Dua keluarga yang semula bermusuhan akhirnya memutuskan menjalin aliansi pernikahan.
Posisi kepala negara terancam dilengserkan karena isu menjual negara pada pihak asing disaat perbatasan terus bergejolak melawan pemberontakan. Demi menjaga kekuasaan, Sienna sebagai putri bungsu kepala negara terpaksa menerima perjodohan dengan Ethan, seorang tentara berpangkat letjen yang juga anak tunggal mantan menteri pertahanan.
Bahaya mengancam nyawa, Ethan dan Sienna hanya bisa mengandalkan satu sama lain meski cinta dari masa lalu menjerat. Namun, siapa sangka orang asing yang tiba-tiba menikah justru bisa menjadi tim yang kompak untuk memberantas para pemberontak.
Dua dunia yang berbeda terpaksa disatukan demi mendapatkan kedamaian. Dapatkah mereka menjadi sepasang suami-istri yang saling menyayangi atau justru berakhir saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 (Kenyamanan bersamamu)
"Boleh aku cium lagi, sayang?"
Kalimat itu bukanlah sebuah pertanyaan, tapi hanya sekedar basa-basi belaka, karena setelahnya Ethan langsung menyambar bibir Sienna.
Lembut namun dalam. Ethan membuat Sienna tidak memiliki kesempatan untuk menolak atau bahkan sekedar memberontak. Tangannya merengkuh wajah mungil Sienna, menekan tengkuknya memperdalam ciuman mereka.
"Buka mulutmu," pinta Ethan dalam jeda ciumannya.
Bibir Sienna basah, getarannya sampai ke hatinya. Ia tidak mampu mencerna situasi yang terjadi saat ini. Ciuman yang bermula untuk mengalihkan rasa sakit hati, kini terasa lain.
Ethan mendekatkan wajahnya lagi, tapi Sienna menahannya. Gadis itu menempatkan ujung jari tangannya di antara bibir mereka yang nyaris bersentuhan lagi.
"Apa ciuman ini karena kamu ingin melupakan pelukan Siren?"
Ada setitik rasa sakit yang sepertinya akan menjadi jurang besar bila Ethan mengiyakan pertanyaannya.
Sienna menahan napasnya. Kedua matanya bergerak gelisah mencari jawaban dari sorot mata Ethan yang tenang dan teduh. Namun, ekspresi itu tidak terbaca, terlalu hangat seakan-akan setiap bentuk perhatian dan sentuhannya berasal dari keinginannya sendiri.
"Sejak awal kamu menawarkan diri untuk jadi pelarian... sejak itu juga aku membohongimu."
Apa maksudnya?
Terlalu takut untuk bertanya, tapi hati Sienna mulai resah lagi.
Ethan bergerak semakin dekat lalu berkata, "Aku bohong soal pelarian... pada kenyataannya, sejak ciuman pertama kita di hadi pernikahan, sejak itu juga aku mulai mendambakan manis bibirmu."
Ibu jari Ethan terasa kasar saat membelai bibir Sienna, menekannya lalu menempatkannya di antara barisan gigi Sienna yang rapih. Ujung lidah Sienna dapat merasakan ibu jari Ethan yang sedikit menekan rahangnya ke bawah hingga mulutnya terbuka lebih lebar.
"Tiap kali berdekatan denganmu, aku selalu ingin menyingkirkan semua batas di antara kita, Sienna... apa aku terlihat seperti pria brengsek sekarang?"
Sienna menggelengkan kepalanya. Ia juga merasakan ketertarikan yang sama. Pernikahan ini mengikat, memberikan rasa memiliki sekaligus kenyamanan.
Detik berikutnya, Ethan telah kembali menggapai bibir Sienna. Kecupannya lembut, singkat dan berkali-kali lalu berubah menjadi hisapan pelan yang menuntut.
Rasanya ciuman ini saja tidak cukup, tapi lukanya mendadak terasa nyeri. Otot perut Ethan yang menegang membuat lukanya terasa semakin sakit dari sebelumnya.
"Kita lanjutkan nanti saat kamu sudah sembuh," ucap Jihan menjauh.
"Luka begini tidak ada apa-apanya, aku bisa menahan rasa sakitnya."
"Jangan memaksakan diri, Eth... kita memiliki banyak waktu untuk melakukannya nanti saat kamu sudah benar-benar sembuh."
Sienna yang begitu pengertian membuat Ethan merasa malu. "Kamu mengambil banyak inisiatif dalam pernikahan ini, itulah mengapa kita bisa cepat cocok begini."
"Mungkin karena sudah terlalu banyak masalah dari luar. Andai aku juga berpikiran sempit dan memperburuk kondisi pernikahan kita, bukankah itu melelahkan?"
Ethan mengulas senyum lembut. "Kamu membuat semua ini terasa lebih mudah."
"Jika boleh jujur, aku selalu merasa aman jika bersama denganmu. Aku percaya, kamu bisa menyelamatkanku dalam kondisi terburuk sekalipun karena itulah aku akan berjuang untuk pernikahan ini, Eth... mungkin nanti kita juga bisa saling mencintai dengan tulus."
Satu pelukan hangat melebur semua kesalahpahaman yang sempat terjadi.
...***...
Ethan terbangun dari tidurnya saat mencium aroma pahit yang mengganggu indra penciumannya. Begitu membuka mata, ia dikejutkan dengan kepulan asap, cepat-cepat Ethan melompat turun dari atas tempat tidur.
"Shhh...." Ethan meringis pelan saat luka di perutnya terasa. Nyeri, ia terlalu panik karena Sienna tidak berada di sebelahnya padahal semalam mereka tidur bersebelahan.
"Sienna," panggil Ethan, tapi tidak ada jawaban.
Keluar dari dalam kamar, asap semakin pekat membuat jarak pandang kabur.
"Sienna," panggil Ethan sekali lagi.
"Aku di sini, aku sedang memasak bubur untukmu," terdengar suara Sienna dari arah dapur. Ethan kemudian segera membuka pintu belakang serta jendela lebar-lebar agar asap yang memenuhi seisi rumah menghilang.
Padahal Ethan sudah khawatir setengah mati, pikirnya terjadi kebakaran, tapi Sienna muncul dari arah dapur dengan raut wajah senang tanpa dosa, membawa semangkuk bubur berwarna hijau pekat. Lebih mirip kotoran sapi daripada makanan manusia.
Ethan tanpa sadar meneguk ludah. Nyawanya sepertinya terancam.
"Apa yang kamu masak?" tanya Ethan dengan nada lembut, tidak ingin Sienna sadar seberapa buruk masakannya.
"Bubur sehat, cobalah...."
"Haha...." Ethan tertawa canggung. "Aku mandi sebentar."
"Tapi nanti buburnya dingin jadi tidak enak. Cuci muka. Dulu saja, sikat gigi lalu makan, setelah makan baru mandi."
"Sayang.... " Ethan membelai wajah Sienna tanpa ragu. "Mandi setelah makan itu tidak baik untuk kesehatan. Perutku bisa kram nanti."
Sienna menoleh ke arah bubur buatannya, sedikit berpikir barulah ia mengangguk. Segera Ethan pergi ke halaman belakang lalu masuk ke bilik kamar mandi.
"Astaga... tenangkan dirimu, Ethan. Sienna tidak mungkin meracuni suaminya sendiri," ucap Ethan pada dirinya sendiri.
"Eth.... "
Suara dari luar nyaris membuat jantung Ethan copot.
"Ya, sayang?"
Tiap kali Ethan memanggilnya 'sayang' tiap itu juga Sienna merasa hatinya berdesir. Namun, tidak ingin terlalu kentara, Sienna berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu lupa bawa handuk."
Ethan lantas membuka pintu. Hanya tangan Sienna yang terlihat seraya mengulurkan handuk.
"Tidak mau mandi bersamaku?" goda Ethan.
"Jangan melantur. Cepat mandi, setelah itu sarapan."
Sienna langsung kabur setelah itu. Menggoda Sienna akan selalu menyenangkan bagi Ethan.
Usai mandi, Sienna bahkan membantu Ethan mengeringkan rambutnya, perhatian kecil yang Sienna berikan membuat Ethan merasa sedikit gugup.
Senyuman merekah di wajah cantik Sienna. Ia suka menyentuh rambut Ethan yang terasa halus.
"Sudah tampan, sekarang ayo makan," ajak Sienna yang langsung menuntun Ethan menuju meja makan.
"Saat kamu mandi, aku sudah menghangatkannya lagi tadi. "
Ethan memasang senyuman palsu. Bubur hijau itu kini terlihat agak kecoklatan, aromanya menyengat, cukup untuk membuat Ethan sakit kepala. Namun, demi menyenangkan istrinya, Ethan tetap menyantap bubur itu.
"Enak tidak?" tanya Sienna, wajah cantiknya menyelamatkan pagi Ethan dari serangan bubur yang terasa getir di mulutnya ini.
"Lain kali tidak perlu repot-repot. Jangan sampai kelelahan."
"Tenang saja, Eth... memasak ternyata tidak terlalu sulit, haluskan bahan, masukan ke dalam panci, masak, jadi deh."
Ethan terkekeh pelan. Dari mana istrinya ini belajar masak?
Namun, karena tidak ingin menyinggung perasaannya, Ethan hanya bisa terus menghabiskan buburnya dengan cepat. Tidak perlu dikunyah, tekan saja cepat-cepat.
"Kamu keliatannya suka sekali, mau nambah? Masih ada sisa kok di dapur."
"Tidak perlu, aku sudah kenyang...."
Sienna tidak memaksa. Ia lantas menuangkan segelas air untuk Ethan.
"Kamu sudah makan?" tanya Ethan mengingat Sienna sejak tadi hanya sibuk mengurusinya.
"Sudah. Sebelum kamu bangun, tadi Rima datang membawakan roti."
Ethan mengulas senyum. Ia mengecup pipi Sienna dan berkata, "Terima kasih, sayang."
Setelah itu Ethan bergegas pergi untuk mengawasi para prajurit junior yang latihan. Tepat di waktu makan siang, Ethan dan Harry pergi mengunjungi sahabatnya yang masih dirawat.
Namun, setibanya di sana, Ethan di kejutkan dengan keberadaan Sienna dan dua orang pengawalnya.
"Sayang, kenapa kamu ada di sini?" tanya Ethan mendekat.
Harry yang datang bersama dengannya tersenyum ramah pada Sienna.
"Kakak ipar," sapa Harry dengan sopan.
"Kebetulan kalian datang, aku hari ini masak banyak, sengaja ingin membaginya untuk kalian," ucap Sienna seraya mengeluarkan satu-persatu kotak makan dari dalam tas bekal yang ia bawa.
"Sayang, kamu tidak perlu repot-repot begini... sebaiknya kita bawa pulang saja, ya," bujuk Ethan yang tidak ingin sahabat-sahabatnya mencicip masakan ajaib istrinya.
"Ih, Ethan... aku masak banyak, kalau kita makan berdua nanti mubazir, sebaiknya kita berbagi. Lagipula niatku datang ke sini untuk menjenguk Iyan dan Gion," tolak Sienna bersikeras.
Ethan melirik ke arah kedua pengawal pribadi Sienna, Kinan dan Rima terlihat menggeleng samar, tanda jika mereka tidak akan mampu menahan keinginan Sienna.
"Jangan buat istrimu kecewa, Kapten... jangan terlalu pelit pada kami, kami juga ingin mencicipi masakan kakak ipar," ucap Harry. "Iya kan, bro?"
Iyan dan Gion mengangguk kompak. Gion berdecak pelan, "Jangan merusak suasana, Ethan."
Ethan menghela napas kesal. Ia lantas duduk di sofa, membiarkan ketiga sahabatnya itu menerima masakan Sienna.
Setelah kotak makan itu berada di tangan mereka, wajah mereka berbinar-binar, tapi saat kotak makan itu di buka, ekspresi wajah mereka langsung terlihat lain.
Tidak ada yang berkomentar, saling berbagi tatapan adalah cara mereka berkomunikasi.
"Silahkan dinikmati...," ucap Ethan sarkas. "Ingat, harus dimakan sampai habis, atau aku akan menghukum kalian."
Iyan, Harry dan Gion meneguk ludah yang terasa mengganjal. Seumur-umur mereka baru melihat masakan aneh seperti ini. Jika pagi tadi Sienna membuat bubur hijau, maka siang ini ia membuat bubur berwarna kuning dengan toping ayam suwir, tapi masalahnya aroma bekal yang dibawakan Sienna harum semerbak wangi mangga.
"Ka-kalau boleh tau, ini namanya bubur apa?" tanya Iyan gugup terlebih saat Ethan memberikannya sorot mata yang seakan laki-laki itu bisa memotong lidahnya jika sampai ucapannya menyakiti hati Sienna.
"Bubur ayam kuah mangga. Cobalah, kalian pasti suka Perpaduan gurihnya ayam dan manisnya mangga akan terasa lumer di mulut."
Rima dan Kinan hanya bisa menahan tawa, mereka tahu akan terjadi bencana saat Sienna bilang ia ingin memasak. Sebelum Ethan dan kawan-kawannya, mereka berdua sudah menjadi korban terlebih dahulu.
"Memang benar, manusia itu tidak ada yang sempurna," gumam Harry menarik napas dalam sebelum bersiap menyantap bekal yang dibawakan oleh Sienna dan hampir saja ia muntah disuapan pertama jika Ethan tidak melotot padanya. Terpaksa Harry menalan bubur itu walau sedikit mual.
"Kamu juga makan, aku bawakan porsi khusus untukmu yang paling banyak," ucap Sienna pada Ethan. Sontak membuatnya menjadi bahan tertawaan.
"Makan yang lahap, kapten," goda tiga sejawatnya itu senang sementara Ethan hanya bisa tertawa kikuk menerima bekal pemberian istrinya.
"Kamu sudah makan, sayang?" tanya Ethan, siapa tahu Sienna belum makan dan itu bisa ia jadikan alasan agar ia tidak perlu menyantap hidangan aneh di tangannya ini.
"Sudah, tadi Kinan membuatkan aku nasi telur."
"Kalian berdua tidak makan?" tanya Gion pada Rima dan Kinan.
"Kami makan nasi telur dengan Nona Sienna sebelum datang ke sini tadi. Kalian makan saja yang lahap, itu hidangan khusus untuk mempercepat pemulihan. Iya kan, Rim?"
"Betul itu," sahut Rima tidak kalah senang dengan Kinan.
Sementara itu dari luar ruangan, Siren hanya bisa berdiri diam, melihat dari jendela transparan bagaimana keakraban di dalam terjadi. Tangannya mengepal kuat kotak bekal yang ia bawa. Sienna mengambil tempat yang seharusnya adalah miliknya dan ia benci itu.
"Jangan salahkan aku, jika aku berubah menjadi jahat, Eth...."
***