Azella Belva atau akrab disapa Zee adalah seorang DJ bertubuh seksi yang dengan sukarela menikahi pria lansia berusia 70 tahun.
Gillberto Maddison, seorang casanova berparas tampan yang kembali dari Italia setelah mendapat kabar bahwa sang ayah jatuh sakit. Namun, Gill justru dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang pernah ia tiduri. Parahnya, gadis itu kini menjadi ibu tirinya.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Akankah keduanya saling menerima takdir sebagai ibu dan anak tiri? Atau justru melawan takdir dengan menjalin hubungan terlarang?
Jangan lupa kepo'in IG author @Oniya_99
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oniya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 ~ R.I.P Maddison Pharverz
"Apa? Katakan dengan jelas! Papaku baik-baik saja, kan?!" bentak Gill tak sabaran.
"Paman Dison ... Paman Dison ... Lebih baik kau datanglah ke rumah sakit secepatnya, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang."
"Sial!" umpat Gill langsung memutuskan panggillan sepihak, kemudian melesat pergi melarikan diri setelah selesai mengenakkan pakaiannya. Gill pergi tanpa menoleh pada Zee yang masih nyenyak terlelap karena kelelahan.
***
Sampai di rumah sakit Gill langsung melesat berlari menuju ruangan Dison, papanya. Begitu sampai, Gill menghentikan langkah saat melihat ada banyak polisi. Gill melangkah gontai saat melihat ruangan sang papa telah dilingkari oleh garis polisi berwarna kuning.
Langkah gontai Gill kembali berhenti saat sudah berdiri tepat di depan ruangan tempat di mana papanya dirawat.
Melihat kedatangan sang sahabat, dokter Kelvin yang tengah berbincang dengan kepala polisi segera menghampiri Gill. "Gill, Paman Dison ... Masuk dan lihatlah, aku tidak bisa mengatakannya," kata dokter Kelvin dengan mata bengkaknya.
Gill menelan saliva, mengangkat salah satu tangan, memutar ganggang pintu hingga akhirnya pintu pun terbuka dan tampaklah ceceran darah yang mengental di lantai. Gill mengangkat wajah mengikuti ceceran darah, dan betapa syoknya ia salah melihat sang ayah telah tergeletak di atas lantai dengan berlumur darah. Tak jauh dari tempat Dison tergeletak, tampak sebuah pisau yang juga berlumuran darah.
Melihat keadaan tragis sang papa di depan mata, napas Gill seakan terhenti, suhu tubuhnya terasa dingin dan panas di saat yang bersamaan, kaki Gill terasa lemas hingga akhirnya ia terjatuh ke lantai karena sendinya sudah tak sanggup menopang tubuh lemahnya.
"Kau sering berkata ingin papamu mati, sekarang kau pasti senang'kan?" tanya Dokter Kelvin yang melangkah masuk bersama dengan beberapa polisi yang mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Sementara Gill yang syok berat, tampak mematung tanpa bergerak sedikit pun, hanya air mata yang terus mengalir deras yang menjadi bukti betapa menyesalnya ia saat ini.
***
Di pemakaman.
"Ampuni Gill, Pa. Gill tidak serius ingin papa mati. Kembalilah, jangan tinggalkan Gill..." ucap Gill dalam hati. Dengan penuh sesal ia bersimpuh di tanah makam Dison yang masih basah
Ya, Dison memang telah tiada. Ia meninggal dunia karena dibunuh. Dan kabarnya polisi telah menemukan tersangka pelaku. Dari rekaman cctv rumah sakit, juga dari sidik jari yang ada di pisau yang tergeletak tak jauh dari tempat Dison ditemukan tak bernyawa.
Kejadian tragis itu terjadi tanpa diduga-duga, bahkan Gill sendiri tak menduga bahwa perdebatannya dengan sang papa di rumah sakit adalah perdebatan terakhir. Sungguh Gill sangat menyesal telah meninggal sang papa sendiri hanya demi melepas nafsunya terhadap Zee, yang tak lain adalah ibu tirinya.
Siapa pelaku yang telah tega membunuh papanya? Untuk sementara waktu Gill tak peduli karena masih tak percaya bahwa sang papa telah pergi begitu cepat meninggalkannya sendiri. Sesal yang begitu dalam kini ia pikul. Andai waktu bisa diulang, maka Gill tak akan mengulang kesalahan yang sama. Jika kepergian sang papa hanya mimpi buruknya, maka saat bangun Gill berjanji akan menganggap Zee sebagai ibu tiri yang sesungguhnya.
Tapi sayang, apa yang terjadi bukan mimpi buruknya, melainkan kejadian yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Gill telah kehilangan sang papa karena keegoisannya sendiri. Ia sangat menyesal seumur hidup.
"Kita pulang sekarang, biarkan papamu beristirahat dengan tenang," ajak dokter Kelvin pada sang sahabat, tapi Gill langsung menepisnya. Dokter Kelvin menghela napas berat.
"Ya sudah, aku tunggu di mobil. Sebentar lagi hujan, cepatlah kembali," kata dokter Kelvin meninggalkan Gill yang masih betah memeluk peristirahatan terakhir Dison, papanya tercinta.
luar biasa..!!!
suka banget sama cerita yg ini..
ada humornya tapi ada misterinya juga..
pokoknya the best lah😘😘😘
sehat2 terus ya kak..
tetap semangat untuk terus berkarya.. 😍🥰🤩😘
btw, skr lanjut berkarya dimana kak?
udah g ada novel baru lg..