Follow IG author : arafaq_9
Jangan lupa like dan komentarnya ❤
Ketika Jordan Rodriguez, seorang pria tampan dan kaya yang dikenal sebagai pria yang tak terkalahkan dalam bisnis dan hubungan, bertemu dengan Grace, seorang wanita muda yang penuh dengan ambisi dan keinginan untuk sukses, keduanya langsung terseret dalam kisah cinta yang liar dan penuh gairah. Namun, di balik pesona dan kebahagiaan yang tampaknya sempurna, terselip rahasia gelap yang mengubah segalanya.
Seiring hubungan mereka berkembang, Jordan mulai menunjukkan tanda-tanda kecemburuan dan posesif yang tidak wajar. Jordan menyembunyikan identitas yang sebenarnya, terkait dengan masalalunya yang gelap dan berbahaya.
Saat rahasia terkuak, Grace harus memilih antara melarikan diri dari kegelapan yang mengancam atau mempertaruhkan segalanya demi menyelamatkan hubungan mereka. Dalam pergulatan antara cinta dan ketakutan, Grace menghadapi pilihan yang sulit. Yang akan mengubah takdir mereka selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arafaq_9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARUSKAH AKU BERLUTUT, GRACE?
***
Eric tersenyum, "Eric menyayangi, Mommy. Jika Daddy menyakiti Mommy, Mommy katakan saja kepada Eric. Eric akan menghajar Daddy,"
"Hah?"
Grace mendadak blank, kedua mata wanita itu berkedip beberapa kali, ia sangat terkejut dengan ucapan putranya barusan.
"Kau bilang apa, Nak?"
"Mommy mendengarnya, Eric mencintai Mommy." Eric mengecup pipi Grace, sebelum akhirnya anak itu membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Sementara Grace, wanita itu masih memahami segalanya. Hingga akhirnya, ia menunduk. Mengelus puncak kepala Eric, dan melabuhkan satu kecupan di kening Eric.
***
"Dingin, kenapa tidak masuk saja?" Luke menyampirkan sebuah jaket di tubuh Grace, pria itu menghampiri Grace yang kini berdiri di depan kolam renang.
Grace menoleh, wanita itu mengulas senyumnya.
"Terimakasih,"
"Hm," jawab Luke dengan berdehem, setelahnya hanya keheningan yang menemani mereka. Sampai akhirnya, Luke memulai pembicaraannya terlebih dahulu.
"Apakah ada yang kau pikirkan, Grace?"
"Tidak ada, kenapa?"
"Tidak apa-apa, siapa tau kau memikirkan tentang Kakakku yang masih saja mengejarmu,"
"Tidak, aku tidak memikirkan dia. Untuk apa aku memikirkannya?"
Luke menggedikkan kedua bahunya acuh, pria itu menghembuskan nafasnya pelan.
"Grace ... jika kau membutuhkan bantuanku untuk pergi lagi darinya, aku siap membantumu." Luke menatap Grace, begitu juga dengan Grace. Wanita itu menatap Luke dan terdiam.
Setelahnya, Grace tersenyum, dan menggeleng.
"Aku tidak akan pergi kemana pun, Luke. Aku akan menghadapi Jordan, kau tenang saja,"
"Baiklah, tetapi satu hal yang perlu kau tau. Grace, aku akan selalu ada di pihakmu. Meskipun kau menolakku,"
Grace tersenyum kecut, ada rasa tidak enak hati saat Luke membahas tentang perasaan pria itu. Yeah, Luke pernah mengatakan perasannya. Tetapi dengan tegas, Grace menolaknya.
"Terimakasih, Luke. Kau selalu ada untukku, dan Eric. Soal perasaanmu, maafk_" ucapan Grace terhenti saat Luke menyelanya terlebih dahulu.
"Sttsss ... jangan katakan apapun, aku tidak apa-apa. Sekarang masuklah, sudah malam." Luke memegang kedua bahu Grace, pria itu tersenyum membuat Grace turut tersenyum.
Setelahnya Grace melangkah masuk ke dalam resort.
Seperginya Grace, Luke menghembuskan nafasnya kasar.
"Haruskah aku merelakanmu, Grace?" gumam Luke seraya terkekeh.
***
"Morning, Mommy," sapa Eric, anak itu tersenyum melihat Grace yang baru saja datang bersama Jasmine.
"Morning, Sayang." Grace mengecup kening Eric.
"Cuma Mommy saja? Aunty tidak di sapa?" rajuk Jasmine pura-pura, Eric, Grace, dan Luke terkekeh.
"Morning, Aunty Jasmine,"
Jasmine tersenyum, wanita itu mendekati Eric dan melabuhkan satu kecupan di kening Eric.
"Menggemaskan sekali kau ini, hm." Jasmine mengacak gemas rambut Eric, membuat anak itu membrengut.
***
Menit berlalu, kini Grace, dan Jasmine sudah berada di kantor. Begitu juga dengan Luke, pria itu sudah pergi. Sementara Eric, anak itu berada di sekolahnya.
"Bagaimana dengan perusahaanmu di Wellington, Jordan?"
"Tidak bagaimana-bagaimana, kenapa?"
Diego mendengus, pria itu menatap datar Jordan.
"Kau di sini, lalu perusahaanmu di sana bagaimana? Kau membiarkan perusahaanmu tanpa pemimpinnya?"
Jordan terkekeh, pria itu berdiri dari duduknya.
"Ada atau tidaknya aku, perusahaanku akan tetap berjalan. Diego, aku akan kembali ke sana. Tetapi bersama Grace, jadi aku peringatkan kembali kepadamu. Jauhi Grace!" Jordan melangkah menjauh, pria itu meninggalkan Diego yang terdiam.
Tadi pagi-pagi sekali, Jordan mendatangi Diego. Pria itu memberikan peringatan kepada Diego agar menjauhi Grace.
Jordan keluar dari ruangan Diego, setibanya di luar ruangan Diego. Jordan melihat Grace yang melangkah menuju toilet, Jordan mengikutinya.
Jordan turut masuk, dan mengunci toiletnya. Membuat Grace tersentak, dan membalikkan badannya.
"Kau?" Grace melotot, Jordan tersenyum.
"Hai, Baby." Jordan mendekati Grace, dalam sekali sentakkan. Jordan merengkuh pinggang Grace.
"Lepaskan!" teriak Grace, Jordan menggeleng.
"Ada yang ingin aku katakan, Grace," ujar Jordan, membuat Grace menatapnya datar.
"Apalagi? Tidak ada yang perlu di bahas lagi, Jordan. Sekarang lebih baik kau menjauh dariku!" sentak Grace, Jordan terkekeh. Pria itu mengelus wajah cantik Grace.
"Aku akan melepaskanmu, tetapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku mencintaimu, Grace. Sangat mencintaimu," ucap Jordan terdengar tulus, membuat Grace mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Dadanya berdebar, ntah debaran yang bagaimana. Grace tidak dapat menjelaskannya.
"Aku tau aku bersalah, dan aku mengakuinya. Baby, tetapi aku mohon. Tolong berikan aku kesempatan, berikan aku akses untuk mendekati Eric. Eric juga putraku, Grace," mohon Jordan, nadanya terdengar sendu.
Grace memejamkan matanya sebentar, sebelum ia menoleh dan menatap Jordan.
"Tidak ada kesempatan bagimu, Jordan. Kau sudah membuang kami, bahkan kau tidak mengharapkan Eric. Tetapi sekarang? Kenapa kau mengharapkannya? Kenapa baru sekarang, Jordan!" teriak Grace, Jordan menatapnya sendu.
"Aku mohon," lirih Jordan, Grace menggeleng.
"Tidak, lebih baik sekarang pergilah. Aku membencimu, sangat membencimu!"
Jordan terdiam, pria itu terus menatap sendu ke arah Grace. Hingga.
"Haruskah aku berlutut, Grace?" ucap Jordan bersamaan dengan tubuh pria itu yang merosot ke bawah.
***