Arella atau sering dipanggil Arel adalah siswi tercantik disekolahnya. Banyak sekali cowok tampan yang berbaris ingin menjadi kekasihnya. Namun, entah seperti apa tipe cowok yang disukai oleh Arel. Sejauh ini Arel tidak tertarik pada cowok manapun.
Bahkan Rey saja yang gantengnya luar biasa dan menjadi pangerannya para siswi disekolahnya, ia tolak begitu saja. Selama ini Arel tidak pernah jatuh cinta pada cowok. Entahlah, tidak ada cowok yang menarik perhatiannya sejauh ini.
Sehingga suatu hari, disekolahnya kedatangan siswa transfer dan kebetulan satu kelas dengannya. Awalnya ia biasa saja pada siswa pindahan itu. Namun, semakin Arel sering bertemu dan berbicara dengannya hatinya mulai tergerak dan luluh.
Apakah siswa baru itu adalah tipe yang Arel suka?
Memangnya seperti apa sih tipe cowok yang disukai oleh Arel?
penasaran? Yuk, mampir! Kali aja minat!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengecoh
Satrya dan Yoga sampai disebuah gedung perusahaan Toy Island, perusahaan mainan yang cukup terkenal. Mereka hendak saja akan masuk, tetapi langkah Satrya terhenti seketika dan malah kembali melangkah balik keluar dengan menarik Yoga pergi bersamanya dan bersembunyi dibalik tembok.
"Ada apa?" tanya Yoga tidak tahu alasan Satrya apa melakukan itu.
"Lihat!" seru Satrya menunjuk kepada beberapa orang yang baru saja keluar dari dalam gedung.
"Siapa mereka?"
"Yang memakai kacamata itu adalah Pak Rayto. Dan pria yang memakai jas putih itu adalah Burno si penghianat yang ku maksud. Kenapa mereka terlihat begitu akrab? Apa jangan-jangan mereka bekerja sama?" ujar Satrya menerka dengan pikiran mengartikan semua yang ia lihat itu dengan negative.
"Apa?! Begitu yah? Itu bisa saja terjadi. Tapi kita tidak berprasangka buruk dulu. Apa yang kita lihat tidak selalu benar dengan apa yang kita pikirkan. Kita harus mencaritahu terlebih dahulu dan bertanya padanya," sahut Yoga meluruskan pemikiran negatif dari Satrya.
Tidak lama Burno pun segera naik kedalam mobil yang sudah sampai didepannya dan melaju pergi. Sementara Pak Ratyo hendak saja akan kembali masuk kedalam gedung.
"Pak Ratyo?" panggil Yoga segera keluar dan memanggil Ratyo untuk menghentikan langkahnya.
"Kalian memanggilku? Ada apa? Siapa kalian?" sahut Ratyo bertanya.
"Ini aku, Pak Ratyo. Satrya EL. Putra dari Gumilar Darmawija," sambar Satrya melepas topi yang ia pakai.
"Satrya?!" Ratyo langsung panik ketika meihat Satrya. Itu artinya dia masih ingat jelas sama Satrya. Ratyo celingak-celinguk mengedarkan pandangan nya kesekeliling.
"Ayo masuk, dan kita bicara didalam," ujarnya mendorong mereka berdua untuk masuk kedalam gedung bersamanya.
Cukup membuat Yoga yakin kalau Ratyo merasa takut kalau-kalau ada orang yang melihatnya bersama Satrya.
Kini mereka sampai diruangan Pak Ratyo dengan tiga teh hangat dan duduk disofa agar perbincangan mereka terasa lebih enak.
"Jadi, ada apa kamu mencariku, Satrya?" tanya Ratyo lalu meneguk teh hangatnya.
"Sebelum saya bertanya pada inti kedatangan kami. Ada hal lain yang ingin saya tanyakan," sahut Satrya terlihat begitu serius. Tatkala Yoga kini tengah mengambil secangkir teh hangatnya dan menguknya. Namun, ternyata teh itu terasa sangat pahit juga tidak dicampur gula sama sekali.
Sontak Yoga menyemburkan teh yang sudah sempat masuk kedalam mulutnya. Dan membuat Satrya harus menoleh dan menatap dia kenapa?
"Kau ini kenapa, Ga?"
"Pahit," jawab Yoga singkat dengan menjulurkan lidahnya dan mengerutkan dahinya.
"Ouh iyah, maaf saya lupa meminta menambahkan gula untuk kalian," sahut Ratyo.
"Yasudahlah," balas Yoga menaruh kembali cangkirnya, dan bangkit berjalan-jalan melihat-lihat ruangan Ratyo.
"Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Ratyo lagi kembali pada topik pembicaraan yang awal.
"Baiklah. Begini..."
"Tunggu, EL!" cegah Yoga menyela Satrya.
Yoga tidak sengaja mendapati sinar merah yang bekedip dari dalam vas bunga yang ada dimeja deka kaca. Lalu, ia mengambilnya dan memperlihatkannya kepada Satrya dan Ratyo.
"Apa itu?" tanya Satrya.
"Shuuttt.." sahut Yoga agar mereka berbicara lebih pelan lagi. "Penyadap," ucap Yoga tanpa bersuara.
Ternyata tanpa sengaja Yoga menemukan sebuah penyadap diruangan Ratyo. Ini begitu mencurigakan, bahkan Ratyo sampai terkejut karena ada penyadap yag tidak ia ketahui kapan dan bagimana bisa ada diruangannya itu.
"Pak Ratyo, ponsel anda terus saja bergetar. Anda tidak mau mengangkatnya? Sepertinya itu penting," ijar Yoga tiba-tiba. Padahal ponsel milik Ratyo sama sekali tidak ada panggilan masuk.
Ratyo mengernyit bingung sementara Yoga memberi isyarat agar mereka mengerti dengan maksudnya.
"Oh iyah, sebentar yah. saya akan keluar sebentar untuk mengangkat telepon dulu," sahut Ratyo paham dengan maksud dari Yoga dan segera keluar dari ruangannya.
Yoga memberi isyarat pada Satrya juga agar ikut keluar dengan Ratyo. Satrya mengangguk setuju dan bangkit menyusul Ratyo. Yoga menaruh penyadap itu diatas meja. Kemudian ikut keluar bersama mereka.
Entah apa yang Yoga rencanakan kini. Tapi apapun itu Satrya selalu percaya kepada Yoga.
"Mengapa kamu menyuruhku untuk ikut keluar?" tanya Satrya.
"Pak Ratyo, apa hubungan bapak dengan pria yang baru saja pergi tadi?" tanya Yoga tanpa menggubris pertanyaan dari Satrya.
"Dia datang mengancam saya. Dia mengira kalau saya memiliki kode brankas Gumilar. Dia sudah mengetahui siapa saya sebenarnya. Tapi saya tidak memiliki kode itu. Gumilar tidak memberitahu saya sama sekali," terang Ratyo.
"Itu artinya, anda akan berada dalam bahaya. Dan kode itu, Satrya memilikinya. Dugaanku adalah dia tahu kalau Satrya akan datang menemui anda. Sebab itu, dia menyimpan penyadap diruang anda agr bisa tahu kode brankasnya dengan tidak sadari," terka Yoga.
"Kalau begitu. Kita hancurkan saja penyadap itu," sambar Satrya.
"Tidak. Jika kita hancurkan maka, sudah kubilang Pak Ratyo akan dalam bahaya," tutur Yoga.
"Lalu kita harus bagaimana?" tanya Satrya lagi.
"Pak Ratyo. Kedatangan kami kesini, ingin mengetahui, apa anda tahu sesuatu tentang jalan rahasia milik ayah Satrya?" ujar Yoga lagi tidak bertele-tele lagi.
"Benar juga. Sekarang kita tahu apa yang harus kita lakukan!" seru Ratyo membuat Yoga dan Satrya mengeryit bingung.
"Satrya kode brankasnya bukan? Mari kita lakukan ini....." Ratyo membuat rencana untuk mengecoh musuh mereka. Entah apa rencananya. Namun, ia menjelaskan nya segalanya dengan terang dan jelas. Sehingga Satrya dan Yoga mengangguk setuju.
"Begitu yah? Itu ide yang bagus."
"Yah, kupikir barankas yang ada itu segalanya. Tapi mari kita lakukan."
Mereka pun memulai rencana mereka dan kembali masuk. Satrya dan Yoga duduk disofa yang semula.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu," ujar Ratyo memulai sandiwaranya.
"Tidak papah. Jadi, apa yang ingin kalian tanyakan pada saya?" tanya Ratyo lagi.
"Begini Pak Ratyo. Apa anda memang bekerja untuk ayah saya?" sahut Satrya.
"Yah, saya memang bekerja untuk Gumilar. Dan dia sangat mempercayai saya. Kecuali satu hal yang tidak pernah ia katakan pasa saya sama sekali."
"Apa itu?"
"Kode brankasnya. Dia tidak pernah ingin ada yang tahu kode brankas itu, kecuali dia dan putranya," ujar Ratyo lagi.
"Iyah, itu memang benar. Kodenya ada padaku. Kami kesini untuk meminta bantuan anda," sahut Satrya.
"Apa itu?"
"Kami harus mendapatkan apa yang dalam brankas itu. Tapi kami tidak bisa masuk begitu saja. Karena penjagaannya begitu ketat. Mungkin, jika anda mau bekerja sama dengan kami. Kami akan memberi tahu kodenya," balas Satrya lagi.
Mereka terus bersandiwara dan sengaja agar mereka yang mendengarkan terpancing. "Begitu yah? Berapa kodenya?"
"Kodenya... 24688246"
"Tunggu, aku menemukan penyadap dalam ruangan ini!" seru Yoga berpura-pura. Sementara penyadap itu kini ada dihadapan mereka saat ini. Dan Yoga pun dengan segera membanting penyadap itu, agar rusak dan tidak berfungsi.
Sementara Burno kini terkecoh dengan sandiwara yang dimainkan mereka. Memang benar, kode itu adalah asli. Tapi sebenarnya bukan brankas itulah yang sangat berharga bagi Gumilar. Melainkan brankas yang berharga ada di ruangan dimana hanya Gumilar dan Ratyo yang tahu. Jalan lorong rahasia itu adalah berujung sebuah tempat rahasia brankas berharganya.
by the way..... thank you so much thor.....
😍😍😍😍😘😘😘😘😘