NovelToon NovelToon
Selenophile

Selenophile

Status: tamat
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Inagrafis

Rasanya sangat menyakitkan, menjadi saksi dari insiden tragis yang mencabut nyawa dari orang terkasih.

Menyaksikan dengan mata sendiri, bagaimana api itu melahap sosok yang begitu ia cintai. Hingga membuatnya terjebak dalam trauma selama bertahun-tahun.

Trauma itu kemudian memunculkan alter ego yang memiliki sifat berkebalikan. Kirana, gadis yang mencoba melawan traumanya, dan Chandra—bukan hanya alter ego biasa—dia adalah jiwa dari dimensi lain yang terjebak di tubuh Kirana karena insiden berdarah yang terjadi di dunia aslinya. Mereka saling berbagi raga yang sama dan saling menguatkan.

Hingga takdir membawa mereka pada kebenaran sejati—alasan di balik kondisi mereka saat ini.

Belenggu takdir itu memang telah lama mengincar keduanya. Menjadikan mereka harus menyelesaikan menghadapi takdir itu bersama untuk bisa kembali ke tempat mereka berasal. Kirana dengan dunianya, dan Chandra kembali ke dunianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inagrafis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Kekuatan Suci

Lengkungan bulan menerangi malam saat Andhira dan Anashera saling berhadapan di tengah lapangan terbuka. Andhira berdiri tegap dengan pedangnya yang berkilau, memantulkan cahaya rembulan yang redup, tak seperti biasanya. Jauh di dalam lubuk hatinya, bergejolak perasaan campur aduk—antara tanggung jawab terhadap negara atau kasih sayangnya kepada Anashera sebagai saudara kembar. 

Tak sedetik pun Andhira mengalihkan perhatiannya ke arah Anashera yang masih mempertahankan ketenangan yang luar biasa. Melihat ketegaran sang kakak, cukup membuat hati Andhira menciut. Ada kesedihan dan keputusasaan yang mendalam dari sorot mata Andhira karena harus menjalankan perintah sang raja yang sungguh berat baginya.

Di sisi lain, Anashera hanya tersenyum lembut, mengenang kembali memori kebersamaan mereka selama ini. Mereka lahir dan dibesarkan bersama, berbagi banyak suka dan duka. Karena itu, Anashera adalah orang yang paling mengenal sosok Andhira yang sesungguhnya. Apa pun keputusan yang diambil Andhira, Anashera tahu itu adalah keputusan terbaik dari sudut pandang adiknya. Namun, konsekuensi dari keputusan itu sangat berat, menuntut pengorbanan yang tidak bisa dianggap remeh.

 Pertempuran dimulai secepat kilat. Pedang Andhira bersentuhan dengan tongkat milik Anashera, menciptakan percikan api yang menyala-nyala. Kedua saudara yang dulu selalu bersama dan berbagi canda tawa, kini menjadi musuh yang tak terelakkan.

Setiap serangan dan pertahanan menciptakan dentuman keras yang menggema di kesunyian malam. Andhira bergerak dengan cepat, mengerahkan seluruh kemampuan dalam setiap gerakan. Dia bertarung dengan sungguh-sungguh, tidak pandang bulu sama sekali. Sementara itu, Anashera hanya berusaha untuk terus mengelak dan bertahan dari setiap serangan yang dilancarkan Andhira dengan kekuatan sucinya.

Seiring berjalannya waktu, Anashera mulai melemahkan pertahanan. Sedangkan Andhira, semakin terjebak dalam dilema batin, terus melancarkan serangan demi serangan, mencoba menutupi perasaannya yang terombang-ambing.

Mereka saling memandang dengan tatapan penuh penyesalan. Keduanya menyadari bahwa konflik ini telah mencapai titik tanpa kembali, dan satu-satunya jalan keluar adalah melalui pengorbanan. Pedang Andhira menembus udara dengan cepat, sementara tongkat suci Anashera bergerak membentuk pola cahaya yang memancar ke langit.

Pertempuran terakhir mereka diakhiri dengan serentetan sinar terang dan suara hening yang memenuhi malam. Anashera jatuh ke tanah, menemui akhir yang tragis dalam konflik yang menghancurkan kedamaian dan persaudaraan mereka.

Andhira berdiri sejenak memandang tubuh kakaknya yang tergeletak di atas tanah yang dingin. Beberapa saat kemudian, dia berlutut di samping tubuh Anashera yang tergeletak tanpa nyawa, meratapi perbuatan yang telah dilakukannya. Tangan yang selalu menggenggam erat tangan Anashera kini menjadi malaikat maut yang mencabut nyawanya.

Saat Andhira meratapi kepergian Anashera, sebuah kekuatan hitam tiba-tiba melesat dan menembus dadanya. Rasa sakit yang menusuk membuat Andhira tersungkur seketika di samping jasad Anashera, yang tampak damai seolah sedang tertidur lelap. Dalam detik-detik terakhir sebelum malaikat maut datang mencabut nyawanya, air mata menetes di wajah Andhira, menggambarkan kesedihan yang mendalam dan penyesalan yang tak terucapkan. Dia menutup mata untuk selamanya, menyusul kepergian kakaknya dengan penyesalan yang masih tersisa.

Langit malam menjadi saksi bisu atas kepergian dua bintang yang selalu bersinar bersama itu. Namun, kematian Anashera dan Andhira menjadi penanda awal dari kegelapan yang membelenggu dunia. Sejak saat itu, sosok yang setara dengan Anashera tidak pernah terlahir kembali, seolah Tuhan sedang memberikan hukuman pada mereka yang tinggal di bumi.

"Apa yang baru saja aku lihat?" gumam Kirana dengan mata terus merembes membasahi pipinya.

Rasa sakit merayap dengan kejam di dalam dada Kirana, memberinya sesak seakan dihimpit oleh batu besar yang tak terlihat. Setiap detak jantungnya terasa seperti ditusuk-tusuk oleh sebilah belati, dan setiap tarikan napasnya menjadi kian berat. Dia mencengkram erat kalung rembulan yang tergantung di lehernya, pemilik kalung itu rupanya dengan sengaja menunjukkan kenangan yang telah lama terkubur.

Melalui kalung yang seolah menjadi jendela ke dunia lain, Kirana menyaksikan kenangan-kenangan asing menyentuh kepalanya. Wajah pemilik sebelumnya, momen-momen indah, dan secercah masa lalu yang kini muncul, seolah memberinya petunjuk dan jawaban tentang masa lalu. 

Kirana memutuskan untuk beristirahat sejenak, tetapi tubuhnya tiba-tiba tak bertenaga. Tidak hanya itu, dia juga merasa pusing dan sesak di saat bersamaan. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia merasa seperti terperangkap dalam pusaran kegelapan yang tak berujung.

***

Keadaan Kirana semakin memburuk. Dia terus merintih dan menggigil kedinginan dalam waktu yang lama. Tak tega melihat Kirana dalam kondisi memprihatinkan, Aria segera menemui Empu Agung dan memberitahukan keadaan sahabatnya itu.

Empu Agung tiba dengan cepat. Dia langsung duduk di samping tempat tidur Kirana dan mulai memeriksa keadaannya. Kemudian menempatkan punggung tangan di atas dahi Kirana yang berkeringat, untuk memastikan suhu tubuhnya. Gadis itu tampak mengernyit, menahan rasa sakit yang menghantam sekujur tubuhnya.

"Dia baik-baik saja," ucap Empu Agung beberapa saat kemudian. Namun, raut wajahnya terlihat masih khawatir.

Selain Empu Agung dan Aria, di sana juga ada Mita, Lima, dan Zayne. Keempat orang itu tampak mengembuskan napas lega setelah mendengar bahwa keadaan Kirana baik-baik saja.

Namun, Lima masih tidak bisa merasa tenang. "Tapi, kenapa Kirana terus menggigil dan berkeringat seperti ini, Empu?" tanyanya dengan suara penuh kekhawatiran, mata gadis itu terus memandang penuh harap pada Empu Agung.

"Akhir-akhir ini, cuaca agak sedikit tidak bersahabat. Kirana mungkin tidak terbiasa. Jadi, biarkan dia istirahat dahulu. Empu akan memberikan obat untuk menurunkan panasnya," terang Empu Agung sambil memberikan alasan yang rasional. Namun, di balik kata-katanya yang tenang, sebenarnya dia sedang berusaha menyembunyikan fakta bahwa tidak ada obat tradisional yang bisa menyembuhkan sakit yang disebabkan oleh bangkitnya kekuatan suci.

Aria menatap Empu Agung dengan mata penuh rasa terima kasih, meski masih ada keraguan yang tersisa di hatinya. "Terima kasih, Empu. Aku benar-benar khawatir," ucapnya sambil menundukkan kepala.

"Kirana adalah gadis yang kuat. Dia pasti bisa melaluinya.”

"Kita akan terus menjaga Kirana sampai dia sembuh," sahut Mita pelan seraya menggenggam tangan Kirana dengan lembut.

"Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggu Kirana selama dia beristirahat," timpal Zayne, siap siaga menjaga Kirana.

Empu Agung tersenyum sebentar, kemudian memandang ke luar melalui jendela kamar Kirana, sebagai upaya untuk meredakan ketegangan yang mengendap di hatinya. Dia menyadari bahwa Kirana tengah melewati suatu proses yang tidak dapat dijelaskan dengan cara biasa.

Bangkitnya kekuatan suci dalam tubuh Kirana saat ini membawa rasa sakit yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, dan tidak dapat disembuhkan dengan obat-obatan dari manapun juga. Ini adalah ujian pertama dari Kirana, sebelum mengemban tugas yang jauh lebih berat di masa depan. Sampai saat itu tiba, Empu Agung akan menjaga rahasia ini dengan sebaik mungkin, karena tidak semua orang bisa diberikan kepercayaan.

***

Setelah mendapat kabar kilat bahwa keadaan Kirana sedang tidak baik-baik saja, Arka bergegas pergi menuju Langgar Suci. Menempuh perjalanan selama empat hari empat malam lebih cepat dari biasanya, dia pergi seorang diri tanpa pengawal sama sekali, dan istirahat hanya sebentar ketika waktu makan dan waktu tidur saat benar-benar merasa lapar atau lelah. Setiap kali beristirahat, pikiran Arka dipenuhi kekhawatiran tentang keadaan Kirana, membuat tidurnya tidak nyenyak dan makanan terasa hambar di lidah.

Setibanya di Langgar Suci, dia membiarkan kudanya begitu saja, tak diikat sama sekali. Wajah yang biasanya terlihat tenang dan penuh wibawa itu kini dihinggapi kecemasan. Dia melangkah dengan cepat menuju kamar di mana Kirana sedang dirawat. 

Saat pintu terbuka, dia mendapatkan pemandangan yang membuat hatinya teriris. Kirana terbaring dengan wajah pucat sambil mengernyit, karena sedang menahan sakit yang menghantam di setiap inci tubuhnya. Dengan hati yang remuk, Arka mendekat ke sisi Kirana, lalu menggenggam tangannya yang terasa dingin.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Arka panik, suaranya sampai terdengar gemetar.

Aria yang saat itu mendapat giliran menjaga Kirana pun menjawab, "Empu Agung bilang itu disebabkan oleh cuaca akhir-akhir ini yang tidak stabil. Tapi, sudah empat hari Kirana tidak sadarkan diri."

Arka menggelengkan kepala, tidak siap menerima kenyataan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Kirana. Bayang-bayang Chandra melintas dalam ingatan Arka, membawa kembali penyesalan masa lalu karena tidak bisa berbuat apa-apa saat Chandra ditimpa kemalangan. Dadanya terasa sesak, seakan dunia ini memberatkannya dengan beban yang tak mampu untuk dia tanggung.

"Aku harus menemui Empu Agung dan memintanya kembali untuk memeriksa keadaan Kirana," putus Arka segera. Meski masih merasakan kelelahan karena perjalanan panjang yang ditempuh, namun Arka tidak mempedulikannya sama sekali.

Setibanya di sana, Arka masih dalam keadaan terengah-engah. Empu Agung menghentikan aktivitasnya dan menyambut kedatangan Arka dengan pandangan penuh tanya. Napas Arka tampak tersengal-sengal saat mencoba menyampaikan kekhawatirannya.

"Empu, tolong periksa kembali keadaan Kirana. Aku tidak bisa membiarkannya merintih kesakitan seperti itu," pinta Arka dengan wajah memelas, matanya memohon belas kasihan.

"Tidak ada satu pun obat yang bisa menyembuhkannya," jawab Empu Agung dengan nada serius.

Mendengar jawaban Empu Agung, Arka merasa dunia ini seolah runtuh seketika. Perasaan frustrasi dan ketidakberdayaan merasuk ke dalam dirinya. Dia menggigit bibir, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh. 

"Jadi, tidak ada yang bisa kita lakukan?" tanyanya dengan suara gemetar, nyaris putus asa.

Empu Agung melihat kekhawatiran yang terpancar di wajah Arka, menghela napas panjang. Dengan penuh pertimbangan dia pun berkata, "Arka, kau adalah seseorang yang bisa kupercayai. Aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu. Saat ini, Kirana sedang dalam proses kebangkitan kekuatan suci dalam tubuhnya. Kau pasti pernah mendengar ramalan yang mengatakan tentang gadis takdir yang akan menjadi cahaya bagi malam tanpa rembulan? Dialah wanita yang disebutkan dalam ramalan tersebut."

Arka bingung dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Matanya menatap kosong ke arah Empu Agung, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja disampaikan sang Empu.

"Kekuatan suci? Gadis takdir?" gumamnya, mengulang kembali perkataan yang diucapkan Empu Agung.

Empu Agung mengangguk perlahan, menatap Arka dengan pandangan penuh arti. "Benar, Arka. Kirana memiliki kekuatan yang luar biasa di dalam dirinya. Kekuatan yang hanya akan bangkit dalam kondisi tertentu. Proses ini memang sangat menyakitkan, tapi ini adalah takdirnya."

Bersambung

Senin, 20 Oktober 2025

1
Iin Wahyuni
kok cpt bnget tamatnya thor,nggk ad cerita lanjutan kirana nya💪
Ismi Muthmainnah: Nanti bakal ada season 2 ya kak. Masih digarap hehe. Do'akan semoga cepat terealisasikan dan diupload😍
total 1 replies
Ismi Muthmainnah
Aamiin. Terima kasih atas doanga kak😇
Zeepree 1994
semangat ka othor.. semoga sakitnya cepet sembuh dan segala kesusahan cepat berlalu
Zeepree 1994
bagus ceritanya makin bikin penasaran, semangat ka author semoga rame yang mampir baca
Ismi Muthmainnah: Aamiin. Terima kasihhh💐
total 1 replies
Zeepree 1994
assalamualaikum ka othor semoga sukses ya ceritanya, aku izin baca ya Thor
Ismi Muthmainnah: Wa’alaikumussalaam. Terima kasih sudah tertarik buat baca dan kasih like juga😇 Aamiin, semoga ceritanya menghibur yaa🌹
total 1 replies
MARQUES
lanjutkan terus thor nulis novelnya kalau bisa bikin novel romansa fantasi aja terus tapi bikin nagih dan MC cewenya ga gampang luluh sama cowo🙏😄
Ismi Muthmainnah: Iya nih kak😂😭😭 Makasih banget yaa udah kasih masukan. Lumayan juga menurutku fantasi bangun wordbuldingnya
total 3 replies
Ismi Muthmainnah
Ini cerita pertama aku setelah hiatus lama. Selamat menikmati bagi yang suka cerita fantasi transmigrasi, tapi halal🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!