NovelToon NovelToon
Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:301.6k
Nilai: 5
Nama Author: De Shandivara

Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.

Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.

Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.

Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.

Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.

Ikuti kisahnya sampai akhir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap

"Tidak nanti saja?" Tanya Mas Rezky yang berdiri di depanku, sedangkan aku tengah menyisir rambut di atas ranjang.

"Nanti kapan?" Sautku berbalik tanya.

"Kapan-kapan," timpalnya, lantas berhasil membuat suasana hatiku memburuk saat itu juga.

Nanti–jawaban yang tidak pasti dan itu adalah hal yang paling tidak kusuka. Jika ada kata 'nanti' itu berarti kita siap digantung sampai batas waktu yang tidak pernah ditentukan.

"Yakin, mau sekarang? Kamu belum pulih," ujar Mas Rezky yang kini berjongkok di depanku. Meraih tanganku yang berada di pangkuan, lalu dia menempelkan dagunya pada lututku.

"Bukan maksudku membuatmu sedih seperti itu, tapi kondisimu belum pulih benar, Yang," ucapnya. Namun, melihat dia yang bersikap seperti itu seakan sedang mengulur waktu supaya aku tidak pernah bertemu dengan Savana.

Alhasil, aku hanya bisa menangis.

"Mas sengaja, kan, supaya aku tidak pernah menemui wanita itu?" Ujarku seraya mengusap air mataku.

"Bukan, bukan seperti itu." Lantas, dia mengembuskan napasnya keras.

"Baiklah, ayo kita pergi," ucapnya pasrah, lalu berjalan ke rak sepatu untuk mengambilkan sepasang sepatu flat-ku.

Kondisiku sudah membaik. Sesuai permintaanku, malam ini Mas Rezky akan membawaku bertemu dengan Savana yang sampai saat ini kucurigai sebagai selingkuhannya.

Dia memakaikan sepatu di kedua kakiku karena aku belum bisa menatap ke bawah terlalu lama atau akan merasakan pusing tujuh keliling karena anemia akutku.

Selesai memakaikan sepatu, dia berdiri dan membuka kedua tangannya untuk dijadikan peganganku.

"Sudah siap?" Tanya dia. Aku mengangguk, lalu kami berjalan pelan menuju mobilnya.

Malam ini, kami akan bertemu di restoran tempat yang telah disediakan Mas Rezky untuk bertemu dengan Savana.

Sesampainya di parkiran hotel berbintang lima, saat menaiki beberapa anak tangga di depan restoran itu, sejenak membuatku seperti hilang keseimbangan. Hanya karena mengangkat satu per satu kakiku saja sepertinya tidak mampu, jika saja Mas Rezky tidak merangkul bahuku, sudah dipastikan aku akan jatuh kejengkang.

"Kamu belum sehat," ujar Mas Rezky saat tangan-tanganku mencengkeram kemejanya. Berharap, jangan sampai jatuh.

"Gapapa, kalau besok belum tentu kamu bisa. Mungkin saja ada lembur dan sebagainya," ujarku. Di kepalaku sepertinya hanya ada buruk sangka tentangnya. Sebenarnya aku memang belum sepenuhnya pulih, tetapi memaksakan diri untuk pergi selagi Mas Rezky ada waktu luang. Jadi, tekadku bulat dan tidak dapat diganggu gugat untuk malam ini.

Sangat pelan kami berjalan, untunglah dia mau bersabar. Sampai di meja yang telah direservasi sebelumnya atas nama Rezky, kami dibantu resepsionis menuju meja nomor 15 itu.

Namun, satu hal yang membuatku tersentak ialah saat melihat dari kejauhan, terdapat sosok wanita yang sudah duduk dengan posisi menyamping. Dia adalah Donna yang sangat kukenal, bahkan sebelum aku melihat wajahnya.

"Dia Savana," ujar Mas Rezky saat aku menatapnya dengan wajah berkerut-kerut.

Donna yang semula menatap jendela, terkejut dengan kedatangan kami. "Oh, sudah sampai? Hai, Sya, Pak Rezky," sapa Donna yang berdiri dan membungkukkan sedikit badannya.

Tatapanku menyipit pada sosok Savana yang ternyata memang benar dia adalah Donna–si dokter muda.

"Kamu apa kabar, Sya? Kata Pak Rezky, kamu ingin bertemu denganku, ada apa? Oh ya, aku malah baru tahu kemarin pas dinner kalau kamu itu istrinya Pak Rezky," kata Donna yang seramah itu.

Tidak segera menjawab, Donna menyenggol lengangku yang duduk di sampingnya, "hei, Pak Rezky dulu kakak kelas kita, ya? Aku semula tidak percaya jika dia ternyata 2 tingkat di atas kita dan dari sekolah yang sama. Hebatnya lagi, sekarang dia jadi suamimu, hihihi," ujar Donna berbisik padaku. Donna memang seperti itu, dia tidak pernah kehabisan topik pembahasan untuk membuatnya diam. Selagi lawan bicaranya belum merespons, dia yang akan mengambil alih semua obrolan.

Mas Rezky menoel pipiku, "itu Savana, kamu boleh bertanya apapun pada dokter Savana alias dokter Donna itu," kata Mas Rezky mengarahkan dagunya ke Donna.

"Hehehe," aku meringis kikuk.

Mau bertanya apa coba? Malu jika ketahuan mencurigai suami yang selingkuh, sedangkan orang yang kucurigai adalah temanku sendiri. Pasti Donna akan menertawakanku, mengataiku posesif, atau apalah itu.

"Iya, Sya. Kamu mau tanya apa sama aku?" Tanya Donna setelah menyesap minumannya, kemudian dia menekuk kedua tangannya di atas meja; menatapku fokus.

"Nggak, kok, Na. Aku cuma mau tanya, kamu ada pekerjaan apa sama Mas Rezky?" Tanyaku pada Donna dengan serius, tapi dengan ekspresi setenang mungkin.

"Sama Pak Rezky, aku hanya pernah jadi volunteer penyuluh kesehatan remaja aja di yayasan panti asuhan. Kebetulan, Pak Rezky jadi koordinatornya, kenapa memangnya?"

"Kamu yang bernama Savana itu?" Tanyaku lagi.

"Hem, iya, memang aku mengenalkan namaku ke semua orang dengan nama Savana, hanya kamu dan orang terdekatku saja yang panggil aku Donna. Kamu lupa?" Kata Donna.

Aku mengangguk, menyetujui jawabannya. Hanya akulah dan segelintir orang terdekat yang memanggil perempuan itu dengan sapaan 'Donna', itu nama kecilnya, sedangkan orang-orang lebih banyak mengenal dia dengan nama depannya, Savana dari asal Savanina.

"Oh, kalau boleh kutahu, kenapa hari itu kamu mengirim pesan pada Mas Rezky untuk jangan datang ke rumahmu? Memangnya untuk apa suamiku datang ke rumahmu?" Tanyaku pada Donna. Kulihat ekspresinya aneh, dia menyipitkan mata dan merapatkan bibirnya.

"Hem, kapan itu?" Tanya Donna padaku dan Mas Rezky.

"Saat hari pertama pembukaan yayasan itu, pemeriksaan gizi anak dan penyuluhan kesehatan oleh tim dokter," jelas Mas Rezky.

"Oh itu, ya, ya, saya ingat!" Donna membulatkan mulutnya untuk menyahuti suamiku.

Donna mendekatkan wajahnya padaku, "kamu tidak sedang mencurigai suamimu selingkuh denganku, kan?" Kata Donna berbisik di dekat telingaku.

Sontak, aku melotot dan menggeleng pelan. Namun, sepertinya Donna tidak percaya.

"Okey, fine! Mari kita luruskan kesalahpahaman ini. Jadi, seperti ini. Saat itu, menjelang hari pembukaan yayasan panti asuhan dan klinik pusat kesehatan di daerah Bandung. Aku, suamimu, beserta tim yang tergabung menjadikan rumahku sebagai tempat penginapan karena rumahku yang besar dan cukup untuk menampung banyak orang, elah, sombong banget gua," ucap Donna mulai menjelaskan kronologinya.

"Nah, pas di hari-H itu kita telat. Harusnya sudah berangkat dari dini hari karena di rundown, acara harusnya udah mulai tepat jam 7. Nah, masalahnya ada di Pak Rezky, nih, selaku koordinator acara. Bapak koordinator yang terhormat ini malah ngilang tanpa kabar dan gak bisa dihubungin. Kamu tahu nggak, dia datang hampir jam 10-an. Waduh, molor banget kan, tuh, acara?!" Cerita Donna dengan semangat, sekaligus menggibah di depan orangnya.

"Belum lagi nih, ya, semua perlengkapan seperti x-banner penyuluhan dan peralatan kesehatan masih ngumpul di rumah gue. Mana besoknya juga ada serentetan acara lainnya juga, kalau satu acara mulur semuanya juga jadi mulur, kan?" Jelas Donna yang berapi-api. Dia menjeda ceritanya untuk menguyur sejenak tenggorokannya dengan minuman berwarna cokelat muda itu.

"Terus, ya, okey, lanjut, ya? Sekalian juga aku ngungkapin rasa kesal yang terpendam buat Pak Rezky yang belum sempat terluapkan," cicit Donna dan membuat kami tertawa.

"Nah, terus, kan yang punya mobil dengan bagasi luas itu Pak Rezky, jadi, aku yang kesal aja gitu. Kok, ya, ada koordinator yang lalai sama tugasnya sampai telat berjam-jam, padahal beliau sendiri yang susun acaranya harus begini dan begitu. Kamu kesel gak, sih, ngadepin orang seperti itu?" Ucap Donna sekaligus mencibir Mas Rezky tanpa ampun.

Aku merengutkan bibirku dan mengangguk setuju.

"Haih, aduh. Maaf, nih, Pak. Bukan maksud saya mengadu domba kalian, tapi Daisya sendiri yang mengangguk, bukan salahku. Gak ikut campur deh, aku dengan rumah tangga kalian," celoteh Donna.

"Nah, gitu deh ceritanya. Intinya, salah suami kamu yang datang terlambat di acara yang beliau susun sendiri," akhir penjelasan Donna.

"Ya, seperti ceritanya itu. Apa kamu sudah merasa puas? Lega? Plong, gitu?" Tanya Mas Rezky kepadaku.

"Sudah, terima kasih, ya?" Ucapku mengelus tangan Donna dan suamiku.

"Jadi, ceritanya lagi ada yang cemburu nih, yee?" Donna mengolokku.

"Gak, memvalidasi saja kalau suamiku beneran setia, hehe," jawabku.

"Validasi, kata kamu? Data kali, ah, butuh validasi segala," cibir Donna padaku.

"Tapi, Pak Rezky. Apa bapak gak curiga kalau istri sensitif begini tuh, biasanya tanda-tanda lagi ada isinya alias hamil. Hormonnya lagi naik, jadinya sensitif," ujar Donna pura-pura berbisik pada Mas Rezky, sengaja dengan suara keras supaya aku bisa mendengarnya juga.

"Aku rasa juga seperti itu, besok kita ke dokter, ya?" Mas Rezky menggenggam tanganku.

"Fiuh... Bisa gak, mesra-mesranya gak di depan jomlo juga? Ada perasaan yang tersiksa, nih, iri tahu, gak?" Cerocos Donna yang melihat Mas Rezky merapikan anak rambutku yang berantakan di pipi.

"Sudah, ya, kalau sudah selesai validasinya, saya permisi. Belum pulang ke rumah dari koas tadi," ujar Donna sambil menata tasnya dan berpamit pergi.

"Oh, ya, Pak Rezky. Saya harap, setelah saya bersikap kurang ajar seperti tadi, lantas jangan marah pada saya, ya. Saya juga ingin ikut kegiatan volunteer lainnya dari event amal perusahaan itu," kata Donna sebelum pergi.

"Nanti akan saya blacklist sekalian siapapun yang calon volunteer yang bernama Savana," ujar Mas Rezky yang berhasil membuat kami tertawa. Ternyata pandai bergurau juga walau sedikit saja.

Tinggalah kami berdua, sejenak saling diam, "aku bersumpah, hanya ada kamu satu-satunya wanita yang menjadi istriku yang sah secara hukum dan agama," ucapnya seraya menggenggam tanganku.

"Aku sekarang percaya, Mas. Namun dalam prinsip hidupku, jika terjadi perselingkuhan, itu artinya pernikahan kita berakhir juga. Dan akulah orang pertama yang akan berpamit pergi," ucapku.

"Deal! Aku janji, itu tidak akan terjadi!"

Oh, jadi seperti itu ceritanya~

1
Lienda nasution
tetap aja gak baik kalau ada kdrt di dalam kelg
Wisteria
ruet seng noles ruet
Lienda nasution
bosan bacanya masalahnya itu itu saja kok ya ada wanita jaman sekarang kok kdrt bisa berulang ulang
Lienda nasution
bodoh kalau sdh kdrt tinggalkan saja kalau masih ttap bertahan sama dgn menyerahkan diri utk dibunuh pelan pelan
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Marcel Alan Junio
cuma 1 kata untukmu daisya, bego, bego, bego
Evy
Daiysa egois banget ya... tidak apa2 jika sesekali anaknya nginap dirumah nenek dan kakek kandung nya.apalagi anaknya itu keturunan satu2nya...
Susi Yanti
bagaimana dgn Andra dong ?
Haeriyah
cerita nya seperti puisi
Astrid Gita
klo b*gonya terus²an jd males nerusin ini sih
Astrid Gita
lah wanita kok bodoh. padahal miskin bukan alasan menjadikan wanita jd bodoh.
Elma Hilma
👍
Iyah Comel
🥰🥰🥰🥰🥰
Iyah Comel
Bagus banget ceritanya😍🥰
hello shandi: Terima kasih, kak. Berhasil bikin nangis nggak? Berapa kali?
total 1 replies
Iyah Comel
sifat suka berprasangka buruknya di berubah dari masih SM almarhum suaminya sampai menikah lgi
Iyah Comel
habis nangis terbitlah ngakak pas baca "Bunda bertelur".
Iyah Comel
ada rasa kurang puas dengan ending ceritanya😭🥺
Noni Noni
makin heran ku..
Sulis Styaningsih
klo Menurut ku danisa wajar sj bersikap begitu terhadap clianta toh selama ini clianta TDK terlantar,danisa pnh tanggung jawab mengurus dgn baik..mantan mertuanya TDK berhak memaksakan kehendak..
Nur Siti
inilah ibu mertua bijak..tidak mau menambah masalah .dan ...tidak.mau menyalahkan..salah sstunya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!