Bagaimana Alexandra Eyckerman Wiyana/Alexa tidak pusing tujuh keliling! Papanya sakit & harus menggantikan menjadi CEO WIYANA CORPORATION dan mencari 750 M dalam waktu sebulan!
Bos tertinggi ALVERO CORPORATION menawarkan investasi menggiurkan & sebagai gantinya agar perusahaannya tidak raib harus menikah & membuat putera tunggalnya, JORDAN ALVERO atau Jordy jatuh cinta padanya! Dia telah memiliki kekasih, model & artis terkenal tanah air, Elena Ariana. "Aku tidak bisa mencintaimu!" sahut Jordy. Tantangan datang dari rival-rival cintanya yang menantang duel. Dan 'cinta tak berbalas' dari seorang pria dari masa lalunya, William, datang menghampirinya!
Bisakah dia menyelesaikan duel dengan sempurna? Apakah panah cupid akan memanah mereka bedua?
Konspirasi bisnis & cinta mewarnai perjalanan kedua pewaris tunggal perusahaan raksasa tersebut. Antara tugas & cinta manakah yang mereka pilih! Ikuti kisah mereka. Jangan lupa like, komen dan Vote! Don't miss it 'coz you will gonna love them!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kehormatan mu, harga diriku!
"Oh ya, maksudnya, yang pantas untuk Kak Jordy itu lo!?" sahut Alexa sambil menekan dada Lorena dengan jari telunjuk. "Coba aja tanya, apa dia suka sama lo, kalo iya suka gue juga gak bisa berbuat apa-apa! Bukannya lo pacaran sama temennya kak Jo, kesian banget dong dia cuma jadi batu loncatan, bukannya lo udah tidur ama dia, trus pengen laki orang, mana yang lebih murahan lo apa gue?" hardik Alexa sengit dengan kontrol emosi yang stabil.
Wanita yang dihardiknya merah padam. Alexa berhasil melucuti niatnya terpendam dengan mendekati Sam. Seakan gadis yang dipermalukannya memiliki indera keenam.
Dia melihat Jordy dan Sammy yang menatap nyalang ke arahnya, berdiri di samping dirinya dan Alexa. Melihat temannya dikeroyok seperti itu, lantas Carlos, cowok brazilian itu berdiri menyela. Dia paham apa yang terjadi.
"Perkenalkan, namaku Carlos dan Alexa adalah temanku! Sudah dua tahun kami tidak bersua. Memang kami memeluknya sebagai tanda persahabatan tidak ada maksud lain dan salam itu sudah lumrah di negara kami dan kami mohon maaf kalo menurut kalian hal itu aneh dan tak pantas," sahut Carlos dengan tulus. Lantas teman yang bernama Greg pun menyela dan berdiri di samping Carlos dalam bahasa Inggris.
"Alexa tidak berbuat aneh, perempuan ini tiba-tiba datang dan menghardik teman kami!" sahut Greg membela gadis itu dan menatap sinis pada Lorena dan genknya. Kedua kawannya yang lain dan sedari tadi diam lantas berdiri berjejer di samping Carlos dan Greg. Pria ini sebelumnya berbisik pada keduanya apa yang didengarnya.
"Betul apa yang dikatakan kedua teman kami ini. Kami dan Alexa satu klub surfing di tempat asal kami, kami akrab satu sama lain seperti saudara. Perempuan ini menghina teman kami murahan dan kata-kata tidak pantas lainnya! Saya mengerti bahasa negara kalian cukup lancar," sahut Liam dalam bahasa Indonesia cukup pasif.
"Oh ya, kalo kalian memang berteman apa buktinya? Biasanya teman klub ada member card atau semacamnya! Atau kesamaan di antara kalian? Kita semua tau kalo kalian peserta surfing tapi gadis itu apa bisa surfing!? Cih, paling bisanya berenang di kolam pribadi mandi susu atau salon kecantikan!" jawabnya sinis sambil menatap keempatnya yang berkulit gelap karena terbakar matahari dan membandingkan kulit perempuan yang dibencinya putih mulus bagai pualam. Lorena sudah kadung malu makanya terus cari gara-gara.
"Gini aja, gimana kalo kita minta Alexa untuk surfing besok pagi mumpung para peserta kejuaran pada rehat. Asal bisa mengambang di atas board aja udah lumayan membuktikan kalo kalian berlima memang satu klub, gimana!?" tantang Sammy berusaha menengahi yang sedari tadi diam nenyimak.
"Bagaimana menurutmu, Alexa, apa kamu mau menerima tantangan itu, terserah padamu. Ini untuk menghindari fitnah yang tak sedap," sahut Liam menambahkan sambil menghadap pada gadis yang berdiri di belakangnya diikuti sikap ketiga kawannya dan tatapan yang hadir di situ. Jordy hanya terpaku memandangi wajah isterinya yang masih merah padam menahan marah.
"Baiklah, aku terima tantangan, tapi ada satu syarat, perempuan lancang itu harus minta maaf pada kita atas penghinaannya!" jawab Alexa dengan lantang sambil dagunya mengarah pada Lorena yang masih terdiam. Dan tantangannya disambut tepuk tangan meriah oleh yang hadir menyaksikan perseteruan mereka.
"Oh ya soal baju, kita bisa membelinya, sepertinya banyak sekali toko perlengkapan surfing yang masih buka! Untuk boardnya kamu bisa memakai salah satu dari kami. Kita bisa menyetelnya besok pagi jam enam dan jam tujuh kita bisa meluncur. Mumpung pagi dan ombak sangat bagus," sahut Evan berambut gelap dan panjang yang sejak tadi diam dalam bahasa inggris.
Lantas keempatnya mengajak gadis itu pergi diikuti oleh Devan, Rey dan pasangan mereka sambil menawarkan bantuan menjadi pemandu. Farrel dan Ivan menarik Jordy keluar dari kerumunan.
Dari kejauhan tampak dua orang sedang bertengkar, Sammy dan Lorena. Si pria tampak menampar perempuan itu dengan keras dan meninggalkannya yang terduduk di atas pasir putih sambil memegang pipi.
Tak berapa lama setelah Farrel, Ivan dan Jordy menjauh dari kerumunan.
Bbbbuuuuggghhhh ......
Tiba-tiba Ivan menonjok kencang rahang pria itu dan Jordy kaget setengah mati tak siap menerima pukulan. Tubuhnya terjerembab ke pasir empuk. Sudut bibirnya berdarah. Dia berbalik melihat Ivan dalam posisi dirinya terjatuh. Ivan tidak memberikannya kesempatan untuk melawan, dia mencengkeram baju Jordy dan menonjok sekali lagi.
"Berengsek lo, Jo! Lo marah sama gue karena ngebantuin bini lo tapi lo gak marah dan ngebela saat dia dipermalukan orang lain! Walaupun lo gak ada perasaan apa-apa sama dia, gak sepantasnya lo ngantepin dia diantara orang tak dikenal. Gimana coba kalo yang nyamperin beneran orang jahat, nyeret dia ke tempat sepi dan gelap!? Apa lo gak punya hati nurani? Otak lo ditaro di
mana sih!?" hardik Ivan sambil tersengal menahan emosi. Untung dia ketemu temennya. Lo ini bukan cowok! Dia tuh bini lo wanita sah lo yang pantas lo bela dan lo lindungi dan dia berhak mendapatkannya. Kehormatannya adalah harga diri lo! Siapa lagi yang pantas ngebela dia selain suaminya. Dia gadis baik. Kalo lo gak mau, ceraikan dia! Gue bakal ngawinin dia dan ngasih kebahagiaan serta perlindungan maksimal untuknya," sahut Ivan dengan emosi tinggi dan menghempaskan tubuh Jordy ke pasir dengan kencang. Ada kemarahan yang terpendam dalam dadanya pada sahabatnya ini. Lantas Ivan ngeloyor pergi meninggalkan Jordy dan Farrel.
Farrel menepuk bahu sahabatnya dan berlalu. Jordy duduk di tepi pantai sambil menatap kosong lautan gelap dan menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Sesekali ombak menyapu tepian pasir. Tak lama, Farrel datang dengan membawa dua minuman kaleng dingin di tangannya.
"Nih minum dulu biar tenang pikiran lo!" tegur sahabatnya sambil menyodorkan minuman kaleng yang sudah terbuka. Pria itu meneguk sedikit isi kaleng. Dan melanjutkan diamnya.
"Bro, kali ini gue gak bakalan bela lo! Si Ivan bener, lo udah keterlaluan!" sahut sahabatnya datar dan kini keduanya sama-sama menatap pemandangan gelap di depan sana.
"Rel, apa gue sejahat yang dipikirin si Ivan?" tanya Jordy dengan pikiran menerawang.
"Gue gak bisa menjawabnya, lo sendiri yang bisa menakarnya!" sahut Farrel datar sambil menyeruput minumann kaleng. "Itu sebabnya gue lom siap sama hubungan dengan full komitmen, gue suka gak tahan dengan air mata cewek, berasa ngadepin nyokap dan kakak cewek gue!" timpal Farrel lagi.
"Air mata!" batinnya seperti diingatkan. Pasti gadis itu sedang menangis sesegukkan di depan cowok asing itu! Dia gak akan nangis di depan orang kalo dia gak nyaman sama orang itu! Ada aliran listrik yang tiba-tiba menyengat jantungnya. Ingatannya kembali ke masa silam saat pertama kali berjumpa dengan isterinya.
Gadis itu menangis mengingat ayahnya yang sakit kemudian menangis sesegukkan di depan dia yang baru pertama kali bertemu. Dia pingsan karena menahan beban yang berat dan puncaknya akhirnya menangis. Dia ingin merengkuhnya namun tidak bisa. Pikirannya melanglang buana membayangkan pria-pria itu merengkuh tubuh isterinya!
Tiba-tiba dia berdiri dan merogoh sakunya. "Shhhiiitthh .... !" makinya. Dia lupa tidak memegang ponsel karena masih dihukum.
"Rel, cepetan ... gue pinjem hp lo?" sahut Jordy setengah memaksa.
"Nelepon siapa?" tanya Farrel sambil berdiri.
"Nelepon bini gue!" sahutnya dengan gusar. Cukup lama Jordy mendial nomor keempat sahabatnya satu persatu tapi tidak ada satupun yang nengangkat. Farrel dan dia pun tidak hafal nomor Alexa.
"Sial ... !" makinya sambil memberikan ponsel pada yang punya dan berlari.
"Hei .... nyet mau ke mana?" teriak Farrel dari belakang.
"Ke lobi!" jawabnya singkat tanpa menoleh. Keduanya pun berlari menuju lobi hotel.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh. Jordy mondar-mandir sambil sesekali melirik pintu masuk. Lima belas menit kemudian empat orang asing dan keempat sahabatnya memasuki lobi hotel. Saat mengetahui mereka masuk dan dia melihat sang isteri tiba terakhir hatinya tercekat.
"Lexa ....!" pekiknya dengan nada bahagia saat melihat kedatangan isterinya. Tubuhnya memburu ke arah gadis itu dan tangannya hendak menggapai lengan isterinya ..... ssssrrreettt .... tangannya dikibaskan oleh gadis itu yang berjalan seolah tak melihatnya dan terus melangkah memasuki lift.
Jjjleeebbb ...
Ada rasa sakit yang menusuk jantungnya saat gadis itu mengacuhkannya. Ada sesuatu yang hilang saat gadis itu tak memandangnya dan ini bayaran dari keangkuhannya selama ini.
Empat orang asing, Nadya dan Renata seolah melindungi gadis itu dari sergapan Jordy. Devan dan Rey merangkul leher sahabatnya untuk menjauh dari lift.
"Hei lepasin, gue mau nemuin bini gue!" ronta Jordy tapi tenaganya kalah kuat dan Farrel pun ikut mengapitnya. Mereka membawanya menjauhi lift ke sofa lobi.
"Kasih dia ruang bro, saat ini hatinya lagi sakit sama sikap lo! Dia perlu istirahat untuk konsentrasi besok," sahut Rey dan Devan.
"Nggak bisa, gue mau bicara, gue mau menghentikan pertarungan konyol ini!" teriak Jordy sambil berdiri tapi ditahan oleh sahabatnya dan disuruh duduk kembali.
"Terlambat, bro .... semua orang udah tau! Lo gak bisa nolongin dia cuma dia yang bisa bantu dirinya sendiri! Rumor ini mesti clear! Gimana kalo bokap lo atau media tau!?" tukas Rey.
"Tapi gue nggak bisa menjerumuskannya dalam bahaya! Gue percaya dia gak macem-macem! Gue mau hajar si Lorena!" sahut Jordy setengah berteriak.
"Lo gak bisa!? Bukannya dengan menikahi lo dia udah nyeburin diri dalam bahaya!?" sahut Devan mengingatkan. "Kejadian di klub, kita gak tau apa yang dilakukan ketiga orang itu ke depan. Dan kita sekarang liat lo nyuekin dia sehingga dia kena fitnah dan harus nerima tantangan ini!?" sahut Devan dengan geram. Akhirnya pria itu terpekur dalam duduknya. Baru kali ini Jordy merasa ketakutan akan kehilangan seseorang.
"Bro, kita cuma bisa berdoa! Semoga baik-baik aja," sahut keempat sahabat sambil menepuk bahunya
kenapa Lama Lo