Mendapati keponakannya yang bernama Sisi divonis leukemia dan butuh donor sumsum tulang, Vani membulatkan tekad membawanya ke Jakarta untuk mencari ayah kandungnya.
Rani, ibu Sisi itu meninggal karena depresi, tanpa memberitahu siapa ayah dari anak itu.
Vani bekerja di tempat mantan majikan Rani untuk menguak siapa ayah kandung Sisi.
Dilan, anak majikannya itu diduga Vani sebagai ayah kandung Sisi. Dia menemukan foto pria itu dibuku diary Rani. Benarkah Dilan adalah ayah kandung Sisi? Ataukah orang lain karena ada 3 pria yang tinggal dirumah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DILAN PUNYA ANAK
"Pasien anak?"
"Benar, Bu."
Fara kaget mendengar jika ruang rawat yang menurut temannya sering dikunjungi Dilan adalah ruangan pasien anak-anak.
Beberapa hari yang lalu, Fara diberi tahu temannya yang bekerja sebagai dokter disalah satu rumah sakit. Dokter itu mengatakan jika beberapa kali melihat Dilan ditempat dia bekerja. Tapi karena tak terlalu kenal dengan Dilan, dia tak berani menyapa, takut dikira sok kenal.
Beberapa hari ini, Fara tak bisa menemukan Dilan. Baik di rumah maupun di kantor, Dilan tidak ada. Nomornya juga sudah diblokir. Jadi saat dapat info Dilan ada di rumah sakit, Fara langsung meluncur kesana.
Dengan langkah ragu, Fara berjalan menuju bangsal VVIP. Mencari kamar yang dimaksud temannya.
"Apakah Dilan selingkuh dengan janda beranak?" Fara bermonolog sambil terus melangkah. Tepat didepan ruang yang dimaksud, dia ragu untuk masuk. Berhenti didekat pintu dan hanya diam, bingung mau melakukan apa.
Tepat pada saat tangan Fara hendak mengetuk pintu, seseorang dari dalam membukanya.
"Dilan." Mata Fara membulat sempurna melihat Dilan dihadapannya. Dilan lebih terkejut lagi, tak menyangka jika Fara akan sampai ditempat ini. Buru-buru dia menutup kembali pintu agar Fara tak menciptakan kegaduhan.
"Ngapain kamu kesini?" Dilan menarik lengan Fara menjauh dari ruangan Sisi.
"Siapa yang dirawat didalam?" Fara menunjuk ruangan dimana Dilan baru saja keluar.
"Bukan urusan kamu. Aku sudah bicara dengan orang tuamu, pertunangan kita gak bisa dilanjutkan. Jadi kita udah gak ada urusan lagi, Far."
Fara berdecak sambil tersenyum getir. Benarkah dia dan Dilan sudah selesai? Tapi rasanya, dia belum rela.
"Beri aku kesempatan lagi, Dil." Fara meraih tangan Dilan dan menggenggamnya. "Aku akan tunjukin sama kamu kamu, kalau aku pantas buat kamu, aku pantas dicintai."
Dilan membuang nafas berat sambil melepaskan tangan Fara. "Kamu benar, Far. Kamu pantas dan sangat layak dicintai. Karena itu, carilah orang lain yang akan mencintaimu, tapi bukan aku orangnya."
"Tapi aku cintanya sama kamu." Mata Fara mulai tampak berkaca-kaca.
"Kamu cantik, pinter dan punya karir cemerlang. Banyak pria yang rela ngantri buat kamu. Bagi seorang wanita, bukankah dicintai itu lebih baik daripada mencintai?"
Fara tak bisa menyangkal itu. Dicintai memang lebih baik, namun dia mencintai Dilan, dia ingin bersamanya, tak peduli jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
Fara menyeka air matanya yang jatuh dipipi. Senjata bagi wanita untuk meluluhkan kaum adam. Dan benar saja, Dilan kasihan pada Fara. Namun tidak mungkin untuk bersama wanita itu. Dia tidak mencintai Fara. Seumur hidup terlalu lama untuk dihabiskan dengan orang yang tidak kita cintai. Sepertinya, hanya ada satu cara yang akan membuat Fara berhenti mengharapkannya.
Dilan mengambil ponsel disakunya. Membuka sebuah foto lalu menunjukkan pada Fara. "Dia Sisi, anak yang dirawat diruangan tadi."
Fara memperhatikan foto gadis kecil yang sedang tersenyum sambil memeluk boneka. Apa maksud Dilan menunjukkan foto itu padanya? Dan siapa dia?
"Dia anakku."
Fara menutupi mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Kembali memperhatikan foto gadis kecil itu. Sekilas, wajahnya memang sangat mirip dengan Dilan. Tapi benarkah jika dia anak Dilan?
"Jangan becanda," Fara menatap Dilan. "Kalian memang tampak mirip, tapi bukan berarti kalian anak dan ayah." Fara tak mau percaya begitu saja.
Dilan mengambil kembali ponselnya yang ada pada Fara. Mencari sebuah foto lalu menunjukkan pada wanita itu.
Lutut Fara terasa lemas. Hampir saja dia jatuh kalau tak berpegangan pada dinding. Foto itu menunjukkan hasil tes DNA antara Dilan dan Sisi.
"Ini bohongkan, Dil? Kamu cuma pengen aku berhenti ngejar kamu dengan membuat hasil tes DNA palsu?"
Dilan menggeleng, "Dia memang putriku."
"Tapi bukannya ka_"
"Aku belum pernah menikah?" potong Dilan dan langsung diangguki oleh Fara. "Aku memang belum menikah, tapi aku adalah seorang ayah. Didalam sana, putriku tengah berjuang melawan leukemia." Mata Dilan mulai mengembun saat menjelaskannya. "Sekarang kamu tahukan, kenapa hubungan kita tak bisa dilanjutkan? Aku yakin, kamu juga tak akan mau menikahi pria yang sudah memiliki anak, apalagi kelak harus mengurus anak itu."
Fara terdiam, wajahnya terlihat pucat. Dia menyandarkan punggung didinding sambil memejamkan mata.
"Aku pergi dulu, Far. Permisi." Dilan meninggalkan Fara yang masih bergeming. Dia harus segera membeli makanan lalu kembali keruangan Sisi. Jangan sampai Sisi terbangun disaat dia tidak ada.
Fara mengambil ponsel didalam tas miliknya lalu menelepon Bu Retno. Tak butuh waktu lama, Bu Retno langsung menjawab panggilannya.
"Kenapa Tante gak jujur sama aku?" ucap Fara dengan suara bergetar.
"Jujur? Jujur soal apa?" tanya Bu Retno disebarang sana.
"Tentang Dilan yang sudah punya anak."
"A-anak?" Jelas saja Bu Retno kaget. "Maksud kamu apa? Dilan punya anak?"
"Tante gak usah bohong lagi," Fara tersenyum getir. "Dilan sudah cerita semuanya. Juga tentang anaknya yang bernama Sisi yang saat ini dirawat dirumah sakit."
Deg
Sisi? Bu Retno yang sedang berdiri langsung terduduk dikursi. Apakah ini Sisi keponakan Vani? Bodoh sekali dia. Harusnya dia sudah bisa menebak itu saat Vani bilang kalau dia adik Rani.
Jadi saat itu, Rani mengandung anak Dilan.
"Ngaku kamu Pah, kamu sudah tidur dengan wanita murahan itu."
"Aku bersumpah Mah, aku tidak pernah tidur dengannya."
"Bohong kamu, bohong."
Bu Retno teringat kembali pertengkarannya dengan Pak Salim 7 tahun yang lalu. Dia pikir, saat itu, Rani hamil anak suaminya.