NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Harmoni Pagi dan Rasa yang Tak Pernah Usai

​Pagi itu di hari Senin pada pertengahan bulan Mei 2019, langit Kota Bandung masih menyisakan sisa-sisa embun semalam, membias di dedaunan pohon mahoni yang berjejer di sepanjang jalan menuju kampus. Suara deru mesin bertenaga memecah keheningan jalanan yang mulai padat. Sebuah motor sport berkapasitas 250cc melaju dengan kecepatan sedang, membelah kemacetan pagi dengan lincah. Pengendaranya adalah Alan.

​Di balik helm full-face berwarna hitam doff itu, tatapan Alan fokus ke depan, meski pikirannya melayang ke berbagai arah. Mari kita perjelas satu hal sejak awal: jika kalian mengharapkan pengendara motor sport ini adalah seorang pewaris tahta perusahaan multinasional, seorang CEO muda yang sedang menyamar menjadi rakyat jelata demi mencari cinta sejati, atau cucu tunggal dari konglomerat yang sedang merakyat, lebih baik tutup halaman ini sekarang juga. Alan jauh dari semua stereotip usang itu.

​Motor yang dikendarainya ini, meski terlihat mengkilap dan gagah, adalah motor bekas. Dan bukan, ini bukan dibelikan oleh orang tuanya sebagai hadiah ulang tahun. Motor ini adalah wujud fisik dari peluh, keringat, dan jam tidur yang dirampas selama bertahun-tahun. Ini adalah hasil dari tabungan mati-matian; dari berjualan pernak-pernik secara online, mengetik ribuan kata hingga larut malam sebagai penulis novel online yang dibayar per bab, melakukan pekerjaan serabutan apa saja yang halal, hingga pekerjaan tetapnya saat ini—menjadi pelayan di Cafe Nuansa, yang sering memaksanya pulang saat langit sudah kembali gelap.

​Setiap lembar rupiah yang ia dapatkan harus dibagi dengan sangat cermat. Sebagian besar ia sisihkan untuk dikirim ke keluarganya di kampung. Ia teringat pada adiknya yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA, yang sebentar lagi membutuhkan biaya besar untuk ujian dan masuk kuliah. Ia teringat pada ayahnya, seorang pria paruh baya yang tangguh namun hanya bekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu. Dan ibunya, wanita berhati malaikat yang tak pernah mengeluh, yang setiap subuh sudah berkutat dengan adonan untuk berjualan gorengan dan jajanan pasar titipan di warung-warung. Sisa dari semua kewajiban itulah, yang selama bertahun-tahun ia kumpulkan lembar demi lembar, akhirnya cukup untuk menebus motor bekas ini. Beruntung, pemilik sebelumnya adalah orang yang sangat apik. Mesinnya masih halus, body-nya mulus tanpa goresan berarti.

​Alan menarik tuas kopling dan menurunkan gigi saat memasuki gerbang utama universitas ternamanya. Kehadirannya, seperti biasa, menarik perhatian. Alan memang tidak terlahir dengan ketampanan bak model majalah ibu kota, ia tidak kaya, dan hidupnya penuh dengan perhitungan matematis agar bisa bertahan hidup. Namun, ada sesuatu dalam diri Alan—sebuah kharisma yang lahir dari kemandirian, aura pekerja keras yang misterius, dan tatapan mata tajam namun tenang—yang entah bagaimana selalu membuat para mahasiswi menoleh dua kali.

​Ia mengarahkan motornya ke area parkir fakultas ekonomi. Dengan sangat hati-hati, ia menurunkan standar motor, mengunci stang, dan melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan karena helm, namun saat ia menyisirnya ke belakang dengan jari, beberapa mahasiswi junior yang lewat tampak berbisik-bisik sambil tersipu. Alan hanya menghela napas panjang, mengabaikan mereka, dan mulai berjalan menuju taman kampus.

​Taman kampus pagi itu sudah ramai. Banyak mahasiswa yang duduk berkelompok di bangku-bangku beton; ada yang sibuk membolak-balik diktat tebal, ada yang sibuk menyalin tugas teman karena tenggat waktu sudah di depan mata, dan ada pula yang sekadar tertawa lepas menikmati sisa waktu sebelum dosen masuk.

​Mata Alan menyapu area taman. Tepat di ujung, di bawah rimbunnya pohon beringin tua dan tak jauh dari gemericik air mancur buatan, ia melihat tiga sosok yang sangat familiar. Tiga sahabat yang telah menemaninya melewati masa-masa konyol saat ospek hingga kini mereka menginjak semester tiga.

​Dari kejauhan, Randi yang sedang duduk bersila di atas bangku taman langsung mengangkat wajahnya. Mulutnya penuh dengan kunyahan roti isi. Saat melihat Alan, ia buru-buru menelan rotinya dan melambaikan tangan tinggi-tinggi.

​"Woi, Lan! Sini buruan!" teriak Randi dengan suara cemprengnya yang khas, tak peduli beberapa pasang mata menatapnya kesal karena berisik.

​Di sebelah Randi, Ardi sedang menunduk dalam, jari-jarinya menari cepat di atas layar ponsel cerdasnya. Ekspresinya serius, mulutnya berkomat-kamit memaki rekan satu timnya di game online. Mendengar teriakan Randi, Ardi menoleh sekilas ke arah Alan.

​"Lama amat lu, Bos! Jalanan macet apa lu berangkat naik delman? Setengah jam gue nungguin di sini sampe tewas tiga kali di ranked nih!" gerutu Ardi tanpa mengalihkan pandangannya terlalu lama dari layar.

​Alan tersenyum tipis, mempercepat langkahnya dan bergabung dengan mereka. Ia meletakkan tas ranselnya yang sedikit pudar di atas meja bundar beton.

​"Biasa, macet di perempatan Soekarno-Hatta," jawab Alan santai sambil mendudukkan dirinya di sebelah sosok ketiga.

​Sosok itu adalah Rahmi. Perempuan dengan rambut sebahu yang diikat rapi itu perlahan menutup buku novel tebal bersampul biru yang sejak tadi dibacanya. Rahmi menoleh ke arah Alan, memamerkan senyum manisnya yang khas—senyum yang selalu berhasil membuat suasana di sekitar mereka terasa lebih tenang. Berbeda dengan gaya mahasiswi lain yang mungkin heboh dan berlebihan, Rahmi selalu tampil low profile. Kemeja flanel sederhana, celana jeans, dan sepatu sneakers kets putih adalah seragam andalannya. Tak ada yang tahu, kecuali Alan, Ardi, dan Randi, bahwa di balik penampilan sederhananya itu, Rahmi adalah putri dari salah satu pengusaha properti paling berpengaruh di kota ini.

​"Gaya lu udah kaya CEO perusahaan multinasional aja, Lan," goda Rahmi dengan nada lembut namun bernada sarkas yang bersahabat. "Ditelpon dari tadi gak diangkat, di-WhatsApp ceklis dua doang gak dibales-bales. Sibuk bener. Lu hidup di kota tetangga apa gimana sih?"

​Alan tertawa pelan, mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Eh, Mi, jangan salah paham. Bandung juga sekarang macetnya udah gak ketulungan, tau. Udah gak kalah padat sama ibu kota atau kota tetangga. Lagian, tadi gue nanggung di jalan, masa iya gue main HP sambil bawa motor? Bisa nyium aspal gue nanti."

​"Alah, alesan aja lu. Bilang aja lu keasyikan tebar pesona di lampu merah," timpal Randi sambil menyodorkan sebungkus keripik kentang ke arah Alan. "Makan nih, muka lu pucet amat kaya belum sarapan. Shift malem lagi lu semalem di kafenya Bang Hendri?"

​"Iya, semalem rame banget. Anak-anak manajemen pada booking tempat buat acara himpunan," jawab Alan sambil mengambil sepotong keripik.

​Ardi akhirnya meletakkan ponselnya dengan desahan frustrasi. "Kalah lagi anjir! Gara-gara lu datangnya telat nih, Lan. Tim gue jadi noob semua."

​"Apa hubungannya gue telat sama lu main game, Di?" Alan memutar bola matanya.

​"Ada lah! Aura keberuntungan gue kan nempelnya di elu," kilah Ardi asal, membuat Rahmi menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa kecil.

​"Udah ah, kalian ini berisik terus tiap pagi," ucap Rahmi sambil melihat jam tangan kulit mungil di pergelangan tangan kirinya. "Lima belas menit lagi kelas Pak Budi mulai. Beliau kan disiplin banget, kita jalan ke kelas sekarang aja yuk? Daripada nanti dihukum berdiri di depan pintu kaya anak SD."

​"Setuju. Lagian perut gue masih keroncongan, mending buruan beres kelas biar bisa ke kantin," kata Randi sambil membereskan sisa sampah rotinya.

​Alan baru saja menyampirkan ransel ke sebelah bahunya dan hendak melangkah mengikuti ajakan Rahmi. Namun, belum juga kakinya mengayun menjauh dari area air mancur, langkahnya terhenti. Dari arah jalan setapak yang menuju kantin fakultas, seorang mahasiswi bertubuh mungil dengan kacamata berbingkai tipis berjalan menghampiri mereka. Langkahnya ragu-ragu, tangannya meremas ujung sweter rajutnya dengan gugup. Wajahnya merona merah saat jaraknya dengan Alan semakin dekat.

​Itu Ayu, mahasiswi dari jurusan Sastra yang memang terkenal pemalu namun entah keberanian dari mana selalu mencoba mendekati Alan setiap ada kesempatan.

​"Ehm... permisi... pagi, Alan," sapa Ayu dengan suara lirih, nyaris seperti cicitan burung kecil.

​Alan, yang tertahan langkahnya, membalas dengan senyum sopan yang sangat netral. "Pagi, Ayu. Ada apa?"

​Ayu semakin menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata Alan secara langsung. Dengan gerakan cepat, ia menyodorkan sebuah kotak makan siang plastik berwarna hijau muda ke hadapan Alan. "Lan... ini... aku ada bikin sandwich tadi pagi. Bikinnya kelebihan. Kata teman-teman, kamu sering lupa sarapan karena sibuk kerja... jadi... ya, kali aja kamu suka. Ini rasa tuna mayo."

​Suasana mendadak hening. Rahmi, yang berdiri hanya selangkah di belakang Alan, menatap kotak makan itu dengan ekspresi datar yang tak terbaca, tangannya sedikit mengeratkan pegangan pada novel tebalnya.

​Alan sendiri diam, pikirannya berputar mencari cara yang paling halus untuk menolak tanpa menyakiti hati perempuan di depannya. "Ayu, makasih banyak ya repot-repot. Tapi aku tadi udah—"

​Belum sempat Alan merangkai kalimat penolakannya, sebuah tangan usil dari samping menyambar kotak bekal hijau tersebut. Siapa lagi kalau bukan Randi.

​"Wah, kebetulan banget ini, Yu!" seru Randi dengan mata berbinar-binar tanpa dosa. "Alan emang belum sempet sarapan katanya tadi, soalnya jalanan macet parah. Pucet tuh mukanya! Makasih banyak ya, rezeki anak saleh emang gak ke mana."

​Mata Alan mendelik tajam ke arah Randi, seolah memberikan peringatan mematikan lewat tatapan. Namun Randi hanya meringis tak peduli.

​Ayu, meski sedikit terkejut karena bekalnya diambil oleh orang lain, melihat itu sebagai tanda penerimaan dari pihak Alan. Wajahnya seketika cerah. "Syukurlah kalau begitu. Dimakan ya, Lan sandwich-nya! Semoga enak!"

​Dan tanpa menunggu balasan sepatah kata pun dari Alan, apalagi menunggu ucapan terima kasih yang layak, Ayu langsung membalikkan badan dan berlari kecil menuju koridor kelasnya. Ia terlalu malu untuk berlama-lama di sana, meningalkan Alan yang berdiri kaku dengan helaan napas berat.

​"Randi! Lu apa-apaan sih?" desis Alan, berusaha menekan suaranya agar tak terdengar orang lain di sekitar taman. "Gue kan mau nolak halus! Gimana gue balikin tempat makannya besok coba?"

​"Alah, gampang. Besok lu tinggal titipin ke gue, biar gue yang balikin pura-pura jadi kurir lu," jawab Randi enteng sambil menimang-nimang kotak bekal itu. "Lagian, sayang makanan enak ditolak. Tuna mayo, Bos! Mewah ini buat anak kosan macem gue."

​"Iya, tapi nanti dia mikirnya gue ngasih harapan!" protes Alan.

​Rahmi terdeham pelan. "Ya udah sih, Lan. Lagian udah kejadian. Ayo ah jalan, beneran telat nih kita."

​Mereka berempat pun kembali memutar langkah menuju gedung fakultas. Namun, seolah alam semesta sedang berniat menguji kesabaran Alan hari ini, baru tiga langkah mereka berjalan melewati deretan mading kampus, seorang perempuan lain mencegat rute mereka.

​Kali ini atmosfernya sama sekali berbeda. Jika Ayu tadi layaknya bunga daisy yang pemalu, perempuan yang berdiri di depan mereka sekarang layaknya mawar merah yang mekar dengan sangat percaya diri. Helena. Mahasiswi keturunan Chindo dengan kulit putih porselen, rambut lurus panjang yang di-blow sempurna, dan outfit kampus yang terlihat seperti langsung diambil dari katalog fashion mahal. Wangi parfum floral-nya bahkan langsung menggeser aroma embun pagi di sekitar mereka.

​Helena menyilangkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum lebar menatap Alan. "Pagi, Alan."

​Alan menghentikan langkahnya untuk kedua kalinya dalam rentang waktu kurang dari lima menit. Rahmi, di belakangnya, membuang muka ke arah mading, pura-pura membaca pamflet seminar yang jelas-jelas sudah kedaluwarsa sejak bulan lalu.

​"Pagi, Hel," jawab Alan singkat, nada suaranya sedikit lebih dingin dan berjarak dibandingkan saat berbicara dengan Ayu tadi.

​Tanpa basa-basi, Helena merogoh sesuatu dari dalam tote bag kulit aslinya dan menyodorkan sebuah coklat batangan berukuran besar dengan merek impor yang harganya tak masuk akal untuk ukuran dompet mahasiswa biasa.

​"Nih, buat kamu," kata Helena sambil mengedipkan sebelah matanya. "Kata Ardi, kamu suka banget sama coklat merek ini kalau lagi stress ngerjain tugas. Kebetulan Daddy aku baru pulang dari luar kota bawa banyak. Dimakan ya."

​Mata Alan langsung memicing tajam. Kepalanya menoleh patah-patah seperti robot rusak ke arah kiri, tepat menatap Ardi yang mendadak pura-pura sangat sibuk membersihkan debu kasat mata di lengan bajunya.

​"Wah... beneran nih langsung dibawain sama Helena?" sahut Ardi dengan nada dibuat-buat, persis seperti aktor sinetron amatir yang lupa naskah. "Pantesan aja Alan kemaren curhat katanya pusing mikirin jurnal akuntansi. Tuh, Lan, dapet support system premium. Diambil gih."

​Alan menatap coklat itu, lalu menatap Helena. "Hel, makasih sebelumnya. Tapi gue rasa ini terlalu—"

​Helena dengan cepat meraih tangan kanan Alan, memaksa coklat besar itu masuk ke genggaman Alan, dan menepuk punggung tangan laki-laki itu pelan. "Gak ada penolakan. Aku gak terima pengembalian barang. Have a nice day, Alan!" ucap Helena dengan nada final.

​Sama seperti Ayu, Helena pun langsung berbalik dan melangkah pergi dengan gaya elegan bak model catwalk, membelah kerumunan mahasiswa yang sejak tadi menonton adegan tersebut dengan tatapan iri. Suara heels sepatunya bergema menjauh di koridor.

​Alan berdiri mematung di tengah jalan setapak. Di tangan kanannya tergenggam coklat impor mahal, sementara di sebelahnya, Randi memeluk kotak bekal berisi sandwich tuna mayo. Pemandangan yang sungguh absurd. Alan memejamkan mata perlahan, menarik napas dalam-dalam seolah sedang menyerap seluruh oksigen di kampus, lalu menghembuskannya dengan kasar. Tangannya yang bebas naik, memijat pangkal hidung dan jidatnya yang mendadak berdenyut nyeri.

​Ia menoleh ke arah Ardi dan Randi secara bergantian. Keduanya kini sedang berusaha keras menahan tawa, hingga wajah mereka merah padam dan bahu mereka bergetar.

​"Sumpah," desis Alan dengan nada pasrah bercampur frustrasi yang mendalam. "Dua beban ini... kalian terus aja ya bikin gue malu di depan umum! Bisa-bisanya lu, Di, ngarang cerita gue suka coklat impor? Seumur-umur gue makan coklat mentok di warung doang!"

​Tawa Randi dan Ardi akhirnya pecah tak tertahankan. Ardi memegangi perutnya sambil menunjuk wajah Alan.

​"Lagian lu nya jadi cowok pesonanya luber-luber amat, Lan!" sela Ardi di sela-sela tawanya. "Gue tuh cuma ngetes omongannya Helena doang pas dia nanya-nanya soal lu di kantin kemaren. Eh, taunya beneran dibawain. Rezeki lu itu, Lan. Kapan lagi makan coklat orang kaya?"

​"Rezeki apaan? Ini namanya bencana!" omel Alan, memasukkan coklat itu ke dalam ranselnya dengan asal-asalan. "Gue tuh ke sini mau kuliah, nyari ijazah, biar bisa kerja bener dan ngangkat derajat keluarga. Bukan mau buka open casting biro jodoh! Ngapain juga lu berdua malah ngompor-ngomporin cewek-cewek itu? Gue yang repot nanti ngurus ekspektasi mereka!"

​Melihat sahabatnya benar-benar mulai bad mood, Rahmi akhirnya melangkah maju, memecah ketegangan komedi itu dengan suaranya yang tenang. Ia menepuk pelan pundak Alan.

​"Udah, Lan, santai aja," ucap Rahmi sambil tersenyum geli. "Gini nih risikonya kalau satu kelas sama pangeran kampus. Punya pesona kok gak dikontrol. Maklumin aja kelakuan dua curut ini, otak mereka emang isinya cuma gratisan sama game."

​Alan menatap Rahmi. Dari ketiga sahabatnya, memang hanya Rahmi yang paling waras dan selalu menjadi air pendingin ketika kepalanya mulai mendidih. "Lu juga, Mi. Temen lu lagi pusing malah dikatain pangeran kampus segala. Udah ah, ayo buruan ke kelas. Pak Budi keburu masuk."

​Alan pun melangkah mendahului mereka, langkahnya panjang dan cepat, seolah ingin segera kabur dari area yang dipenuhi 'ranjau' tersebut. Randi dan Ardi mengekor di belakang sambil saling tos dan berbisik-bisik girang tentang sandwich gratis yang akan mereka eksekusi di jam istirahat.

​Sementara itu, Rahmi sengaja memperlambat langkahnya. Ia berjalan paling belakang, matanya lekat menatap punggung tegap Alan yang dibalut jaket denim pudar. Punggung yang memikul beban begitu berat—keluarga, biaya kuliah, dan harga diri.

​Senyum di bibir Rahmi perlahan memudar, berganti dengan sorot mata yang sarat akan makna mendalam. Sebuah perasaan yang telah ia kubur rapat-rapat sejak hari pertama ospek universitas, saat Alan membantunya mencarikan topi jeraminya yang hilang tanpa mengetahui status sosialnya sama sekali.

​Dalam diamnya koridor kampus yang mulai sepi, hati Rahmi berbisik lirih.

​'Gak apa-apa, Lan. Gak apa-apa hari ini kamu dikerubungi Ayu, Helena, atau siapa pun mahasiswi di kampus ini,' batin Rahmi, meremas pelan ujung buku novelnya. 'Selama kamu masih menggerutu, selama tatapanmu masih dingin dan tak menanggapi cewek-cewek itu, aku masih bisa bernapas lega. Karena itu artinya... hatimu masih belum menjadi milik siapapun. Termasuk aku. Kita masih di garis start yang sama.'

​Rahmi tahu persis, persaingan di dunia nyata tidak semudah dalam novel yang dibacanya. Ia memiliki segalanya: harta, koneksi perusahaan properti raksasa milik ayahnya, dan akses ke dunia yang bahkan tidak berani Alan impikan. Namun, saat Alan jatuh sakit parah semester lalu karena kelelahan bekerja dari pagi hingga larut malam, tak satupun dari kekayaannya itu berani ia tunjukkan secara langsung. Ia tahu harga diri Alan terlalu tinggi untuk menerima belas kasihan.

​Maka dari itu, dengan susah payah, Rahmi menyembunyikan identitasnya. Ia diam-diam mentransfer dana ke rumah sakit dan meminta Bang Hendri—pemilik Cafe Nuansa yang juga kakak tingkat mereka—untuk berpura-pura bahwa biaya rumah sakit Alan ditanggung oleh 'asuransi karyawan cafe'. Ia berdiri di barisan paling depan saat Alan membutuhkan donor darah, dan begadang memastikan pria itu tidak kekurangan apa pun, tanpa pernah menuntut balasan.

​Rahmi mencintai Alan dengan cara yang paling sunyi. Ia memilih menjadi sahabat yang selalu ada, tempat Alan bersandar saat lelah, meski itu berarti ia harus menahan rasa cemburu setiap kali melihat perempuan lain secara terang-terangan mencari perhatian pria itu.

​"Rahmi! Woi! Ngelamun aja lu di belakang!" teriakan Ardi dari ujung lorong membuyarkan lamunan panjangnya.

​Rahmi terkesiap, lalu memaksakan sebuah senyum lebar. "Iya, bawel! Sepatu gue lepas nih talinya!" dustanya sambil berpura-pura membenarkan tali sepatu sneakers-nya, lalu berlari kecil menyusul ketiga sahabatnya.

​Hari Senin di bulan Mei ini baru saja dimulai. Kelas Akuntansi Dasar bersama Pak Budi menanti mereka di depan sana. Namun, tak satupun dari mereka yang menyadari, bahwa takdir sedang menyiapkan sebuah tikungan tajam. Di seberang gedung fakultas mereka, tepatnya di gedung Manajemen Informatika, seseorang dari masa lalu Alan sedang melangkahkan kakinya, membawa bom waktu yang tak lama lagi akan meledakkan keseimbangan tenang yang selama ini dijaga erat oleh Rahmi.

​Seorang primadona dari masa putih abu-abu. Bunga.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!