📌 Ambil hikmahnya jika ada... Tidak pun, jangan ditiru perilaku yang tidak baik dan melanggar norma...
Satu malam panjang, membawa Elea si gadis 18 tahun kepada hubungan yang tidak sama sekali dia sangkakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 [Older Brother]
"Dari mantan suami mu?"
Secara impulsif Elea meletakkan boneka sepasang tikus berpayung merah itu di atas tumpukan kado yang dia dapatkan.
"Emmm..."
"Kau masih mencintainya?" Glans mendekati perlahan. Tatapan intimidasi membuat Elea meneguk salivanya secara telak. "T-tidak."
Glans mengalihkan maniknya, menatap sepasang tikus tersebut. Jika dilihat lagi, boneka itu bukan boneka baru. "Kau hanya membuka satu kado, dan itu dari mantan suami mu."
"Aku hanya penasaran." Elea menunduk, lalu mengangkat kembali pandangannya setelah cukup berani menghela napasnya.
"Jangan lupa, dia yang menipu mu Elea." Jari jari Glans bermain-main di wajah cantik Elea yang hanya bergeming menatapnya.
"Kenapa selalu tidak mau aku sentuh?" Dari sekian banyak pertanyaan yang bejubel di dalam otaknya, Elea memilih mengeluarkan tanya itu. "Kau tidak tertarik padaku?"
"Kau bercanda?" Glans menukik tajam alisnya yang tebal. "Apa ada laki-laki yang tidak tertarik dengan wanita cantik seperti mu?"
"Lalu?" Elea benar-benar dibuat bingung, terkadang Glans begitu hangat, tapi lebih banyak dinginnya. "Kau terus menolak ku."
"Justru karena aku sangat mencintaimu, aku tidak mau melakukannya, aku takut kau trauma," sela Glans. Tiba-tiba saja wajahnya berubah kaku.
"Kau punya wanita lain di luar sana?"
Glans menggeleng pelan. "Kau lihat sendiri aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku. Wanita lain, yang benar saja," tepisnya.
"Kalau begitu. Buat aku melupakannya sepenuhnya, Glans. Buat aku lupa akan kenangan manis bersama pria brengsek itu."
Elea menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapan Glans, dengan harapan yang membumbung tinggi; akan bisa utuh menjadi miliknya.
Kemarin Glans terus menepikan pandangannya, untuk kali ini, Elea bisa melihat tatapan teduh Glans tampak seperti singa lapar.
"Kau yakin, Elea?" Secara pasti Elea mengangguk mengiyakan. Biar saja hilang semua rasanya terhadap Ezra dan beralih pada suami yang nyaris sempurna itu.
"Uhuk-uhuk..." Sontak Elea terbatuk-batuk, barusan hentakan tangan besar mendarat di leher jenjangnya. "Omh!" Matanya pun sedikit melotot.
"Kau perlu tahu. Kalau Aku tidak seperti yang lainnya, Elea. Aku punya keinginan sendiri untuk menikmati mu."
Glans meremas kuat pinggang ramping Elea sedang satu tangannya lagi masih berasa di leher wanita yang tampak ketakutan.
"M-maksud Om?"
"Kau akan melihatnya malam ini juga. Kau sendiri yang memintanya, Elea."
,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.
...,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,....
^^^,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,.^^^
Ezra terkulai lemas di atas ranjang berukuran super king, ruang di dada dan otaknya hanya dipenuhi oleh wajah masa lalu yang dia pandangi beberapa jam lampau. Meski sudah memiliki satu anak darinya, wajah Elea masih sama menggemaskannya.
Bagian paling mengenaskan adalah, hati Ezra masih sangat terpaut pada wanita yang bukan lagi miliknya. Sedang di luar sana banyak gadis yang meminta gilirannya.
Mungkin, di villa Elea tengah menikmati malam panas bersama Glans. Tak kuat kalau harus dibayangkan, tapi tanpa diminta terus terlintas pikiran kotornya.
Langit-langit kamar yang ia pandangi tak pula memberinya ketenangan. Semakin ia menatapnya kian menggila pikiran buruknya terhadap Elea.
Ezra mendengus kasar. Desah dan gerakan yang dia candui kini sudah menjadi milik Glans seutuhnya.
Ketukan pintu yang teramat runtut lumayan menyentaknya. "Tuan muda!" Mendengar itu, remasan tangan di rambutnya Ezra lepaskan, lantas bangkit untuk melihat siapa orang yang berani mengganggu istirahatnya.
Di balik pintu, Galaxy dan Babysitter-nya membuat mata Ezra membulat sempurna. Setahunya Galaxy bersama Elea malam ini, lalu kenapa tiba-tiba muncul di rumahnya.
"Maaf Den Tuan muda. Aden kecil nangis terus. Mungkin kangen Mamanya. Bisa tidak, antar kami pulang ke villa?" Mei bertanya.
"Mami Papi ke mana?" Sudah jelas Cheryl dan Badai lah yang membawa Galaxy ke sini.
"Tadinya Den Galaxy mau dibawa ke rumah utama. Tapi Tuan Dhyrga mendadak sakit, sekarang mereka besuk ke rumah sakit. Jadi tadi Nyonya nitipin Aden kecil ke Tuan muda."
Ezra mendengus pelan. Mengantar ke villa? Dan dia harus bertemu dengan Elea juga Glans begitu? Ezra tak mungkin sebodoh itu.
Meski rikuh dan tak terbiasa bercampur aneh juga tiba-tiba memiliki seorang bocah, Ezra tetap mengukuhkan diri untuk mengambil alih putranya dari gendongan Mei.
Kemudian membiarkan Babysitter Galaxy membuatkan susu formula di lantai bawah. Sedang dirinya masuk ke dalam kamar mandi, barusan dia merokok, mulutnya harus steril sebelum menciumi Galaxy.
Di sela-sela langkahnya merutuk. Ezra yakin Elea sengaja menitipkan Galaxy agar bisa bebas bermalam di villa bersama Glans.
Lihatlah, sekarang Ezra yang harus mengurus putranya setelah ada laki-laki baru. "Mana yang katanya sangat mencintai mu?" Ezra menggerutu. "Kau tunggu di situ kawan."
Galaxy terdiam, didudukan di atas wastafel, dan manik birunya menatap serius gerakan tangan sang ayah yang baru saja menuang pasta gigi pada permukaan sikatnya.
"Kau mau juga hmm?" Ezra merasa Galaxy iri padanya. "By the way... Berapa kali dia memberi mu ciuman?" Melihat bibir merona putranya Ezra justru berpikir ke arah sana.
"Aku setuju, kalau kau sebut dia sangat lembut. Kau tahu, aku yang pertama kali memilikinya." Ezra terkekeh setelah sadar dirinya seperti kurang waras. "Cepat bisa bicaralah, supaya aku tidak mengobrol sendiri kawan."
Lagi, Ezra tertawa mendapat sahutan gelak menggemaskan dari Galaxy. "Anak pintar, kau pasti menuruni kecerdasan keluarga genius kami," kelakarnya.
Kembali Ezra menyikat giginya. Meski dalam keadaan bergumam tak jelas dan dipenuhi busa di mulut, Galaxy tampak menikmati curhatan ayahnya.
"Kau tahu, Elea ibu mu, wanita terbodoh sedunia. Dia menolak ku dan menikah dengan tua bangka." Ezra memutar bola mata saat Galaxy menggeleng. "Yah aku setuju, ayah tiri mu tidak terlalu tua, tapi tetap lebih tampan Papa..."
Sejenak Ezra terpaku. Dia berpikir sepertinya tidak cocok panggilan Papa. "Panggil aku Older Brother saja, Bung."
Galaxy selalu tertawa semenjak diambil alih ayahnya. "Apa kau senang bersama ku?" Selesai menyikat gigi, kembali Ezra meraih Galaxy.
"Baiklah kita ke luar... Kita sepakat untuk berkencan di balkon. Mungkin, di sana lebih romantis bukan?" gumamnya.
Sampai di balkon kamarnya, Ezra meletakkan Galaxy di atas ayunan rotan milik Elea. "Benar, di sini kau dibuat, Sayang."
Kendati Galaxy hanya bisa tertawa, dan menyemburkan saliva padanya, Ezra yakin balita mungilnya tahu yang dia bicarakan.
"Kita sepakat, kita bukan anak dan ayah, tapi kawan... kita teman baik, right?" Ezra duduk di sisi Galaxy, keduanya sama-sama menatap langit gelap pekat di atas sana.
Tiba-tiba, angin malam membawa suasana yang teduh. Ezra juga sempat kembali ke kamar demi meraih selimut tebal untuk dililitkan pada putranya.
Lagi-lagi, mereka sama-sama mengarahkan tatapan pada langit yang hitam dan ditaburi bintang-bintang serta separuh rembulan.
"Kau tahu, Galaxy..., dulu, aku sering kesal karena Papi hanya menemui ku di hari Minggu saja... Mami juga sama. Mereka sibuk dengan masing-masing kesuksesannya."
"Bagian menyebalkan nya adalah. Aku hanya diperbolehkan bermain dengan teman-teman bayaran seperti Dipa dan Ken." Ezra mendadak melankolis.
Dipa dan Ken memang sudah disewa sedari masih anak-anak, Cheryl dan Badai akan membayar mereka jika dirinya ingin bermain bersama anak laki-laki sepantaran nya.
Dari semenjak itu, Ezra sangat menyayangi Rigie, satu-satunya teman yang berani datang ke rumahnya meski awalnya Badai dan Cheryl terus menolak kedatangannya.
Dulu, alasan keluarga Cheryl sama, takut jika salah satu dari teman Ezra ada anak dari antek-antek suruhan Gustav kakeknya yang sangat membenci dirinya.
"Aku sadar sekarang, tidak ada yang pernah mau berteman dengan ku. Semua yang ku miliki sedari masih kecil, mereka semua orang yang dibayar Papi Mami ku," lirihnya.
Sekilas ia tersenyum getir. "Bukankah itu menyedihkan?"
Galaxy yang semula selalu tertawa menjadi diam seolah tertular sendu dari raut dan bahasa tubuh ayahnya.
"Tapi meskipun Ken dan Dipa teman bayaran, mereka sangat setia, aku menyayangi mereka, kau tahu. Kami sudah seperti saudara."
Dari kata Ezra, ia ingin menyampaikan bahwa awal mula dia membayar Elea, tapi bukan berarti dia tidak boleh menyayanginya. Di dunia ini, Elea orang yang paling Ezra ingini.
"Aku benci kesuksesan ibu mu, kau paham. Karena saat dia memiliki segalanya, aku tidak berarti apa-apa baginya."
Bertopang pada lengan kekar Ezra, Galaxy merambat berdiri, lalu menyeka air di pipi jambang tipis ayahnya. "Ini air hujan. Bukan air mata ku, kau dengar." Galaxy tergelak.
"Laki-laki pantang menangis. Kau tahu, aku tidak pernah menangisi siapapun. Bahkan saat Papi ku tak menganggap ku, aku tidak sesakit ini." Ezra mendekap erat tubuh mungil itu. Tergugu-gugu dirinya dengan sisa sesak di dada yang dia keluarkan seluruhnya.
Ezra terkekeh sembari mengurai jarak mereka. Lantas menciumi seluruh bagian wajah Galaxy-nya. "Jadilah anak yang penurut, Brother. Aku, harus ke London. Dan kau perlu tahu, dari semua keluarga ku, hanya aku yang lulusan S1," jelasnya.
Sedari tadi senyum dan gelak tawa Galaxy, menjadi penyembuh baginya. Pantas, jika Elea mendapatkan kekuatan dari bocah kecil yang mirip dengannya ini.