesalnya dia, betapa dia tersiksa oleh rasa bersalahnya sendiri.

Diaa tahu, Jonathan bukan orang jahat. Dia tahu, apa yang terjadi tadi murni karena emosi yang tak terkendali akibat rasa sakit kehilangan yang terlalu besar.

"Aku maafin kamu, Jo..." jawab Aletta pelan, suaranya lembut tapi masih ada jarak yang terasa jelas di sana.

"Aku tahu kamu lagi sakit banget, aku tahu kamu lagi hancur banget... aku nggak nyalahin kamu. Cuma... aku butuh waktu aja, Jo. Tadi itu... beneran bikin aku kaget, bikin aku takut. Aku belum pernah lihat kamu kayak gitu, aku belum pernah rasain tangan kamu mendorong aku sekuat itu... rasanya asing banget, rasanya aku nggak kenal kamu yang tadi."

Kalimat itu menusuk hati Jonathan lebih tajam daripada pisau. Mendengar kata "takut" dan "nggak kenal kamu" keluar dari mulut Aletta, rasanya dunianya runtuh lagi.

Itu hukuman terberat baginya. Dia tidak peduli kalau Aletta memakinya, memukulnya, atau marah besar... tapi kalau Aletta jadi takut padanya, kalau Aletta jadi menjauh karena merasa tidak aman... itu hal yang paling dia takutkan.

"Aku tahu... aku tahu aku udah bikin kamu takut..." gumam Jonathan lirih, air matanya jatuh satu tetes ke meja makan.

"Aku benci diri aku sendiri sekarang, Al. Aku benci banget. Aku jadi orang yang kamu takut... aku jadi orang yang bikin kamu waspada. Padahal satu-satunya tujuan aku hidup cuma satu bikin kamu aman, bikin kamu bahagia, bikin kamu nggak pernah takut sama apa pun. Tapi aku sendiri yang rusak itu semua."

Dia mengusap kasar wajahnya yang basah, napasnya berat dan sesak.

"Kamu boleh takut sama aku, kamu boleh waspada sama aku, kamu boleh menjauh... aku terima semuanya. Aku pantas dapet itu. Tapi percaya sama aku, Al... sebesar apa pun rasa sakit aku, sehancur apa pun hati aku..."

"rasa sayang aku sama kamu itu nggak bakal berubah, dan aku bakal mati-matian jagain kamu, biar kejadian tadi nggak pernah terulang lagi. Aku bakal buktiin... aku bakal balik jadi Jonathan yang kamu kenal dulu. Jonathan yang lembut, Jonathan yang selalu ada, Jonathan yang kamu percaya sepenuhnya."

Puspa yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara, menatap keduanya dengan pandangan bijak dan penuh kasih sayang.

"Udah, Nak... udah jangan disiksa diri sendiri terus," ucap Puspa lembut.

"Semua orang bisa salah, semua orang bisa kehilangan kendali kalau hatinya lagi sakit banget. Yang penting sekarang, kalian sama-sama tahu letak salah dan letak rasa sayang itu di mana."

"Luka fisik bisa sembuh cepet, tapi luka hati dan rasa takut itu emang butuh waktu lama buat hilang. Kamu sabar ya, Jo."

"Kamu tunjukin pelan-pelan kalau kamu masih Jonathan yang sama. Dan kamu juga, Aletta... ingat, dia lagi ada di titik terendah hidupnya. Jauh di lubuk hatinya, dia paling takut kalau kamu jadi benci atau takut sama dia."

Baskara pun mengangguk, menambahkan dengan nada tegas namun menenangkan.

"Kami percaya sama kamu, Jo. Kami tahu kamu anak baik, anak yang sayang banget sama keluarga dan sama Aletta. Kami maafin kejadian tadi, karena kami ngerti keadaan kamu."

"Tapi ingat satu hal rasa cinta itu harusnya bikin aman, bukan bikin takut. Mulai sekarang, kamu harus bangkit. Demi Papah kamu yang udah pergi, demi Mamah kamu yang butuh kamu, dan demi Aletta yang tetap bertahan di sisi kamu walau udah kamu lukai."

Jonathan mengangguk kuat-kuat, menghapus air matanya dengan tekad yang mulai tumbuh kembali meski masih rapuh. Dia menatap Aletta sekali lagi, berusaha menanamkan rasa percaya itu kembali.

"Terima kasih ya... Om, Tante... terima kasih udah maafin aku, udah terima aku apa adanya. Dan makasih ya, Al... makasih masih mau dengerin aku, masih mau maafin aku."

"Aku janji... aku bakal berjuang. Aku bakal bangkit pelan-pelan. Aku nggak bakal maksa kamu buat percaya lagi cepet-cepet. Aku bakal tunggu, sama kayak kamu nungguin aku kemarin. Aku bakal buktiin... rasa takut di mata kamu itu bakal hilang, dan bakal ganti lagi sama rasa percaya dan rasa cinta aja."

Suasana meja makan perlahan menjadi lebih tenang, meski sisa-sisa kesedihan dan kekakuan masih terasa ada di udara. Aletta hanya diam, tapi ia mengangguk pelan, memberi tanda bahwa ia masih ada di sana, masih mau bertahan, dan masih mau menunggu sampai Jonathan benar-benar pulih dan kembali menjadi dirinya yang dulu.

Setelah mengucapkan salam dan berpamitan, Jonathan berjalan keluar rumah itu dengan langkah yang jauh lebih berat daripada saat datang.

Di balik punggungnya, dia tahu Aletta masih berdiri di beranda mengawasinya pergi. Dia tahu, hubungan mereka tidak lagi sama persis seperti sebelum kejadian itu.

Ada retakan kecil, ada rasa takut yang baru tumbuh. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri, pada ingatan ayahnya, dan pada Tuhan...

Di akan memperbaiki semuanya, seumur hidupnya jika perlu, untuk menghapus rasa takut itu dan menggantinya dengan rasa aman yang paling besar bagi Aletta.

Malam itu, langit terasa begitu gelap dan dingin, tapi di hati Jonathan kini ada satu tujuan baru bangkit, berjuang, dan menebus segala kesalahannya demi satu-satunya wanita yang masih menjadi alasan dia tetap bernapas di dunia ini.

~be to continuous~

1
ayr
kakaa ikuti aku dong trus kasi like juga and jangan lupa baca novelku juga ya ka makasi
Acha Anisa: jangan lupa mampir juga yah di novel aku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!