Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Eros
...32. Eros...
Sepuluh menit berbaring rasanya bagai sepuluh jam. Ia menatap langit-langit kamar tanpa cela. Tampak sempurna.
Ia menutup mata. Dadanya terasa berkedut. Ia membuka mata bersamaan suara denting ponselnya. Membuatnya lekas bangkit sebab mengharap Saba mengirimkan pesan padanya.
Bukan. Harapan itu sirna.
Sebuah pesan justru datang dari Leo memberitahukan bahwa besok pagi Leo akan singgah ke rumahnya sebelum ke kampus.
Kemudian pada saat ia akan menutup pesan dari Leo pesan kedua dari Leo kembali masuk. Leo mengirimi sebuah foto yang berlatar panggung dengan instrumen alat musik lengkap dengan pemainnya, Leo terlihat memegang mikrofon. Leo memberikan keterangan: Anniversary 1st komunitas malaka.
Ia hendak membalas. Namun pesan Leo kembali masuk. Kali ini Leo mengirim sebuah video. Yang membuat tiba-tiba dadanya berdesir hebat. Hatinya terasa tersayat. Seolah-olah semua harapan lenyap dalam sekejap.
Dua kali ia memutar ulang video berdurasi 25 detik kiriman dari Leo. Memastikan apa yang dilihatnya adalah benar. Hingga layar ponselnya mati seketika tepat rekaman video itu selesai diputar, akibat daya baterainya habis.
Mendadak ia merasa dehidrasi. Ingatannya tertuju pada rak buku Saba yang digunakan untuk menyimpan minuman. Begitu penutup rak buku itu dibuka, ia langsung menyambar botol minuman tersebut. Memaksa membuka penutupnya meski ia sedikit mengalami kesulitan. Pada saat penutup botol itu terbuka ia langsung meneguknya. Tanpa melihat kemasan.
Raut wajahnya sesaat terkejut dengan rasa minuman yang memenuhi rongga mulutnya. Rasanya tajam namun manis. Serta meninggalkan kesegaran di rongga mulut sesaat diminum. Sungguh citarasa minuman yang sangat asing dan sepertinya ia belum pernah mencicipi minuman yang seperti ini sebelumnya. Namun karena penasaran ia kembali meneguknya.
Dua tegukan kedua kalinya masih membuat kedua alisnya terangkat, matanya terbelalak, dahinya mengerut, dan mulutnya sedikit terbuka. Rasanya benar-benar tak terduga. Apalagi langsung menendang rongga mulut bahkan kerongkongan.
Dengan mata menyipit, ia mencoba menghirup aroma minuman tersebut dari mulut botol. Sensasi harum rempah menyeruak bercampur sesuatu yang menusuk.
Kini perutnya mulai merasakan hangat. Menjalar hingga ke kepala. Dan lambat laun terasa menenangkan.
Ia duduk di kursi santai. Meneguk sekali lagi. Lalu menyimpan botol minuman itu di lantai. Kini ekspresi wajahnya tidak begitu terkejut. Justru rasa yang awalnya manis sekarang baru menyisakan pahit di akhir.
Matanya terpejam beberapa saat dengan kepala tengadah. Ia bahkan lupa sudah jam berapa saat ini. Bukankah ia harus pulang? Tiyuh pasti menunggunya.
Ia masuk ke dalam kamar Saba. Menyambar tasnya yang tergeletak di atas kasur dan mencangklongnya.
Dengan langkah gontai ia keluar dari kamar laki-laki itu. Kakinya refleks berhenti melangkah, manakala ia melihat sosok yang bersamaan masuk ke ruang perpustakaan.
Deru napas Saba berlarian. “Na … sorry, aku—“
“Aku pulang,” potongnya. Ia kembali melangkah.
Saba menarik lengannya. Yang membuatnya harus tertahan.
“Aku mendadak dapat undangan perayaan satu tahun komunitas malaka. Aku sempat—“
Ia menukas, “Aku tahu.”
“Na, aku minta maaf.” Saba berusaha membasahi bibirnya yang kering. Sialnya, keterlambatannya juga diakibatkan oleh kemacetan yang parah tadi di perjalanan.
“Aku harus pulang.”
Saba merasakan nada kekecewaan terhadap dirinya. Saba tak mengharapkan semua ini terjadi. Namun ia juga tak bisa menghindari. Ia menarik tangan Nawa, membawanya ke dalam rengkuhannya. “Na, akan aku jelaskan,” pintanya lirih.
Tubuhnya tiba-tiba membeku dalam dekapan Saba. Ia memejam.
“Maaf. Aku gak mengharapkan seperti ini. Aku sudah berusaha mencoba untuk datang lebih cepat. Aku—“
“Sstt …,” tangkasnya. Ia lelah untuk mendengarkan alasan Saba. Ia mendongak. Menatap Saba. Lalu tersenyum kemudian. Ia berusaha untuk membohongi perasaannya. “Aku harus pulang. Anggap pertemuan hari ini selesai,” imbuhnya. Ia berusaha melepaskan diri dari dekapan Saba. Namun justru Saba kian merengkuhnya kuat.
“Jangan pergi, Na,” pinta Saba. “Ku mohon, jangan pergi.”
Tawa getir muncul dari dirinya.
“Aku sudah berusaha menghubungi Arif untuk menyampaikan keterlambatanku karena ada undangan mendadak dari teman-teman komunitas malaka. Sementara handphoneku tertinggal di mobil Yanri saat aku menumpang mengisi baterai. Aku berusaha untuk cepat pulang, tapi aku terjebak kemacetan. Aku tidak tahu kalau kamu menungguku selama ini. Maaf ….”
Ia menatap Saba dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak tahu kenapa Arif tidak menyampaikan pesanku kepadamu,” ucap Saba.
Ia terus menatap Saba tanpa berpaling sedikitpun.
“Na, aku menyukaimu.”
Ucapan Saba tak sedikitpun membuatnya terkejut. Bahkan dadanya makin berdesir oleh sesuatu yang menyakitkan. Genangan air di kelopak matanya makin meluap. Hingga tumpah menetes.
Saba yang melihat reaksi Nawa justru kebingungan. Mengapa Nawa terlihat bersedih. Ia tahu dirinya sudah mengecewakan. Tetapi ia telah berkata jujur. Ada perasaan ketertarikan, emosional dan kedekatan fisik pada Nawa.
“Aku tahu aku sudah membuatmu menunggu. Aku sudah membuatmu kecewa. Tapi bicaralah, Na.”
Ia tak menyahut.
Saba mengusap pipinya dengan kedua tangan.
“Kamu gak salah bilang padaku?” cibirnya. Nada kekesalan itu masih kental.
Saba menggeleng pelan.
Tawa getir kembali terdengar. Yang membuat Saba makin tak mengerti dengan ucapan Nawa.
“Mungkin kata-kata itu bukan untukku.” Mana mungkin bilang untuknya, jika Saba lebih menghabiskan waktu dan melupakan janjinya karena bersama wanita lain. Dengan tarikan di kedua sudut bibir ia kembali menukas, “Awalnya aku menyangka kamu menyukaiku, karena perhatianmu menurutku beda. Tapi … ternyata aku salah. Perhatianmu buatku adalah perhatian biasa saja. Perlakuanmu terhadapku juga gak lebih seperti teman yang lain. Dan kata-kata barusan …,” Ia tertawa ringan. Menertawakan hal yang menurutnya konyol. “Aku rasa, hanya perkataan suka buat hubungan pertemanan. Aku yang ternyata bodoh menanggapi semua itu terlalu tinggi.”
Saba menggeleng pelan.
Desak napasnya kuat. “Aku lelah. Sebaiknya setelah ini gak ada lagi pertemuan di antara kita. Itu lebih baik.” Ia mengusap air matanya yang kembali menitik. Rasa kecewa telah menggugurkan perasaan dan harapan terhadap Saba. Bukan karena Saba, tapi karena kebodohan dirinya. Bodoh telah menyimpan suka pada Saba. Bodoh telah jatuh cinta pada orang yang salah. Bodoh telah menaruh angan-angan semu pada orang yang nyata-nyata tidak punya perasaan yang sama dengannya.
“Gak, Na.” Saba menggeleng. “Perasaan kita sama. Apa aku harus jelaskan kepadamu?”
Ia menggeleng. “Gak perlu. Semua sudah jelas, untuk apa diperjelas lagi!”
Saba masih bingung dengan sikap Nawa. “Aku minta maaf telah membuatmu kecewa. Tapi, perasaan suka dan cinta ini bukan untuk pertemanan. Seperti yang kamu kira. Melainkan cinta seorang laki-laki untuk seorang wanitanya. Cinta Saba untuk Nawa.”
Kecewa itu masih membungkusnya. Ia kesal sekaligus menyesal. Memupuk harapan setinggi langit. Sekarang dipaksa terjun bebas. “Benarkah?” cibirnya getir lalu tersenyum. Ia tak akan mudah percaya. Apalagi setelah melihat sendiri Saba dan Kania tampak mesra dalam video yang dikirimkan Leo.
Saba menarik tubuh Nawa. Memutus jarak. Membuat tubuh keduanya melekat. Dengan tatapan penuh Saba bertanya, “Kamu tidak percaya?”
Ia membalas tatapan itu dengan sendu.
Dengan satu tangan Saba mengusap rambutnya. Lantas mendaratkan ciuman pertama pada bibir Nawa.
Hangat. Ciuman Saba terasa hangat seperti minuman yang tadi diteguknya. Manis dan menenangkan.
Tangan Saba meraih dagunya. Saba kembali mendaratkan bibirnya untuk kedua. Sebuah ciuman cukup lama yang diulang-ulang.
Ia memejam. Desir menyayat mereduksi menjadi letupan-letupan kecil di dalam hati. Detak jantungnya meningkat. Dan nafasnya makin liar. Entah mengapa ada dorongan kuat untuk membalas.
Saba sempat berhenti sesaat. Namun ketika ia merasakan balasan Nawa yang menyentuh lembut lehernya hingga ke belakang kepala, menatapnya dalam dan memulai berani untuk mencumbunya, membuatnya makin terpicu dan terang sang.
Sementara Nawa kian merasakan kehangatan-kehangatan yang diciptakan Saba. Rasa kesal dan kesedihan itu mendadak hilang. Berganti dengan rasa bahagia. Bukankah Saba menginginkannya, dan Saba bisa menjadi miliknya malam ini? Perasaan dominansi untuk menguasai laki-laki itu amat besar. Ia merasa lebih segalanya dari Kania. Lebih cantik, lebih pintar dan tentu saja lebih seksi. Ya, ia lebih segalanya dari semua wanita yang menyukai Saba. Buktinya, ialah yang diinginkan oleh Saba.
Kecupan-kecupan sensitif di titik-titik tertentu membuatnya makin percaya diri. Mendorong staminanya bertumbuh dan makin menggebu-gebu untuk mencumbuu.
Mereka mulai merasakan kuwalahan. Keduanya menjeda sejenak. Helaan dan desakan napas saling berkejaran. Saling lempar pandang dalam jarak yang sangat dekat bahkan cuping hidung mereka menempel satu dengan yang lain.
Saba melempar senyum. Ia mengusap pipi Saba dengan senyum yang sama.
Tanpa buang waktu Saba mendorong pintu rak buku. Lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Suasana lebih memanas. Kecenderungan sentuhan-sentuhan lebih intim dan lebih dahsyat. Membuat hasrat keduanya meliar tak terkendali. Rak-rak berisi buku dari ribuan koleksi Saba menjadi saksi bisu. Keduanya mereguk romansa.
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
ah bang saba kurang peka
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab