Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB33 - PERIH
Seperti hujan yang turun sangat deras membasahi bumi, dengan berisik terjangan dari angin yang menyapu malam, menemani jiwa Davina yang sepi. Ia memilih berbaring di atas ranjang, membungkus tubuhnya dengan selimut putih, posisi tubuhnya membelakangi, tempat di mana Dave tidur.
Suara derap langkah dari pria yang hindari terdengar jelas. Davina segera menutup kedua matanya. Ia memilih berpura-pura tertidur, agar tak ada lagi pembicaraan yang terjadi di antara keduanya.
Kaki Dave terhenti di depan pinggiran ranjang, tempat di mana ia tidur. Melihat tubuh Davina memunggunginya, sudah jelas kalau Davina sangat kecewa terhadapnya. Ucapan Davina terakhir, membuat ingatannya kembali dengan janjinya.
“Aku benar-benar membuatnya kecewa.” Dave membatin.
Dave kemudian memilih menarik selimut putih bagiannya. Lalu, ia merangkak naik dan rebahan menghadap punggung sang istri.
“Vin,” panggil Dave dengan lembut.
Tidak ada pergerakan dari tubuh didepannya.
“Kau sudah tidur, Vin?” tangan Dave mencoba merangkul pinggang Davina. Wanita yang enggan menjawab, merasakan perasaan yang tak biasa dalam hatinya. Ia mencintai Dave, seperti itulah ia meyakini dirinya. Sialnya, orang yang ia cintai tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
“Jangan pernah menangis karenaku, Vin. Aku nggak pernah layak,untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang darimu,” gumam Dave.
Davina sekuat tenaga menahan air matanya yang hendak tertumpah dari tempatnya. Dave mengangkat sedikit tubuhnya, mengecup puncak kepala Davina dengan sayang. Setelah merasa cukup, Dave kembali pada posisinya. Tapi, ia tetap menghadap pada tubuh sang istri.
Cairan bola kristal dari pelupuk mata Davina , akhirnya tumpah. Ia menangis, diringi dengan suara hujan serta gemuru kilat. Rasanya, Davina tidak boleh dengan asal menempati perasaannya pada pria manapun, ujung-ujungnya ia akan kecewa. Dan itu, mulai ia rasakan dalam kehidupannya.
Beberapa menit kemudian. Ia merasa sudah tenang, dan meyakini kalau Dave sudah tertidur. Davina bergerak sangat pelan, tak ingin meimbulkan gelombang di atas tempat tidur mereka. Saat ia berhasil berbalik, tatapan sendunya mendapat Dave tertidur sangat damai. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman, ia mengagumi wajah tampan sang suami dari jarak sangat dekat.
“Sayangnya … aku telat bertemu dengan pria sebaik dirimu,” gumam Davina dalam hatinya.
“Baik? ya … sebenarnya, kau sangat baik. Bisa mencintai wanita lain sebelumnya, hingga kehadiranku yang membuat kalian terpisah. Tapi, bukankah aku memiliki hak, juga untuk mendapatkan sedikit saja rasa cinta darimu, Dave. Aku istrimu, wanita yang akan mendampingi di setiap keadaanmu,” ucapnya lagi dalam batin yang tak sebaik sebelumnya.
Getar ponsel Dave di atas nakas, membuat pandangan Davina berpindah. Perlahan, kedua kakinya turun dari atas ranjang. Berjalan dengan menjejakkan kedua kakinya di atas lantai, hingga tiba di depan nakas. Perlahan, tangan Davina terulur, menyentuh benda pipih milik sang suaminya.
“Ecca?” gumam Davina.
Suara nada dering yang mengisi ruangan kamar mereka, sukses membangunkan sang pemilik. Kedua mata Dave, mengarah pada wanita di sampingnya yang berdiri dengan menggenggam ponselnya. Dave membawa tubuhnya duduk, saat Davina meyerahkan ponsel itu kea rag Dave dengan tampang datar.
“Siapa, Vin?”
“Mantan kamu,” balas Davina acuh.
Setelah Dave menerima ponselnya dari tangan Davina, wanita itu bergegas kembali ke tempatnya semula. Sorot mata Dave sempat menyorotinya, sebelum ia menerima terang-terangan panggilan dari sang mantan.
“Halo,” jawab Dave penuh kekhawatiran.
Davina menguping dalam diam, meskipun ia tak mendapati apa-apa dari Dave.
“Baiklah … aku segera ke sana,” ucap Dave cepat. Kemudian obrolan berakhir dengan kaki yang ia jejakkan di atas lantai. Rasa penasaran memancing keinginantahuan, Davina, saat matanya mendapati Dave berjalan ke arah lemari pakaian.
“Kau mau ke mana, Dave?” Davina bangkit dari tidurnya. Dave terhenti, ia baru sadar kalau ada Davina. Tubuh pria itu mendekat ke wanita yang memasang wajah penuh tanda tanya. Ia membalas sendu tatapan itu, seakan ingin menjelaskan, tapi ia tak memiliki banyak waktu.
Dave mencakup kedua pundak Davina. “Vin, tolong izinkan aku malam ini aja. Ecca membutuhkan aku, Vin. Tolong, jangan marah soal ini ke aku, hemmm ….” Perkataan Dave seperti petir yang bersaut-sautan dengan hujan di luar sana.
Davina menyentuh kedua lengan yang masih menggantung di pundaknya. Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak Dave. Aku istrimu, Ecca cuma masa lalumu,” ucap Davina membujuk.
“Vin, tolong mengerti aku. Ecca sendirian, dia tidak memiliki siapapun di sini, cuma aku yang ia punya,” balas Dave menjelaskan.
Kedua mata Davina memerah, saat ucapan Dave kembali membuatnya kecewa.
“Aku juga sendirian, Dave,” balasnya lirih.
“Ini berbeda situasi, Vin. Kau tidak sakit, sedangkan Ecca, dia berada di rumah sakit saat ini,” balas Dave lagi. “Aku mohon, tolong mengertikan aku.” Dave melepas kedua tangannya dari pundak Davina. Entah dari mana datangnya keberanian yang datangnya tiba-tiba. Kaki Davina dengan cepat menuruni ranjang, mengejar Dave hingga berlari sekuat mungkin hingga hampir tiba di depan pintu, Davina memeluk tubuh tegap Dave dari arah belakang.
Dave terjingkat dan merasakan kepala Davina dari balik badannya.
“Jangan pergi, Dave. Aku takut,” ucap Davina. Kepalanya bergerak-gerak dirasakan oleh Dave.
Dave menarik kedua tangan Davina, ia memutar tubuhnya, hingga kedua mata mereka saling bertemu.
“Aku hanya sebentar, Vin. Percayalah, aku akan kembali setelah semuanya beres. Tunggulah aku di kamar,” pinta Dave lagi.
“Tapi ini sedang hujan deras, Dave. Apa kau tidak kasihan, aku sendiri di sini?” tanya Davina dengan air mata yang mulai tumpah. Ia tak bisa menerima keadaan dalam dirinya. Cinta, kata itu memporak-porandakan hatinya.
“Jangan menangis, Vina. Aku akan kembali padamu, hanya sebentar. Kunci pintu dengan baik, aku pergi.” Dave melepaskan kedua tangan Davin dan pergi meninggalkan wanita yang sedang di landa pesakitan.
Mendengar suara pintu dan mobil yang mulai menjauh, tubuh Davina ambruk seketika di atas lantai. Pedih dan sakit mengisi ruang kosong dalam dadanya. Suara sautan kilat mengiringi air mata yang berjatuhan, menggambarkan betapa sakit dan tersiksasanya Davina.
“Kau jahat, Dave!”serunya di selah isak tangisannya.
Beberapa saat kemudian, setelah ia merasa tenang. Davina memilih duduk di bawah jendela berbalutkan kain gorden yang tak jauh dari pintu. Kedua kakinya ia tekukakan dengan kedua tangan yang mendekap erat di atasnya. Sorot mata Davina, hanya focus ke depan menyoroti api pada lilin di atas meja. Ya, lengkap sudah semuanya. Deras hujan yang terdengar di luar, Dave pergi meninggalkannya, tak lama listrik juga padam. Sepi, mungkin itu yang menggambarkan dirinya sekarang. Tidak ada lagi air mata yang jatuh, hanya kekecewaan yang membekas di balik dinginnya malam yang beralaskan lantai dingin.
“Hadddchimmmm ….”
Bersambung.
Silahkan bully dia wkwkwkwk …
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔