Akibat mengintai sang ayah yang dicurigai selingkuh, Freya justru berakhir di kamar hotel bersama seorang Pria. Namun, siapa sangka jika semua ini hanya jebakan agar Freya menerima perjodohan bisnis dari keluarganya. Lantas, bagaimanakah Freya menjalani pernikahannya, sedangkan Freya sedang memperjuangkan teman satu kampusnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tie tik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama KKN
Hari pertama KKN telah tiba. Sejak pagi, Freya sibuk menyiapkan diri. Penampilan Freya hari ini terlihat cukup dewasa dengan pakaian formal. Rambutnya disanggul rapi dengan hair net, seperti ketentuan yang sudah diterapkan di sana.
"Aku berangkat sendiri saja lah. Kamu duluan gih!" ucap Freya setelah menghampiri Alexander yang sudah menunggu di teras rumah.
"Tidak. Kita akan berangkat bersama," tolak Alexander dengan tegas. Tanpa banyak bicara lagi, pria tampan itu mengayun langkah menuju mobil.
Freya hanya bisa mengembuskan napas kasar saat keinginannya ditolak oleh Alexander. Wanita cantik itu segera mengikuti langkah Alexander menuju mobil. Mereka berdua akhirnya berangkat bersama. Selama dalam perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Freya. Dia sebenarnya gugup dan bingung harus bagaimana menjalani hari-hari nya selama satu bulan ke depan di perusahaan suaminya itu.
"Al, apakah aku bakal satu tempat dengan teman-temanku?" tanya Freya setelah mobil yang ditumpanginya sampai di perusahaan.
"Kamu akan mengetahuinya nanti," jawab Alexander sebelum keluar dari mobil. Tak lupa pria tampan itu membukakan pintu untuk istrinya.
Freya melambaikan tangan tatkala melihat teman satu kelompoknya berada di lobby. Dia mempercepat langkah tanpa menghiraukan Alexander yang berjalan santai. "Selamat pagi, Guys," sapa Freya dengan diiringi senyum manis.
"Ayo kita masuk sekarang. Kelompok kita sudah lengkap kan ya?" ajak salah satu teman Freya.
Bersamaan dengan itu, Alexander pun memasuki kantornya. Dia menoleh sekilas dan setelah itu mengayun langkah menuju lift. Dia membiarkan Freya di handle oleh pembimbing yang akan bertanggung jawab atas kesepuluh mahasiswa itu.
"Setelah ini saya akan membagi tugas untuk kalian. Tolong diperhatikan ya," ucap seorang wanita yang membimbing mereka.
Satu persatu nama mahasiswa mulai disebut beserta bagian yang akan ditempati. Sherly, Rama dan salah satu teman Freya yang lain tergabung dalam satu tim. Kini, hanya Freya yang belum mendapat bagian.
"Maaf, Bu. Saya ditugaskan di mana ya?" tanya Freya setelah melihat teman-temannya pergi menuju bagian masing-masing.
"Mari ikut saya," ajak wanita tersebut.
Freya mengekor di belakang wanita tersebut. Dia mengamati keadaan di sekelilingnya. Meski sudah lama menjadi istri pemilik perusahaan ini, tetapi baru kali ini Freya masuk ke dalam perusahaan. Langkah gadis cantik itu terhenti di salah satu ruangan yang cukup luas.
"Ngapain aku di ruangannya Alex?" batin Freya tatkala melihat suaminya duduk di kursi kerja.
"Pak Alex," panggil wanita tersebut, "Apa ada yang saya bantu?" tanya wanita tersebut setelah Alexander menoleh ke arahnya.
"Tidak. Silahkan kembali bekerja," ucap Alexander sebelum beranjak dari tempat duduk.
Freya mengernyitkan kening setelah wanita yang mengantarnya pergi dari ruangan. Lantas, dia beralih menatap Alexander yang sedang duduk di tepi meja kerjanya. "Jadi aku kerja di bagian apa?" tanya Freya.
"Kamu akan menjadi sekretaris pribadiku," jawab Alexander seraya mengembangkan senyum tipis.
"Hah? Sekretaris?" Freya terkejut setelah tahu pekerjaannya di sini. "Sekretaris pribadi itu gak masuk di prodiku. Ini tidak sesuai, Alex!" protes Freya.
"Panggil aku Pak Alex. Bersikaplah profesional. Ini di lingkungan perusahaan. Jangan bawa hubungan kita dalam pekerjaan. Jika kamu biasa menentang keputusanku, maka di sini kamu harus belajar mengikuti keputusan pimpinan perusahaan," jelas Alexander dengan diiringi senyum smirk.
Seketika ekspresi wajah Freya berubah masam. Dia sangat kesal mendengar penjelasan dari suaminya itu. Helaan napas berat terdengar di sana. Wanita cantik itu mengepalkan kedua tangannya sambil menutup mata. "Tahan, Freya. Tahan! Buktikan jika kamu bisa!" batin Freya.
"Baik, Pak Alex. Terima kasih sudah memberikan pekerjaan yang sangat mulia ini. Mohon bimbingannya, Pak," ucap Freya dengan tutur kata yang lembut.
Alexander beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju kursi kerja. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa lepas melihat sikap yang ditunjukkan Freya. Pria tampan itu memberikan isyarat agar Freya duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya.
"Pelajari berkas ini," ucap Alexander seraya menyerahkan map berwarna kuning. "Itu adalah proposal dari ekspedisi lokal. Mereka sedang mengajukan kerja sama. Cek dengan teliti berkasnya," jelas Alexander setelah Freya membuka map kuning tersebut.
"Ini apanya coba yang dicek. Makin gila aja suamiku ini. Aku mana tahu antara berkas benar atau tidak. Standarisasi perusahaan saja aku tidak tahu sama sekali. Dasar aneh!" gerutu Freya dalam hati sambil menatap berkas yang ada di hadapannya.
Hari itu, Freya disibukkan dengan setumpuk pekerjaan di ruangan suaminya. Tentu semua ini sangat melelahkan. Beberapa kali Freya meregangkan otot-otot tubuhnya karena terasa kaku. Seharian penuh Freya berada di ruangan tersebut. Alexander tak memberikan celah sedikitpun. Bahkan, Freya tidak bisa keluar dari ruangan untuk bertemu teman-temannya.
"Maaf Pak Alex. Kalau boleh tahu jam kerjanya sampai jam berapa ya?" tanya Freya setelah melihat penunjuk waktu sudah berada di angka lima. Siluet jingga di cakrawala terlihat jelas dari jendela kaca di ruang kerja tersebut.
"Jam kerja sebenarnya sampai jam empat sore. Berhubung saya ingin lembur, jadi kamu pun harus ikut lembur," jawab Alexander tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Dia sibuk memeriksa laporan pengiriman menjelang akhir bulan.
"Tidak bisakah saya mendapat kompensasi? Saya sudah lelah, Pak. Ini pengalaman pertama saya bekerja," ucap Freya setelah menutup catatan yang baru saja diselesaikan.
Alexander mengalihkan pandangan dari laptop. Dia mengamati keadaan istrinya sekilas. Senyum smirk mulai mengembang dari kedua sudut bibirnya tatkala sebuah ide muncul di kepala.
"Saya akan memberikan kompensasi, tetapi semua itu tergantung dari bagaimana caramu memberikan servis yang baik," ucap Alexander dengan tatapan nakal.
Freya memicing mata setelah paham maksud dan tujuan suaminya itu. Dia meletakkan kedua tangan di atas meja kerja serta menegakkan tubuhnya. "Jadi seperti itu cara kerjamu? Apa kamu selalu meminta hal ini ke sekretaris lain?" cecar Freya.
"Saya hanya satu kali memiliki sekretaris dsn itu sudah lama sekali. Selama ini hanya asisten pribadi yang membantu pekerjaan saya dan Bima lah orangnya," jelas Alexander dengan tenang. Tentu pertanyaan dari Freya itu membuatnya teringat dengan sosok sekretaris yang sedang menempuh pendidikan di Australia itu. "Jadi bagaimana? Apa kamu ingin mendapatkan kompensasinya?" Alex kembali menggiring Freya ke pertanyaan awal.
Meski belum yakin dengan pernyataan suaminya itu, Freya mencoba mempercayai. Pikiran negatif sempat hadir di kepala tatkala melihat sikap genit yang ditunjukkan oleh suaminya itu. Freya beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan mengelilingi meja dan tiba-tiba saja berdiri di depan suaminya. Lantas, Freya duduk di atas meja kerja tersebut.
"Jadi, Bapak ingin servis yang bagaimana?" tanya Freya seraya menatap Alexander dengan tatapan nakal.
Alexander mengulum senyum. Lantas, dia menyandarkan tubuh di sandaran kursi sambil melipat kedua tangannya ke belakang untuk dijadikan sandaran kepalanya. "Saya pasrah," ucap Alexander sambil menatap Freya dengan lekat.
Suara ketukan pintu beberapa kali berhasil membuat Freya terkejut bukan main. Dia reflek turun dari meja dan bersembunyi di kolong meja. Ide gila muncul begitu saja. Freya menarik kursi yang ditempati Alexander hingga maju beberapa centi. Tangannya mulai meraba sesuatu yang terbungkus rapi di dalam celana.
"Ya, Bim. Ada apa?" tanya Alexander setelah Bima masuk ke dalam ruangan. Dia mencoba bersikap biasa saja meski sedang menahan godaan yang ada di dalam kolong meja.
"Besok ada undangan makan siang dari ekspedisi Nusantara. Mau hadir atau tidak?" tanya Bima. Pemuda berparas manis itu mengernyitkan kening karena melihat sikap aneh Alexander. Ketidakhadiran Freya di sana pun menjadi salah satu alasannya.
"Atur saja semuanya. Kalau memang besok tidak ada pertemuan penting. Kita hadir, ssst," jawab Alexander sambil mendesis karena merasakan sentuhan Freya.
Bima semakin heran melihat ekspresi wajah sepupunya itu. Dia melirik ke bawah dan tidak sengaja melihat kain yang keluar dari celah kolong meja. Bima tahu betul jika itu adalah sebagian lipatan kain dari blazer yang dipakai Freya hari ini. "Baiklah. Aku akan mengkonfirmasi undangannya. Silahkan lanjut," ucap Bima sambil menahan senyum.
Tentu Alexander paham dengan kalimat terakhir yang diucapkan sepupunya itu. Dia tidak peduli meski Bima tahu apa yang sedang dilakukan Freya saat ini. "Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruanganku. Telfon saja jika memang ada yang penting," ucap Alexander saat Bima berada di depan pintu.
Setelah pintu tertutup rapat, Alexander memundurkan kursinya. Dia melepas ikat pinggangnya dan membiarkan Freya melakukan tugasnya. "Kamu harus bertanggung jawab, Freya. Aku ingin kita bermain-main di sini," ucap Alexander sambil menepuk meja kerjanya.
"Aku terima tantangannya," jawab Freya dengan diiringi senyum smirk.
terima kasih buat karya2 terbaiknya,,sukses selalu
Selamat buat Alex sama Freya,,baby boy sudah lahir jadi pelengkap kebahagiaan keluarga kecil mereka