Dara dan Gadis adalah saudara kembar identik yang terpisah sejak kecil, Nasib mereka sangat berbeda. Dara tumbuh dikeluarga yang sederhana sedangkan Gadis, ia tumbuh dikeluarga yang bergelimang harta. Gadis mempunyai calon suami bernama Valen Bramanta dan Dara, Ia hanya mempunyai teman Azka. laki laki yang sering membuatnya kesal. Suatu hari tanpa sengaja Dara bertemu dengan Gadis mereka kemudian bertukar posisi. Dara menjadi Gadis dan Gadis menjadi Dara, Bagaimanakah kisah percintaan mereka? Akankah mereka bertukar pasangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nety purbasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gampang berubah
Dara sebenarnya ingin tahu, apa yang membuat kedua orang tuanya berpisah, tapi ia tidak ingin membuat ibunya bersedih. Membicarakan masa lalu itu berarti membuka luka lama yang ingin disimpan ibunya.
Selama ini ibu Santi tidak pernah bercerita tentang masa lalunya bersama tuan Abhian, mungkin perpisahan mereka membuat ibunya Dara sakit hati.
Melihat wajah murung Dara, ibu Santi seakan bisa membaca pikiran putrinya.
"Dara, apa kamu ingin tahu? kenapa papa dan ibu bercerai."
Meskipun semua itu adalah kenangan pahit, ibu Santi ingin berbagi cerita dengan Dara. Dara sudah dewasa dan mungkin memang sebaiknya Dara tahu tentang masa lalu ibunya sendiri, tidak ada lagi yang harus disembunyikan. Dara juga sedikit banyak sudah tahu masa lalu ibunya.
"Kenapa ibu tiba tiba ibu bertanya begitu?" Dara tidak mengerti mengapa ibu Santi bertanya seperti itu? Apa ibunya tahu apa yang sedang Dara pikirkan.
"Ibu cuma mau cerita. Ibu berpisah dengan papamu karena papamu punya perempuan lain." Ucapan bu Santi tentu saja mengagetkan Dara.
"Maksud ibu, papa selingkuh?" Dara tidak percaya ayahnya terlihat seperti seorang laki laki yang baik, jadi apa mungkin papanya tega menghianati ibunya.
"Ini yang sebenarnya. Papamu berselingkuh. karena itu kita berpisah. Dara, ibu tidak tahu apa hubungan kamu dengan Suaminya Gadis? tapi ibu minta, jangan menjalin hubungan dengan suami orang."
Penjelasan serta nasehat dari ibu Santi membuat Dara sedih, ternyata ibu Santi sama seperti tuan Abhian. Mereka berdua sama sama lebih menyayangi Gadis ketimbang Dara.
"Kamu jangan salah paham. ibu berkata seperti ini bukan karena ibu membela Gadis, tapi karena ibu tidak mau. Kamu merusak rumah tangga orang lain. Apalagi, Gadis itu saudara kamu sendiri. Ibu pernah merasakan, bagaimana rasanya rumah tangga yang dibangun hancur. Rasanya ibu seperti kehilangan semangat hidup. kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidup ibu. waktu itu ibu sangat terpukul dan hancur." Ibu Santi berbicara panjang lebar, ia tidak ingin Dara menjadi seorang pelakor.
"Iya..bu, ibu tenang saja. aku tidak akan merusak rumah tangga Gadis dan Valen."
Dara memang tidak punya keinginan untuk menjalin hubungan dengan Valen, Walaupun ia merasa nyaman dan senang berada didekat Valen. Tetap saja semua itu salah karena Valen adalah suaminya Gadis.
"Syukurlah, ibu percaya padamu." Ibu Santi merasa lega usai mendengar kata kata Dara.
Sementara itu ditempat lain, Gadis baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Gadis lalu membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Ia memejamkan matanya, tapi suara ketukan pintu membuat ia kembali membuka matanya.
Gadis bertanya tanya, kira kira siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya. menurut salah satu asisten rumah tangga yang bekerja dirumah itu. Ibu dan juga adik tiri Gadis sedang pergi berlibur keluar negeri sedangkan papanya, setahu Gadis papanya belum pulang.
Mungkinkah papanya sudah pulang, Gadis segera berjalan kearah pintu. ia kemudian membuka pintu kamarnya.
"Valen..." Gadis terkejut melihat kedatangan Valen. ia tidak menyangka, suaminya itu akan datang mencarinya.
"Kenapa kamu datang kesini?"
Pertanyaan Gadis memang terdengar aneh. bukankah wajar jika seorang suami datang untuk mencari istrinya, tapi mengingat keadaan rumah tangga Gadis dan Valen yang tidak normal tentu saja pertanyaan Gadis menjadi hal yang biasa.
"Aku datang mau mencari istriku yang sedang marah." Valen tersenyum manis.
Gadis terasa ingin terbang melayang, ia sangat senang Valen datang mencarinya. ia juga senang Valen mengatakan kata istriku, tiba tiba saja Gadis melupakan keinginan untuk berpisah dengan Valen.
"Gadis, aku ingin bicara denganmu sebentar." Valen masuk kedalam kamar Gadis tanpa permisi, dengan cepat ia lalu mengunci pintu kamar itu.
"Kamu mau apa?" Wajah Gadis memerah, ia tampak gugup dan malu. pikirannya kemana mana, ia mengira Valen akan melakukan sesuatu padanya.
"Duduklah." Valen duduk ditempat tidur Gadis, ia meminta Gadis duduk disebelahnya.
Gadis tidak menolak, wanita itu duduk disebelah Valen dengan wajah tertunduk. berduaan didalam kamar dengan Valen membuat Gadis jadi salah tingkah.
"Gadis, lihat aku. apa benar kamu ingin berpisah denganku?" Valen menatap Gadis yang masih menunduk.
Gadis mengangkat wajahnya, ia memberanikan diri menatap wajah Valen yang sedang serius menatapnya.
"Iyaa.. " Mata Gadis berkaca kaca, sebenarnya ia tidak rela berpisah dengan Valen.
"Aku tidak mau." Valen tidak setuju dengan Gadis, ia tidak ingin bercerai dengan Gadis.
"Bagaimana dengan Dara?" Lagi lagi Gadis membawa bawa Dara dalam permasalahan rumah tangganya.
"Memangnya Dara kenapa? dia bukan siapa siapaku. Harus berapa kali aku bilang, aku tidak punya hubungan apa apa dengan Dara."
Valen mencoba meyakinkan Gadis kalau ia tidak punya hubungan apa apa dengan Dara, Dalam hati sebenarnya Valen merasa sangat berat mengatakannya.
Meski saat ini ia tidak menjalin hubungan dengan Dara, namun jauh dilubuk hatinya Valen masih menaruh hati pada Dara.
Valen sadar perasaan ini salah, ia juga tidak ingin egois. ia tidak ingin menyakiti hati Gadis demi perasaannya pada Dara yang entah mendapatkan balasan atau tidak dari Dara.
"Aku lihat waktu kamu menggedong Dara." Gadis seakan ingin menyadarkan Valen jika laki laki itu sedang berbohong.
"Gadis maaf, aku tidak bermaksud meninggalkanmu diperkebunan. waktu itu aku mencemaskan Dara yang menghilang. Aku yang mengajak Dara, kalau terjadi sesuatu padanya aku akan sangat merasa bersalah. Dara hampir diculik, dia pingsan karena itu aku menggedongnya." Valen menceritakan semua pada Gadis supaya Gadis percaya padanya, biarpun tidak semua yang ia katakan tidak sepenuhnya benar.
Gadis terdiam usai mendengar penjelasan Valen, ia jadi merasa kasihan pada Dara. Sudah hampir diculik malah dituduh tuduh yang bukan bukan olehnya. Walau Gadis tidak mengatakan secara langsung, tapi ia sempat berprasangka buruk pada Dara.
"Gadis, aku mohon. jangan ceraikan aku."
Ada kesungguhan yang bisa Gadis rasakan ketika ia menatap mata Valen, sepertinya Valen memang tidak ingin bercerai dengannya.
"Baiklah." Tanpa diduga Gadis langsung menyetujui permintaan Valen, Gadis membatalkan keinginannya untuk bercerai dengan Valen.
"Dengan satu syarat." Ucap Gadis tanpa beban, padahal itu adalah sesuatu yang sulit bagi Valen.
Valen merasa dirinya bodoh, bisa bisanya ia berpikir Gadis akan merubah keputusannya semudah itu.
"Katakan apa syaratnya?" Tanya Valen penasaran.
"Aku ingin kita pergi jauh dari kota ini, kalau perlu Keluar negeri." Gadis tidak ingin Valen bertemu lagi dengan Dara, ia juga tidak ingin hati suaminya goyah karena bertemu Dara.
Valen menghela nafas, dengan terpaksa ia memenuhi syarat yang Gadis minta.
"Apapun mau mu, aku akan turuti Sekarang kita pulang." Valen berdiri dari duduknya.
Gadis sangat bahagia ternyata Valen mau menuruti keinginannya. Gadis diam saja saat Valen meraih tangannya, Gadis lalu berdiri ia dan Valen kemudian berjalan keluar kamar sambil bergandengan tangan.
Langkah kaki mereka terhenti ketika mereka berdua melihat tuan Abhian pulang.
"Papa." Gadis melepaskan pegangan tangan Valen ia bisa melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah papanya.
"Kalian mau kemana?" Tuan Abhian bingung dengan sikap Gadis yang gampang berubah baru tadi pagi Gadis mengatakan ingin berpisah dengan Valen, malam harinya mereka berdua sudah bergandengan tangan layaknya pasangan kekasih yang sedang kasmaran.