Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Happy Reading...
.
.
.
Sudah satu bulan ini Bara pergi ke Lumajang, dan selama sebulan ini juga Rora tinggal kembali di rumah Elina.
"Ma..Hari ini Rora ijin pulang ya." Ucap Rora setelah selesai membereskan piring kotor sisa sarapan mereka.
"Pulang.. Pulang kemana sayang?" Tanya Elina dengan wajah sendunya.
"Rora ingin pulang ke apartemen Bara ma." Jawab Rora. Elina bernafas lega mendengar jawaban dari menantunya itu. Sungguh ia sempat merasa takut. Ia takut bagaimana kalau Rora pulang kerumah Laura.
"Apa kamu tidak betah lagi tinggal disini?"
Rora menggelengkan kepalanya. "Rora betah ma. Sungguh.. Rora hanya ingin pulang sebentar. Nanti Rora pasti kembali kesini lagi."
"Baiklah. Tapi janji ya jangan lama- lama." Elina pasrah. "Bara ini benar- benar ya.. Sudah honeymoon kalian di tunda. Sekarang istrinya malah di tinggal keluar kota." Ucap Elina dengan rasa bersalah. "Maafkan anak mama ya.."
Elina merasa sangat kesal dengan anak lelakinya.
.
.
.
Setelah selesai membersihkan apartemennya, Rora memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas sofa ruang tamunya untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ia kembali memikirkan tawaran mama mertuanya untuk menyusul sang suami ke Lumajang. Ia ingin, tapi ia juga merasa takut. Bagaimana kalau nanti suaminya itu tidak menyukai kehadirannya? Bagaimana jika nanti ia sudah jauh- jauh kesana tapi Bara malah mengabaikannya?
Rora sudah hampir memejamkan kedua matanya jika saja ponselnya tidak berdering.
"Halo kak." jawabnya.
"Kamu ada dimana?" Tanya Ezra.
"Di apartemen. Kenapa kak?"
"Ok, tiga puluh menit lagi kakak kesana. Apa kamu ingin sesuatu?"
"Martabak manis cokelat keju mang udin satu."
"Ok."
Setelah menunggu lebih dari empat puluh lima menit akhirnya sang kakak menampakkan wajahnya.
"Katanya tiga puluh menit, tapi apa? Ini bahkan hampir satu jam." Protes Rora setelah membukakan pintu untuk kakaknya.
Ezra memberikan sentilan pada kening adik perempuannya yang membuat Rora langsung mengaduh. "Kamu pikir martabak manis kesukaan kamu itu sepi pembeli." Kesal Ezra. "Kakak perlu mengantri." Ucapnya lagi sambil berjalan masuk lalu mendudukkan dirinya di sofa. "Sini duduk. nanti martabakmu dingin."
Rora pun berjalan mendekat lalu mendudukkan dirinya di lantai tepat di sisi Ezra. Ia meraih bungkusan yang ada di depan sang kakak lalu membukanya. Rora langsung memakannya tanpa menawari Ezra.
Rora memakan semua martabak manisnya. Entah karena martabak manis ini makanan favoritnya atau memang dirinya yang kelaparan setelah membersihkan apartemen.
"Apa keluarga suami kamu tidak memberimu makan?"
"Enak saja kakak kalau berbicara." Protes Rora. "Asal kakak tahu, keluarga suamiku lebih menyayangiku dari pada keluarga kakak."
Ezra memberikan sedikit dorongan pada kepala Rora. "Mereka juga keluargamu kalau kau lupa." Balas Ezra.
"Mungkin." Ucap Rora sambil meremat bungkus martabak manisnya. "Ngomong- ngomong ada apa kakak tiba- tiba ingin kesini?" Tanya Rora sambil menatap wajah kakaknya. "Jangan bilang sedang merindukanku." Tebak Rora sambil mengerutkan keningnya.
"Memangnya ada yang salah saat seorang kakak merasa rindu dengan adiknya?" Tanya Ezra saat melihat raut wajah adiknya.
"Tidak aneh jika itu keluarga orang lain."
"Dasar.. Ngomong- ngmong Ra, bagaimana kamu dengan Bara?" Tanya Ezra sambil duduk di sisi adiknya.
"Memangnya aku dengan Bara kenapa?"
"Bagaimana perasaan kamu pada Bara? Apa kamu sudah mulai peduli padanya? Apakah kamu sudah mulai menyayanginya? Apakah kamu sudah mulai merasa merindukkannya?" Rentetan pertanyaan dari Ezra membuat Rora merotasikan kedua matanya.
"Kenapa?"
"Apa tidak bisa satu- satu bertanyanya?" Rora menyamankan posisi duduknya. "Yang pertama, Aku tidak tahu bagaimana perasaanku pada Bara sekarang. Yang kedua, aku dari dulu itu sudah peduli padanya. Yang ketiga, aku menyayangi semua orang yang baik kepadaku. Yang keempat, bagaimana aku bisa merindukannya jika selama pernikahan ini tidak pernah ada di interaksi yang terjadi." Jawab Rora satu per satu karena ia tahu jika tidak dijawab seperti itu kakaknya akan terus bertanya.
"Apa kamu belum mengingatnya?"
"Mengingat apa?"
"Ah sudahlah."
"Mengingat apa maksud kakak?" Tanya Rora lagi tidak mengerti.
"Sudahlah. Ayo kakak antar kamu pulang." Ajak Ezra.
Rora menggelengkan kepalanya. "Aku ingin tidur disini saja untuk malam ini." Tolak Rora.
"Apa kita susul Bara?" Tanya Ezra sambil menaik turunkan alisnya.
"Tidak."
"Ayolah.. Jarak dari sini ke Lumajang tidak sampai tiga jam." Bujuk Ezra.
"Tidak." Tolak Rora sambil bangkit dari duduknya, meraih tangan Ezra untuk segera ikut berdiri. "Kakak pulang saja."
.
.
.
Sudah seharian ini Rora meringkuk di atas tempat tidurnya. Ia tidak tahu kenapa tiba- tiba badannya menggigil dan kepalanya benar- benar terasa berat. Hampir dua minggu ini Rora tidur di apartemen suaminya. Meskipun butuh waktu untuk membujuk mama mertuanya, tapi akhirnya ia berhasil juga dengan syarat Rora harus menjaga kesehatannya.
Ponsel Rora kembali berdering. Entah ini yang ke berapa kalinya yang lagi- lagi ia abaikan. Jangankan untuk mengangkat ponselnya, membuka kedua matanya pun rasanya tidak mampu.
Rora berusaha untuk membuka kedua matanya saat mendengar suara mama mertuanya. Tapi lagi- lagi sekeras apapun mencoba ia tetap tidak bisa untuk membuka kedua matanya.
.
.
.
Setelah kepergian dokter Elina menghampiri anaknya. Sedangkan Bara hanya bisa menghela nafasnya sambil menatap sang istri yang masih terlelap saat mamanya itu memarahi dirinya.
Ia mengalihkan pandangnya, menatap sang mama. "Ma.. Bara lelah.." Ucapnya. Ia tadi langsung bergegas untuk pulang saat mamanya memberi tahunya bahwa Rora sakit. "Bara disana juga bekerja ma.. Bara juga bukannya yang dengan sengaja meninggalkan istri Bara."
"Tapi kamu kan bisa mengajak istri kamu. Inisiatif sendiri lah. Kamu ini sudah bukan anak bujang lagi. Kamu lelaki yang sudah beristri."
"Ma.. Apa mama lupa, disana tempatnya terpencil dan susah sinyal."
"Kalau begitu kamukan bisa paling tidak pulang seminggu sekali. Lagi pula jarak dari sini ke Lumajang itu tidak lebih dari tiga jam. Tapi ini jangankan untuk pulang. Untuk menghubungi istri kamu saja tidak." Kesal Elina.
Bara memijit pelipisnya. "Aku sudah menghubungi mama."
"Bukan mama, tapi istri kamu Bar." Potong Elina. "Bukankah mama sudah mengirimkan nomor istri kamu." Lanjut Elina saat melihat sang anak mengerutkan keningnya.
"Tidak ada.. Bara tidak pernah menerima pesan dari mama."
Elina meraih ponsel Bara lalu membukanya. ia menscroll semua pesan yang ia kirim tapi memang tidak ada pesan yang ia maksud. Elinapun mencoba untuk menscroll pesan yang ada di ponselnya. Ia menunjukkan pada Bara. "Lihatlah.. Mama benar- benar sudah mengirimkannya pada kamu." Ucap Elina.
"Sudah- sudah, jangan ribut- ribut disini. Rora sedang sakit." Tegur Devano untuk menghentikan perdebatan antara istri dan anaknya. "Lebih baik kita pulang. Disini sudah ada Bara ma." Lanjutnya saat melihat sang istri ingin protes.
.
.
.
Rora semakin mengeratkan pelukkannya saat mencium bau cedar dan hutan pinus yang menyegarkan sehingga membuatnya merasa nyaman dan menenangkan. Ia membuka kedua matanya saat tersadar bau milik siapa ini. Pandangan pertama yang ia lihat adalah dada bidang milik sang suami.
Rora mendongakkan sedikit kepalanya. Untuk pertama kalinya Rora mengagumi wajah sang suami yang terlihat sangat tampan. Kedua mata yang terpejam dengan bulu mata lentik. Alis yang sedikit tebal dan hidung mancung sempurna disertai bibir yang sedikit tebal dan berisi membuat Bara semakin terlihat sempurna. Semakin lama menatap wajah Bara entah kenapa ia mesakin merasa wajah itu tidak asing bagi dirinya.
Rora dengan perlahan berusaha untuk melepaskan pelukkannya dari sang suami.
"Sebentar Lun.. Aku masih mengantuk." Ucap Bara karena merasa terganggu dengan pergerakan Rora.
Rora terdiam. Entah kenapa ada sedikit rasa sakit di hatinya saat Bara menyebutkan nama Aluna.
.
.
.
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹