Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Nada sombong itu tidak mendapat tanggapan apa pun. Tatapan Ratna tetap jernih dan dingin, setenang permukaan telaga di puncak gunung. Ia mengangkat pedang esnya, memicu detak jantung Guntur yang tak terkendali. Guntur segera mengerahkan seluruh tenaga dalam-nya; bayangan rajawali di belakangnya kian nyata, seolah benar-benar menjelma menjadi makhluk hidup.
"Pedang Angin Ekstrem!"
Guntur melesat seperti kilat di tengah topan. Kecepatannya sungguh luar biasa; para praktisi di bawah Alam Bumi hanya mampu melihat sisa bayangan yang melintas bagai sambaran petir. Di antara Empat Perguruan Besar, kecepatan Perguruan Wijaya memang tiada duanya!
Di sisi arena, pemimpin Perguruan Wijaya mengangguk puas. "Bagus. Ia tidak meremehkan lawan. Setelah ini, ia akan menghadapi Yoga—pertarungan yang mustahil dimenangkan. Maka dalam laga ini, biarlah ia memperlihatkan kekuatan sejati kita."
Di tengah gerakan secepat badai, pedang Guntur menyapu cepat. Rangkaian tebasannya turun bagai hujan badai tanpa celah. Namun, langkah Ratna tetap ringan. Setiap ia mundur selangkah, sekuntum teratai es mekar indah di bawah kakinya, meredam setiap benturan.
"Mengagumkan," bisik salah satu tetua penonton. "Ratna baru tingkat delapan Alam Bumi, tapi Seni Awan Bekunya sudah mencapai tahap Teratai Es. Dia adalah murid paling berbakat dalam puluhan tahun terakhir."
Di bangku penonton, tangan Banu basah oleh keringat. "Kak Arka! Kak Ratna dalam bahaya!" teriaknya cemas.
"Tenang. Kakakmu tidak akan kalah semudah itu," ujar Arka santai.
"Tidak akan kalah semudah itu?" terdengar dengusan Melati di benaknya. "Wanita ini sama sekali tidak mungkin kalah. Jika ia menggunakan kekuatan penuhnya, Guntur takkan mampu bertahan lima jurus. Situasi sekarang hanyalah sandiwara untuk menyembunyikan kekuatan aslinya."
Arka tertegun. "Tak bertahan lima jurus? Mustahil..."
"Hmph! Kau mampu melompati ranah karena bakat dan darah ilahi milikmu. Namun dalam hal potensi murni dan konstitusi tubuh, akhirnya aku menemukan seseorang yang sepenuhnya melampauimu—wanita ini. Dia memiliki Nadi Roh Dewa Surgawi dengan lima puluh empat pintu tenaga dalam terbuka seluruhnya. Lebih dari itu, ia juga memiliki Hati Kaca Berlapis Salju—sesuatu yang sepuluh ribu kali lebih langka. Di dunia asalku, hanya satu orang dengan Tubuh Indah Sembilan Misteri yang muncul setiap sepuluh ribu tahun..."
Melati menambahkan dengan nada serius, "Setelah besok, belum tentu Yoga yang akan menjadi lawanmu di final."
Arka tercekat. Sesuatu yang mampu mengejutkan Melati pasti merupakan hal yang luar biasa. Kalimat terakhir Melati secara terang menyiratkan bahwa Ratna bahkan mungkin mampu mengalahkan Yoga!
Di arena, pertempuran mencapai puncaknya. Kesabaran Guntur habis. Ia memilih mengerahkan jurus pamungkasnya meski belum mencabut Pedang Penggetar Bumi.
"Tebasan Sekilas!!"
Guntur meluncur turun bersama badai, laksana dewa pedang yang menjatuhkan hukuman dari langit. Tekanan pedangnya menyapu tajam ke arah Ratna. Namun Ratna tetap tenang. Ia mengangkat pedang esnya ke atas, dan di ujung bilahnya, sekuntum teratai es mekar—kali ini berwarna biru langit yang pekat.
BOOM!!
Benturan itu mengguncang seluruh arena. Badai energi hijau dan cahaya biru pucat meledak, menelan keduanya. Sepuluh tarikan napas penuh, hanya suara ledakan energi yang terdengar.
Saat cahaya mereda, keduanya terpental mundur. Ekspresi Ratna tetap tak berubah, gaun putihnya bersih tanpa noda. Guntur pun tampak tak terluka, namun wajahnya dipenuhi rasa malu karena jurus pamungkasnya gagal total.
"Peri Ratna memang hebat. Namun pertandingan ini harus kumenangkan," ujar Guntur seraya bersiap mencabut Pedang Penggetar Bumi dari cincin pusakanya.
Namun tepat saat tangannya bergerak, ekspresi Guntur membeku. Wajahnya memucat seketika. Lalu, seperti patung es yang retak, tubuhnya roboh kaku ke tanah.
Saat tubuh Guntur menyentuh lantai, puluhan luka tiba-tiba terbuka di sekujur tubuhnya. Darah menyembur beruntun. Luka-luka itu sebenarnya sudah tercipta di tengah badai cahaya tadi, namun karena dilapisi energi dingin ekstrem Seni Awan Beku, luka itu membeku seketika—tanpa darah, tanpa rasa sakit, hingga saat ini.
Dalam sepuluh napas tadi, jika Ratna mau, Guntur sudah mati lebih dari tiga puluh kali.
Penatua Wayan sempat tertegun sesaat. Namun, sebagai penengah yang berpengalaman, ia segera melesat maju dan memeriksa kondisi Guntur. Setelah memastikan denyut nadinya, Wayan menghela napas lega. Dengan satu kibasan telapak tangan yang dialiri tenaga dalam murni, ia membantu menutup luka-luka di tubuh Guntur agar pendarahannya berhenti.
Tak lama kemudian, suaranya yang lantang memecah keheningan:
“Guntur kehilangan kemampuan gerak secara total. Padepokan Awan Beku—Ratna Pradana—dinyatakan menang! Ia melaju ke babak semifinal besok!”
Enam anggota Perguruan Wijaya serentak berdiri dengan wajah kaku. Laksana elang yang murka, sang pemimpin perguruan, Jatmika, melesat ke tengah arena. Setelah menyelidiki luka anaknya, ekspresinya berubah drastis.
Ada lebih dari tiga puluh sayatan di tubuh Guntur—namun tak satu pun yang menembus organ vital. Jatmika sangat paham mengapa luka-luka itu baru terbuka secara bersamaan sekarang. Teknik membekukan luka adalah ciri khas Padepokan Awan Beku. Namun yang membuatnya merinding adalah kenyataan bahwa anaknya bahkan tidak sadar kapan luka-luka itu dibuat.
Namun, kejutan sebenarnya bukan pada luka fisik itu, melainkan energi dingin yang telah menyegel sebagian besar titik saraf Guntur.
Jatmika menatap tajam ke arah Ratna, lalu berbisik sangat rendah, hanya untuk didengar gadis itu:
“Aku semula mengira Padepokan Awan Beku tidak akan tampil mencolok tahun ini. Rupanya aku salah besar. Bisa menyusupkan energi dingin sebanyak itu tanpa disadari lawan… Seni Awan Bekumu pasti sudah mencapai tingkat kelima. Untung saja anakku tidak sempat mencabut Pedang Penggetar Bumi. Jika tidak, kekalahannya akan jauh lebih memalukan.”
Jatmika kemudian mengangkat tubuh Guntur yang kaku dan meninggalkan arena dengan langkah berat.
Dengan berakhirnya pertandingan terakhir, susunan semifinal untuk esok hari segera terpampang di prasasti batu di tengah arena:
Pertandingan Pertama:
Kerajaan Surya Kencana — Arka Yudistira
Melawan
Perguruan Pedang Surgawi — Yogi
Pertandingan Kedua:
Perguruan Pedang Surgawi — Yoga
Melawan
Padepokan Awan Beku — Ratna
“Waaah! Kak Arka dan Kakak benar-benar masuk empat besar! Luar biasa!” Banu melompat-lompat girang, hampir kehilangan kata-kata.
Dua orang terdekatnya kini berdiri di puncak ajang tertinggi praktisi muda di negeri ini. Rasa bangga Banu tak terlukiskan. Namun, ia menyadari sesuatu. “Eh? Kak Arka, kenapa wajahmu muram? Kau tidak senang?”
Arka menggeleng pelan, tersenyum samar. “Bukan begitu. Aku hanya tidak menyangka... Ratna ternyata sekuat itu.”
Malam itu, di dalam kesendirian pikirannya, Arka bertanya pada Melati. “Melati, ‘Hati Kaca Berlapis Salju’ dan ‘Tubuh Indah Sembilan Misteri’ yang kau sebut tadi—apa sebenarnya itu?”