Seorang wanita dari jaman modern masuk ketubuh Permaisuri yang di jadikan pilar Kekaisaran, Dinny Winata.. umur 25 tahun, Dinny terkejut saat jiwanya di tarik paksa oleh cahaya yang datang ke tubuh nya
"Siapa kau?" tanya Dinny
"Aku jiwa yang dihianati dan di buang ke dalam jurang kebencian" jawab wanita yang persis dengan Dinny
"Apa mau mu? sampai menarik jiwaku yang sedang duduk di balkon" ucap ketus Dinny
"Hahaha... balaskan rasa sakitku, aku serahkan putriku dan putra untuk kau jaga, bukan nya kau di dunia ini hidup sendiri" ucapnya dengan nada penuh kebencian. Dinny menggerutu tidak jelas
"Tidak mau tiba-tiba punya anak, dsini aja aku masih single-single loh" jawab kesal Dinny. wanita yang menatap penuh kebencian langsung menatap penuh kerapuhan
Penasaran dengan cerita ini? yuk mampir kecerita Nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intanpsarmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
"Yuhuuuuu.... wanita cantik dan jelita ini kembali, ibu.... kakak ipar dimana kalian berada" teriak Putri satu-satunya dari ibu suri Ning. Pangeran kedua Cheng berdiri kaku saat melihat wanita yang tadi mengejar nya, dia tidak menyangka kalau wanita yang dia kira gila itu, ternyata putri dari ibu suri Ning.
"Eh kau? kau ada disini? wah... pakaian mu menjadi merah muda, hahaha... kau terlihat tuan muda yang suka memakai pakaian perempuan" ucap putri Li Ning. semua orang yang berada di situ pun saling tatap, apa kedua orang ini pernah ketemu.
"Bibi kau mengenal paman pangeran kedua? apa kalian pernah bertemu?" tanya Nuning. dia sedikit penasaran, Putri Li Ning pun mengangguk.
"Kenapa kau terus bersembunyi? dari tadi aku mengejar mu karena ingin mengembalikan barang mu yang jatuh" ucap Putri Li Ning. Pangeran kedua Cheng melotot sempurna, tunggu jadi wanita yang mengejar-ngejar nya itu. bukan karena ingin menganggu nya.
"Tunggu kau mengejar-ngejar ku bukan karena ingin berkenalan dengan ku?" tanya Pangeran kedua Cheng. Putri Li Ning tertawa keras, dan menatap tajam kearah Pangeran kedua Cheng.
"Hei pangeran merah muda.... kau tak setampan itu, sampai aku mengejar-ngejar mu seperti orang gila" ucap ketus Putri Li Ning. dia pun langsung melemparkan giok hitam memilik Pangeran kedua Cheng, Pangeran kedua Cheng meringis. ternyata dia salah paham, dan kurang ajar nya pengawal kakaknya itu meminta dia menyamar sebagai wanita.
Nuning tertawa keras mendengar ucapan bibi putri nya itu, Kaisar Cheng Bowen menatap tajam kepada sang adik. dia benar-benar malu mengakui lelaki di sebelah nya itu adiknya, Ang Bei hanya menggelengkan kepala.
...----------------...
Kaisar Cheng Bowen benar-benar mengganti semua kerusakan di dapur istana Ning, tidak itu. dia juga membeli kebun buah peach, ibu suri Ning melongo. dia hanya minta satu pohon tapi Kaisar Cheng Bowen mengganti nya dengan satu kebun buah peach, Permaisuri Ai Ning yang mengetahui itu pun meminta para pelayan membuat bir Peach.
...----------------...
"Bir peach? apa kau bisa membuat nya Ai'er?" tanya ibu suri Ning. Permaisuri Ai Ning pun mengangguk dia memiliki ide juga untuk membuat beberapa minuman dari buah Peach, ibu suri Ning bangga dengan menantu nya ini.
Ibu suri Ning. memerintahkan para pekerja di kebun buah peach pun memanen buah yang sudah matang, Nuning ikut membantu para pekerja itu. tambah dia juga penasaran dengan minuman yang akan di buat ibunya, Ang Bei lebih fokus ke perbaikan jalan dan irigasi kekaisaran. banyak para rakyat yang suka dengan calon Kaisar masa depan itu.
Permaisuri Ai Ning sibuk membuat sirup buah peach blossom, dia juga sudah mulai menyimpan bir peach. Kaisar Cheng Bowen yang selama ini terus mengikuti Permaisuri Ai Ning ikut membantu, bahkan seorang kaisar dingin dan datar di suruh mencuci buah peach. Pangeran kedua Cheng melongo melihat kakaknya yang begitu patuh pada Permaisuri Ai Ning.
Setelah sirup buah peach jadi Permaisuri Ai Ning membuat beberapa minuman dingin dan segar untuk semua orang, tidak lupa dia juga membuat Cake yang membuat mata Putri Li Ning dan Nuning berbinar. Tidak hanya dua gadis muda saja yang berbinar Pangeran kedua Cheng pun ikut tersenyum bahagia, sudah lama dia tidak merasakan kehangatan keluarga. Kaisar Cheng Bowen lebih sering fokus kepada Kekaisaran Cheng. ibu dan ayahnya sudah lama wafat, jadi bisa terbilang Pangeran kedua Cheng ini kurang kasih sayang orang tua.
.
...
"Calon kakak ipar, ini benar-benar luar biasa.... aku belum pernah merasakan manis dingin dan segar di satu wadah selama ini, uhh... aku sudah tidak sabar kakak ipar membuka restoran di kekaisaran kita, aku yang akan Pertama kali datang" ucap Pangeran kedua Cheng. Putri Li Ning melirik sinis kepada Pangeran kedua Cheng,
"Pangeran merah muda... Jangan berani-berani nya kau membawa kakak ipar ku, kalau kau berani. lawan dulu Ang Bei" ucap Putri Li Ning. sambil menyendok Cemilan dari buah peach, Ang Bei yang sedang duduk dan meminum jus krim buah peach pun tersedak.
"Kenapa aku?" tanya Ang Bei.
"Karena kau putranya... Kau pasti tidak akan rela bila ibumu pergi jauh kan?" ucap Putri Li Ning.
"Ibu sudah tua... ibu bisa jaga diri sendiri, bahkan bela diri aku dan ibu saja lebih kuat ibu" jawab Ang Bei dengan santai, Permaisuri Ai Ning yang sedang meminum pun langsung menatap tajam kepada putranya.
"Ya.... kau ini benar-benar putra yang tidak berbakti" ucap kesal Permaisuri Ai Ning.
"Ibu... kakak bukan tidak berbakti, dia tidak ingin melarang ibu untuk hidup bahagia. Tidak ada masalah kalau Paman Kaisar Cheng Bowen menjadi ayah kami, dari tampang juga baik... dari kekayaan juga cukup lah untuk menambah koleksi emas atau berlian ibu" jawab santai Nuning. Permaisuri Ai Ning mendengus mendengar ucapan putra dan putri nya itu, dia menatap Kaisar Cheng Bowen yang senyum kemenangan.
"Jangan tersenyum... kau jelek" ucap kesal Permaisuri Ai Ning.
"Benarkah aku jelek? kata nu'er aku dari tampang juga baik loh ya...." ucap Kaisar Cheng Bowen. Permaisuri Ai Ning memalingkan wajahnya, Ang Bei dan Nuning terkekeh geli melihat wajah merah sang ibu.
"Siapa kau dengan berani melamar wanita ku?
BERSAMBUNG.....
Mending tidur saja, daripada melakukan hal yang sia-sia.