NovelToon NovelToon
Miranda "Cinta Perempuan Gila"

Miranda "Cinta Perempuan Gila"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Romansa / Mantan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nanie Famuzi

Cerita ini adalah lanjutan dari The Secret Miranda


Aku hanya perempuan yang dipenuhi oleh 1001 kekurangan. Perempuan yang diselimuti dengan banyak kegagalan.

Hidupku tidak seberuntung wanita lain,yang selalu beruntung dalam hal apapun. Betapa menyedihkannya aku, sampai aku merasa tidak ada seorang pun yang peduli apalagi menyayangi ku . Jika ada rasanya mustahil. .

Sepuluh tahun aku menjadi pasien rumah sakit jiwa, aku merasa terpuruk dan berada di titik paling bawah.

Hingga aku bertemu seseorang yang mengulurkan tangannya, mendekat. Memberiku secercah harapan jika perempuan gila seperti ku masih bisa dicintai. Masih bisa merasakan cinta .

Meski hanya rasa kasihan, aku ucapkan terimakasih karena telah mencintai ku. Miranda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanie Famuzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Tring—

Sebuah pesan masuk memotong lamunan Jodi. Ia menghela napas, meraih ponsel yang sejak tadi tergeletak di ujung meja.

Nama Alin tertera jelas.

Ia membuka pesannya.

“Mas, nanti kamu pulang lebih awal kan? Kita kan mau makan malam romantis. Aku juga udah reserved restoran favorit kita.”

Jodi memejamkan mata sejenak. Hampir saja ia lupa.

Janji makan malam.

Janji romantis.

Janji yang diucapkan dengan enteng kemarin… sebelum semuanya berubah kacau di kepalanya.

Dua hari ini, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Miranda.

Damar.

Pemindahan perawatan.

Ancaman halus yang tidak pernah dikatakan Damar secara langsung, tapi jelas terasa.

“Ck…” Jodi mengepalkan tangannya. “Berani-beraninya dia ingin membawa Miranda pergi. Memindahkannya tanpa tahu kondisi sebenarnya. Orang ini benar-benar mengganggu.”

Ada sesuatu dalam diri Jodi yang mendidih.

Entah amarah.

Entah rasa takut kehilangan pasien yang sudah terlalu lama ia rawat.

Atau… sesuatu yang ia sendiri tak berani akui.

Dengan helaan napas berat, ia akhirnya membalas pesan Alin.

“Iya.”

Hanya satu kata. Singkat. Hambar.

Tapi itu yang mampu ia keluarkan.

Ia meletakkan ponselnya kembali, lalu menatap berkas dari Damar. Dokumen itu begitu rapi, lengkap, legal. Pihak rumah sakit pasti tidak akan menemukan alasan kuat untuk menolaknya.

Jodi menyandarkan tubuhnya ke kursi, tatapannya meruncing pada kertas-kertas itu.

Sesuatu di dadanya terasa sesak, lebih dari sekadar kewajiban seorang dokter.

“Tidak,” gumamnya lirih.

“Bagaimanapun juga… aku tidak rela Miranda dibawa pergi oleh siapa pun.”

Hening memenuhi ruangannya.

Emosi yang tak seharusnya ia miliki, untuk seorang pasien, pelan-pelan naik ke permukaan.

Dan Jodi tahu, apa pun yang terjadi setelah ini… ia tidak akan membiarkan Damar menang begitu saja.

Sesaat Jodi terpaku. Ada sesuatu yang berputar di kepalanya, seperti kepingan puzzle yang tiba-tiba jatuh ke tempatnya.

Damar… tunggu.

Bukankah dia pernah melihat pria itu sebelumnya?

Ingatan itu muncul begitu jelas, sebuah butik pakaian, lampu kuning hangat, dan Alin yang sedang memandangi satu gaun dengan tatapan penuh harap. Lalu seorang pria muncul dari arah kasir, gaun itu sudah dibelinya. Alin sampai membuat keributan disana.

Dan ternyata… pria itu adalah Damar.

Jodi menelan ludah. Dadanya mengencang.

“Pantas wajahnya terasa tidak asing,” gumamnya pelan dalam hati.

Kenapa ia tidak menyadarinya sejak tadi?

Tatapan Jodi perlahan berubah, lebih tajam, lebih penuh perhitungan.

Sepertinya aku harus menyelidiki siapa sebenarnya Damar.

Yang jelas… dia bukan orang sembarangan.

......................

Sementara itu, di kamar Miranda, suasana terasa sunyi seperti ruang hampa. Belakangan ini ia lebih banyak diam, terlalu diam. Wajahnya pucat tanpa sedikit pun ekspresi, seolah semua emosi telah dicabut dari dirinya.

Miranda hanya duduk di sisi ranjang, tubuhnya kaku, menatap jendela yang buram oleh embun sore. Matanya kosong, namun ada sesuatu yang gelap berputar di balik tatapan itu, seperti ia sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

Perawat masuk, mencoba tersenyum ramah dan mengajaknya berbicara.

“Miranda? Kamu sudah makan? Atau mau jalan-jalan ke taman?”

Tak ada reaksi.

Tak ada anggukan.

Tak ada penolakan.

Miranda bahkan tidak berkedip.

Seolah suara manusia sudah tidak mampu lagi menjangkaunya.

Yang terdengar hanya napas pelan, dan denting jam dinding yang terasa terlalu keras dalam ruangan yang membeku itu.

Perawat itu akhirnya menghela napas panjang, menyerah pada keheningan yang tak bisa ia tembus.

“Sepertinya… harus dokter Jodi lagi yang turun tangan,” gumamnya lirih, nyaris seperti takut suara itu terdengar oleh Miranda yang sejak tadi tidak bergerak.

Ia menatap gadis itu sekali lagi, tatapan kosong, tubuh kaku, seakan jiwanya tertinggal entah di mana.

Dengan langkah pelan namun tergesa, perawat itu keluar dari kamar.

Pintu menutup lembut di belakangnya, menyisakan Miranda yang masih memandang jendela tanpa berkedip.

Perawat itu segera menuju ruang dokter, berniat melaporkan keadaan Miranda kepada dokter Jodi, karena hanya dokter Jodi lah yang selama ini selalu berhasil membuat Miranda merespons… meski sedikit.

Semua orang dirumah sakit ini tahu Miranda adalah pasien kesayangan dokter Jodi.. dan itu sudah bukan rahasia umum lagi.

Tok… tok… tok…

Suara ketukan pelan namun tergesa terdengar di pintu ruang dokter.

“Permisi, Dok… boleh saya masuk?” suara perawat itu terdengar hati-hati, seperti membawa kabar yang tidak ingin ia sampaikan.

“Masuk,” jawab Jodi tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada berkas Damar yang membuat kepalanya semakin penuh.

Pintu terbuka, dan perawat itu melangkah masuk dengan ragu. Jodi baru mengangkat wajahnya ketika melihat ekspresi resah di sana, dan instingnya langsung bekerja.

“Ada apa? Miranda lagi?” tanyanya langsung, nadanya otomatis berubah serius.

Perawat itu menelan ludah. “Iya, Dok. Kondisinya… sekarang agak mengkhawatirkan.”

Jodi merapatkan alis, tubuhnya menegang. “Apa dia kambuh?”

“Bukan, Dok. Justru sebaliknya.”

Perawat itu mendekat, suaranya turun menjadi bisikan.

“Dia tidak bereaksi apa pun. Tidak menjawab, tidak mengangguk, tidak menatap saya balik. Bahkan ketika saya coba sapa langsung, ekspresinya… kosong. Seperti orang yang kehilangan kesadarannya, tapi matanya terbuka.”

Jodi berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Sejak kapan?” suaranya rendah tapi mengandung kecemasan yang sulit disembunyikan.

“Baru beberapa jam ini, Dok. Tapi… rasanya berbeda dari biasanya.”

Jodi terdiam. Raut wajah khawatir jelas terlihat, ia mengambil stetoskopnya dan bergegas menuju pintu.

“Ayo. Tunjukkan padaku,” katanya singkat.

Perawat itu mengangguk dan mengikuti di belakangnya.

Jodi berjalan cepat, langkahnya berat oleh rasa cemas.

Jodi melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit. Lampu-lampu putih di langit-langit memantul di matanya yang gelap, penuh kegusaran yang sulit ia kendalikan. Perawat itu hampir harus setengah berlari untuk mengikuti ritmenya.

Setibanya di depan kamar Miranda, Jodi berhenti sejenak. Ia menarik napas, mencoba menetralkan emosi yang berputar hebat, tapi gagal. Tangannya langsung memutar gagang pintu.

Begitu pintu terbuka, kamar itu terasa lebih dingin daripada biasanya.

Miranda duduk di dekat jendela, punggungnya tegak, rambutnya tergerai pelan tertiup pendingin ruangan. Cahaya matahari sore jatuh di wajahnya… tapi tidak ada kehidupan di sana.

Pandangan kosong.

Tidak berkedip lama.

Tidak ada reaksi.

Seolah bukan Miranda yang ia kenal.

Jodi melangkah masuk perlahan. “Mira?”

Tidak ada respons.

Ia mendekat beberapa langkah. “Miranda… dengar suara saya?”

Tetap hening.

Miranda tidak mengalihkan pandangan dari jendela, seakan dunia luar lebih penting daripada apa pun yang terjadi di ruangan.

Jodi merasakan sesuatu mengeras di dadanya, perasaan yang tidak semestinya dimiliki seorang dokter terhadap pasien. Perasaan yang tidak boleh ia akui.

Ia jongkok perlahan di samping Miranda. Wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter.

“Kalau kamu bisa mendengar aku… beri sedikit saja tanda,” ucapnya, suara melembut tanpa ia sadari.

Tidak ada tanggapan. Tidak satu gerakan pun.

Namun…

Saat Jodi hendak berdiri, sudut mata Miranda sedikit bergerak, nyaris tak terlihat. Ia tidak menoleh, tapi bibirnya terkatup lebih kuat, seolah menahan sesuatu.

Jodi membeku.

“Mira…”

Nada suaranya turun, lebih serius.

“Katakan. Ada yang membuatmu seperti ini hm?”

Diam.

Tapi aura itu berbeda. Miranda seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Jodi menahan napas, lalu akhirnya berdiri.

Ia menoleh ke perawat.

“Tingkatkan pengawasan. Pastikan tidak ada orang yang masuk tanpa izin saya.” Suaranya dingin, penuh ancaman yang tidak ia tutupi.

Perawat itu mengangguk cepat. “Baik, Dok.”

Jodi menatap Miranda sekali lagi, lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di sana. Kekosongan itu bukan sekadar gejala. Miranda tampak… menunggu.

Dan hanya satu nama yang muncul di kepala Jodi.

Damar.

Orang itu seperti telah masuk ke kehidupannya, dan ke dalam dunia Miranda, jauh lebih dalam daripada yang Jodi sadari.

Dengan rahang mengeras, Jodi keluar dari kamar.

Besok, ia harus berhadapan dengan Damar lagi.

Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Miranda begitu saja.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Aal
Manipulatif gak sih Jodi itu...
Nunna Nannie: Terimakasih sudah membaca, semoga suka sama ceritanya 🙏
total 1 replies
partini
kalau berjodoh ma dokternya kasihan jg Miranda lah dokter suka lobang doang nafsu doang
Nunna Nannie: 🙏🙏
Terimakasih sudah mampir,
total 1 replies
Aal
bagus... saya suka ceritanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!