sekuel dari novel KEPEDIHAN
Tere Anderson, adik sepupu dari Ziko Anderson, karena kekejamannya di masalalu, Tere dikirim ketempat terpencil, dimana tempat anak buah Ziko tinggal, dia diberi hukuman atas segala perbuatannya, Agar tidak pernah melakukan kekejaman dimasa yang akan datang, namun siapa sangka ditempat yang baru Tere di dampingi oleh pria yang selama ini menyiksanya, bahkan orang yang dengan tega menghancurkan hidupnya, namun karena kebencian dan ketakutan Tere padanya, Tere lebih memilih bungkam.
Jay Kusuma, dia sejujurnya sangat tidak suka diperintah untuk merubah perilaku Tere yang menurutnya tidak punya etika sama sekali, namun ketika Jay mengingat perbuatan Tere, dia bersemangat untuk memberi pelajaran pada wanita tidak punya sopan santun itu.
bagaimana kisah keduanya, yuk kita simak bersama
happy reading 💞💞💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia pakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS-34
Riska menyusuri trotoan jalan dengan sejuta luka yang kembali hadir dalam hidupnya, kenangan yang ingin iya kubur selama ini, namun setelah dipertemukan kembali dengan Dio Handoko, luka itu kembali terbuka, kenapa dunia sesepit ini, begitula pikir Riska, air mata perlahan mulai merembes membasahi pipinya, wanita itu tidak membiarkan air mata itu jatuh, setiap akan terjatuh, dia mengusap kasar dengan punggung tangannya.
"Aku belum siap memiliki anak, bisahkan kamu gugurkan saja bayi itu"
Perkataan itu kembali terngiang ditelinganya, Bagai tersambar petir siang bolong waktu itu, bagaimana mungkin, pria yang iya sayangi, cintai, begitu tega mengatakan semua itu, setelah sering menikmati tubuhnya.
Cinta apa yang Dio gadang-gadangkan waktu itu, dia akui, dirinya juga salah, karena menuruti keinginan bejat kekasihnya, namun siapa sangka, jika semua itu tidak berarti bagi pria itu, omongan manisnya ternyata hanya dibibir saja.
Tidak terasa Riska sudah memasuki gang sempit tempat iya tinggali selama ini, sudah hampir lima tahu wanita itu tinggal disana, dahulu iya tinggal dengan anak dan ibunya, akan tetapi, setiap mendengar perkataan tetangganya yang begitu pedas, Riska lebih setuju jika Anaknya tinggal dengan sang ibu dikampung, demi bisa menjaga mental sang anak, biarlah dia menahan rindu, asal anaknya baik dan bahagia dikampung sana, dan bisa menikmati masa kecilnya dengan indah, biarkan dia yang akan banting tulang mencari nafkah.
"Lihatlah jal*ng itu, baru pulang rupanya, memang ada kantor sampai jam 8malam begini." Sindir ibu-ibu yang sedang duduk berkumpul dihalaman rumah sebelah tempat Riska tinggal, bahkan mereka tidak sadar, jika merekalah yang kurang kerjaan, sehingga selalu mengurus hidup orang lain.
Riska yang mendengarnya pun tidak peduli, tanpa menyapa atau sekedar basa basinya saja dia enggan, akhinya dia lebih memilih masuk begitu saja,dan kembali menutup pintu sedikit keras, sehingga itu membuat tetangga semakin tidak suka, sungguh, ingin sekali Riska pergi dari sana, namun dia sadar, kontrakkan yang murah hanya disana, mau tidak mau dia harus bertahan, demi cukup memberika uang pada kelurganya, sejak ayahnya tiada, Riskalah yang menjadi tulung punggung keluarga, dia bersandar dibalik pintu, tidak lama tubuhnya lutuh kelantai, dai menumpahkan tangisannya disana. Bohong jika dia baik-baik saja setelah bertemu Dio, bahkan hatinya kembali rapuh.
"Bos Nona sudah sampai, tapi sepertinya tetangga sekitar tidak menyukai Nona," lapor mata-mata Dio yang sejak tadi membuntuti Tere.
"Bereskan mereka, jika perlu buat mereka minta maaf pada Nyonya," ya, Dio akan kembali membuat Riska bersamanya, apapun caranya.
"Emhh" suara serak dan erangan dari sebuah ranjang terdengan begitu indah, bukannya bangung, wanita itu justru malah semakin mengeratkan pelukannya pada sebuah guling, bahkan Tere menenggelamkan wajahnya disana, sudah lama dia tidak meraskaan nyamannya tidur di tempat tidur yang nyaman seperti ini, sejak beberapa bulan terakhir.
"Nyaman!" Tere langsung membuka matanya lebar-lebar ketika sekelebat dia mengingat sebuah kamar, bahkan wanita itu langsung terduduk, dia menatap sekeliling, dan benar sana, ini bukan kamarnya, "huwaaaaa....! Dimana ini, siapa yang sudah menculikku" teriak Tere tanpa sadar, bahkan dia tidak sadar siapa yang berada disampingnya, karena wanita itu asyik dengan keterkejutanya sendiri.
"Apa sudah drama dipagi harinya!"
Deg... suara itu sangat familiar untuk Tere.