"Hei Betina! Dia Jantan ku! Apa kau berani, menyentuh Milikku?" lembut, namun tajam.
Qingling, gadis dengan sejuta pesona yang selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi setelah kematian kakeknya.
Tanpa disadari ia telah melakukan perjalanan waktu karena ulah seniornya, hingga sampai zaman dimana, para Orc atau Beastman berkuasa.
"Jantan Tampan, Manis, Arogan, Penurut dan suka Mengintimidasi aku memiliki semuanya."
"Mereka memaksaku untuk kawin dengan mereka semua? yang benar saja!"
Penasaran dengan kisah Qingling dan Jantan Tampan disekelilingnya? Bukan hanya Percintaan, tapi juga tentang Hubungan, Keberanian, Kejujuran, dan Balas Dendam.
Yuk! Simak kehidupan Qingling di Dunia Binatang.
No Plagiat. Karya murni dari isi pikiran Author. Jika ada Kesamaan Nama atau Tokoh, Mohon di maafkan..
Selamat Membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hua chia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Hilangnya Betina
"Cukup! Nak Qing sedang istirahat jika, kalian masih mau ribut keluar dari rumah ku." putus tabib Su, saat melihat mereka akan menyerang satu sama lain.
"Lebih baik, kita membicarakan Anggota Kuil. Aku merasa mereka ada hubungannya dengan Suku Kalajengking." sambungnya, setelah Yuze dan Kaian duduk lagi di tempatnya.
Yuze mengangguk, membenarkan ucapan tabib Su dan mulai menceritakan apa yang di lihatnya kepada Kaian.
Mata tajam Kaian sesekali membesar, saat mendengar informasi yang di sampaikan Yuze. Entah, mengapa alasan hilangnya Betina di kota Niye ada hubungannya dengan Anggota Kuil yang datang berkunjung 1 tahun yang lalu.
"Kek, apa kau ingat hilangnya Betina suku Kelinci setahun yang lalu?" Kaian melihat kerutan kasar di dahi tabib Su seolah, menggali ingatannya.
Cukup lama tabib Su terdiam lalu, mengangguk. "Benar. Itu terjadi setelah perginya anggota Kuil."
Setelah tabib Su mengatakan itu, suasana menjadi hening mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing hingga, tak mendengar langkah kaki yang turun dari tangga. "Apa yang kalian bicarakan?" suara halus dan ringan menyapa telinga mereka.
Yuze tersentak kecil lalu, tersenyum lembut. "Hanya masalah kecil, Ling." suaranya tenang, namun tajam.
Qingling berjalan membawa dua mangkuk yang berisi sup daging dan meletakkannya di depan mereka, "Aku menambahkan tomat di dalam supnya" ucapnya setelah menyadari raut bingung Yuze melihat, tomat yang di potong sama rata di mangkuknya.
"Apa bisa di makan?" tanya tabib Su, yang sama bingungnya seperti Yuze. Setahunya, buah yang berwarna cerah dan mencolok itu berbahaya.
Qingling mengangguk semangat. "Bisa kek, Rasanya sedikit asam dan segar. Aku yakin kau akan menyukainya" ucapnya tanpa menatap Kaian, yang sedari tadi menatapnya tanpa ekspresi.
Merasakan ada yang memperhatikannya, Qingling menoleh ke arah Yuze tepatnya ke arah Kaian yang menatapnya tanpa berkedip. 'Apa ada yang salah dengan wajahku?' pikir Qingling heran, melihat sikap Kaian yang terus memperhatikannya.
Sejenak Qingling menepuk jidatnya ringan. "Astaga. Maafkan aku. Tunggu, aku akan mengambilkan untukmu" ucapnya setengah berlari menyadari kesalahannya. 'Pantas saja Orc itu menatapku terus. Pasti dia kelaparan' batin Qingling kasian, melihat Kaian yang sepertinya sedang menahan perutnya.
Kaian mengangkat satu alisnya, tak mengerti yang di bicarakan Qingling. Ia hanya menatap datar, kepergian Qingling sampai sosok itu hilang di belokan.
'Mengapa jantungku berdegup kencang hanya melihat matanya?'
......................
Keesokan paginya, Yuze dan Kaian di sibukkan dengan kabar hilangnya, betina dari beberapa Suku yang tinggal di dalam kota Niye.
Qingling yang mendengar berita itu, keluar rumah dan berjalan menghampiri Kaian yang sedang berbicara dengan beberapa ketua Suku.
"ketua Kaian, kau sebagai pemimpin kota Niye harus membantu kami. Betina di suku kami, tidak lebih dari seratus dan sekarang, menghilang tanpa jejak" ucap ketua Orc kuda dengan raut putus asa.
"Aku mengerti kegelisahan kalian. Aku akan mencari jalan keluar, sekarang kalian kembali" ucap Kaian menenangkan mereka.
Mendengar ucapan Kaian, yang tidak bisa di bantah. Mereka akhirnya, mengangguk dan kembali ke Suku masing-masing.
Saat akan berbalik. Ia terkejut, melihat Qingling. Betina yang ia perhatikan selama ini berdiri di belakangnya dan menatap ke arahnya. 'Sial, mengapa aku gugup?'
Sebenarnya ada rasa tak nyaman, saat dekat dengan Kaian. Qingling merasa bahwa, Kaian terlalu arogan untuk di ajak bicara. Apalagi mereka berduaan sekarang.
"Ada apa?" tanya Kaian dengan suara dingin setelah, menetralkan detak jantungnya.
'Cih, apa ia mengira aku mencarinya?'
"Aku mencari pasanganku. Apa kau melihatnya?" ucap Qingling tak kalah dingin.
Kaian merasa tak senang, mendengar jawaban Qingling yang tidak sesuai harapannya. "Aku tak mengenal pasangan mu."
Entah, mengapa Qingling merasa muak dan kesal hanya dengan mendengar suaranya. Apalagi jawabannya yang seperti, mempermainkannya.
Benar kata Yuze. Dia Idiot.
Sudut bibir Kaian berkedut, menahan tawa saat melihat wajah betina kecil di depannya menatap tajam ke arahnya.
Tangan nya mengepal erat, saat melihat sudut bibir Orc di depannya seperti menahan tawa. "Apa kau menertawakan ku?" ucapnya dengan sengit.
"Tidak."
Qingling mendengus kesal, melihat Kaian yang tidak berniat untuk menjawab pertanyaannya. Belum sempat, ia berbalik pergi. Tangan Kaian sudah berada di pinggangnya dan menariknya hingga, menabrak dadanya.
Tubuhnya membeku. Ia menatap mata emas, Kaian untuk mengintimidasinya tapi yang ia lihat adalah lukisan wajahnya di mata tajam itu. Seolah, seluruh dunia Kaian hanya tertuju kepadanya.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku" ucap Qingling tak nyaman, mendengar suara detak jantung Kaian yang berdetak kencang.
Kaian tak menanggapi, ucapan Qingling dan mendekatkan wajahnya hingga, hidung mereka sebagai pembatasnya, "Kau... " Kaian menjeda ucapannya dan melepaskan dekapannya.
Melihat Qingling terdiam. Ia berbalik pergi. Sejenak, ia berhenti tanpa menoleh menatap Qingling"... Sangat cantik malam itu" lanjutnya dan berlalu pergi, meninggalkan Qingling yang masih mencerna ucapan Kaian.
"Malam?" ulang Qingling tak mengerti dan memandang punggung lebar Kaian yang semakin, menjauh dari pandangannya.
Setelah kepergian Kaian, tepat di tikungan jalan. Qingling di kagetkan dengan suara tabib Su, yang berteriak tepat di telinganya.
"Nak Qing mengapa berdiri seperti patung di situ? Ayo ikut kakek, ada yang memerlukan bantuan mu" tabih Su, menarik tangan Qingling tanpa mengindahkan pertanyaan Qingling yang penasaran.
Matanya menyipit, saat langkahnya di bawa ke arah selatan Suku Serigala. Qingling mengingatnya bahwa, ini tempat tinggal Suku Tupai.
Sampai akhirnya, ia tersentak kecil saat melihat beberapa betina yang di jejerkan membentuk lingkaran, di tengah lapangan dengan seorang Orc betina memakai jubah hitam, yang berdiri di tengah lingkaran seolah, sedang melakukan ritual.
Qingling mendengar tangisan, dari beberapa Orc yang merupakan anggota keluarga dari betina, yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Ia mengedarkan pandangannya dan melihat, sosok yang di carinya sedari pagi sedang berdiri di antara, mereka dan memopang tubuh seorang Orc jantan tua yang terlihat sangat menyedihkan.
"Ada apa ini kek? Mengapa betina itu di kumpulkan di tengah lapangan seperti ini?" tanyanya dengan tatapan fokus, menatap kumpulan betina yang merintih kesakitan.
Kulit mengelupas, bibir berwarna biru agak kehitaman, dan menggigil. Itu tanda keracunan.
Tabib Su menggeleng pelan. "Kakek tak tau Nak Qing. Tadi, kakek memanggil mu karena ingin meminta bantuan mu tapi, sekarang mengapa ada pihak Kuil yang sepertinya akan melakukan pengorbanan?" bingung tabib Su, melihat kedatangan anggota kuil, yang tiba-tiba seakan mereka tau apa yang sedang terjadi di Suku Tupai.
Melihat beberapa Orc, yang memakai tudung yang awalnya berdiri di samping lalu, melangkah maju membawa obor dan yang membuat Qingling kaget saat mereka mengarahkan obor itu, ke arah sekumpulan betina itu.
Apa mereka akan dibakar?
"Berhenti! Apa yang kalian lakukan?" ucap Qingling tajam dan sedikit berteriak hingga, semua yang ada di sana menatap kearahnya.
Semua yang ada di sana, yang awalnya tidak memperhatikan Qingling terpaku, melihat betina kecil yang sangat memanjakan mata.
Berita kedatangan betina cantik, ke Suku Serigala yang di bawa oleh tabib Su ternyata, telah menyebar luas di kota Niye namun, mereka tak percaya. Mengira Orc Serigala mengarang cerita.
Melihat kedatangan Qingling, yang menjadi pusat perhatian dengan sigap, Yuze menghampirinya dan merengkuh pinggangnya. Seakan, memperlihatkan hubungan mereka.
Orc betina yang berdiri, di tengah lingkaran betina yang akan di korbankan itu, menggeram marah. Sudah lama, ia mengincar Yuze dan sekarang harus menelan pahit bahwa, mangsanya telah menjadi milik betina lain.
Tidak termaafkan.
'Sial, mengapa dia lebih cantik dari aku' batin Heul — Orc betina burung gagak yang merupakan, salah satu anggota Kuil dengan perasaan iri dan kesal.
"Jaga mata kalian, Ling adalah pasangan ku" Yuze menatap tajam, ke arah Orc yang berani menatap penuh minat Qingling.
Merasakan aura Yuze yang menguar dingin. Mereka segera mengalihkan tatapan liarnya, dari Qingling dengan tergesa-gesa.
Heul menggigit bibir, bawahnya menahan kekesalannya, "Hei betina! Jangan mengganggu, proses pembersihan jiwa kami!"
Qingling terkekeh geli, "Maksudmu dengan di bakar mereka akan bersih? Idiot."
"Apa kau bilang? Beraninya kau! Apa kau tau siapa aku?"
semangat tor.. /Determined//Determined/
ditunggu ya kelanjutannya author 🤭
jangan lama2 soalnya penasaran nungguin yaa author
jangan lama2 thor
jangan lama-lama😊😊😊😊