Pemberontakan atas perjodohan orang tua, membuat Shena Az Zahra nekat mengajak pria asing untuk menikah. Pernikahan itu terjadi tepat di hari pertemuan pertama karena insiden kecelakaan.
Danish Anderson yang menjadi harapan kilat, justru mengempaskan impian gadis itu. Niat hati melarikan diri, tetapi berakhir terjebak dalam pernikahan aliansi.
Duka itu bukan saat kehilangan orang terkasih, tetapi ketika kepercayaan yang mengetuk hati hancur sebelum dimulai. Kenyataan dalam selimut kepalsuan di setiap hubungan dengan tarik ulur kesalahpahaman.
Apakah pernikahan kilat Shena dan Danish bisa bertahan? Simak kisah cinta keduanya hanya di Aku Bukan Perebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: TIGA POIN TERAKHIR PASAL LIMA
Dari seluruh perbincangan. Danish berusaha keras mendesak dewan komite mengubah beberapa poin perjanjian. Walaupun sudah dijelaskan, jika poin itu demi kebaikan bersama. Fatih juga menyetujui penyataan dari pihak kampus karena dia tidak mempermasalahkan setiap poin kerjasama.
"Jadi, tiga poin dari pasal lima itu, akan tetap menjadi bagian dari kerjasama?" Danish menegaskan pertanyaan terakhirnya yang di jawab anggukan kepala pasti oleh Bapak Ibrahim. "Sebagai suami. Saya menolak, Shena terlibat dalam proyek ini."
Shena menghela nafas panjang. Ia tahu, ini akan menjadi akhir dari perdebatan selama tiga puluh menit ketiga pria itu. Ingin mengutarakan pendapatnya, tetapi ia tak mau membuat orang lain berpikir negatif tentang pernikahannya. Sebagai seorang istri. Kewajiban menghormati suami, bukan sekedar ucapan manis dari bibir.
Melihat Danish beranjak dari tempat duduknya, ia pun ikut berdiri meninggalkan sofa yang lembut. Langkah kaki berjalan menghampiri pria yang akan selalu menjadi alasan pertama dan terakhir untuk kehidupannya maju. Apa arti cita-cita? Ketika izin tidak bisa dia dapatkan. Namun, Fatih tak mau menyerah.
"Ka Dan! Proyek ini adalah impian Shena. Kenapa kakak tega? Ayolah, berikan izin agar Shena bisa menggapai impiannya." ujar Fatih, seketika menghentikan langkah Danish.
Untuk pertama kalinya. Danish mendengar Fatih tidak sepakat dengan keputusannya. Aneh, selama ini semua baik-baik saja. Jika berpikir dengan baik. Siapapun akan menolak perjanjian yang memang menuntun satu pihak secara berlebihan. Pasal lima dengan lima poin.
Dimana tiga poin terakhir seperti penjara waktu. Poin tiga menegaskan, jika Shena diwajibkan melapor setiap kegiatannya selama dua puluh empat jam. Poin ini, terlalu berlebihan. Seharusnya, laporan hanya diperlukan saat jam kerja saja. Jika sudah menyebut dua puluh empat jam. Maka itu termasuk kehidupan pribadi harus dilaporkan.
Poin ke empat pasal lima, Shena harus siap untuk datang ke acara dadakan. Misal, jika ada pertemuan penting. Gadis itu, tidak boleh diwakilkan. Termasuk tanggung jawab proyek akan sepenuhnya jatuh pada pundak yang memiliki gagasan ide dari Project New Generation.
Poin ke lima pasal lima. Poin terakhir dan yang paling tidak masuk akal. Setelah proyek berhasil dalam kurun waktu setahun. Brand yang dibangun serta dikembangkan oleh Shena serta teamnya. Secara langsung akan menjadi milik pihak sponsor. Lalu, dimana masuk akalnya? Usaha kerja keras harus dilakukan, tetapi kejayaan milik orang lain.
Tidak. Akan lebih baik, jika ide Shena. Dia saja yang menanamkan saham untuk modal pengembangan usaha bisnis yang menjadi impian istrinya. Tidak peduli dengan pendapat orang lain. Istri Danish Anderson, bukanlah sapi perah yang bisa dimanfaatkan kepintarannya oleh pihak tidak bertanggung jawab.
"Fatih, kamu berpikir aku merenggut impian Shena?" tanya Danish seraya menaikkan sebelah alisnya menatap adiknya begitu dalam, "SheZa. Apa kamu keberatan dengan keputusan ku?"
Tatapan mata yang menusuk, suaminya mempertanyakan sesuatu yang tidak harus dipertanyakan. Hubungan bukan untuk menjadi pertanyaan, ragu atau tidak. Kepercayaan itu dibangun dengan kesabaran bukan penyataan. Langkahnya berjalan menghampiri Danish.
"Aku tidak meragukanmu. Jika ini menjadi keputusan suamiku. Aku ikhlas." Ucap Shena membalas tatapan Danish lembut, ia ingin suaminya memahami arti penerimaan tanpa penjelasan.
Jawaban Shena memukul telak pembelaan yang dilakukan Fatih. Pemuda itu merasa baru saja tertampar oleh kenyataan. Gadis yang dia perjuangan mendorongnya jatuh ke lembah yang teramat dalam. Harusnya sadar diri, tapi itu tidak berlaku. Hati telah menetapkan pilihannya sendiri.
Bukan hanya Fatih yang tersudut, tetapi Bapak Ibrahim ikut menundukkan kepala karena merasa malu. Danish tanpa sungkan meraih tangan Shena, lalu membawa gadis itu keluar dari ruangan dewan komite . Keduanya diam tanpa kata, selain suara langkah kaki yang mengusir keheningan.
Wajah tegas tanpa senyuman. Nampak jelas, saat ini Danish menekan emosinya agar tetap tenang. Sudah pasti, bukan sekedar tentang penolakan yang dia lakukan. Akan tetapi, ini juga tentang Fatih yang secara terang-terangan melawannya. Suasana kampus cukup senyap karena jam pelajaran telah dimulai.
"Mas, ikut aku saja." ajak Shena tanpa persetujuan mengubah arah tujuan mereka.
Gadis itu membawa Danish menuju ke tempat yang bisa menjadi tempat peristirahatan sejenak yaitu markas yang dibangun olehnya. Melewati beberapa lorong, hingga mencapai lorong terakhir dengan sebuah poster dilarang masuk. Warning area terlarang.
Genggaman tangannya, ia lepaskan. Shena mengambil kunci yang ternyata disembunyikan di tempat tidak terduga. Lalu, membuka pintu, kemudian mempersilahkan masuk Danish.
Ruangan yang bersih, rapi, nyaman, dan nampak terawat. Bagaimana cara istrinya mendapatkan izin menggunakan ruangan itu? Apakah menjadi senat, maka memiliki kebebasan khusus? Setahu dia, senat masih memiliki keterbatasan akses untuk gerak, jika bukan demi kepentingan kampus itu sendiri.
"Mas, minum." Shena mengulurkan sebotol soda dingin yang tersedia di dalam ruangan markas. "Tanyakan saja padaku langsung. Kenapa harus memendam dalam pikiran."