[CH 01-145 END]
Apa yang akan kau lakukan jika kau terjebak di dalam tubuh Putri Mahkota yang sangat dibenci oleh Sang Pewaris Tahta?
****
"Dimana ini?" Pertanyaan itu terlontar bersamaan dengan kebingungan sang gadis menatap sekelilingnya, tempat itu begitu asing dan bisa ia bilang sedikit kuno.
"Nona sudah sadar?"
Gadis itu mengernyit kebingungan saat di depannya ada orang dengan pakaian kuno.
"Apakah kita sedang syuting drama kolosal?"
Gadis itu kebingungan, pasalnya hal terakhir yang ia ingat adalah terjun ke danau karena menghindari ibunya. Ia kira ia sudah mati tetapi jika mati tidak mungkin ia masih bisa bernafas dan bertemu dengan manusia juga bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Miss_Kha11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 34: Ratuku
Haerin hanya menatap cermin di depanya dengan wajah datar. Beberapa pelayan tengah memoleskan bedak dan juga memasangkan perhiasan kepadanya. Hari ini adalah malam penyatuan. Malam yang sudah ditentukan oleh tetua istana bintang untuk melakukan hubungan suami-istri. Kata mereka malam adalah malam baik yang sangat pas, enrahlah haerin juga tidak pernah paham sedari dulu. Di jaman ini semua penuh aturan tidak hanya ada hari baik untuk menikah tetapi ada hari baik juga untuk melakukan hubungan sex.
Ini bukan malam penyatuan pertama untuk Haerin, ia sudah bertahun tahun menjadi Permaisuri dan telah melaluinya berkali kali. Tetapi hanya satu yang selalu dirinya takutkan yaitu jika ia belum juga bisa mengandung Putra Mahkota. Hatinya sangat sakit setiap melihat Hwan dengan wajah kecewanya yang selalu ia tutupi dengan senyuman hanya untuk menenangkan Haerin. Tapi rasanya percuma juga, hal itu memamg sudah juga menjadi beban yang harus Haerin pikul.
Para pelayan meninggalkan Haerin saat Hwan memasuki ruangan itu. Dengan senyuman yang dipaksakan Haerin menyambut Hwan. Mereka duduk berhadapan dengan meja kecil sebagai perantara. Meja berisi makanan dan Arak.
"Kau cantik sekali Haerin-ah"
Haerin hanya tersenyum simpul. Ia sudah tidak bersemangat lagi untuk melakukan apapun. Bisa dikatakan ia sudah terlalu lelah menyandang status sebagai Ratu. Dengan berbagai pihak yang mendesaknya, berbagai permasalahan tanpa titik terang yang semakin hari menumpuk di kepalanya. Sekalipun ia adalah wanita hebat tetapi Haerin tidak sekuat itu untuk menanggung itu semua sendiri. Hidup di jaman ini terlalu berat untuknya.
"Jeonha, bolehkah aku merasa lelah?"
Hwan mengangguk.
"Berbagilah cerita denganku, entah mengapa sekarang aku merasa kau menyembunyikan banyak sekali hal dariku-"
"Hal itu membuat kita semakin jauh Haerin-ah, dan aku terlihat jahat karena membiarkan istriku ini sedih"
"Jeonha sepertinya aku tidak akan pernah bisa memberikanmu keturuan, jadi maukah kau meniruti permintaanku" Haerin menatap lekat mata Hwan pertanda jika ia tengah berbicara serius.
"Apa itu?"
"Milikilah Putra dari seorang selir"
"Maksudmu Naeri? Tidak akan pernah Haerin-ah. Sudah kubilang aku ingin menebus kesalahanku padamu dulu, menjadikanmu satu satunya wanita yang kumiliki"
"Kau seorang Raja, kau tidak bisa jika hanya memiliki satu wanita"
"Tapi aku menginginkanya Haerin-ah"
"Kau harus mengangkat seorang selir lagi untuk melahirkan calon penerus"
"Tidak, Naeri saja sudah cukup mengangguku apalagi dengan selir baru"
"Jeonha-"
"Biasanya seorang wanita yang tiba tiba diberi kedudukan akan gelap mata dan menginginkan kedudukan yang lebih tinggi, itu yang kulihat dari dulu"
"Tapi tidak semua wanita seperti itu, banyak wanita baik diluar sana yang pantas untukmu. Kumohon Jeonha lakukan ini untukku jika kau bilang ingin menebus kesalahanmu dulu"
"Kumohon"
Hwan mengepalkan tanganya, Selir baru? Itu adalah hal yang sulit ia sudah terlanjur jatuh cinta kepada Haerin. Ia juga sadar sulit untuknya membuka hati kembali untuk orang lain. Tapi ini adalah permintaan Haerin yang tentu saja ada benarnya. Ia tidak bisa jika tidak memiliki penerus seperti ini. Tidak ingin juga jika para Menteri mendesaknya memberikan gelar Putra Mahkota kepada Jaeyoon yang jelas-jelas bukanlah darah dagingnya.
"Baiklah"
"Tapi aku tidak ingin jika selir baru itu hanya menjadi pajangan. Kau harus menyayanginya seperti yang kau lakukan padaku"
"Apakah kau tidak takut jika nanti aku justru lebih mencintainya daripada dirimu?"
"Tidak apa aku akan sangat senang" ucap Haerin dengan senyuman manisnya.
"Tapi aku tidak akan senang saat melihat kau mendapat tekanan baik dari rakyat maupun orang istana"
Jika nanti Hwan memiliki anak dari Selir barunya, pasti itu akan buruk juga untuk Haerin. Sekarang saja sudah banyak sekali tekanan dari para perdana menteri dan juga cemooh dari surat suara rakuat yang diberikan kepada Haerin lalu bagaimana dengan nanti. Hwan tidaklah setega itu membiarkan wanita tercintanya selalu menderita.
Hwan beranjak lalu duduk di samping Haerin di gemgamnya erat kedua jari Wanita itu. Wanita yang begitu kuat menyimpan segala masalahnya dan menjadi Ratu yang sangat hebat di mata Hwan.
"Maafkan aku Haerin-ah, aku yang membuatmu berada di kesengsaraan ini. Seharusnya dulu aku membiarkan Ui-an membawamu ke Qing bukanya terus menderita bersamaku seperti ini"
"Ini takdir tuhan, tidak boleh ada yang menyesel"
"Tapi takdir ini tidak adil untukmu. Aku baru sadar sekarang mengapa Ui-an rela mengorbankan hidupnya untukmu, kau adalah wanita paling Hebar Haerin-ah"
"Sudah Jeonha"
"Ui-an pasti sangat marah padaku karena aku mengingkari janjiku untuk membahagiakamu"
"Aku sudah bahagia Jeonha, aku sudah bahagia bersamamu"
"Kau tak bisa menyembunyikanya dariku, aku tahu kau tidak bahagia"
"Jeonha bagaimana jika besok kita mengunjungi Pageran Lee Sun"
Hwan mengangguk ia tahu betapa besar cinta Lee Sun kepada Haerin. Melakukan pemberontakan besar yang Hwan yakini tidak pernah terpikir olehnya sama sekali dan itu juga Lee Sun lakukan hanya untuk Haerin. Dan sekarang untuk membahagiakan Haerin saja ia tidak mampu. Jika bisa mengulang waktu ia dengan senang hati menuruti permintaan Lee Sun untuk membawa Haerin bersamanya Qing membangun hidup tanpa masalah dan membuat Haerin hidup tanpa beban. Tapi, nyatanya dia lebih egois ia ingin tetap memiliki Haerin biarpun wanita itu tersakiti.