Jodoh tak mengenal batas dan jarak, walau berbeda negara dan benua tapi Tuhan memiliki skenario sendiri untuk mempertemukan keduanya yang tak mungkin bisa dihindari umatnya.
Begitu juga dengan Dr. Steven Lee dan Anna Wibisana, yang dipertemukan di sebuah desa kecil di Perancis ketika keduanya sama-sama terlula oleh cinta. Tertatih mereka berdua saling mengisi untuk mencoba kembali bangkit dari kesalahan masa lalu yang kelam, sampau akhirnya retakan di hati mereka perlahan mulai kembali utuh.
Tapi, masa lalu kembali menghancurkan hati salah satu dari mereka.
Yours best teacher is yours last mistake.
-Autumn Girl-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alana Kanaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
“Jadi kau mengenal perempuan itu?” tanya Kim Seo Joo yang di jawab Dr. Lee dengan anggukan.
Jason yang telah mengetahui cerita sebenarnya tentang kisah mereka merasa kasihan melihat Anna yang sepertinya belum sembuh dari keterkejutannya, begitu juga dengan Dr. Lee yang merasa bersalah karena menyembunyikan masalah ini dari Anna selama ini.
“Ya Tuhan, maafkan aku… aku lupa kalau hari ini ada janji dengan rekan kerjaku!” Seru Jason sambil berdiri kemudian menarik Seo Joo untuk ikut berdiri, “Kau ikut aku.”
“Tapi dia belum menceritakan tentang perempuan yang Seung Woo cintai,” protes Seo Joo yang dipaksa Jason untuk memakai jaketnya.
“Aku mengenalnya, aku akan menceritakannya nanti tapi sekarang kau ikut denganku, aku akan mengenalkanmu kepada para perempuan cantik,” rayu Jason yang langsung membuat mata Seo Joo berbinar.
“Apa mereka benar-benar cantik?”
“Cantik dan seksi,” jawab Jason dengan meyakinkan membuat temannya itu tersenyum lebar.
“Baiklah kalau begitu, ayo!” Ajak Seo Joo dengan semangat.
“Kalian berdua,” ucap Jason sambil menatap Dr. Lee dan Anna yang masih terduduk, “Selagi kalian ada di sini, pergilah berkencan dan nikmati masa berdua kalian,” lanjutnya sambil tersenyum lalu pamit pergi.
“Dia benar,” ujar Seo Joo sambil tersenyum iseng, “Ini kesemptan kalian membuat adik untuk Alice… fighting!” serunya sambil tersenyum lebar dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Mereka berdua hanya tersenyum hambar mendengar nada iseng dari keduanya dan kembali terdiam, tak ada sepatah kata-pun yang keluar dari mulut mereka. Hening untuk beberapa saat yang terdengar hanyalah gumaman dan denting sendok yang beradu dengan piring dari meja di sekeliling mereka. Sampai akhirnya Dr. Lee memecah keheningan.
“Ayo! Kita akan berkencan seperti kata mereka berdua,” ajaknya sambil berdiri dan memakai jaketnya, beberapa saat Anna hanya terdiam sambil menatapnya kemudian ikut berdiri lalu memakai mantelnya.
Mereka kini berjalan di taman halaman menara Eifel menikmati suasana senja yang romantis, lampu-lampu jalanan telah menyala membuat suasana temaran berwarna jingga menyelimuti mereka. Semilir angin musim gugur yang dingin membuat beberapa pasangan terlihat saling berangkulan erat saling memberikan kehangatan, dan itu tidak luput dari perhatian Anna yang tersenyum kemudian membuang napas panjang karena merasa iri terhadap mereka.
Ia kini berjalan sambil menunduk menatap kakinya menendang daun-daun kering yang menghapar di sepanjang jalan. Dalam hati ia juga ingin merasakan seperti pasangan lain yang berjalan saling berangkulan atau setidaknya saling berpegangan tangan, tapi tangan mereka kini malah bersembunyi di balik saku mantel masing-masing.
Dr. Lee menatapnya sekilas kemudian mengerti kenapa perempuan cantik di sampingnya itu tertunduk lesu, ia tersenyum kemudian mengeluarkan tangannya dan menarik tangan Anna keluar dari mantelnya yang sontak membuatnya terkejut.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Anna ketika Dr. Lee membuka sarung tangan mereka kemudian menautkan jari-jari mereka.
“Ini yang biasanya dilakukan oleh orang-orang saat berkencan,” jawabnya sambil tersenyum kemudian memasukkan tangan mereka berdua ke dalam saku mantelnya, membuat Anna tersenyum malu dengan pipi memerah.
Mungkin itu adalah hal yang sederhana bagi sebagian orang tapi tidak bagi Anna, baginya itu adalah hal yang sangat luar biasa. Karena hal sederhana itu telah membuat jantungnya berdetak kencang, layaknya para remaja yang tengah dimabuk cinta dan melupakan sejenak tentang keterkejutannya dari berita kalau perempuan yang Erik cintai adalah kekasih yang selama ini menunggu ‘suaminya’ di Korea.
Dr. Lee mengajak Anna untuk duduk di salah satu bangku taman yang ada di area itu, mereka terdiam beberapa saat menikmati kebersamaan saat ini, tangan mereka masih bertautan Dr. Lee manaruh tangan mereka di atas pahanya. Ia kini menangkup tangan Anna dengan kedua tangannya melindunginya dari desiran angin yang lembut membelai keduanya.
“Kau pasti sangat terkejut mendengar kalau kami mencintai orang yang sama?” Dr. Lee memberanikan diri untuk memulai pembicaraan yang tadi sempat terhenti, dan sepanjang jalan tadi ia telah memikirkan hal ini kini waktunya ‘istrinya’ itu mengetahui tentang yang sebenarnya.
Anna berhak mengetahui itu karena ia ingin tak ada rahasia diantara mereka dan ia ingin perempuan itu mengetahui tentang kisahnya dari mulutnya langsung, seperti halnya Anna yang menceritakan masa lalu dan memercayainya selama ini.
“Iya,” jawab Anna singkat sambil menatap tangangannya di atas pangkuan Dr. Lee yang kini membuang napas berat sebelum memulai ceritanya.
“Aku memiliki seorang adik perempuan, namanya Yuri, pada dasarnya ia adalah gadis manis yang baik tapi ia terlalu dimanja dan semua keinginannya selalu dipenuhi oleh orangtua kami. Sampai akhirnya dia menderita gagal ginjal.”
Anna terbelalak mendengar cerita pria itu tentang adiknya.
“Dia harus melakukan cuci darah seminggu dua kali sampai menemukan donor ginjal yang cocok. Tapi ketika seorang pendonor dinyatakan memiliki kecocokan ginjal dengan Yuri, adikku itu tidak mau melakukan operasi.”
“Ya Tuhan,” ucap Anna dengan sorot mata iba yang membuat Dr. Lee tersenyum kemudian melanjutkan ceritanya.
“Jangan merasa iba seperti itu setelah mendengar cerita selanjutnya kau tidak akan merasa kasihan kepadanya bahkan mungkin kau akan membencinya,” ucap Dr. Lee yang membuat Anna mengangkat alisnya tak mengerti.
“Erik dan Yuri pernah menjalin hubungan cukup lama sampai akhirnya mereka berpisah, Erik pergi ke Kanada untuk mengajar di salah satu Universitas di Vancouver dan disanalah ia bertemu dengan Ayumi kemudian saling jantuh cinta. Pada suatu hari Erik pulang ke Korea dan ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan amnesia selama beberapa bulan.”
Anna kembali terbelalak mendengar cerita itu, Dr. Lee kini menatap langit yang sudah mulai gelap dan lampu di menara Eifel telah dinyalakan membuat menara itu terlihat megah, semilir angin mengelus wajahnya lembut memberi kesejukan.
Secara singkat Dr. Lee menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya, Erik dan juga Ayumi yang berakhir pada kecelakaan yang membuat terkuaknya rahasia bahwa Ayumi dan Erik ternyata saudara satu ayah.
“Ya Tuhan, Ayumi pasti sangat menderita pada saat itu selain fisiknya yang sakit karena kecelakaan, ia juga merasa dikhianati olehmu belum lagi kenyataan tentang keluarganya yang membuat dirinya dan Erik tak mungkin bisa bersatu,” ucap Anna dengan nada lirih seolah bisa merasakan sakit yang dirakan Ayumi.
“Iya, dia pasti sangat menderita dan itu adalah salahku, seandainya aku tak menuruti keinginan adikku semuanya tidak akan terjadi.”
“Tidak, itu bukan salahmu,” ujar Anna sambil menatap mata Dr. Lee yang terluka karena penyesalan, “Itu memang takdir yang harus mereka jalani, entah karena kau telah mengkhianatinya atau tidak rahasia itu memang harus terkuak sebelum semuanya terlambat dan hanya akan membuat mereka semakin terluka,” lanjutnya sambil menggenggam tangan Dr. Lee dengan erat memberi dukungan dan itu sedikit mengangkat beban di dada pria dengan hidung mancung itu.
“Jadi kau pergi ke Ribeauville setelah kejadian itu?” tanya Anna sambil menatap Dr. Lee yang juga menatapnya kemudian mengangguk membenarkan.
“Ketika menyadari kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya, aku ingin membawanya pergi dari Busan ke tempat dimana tak seorang-pun mengenal kami. Aku membayangkan kami hidup di sebuah desa kecil dengan rumah sederhana bercat putih, aku akan membuka sebuah klinik kecil dimana aku akan membuka praktek di sana dan Ayumi akan membantuku.”
Anna bisa melihat mata Dr. Lee menerawang membayangkan rencana masa depannya dimana dia hidup dengan perempuan yang dia cintai, tapi perempuan itu bukan dirinya. Hatinya terasa sakit tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena dari awal memang dirinya tak pernah ada dalam rencana masa depan pria itu, ia hanyalah sebagai pelabuhan sementara sebelum pria itu kembali berlayar menuju mimpi masa depannya.
“Jadi karena itulah kau menyewa rumah Jared? Kau telah membayangkan kalian akan tinggal di sana seperti dalam mimpimu.”
“Iya, ketika Jason mengirimku foto rumah itu aku langsung jatuh cinta,” jawab Dr. Lee sambil tersenyum yang membuat Anna ikut tersenyum walau hatinya sakit.
“Apa dia mengetahui tentang rencanamu itu?”
“Tidak.” Dr. Lee membuang napas berat, pandangannya kembali menerawang tapi jari-jarinya mengelus punggung tangan Anna lembut.
“Aku tak sempat memberitahunya karena dia terlanjur mendengar tentang alasan aku mendekatinya dan… kecelakaan itu terjadi,” ucap Dr. Lee lirih ketika mengingat bagaimana jiwanya seolah keluar dari tubuhnya sendiri ketika melihat perempuan yang dia cintai tergeletak di ruang UGD dengan bersimbah darah.
Anna terdiam tak ingin mengingatkan kembali saat yang pastinya membuat pria yang duduk di sampingnya itu terluka karena rasa bersalah ketika melihat perempuan yang ia cintai hampir kehilangan nyawanya.
“Kau harus semangat, ketika nanti kau pulang ke Korea kau bisa menyakinkannya kembali kalau kau benar-benar mencintainya, aku yakin dia akan menerimamu kembali,” ucap Anna dengan senyum lebar sambil berdiri dan merentangkan tangannya dengan wajah menengadah menatap langit.
“Tapi sekarang, kau adalah suamiku,” lanjut Anna sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah Dr. Lee yang menyambut uluran tangannya kemudian berdiri dihadapannya.
“Ingat itu kau masih menjadi suamiku selama dua bulan kedepan, dan kau tahu sendiri kalau aku mencintaimu, jadi selama dua bulan ke depan kau harus melupakannya dulu dan hanya fokus kepadaku dan Alice, paham?” perintah Anna masih dengan senyum di wajahnya berusaha bersikap normal.
Dr. Lee terdiam beberapa saat sambil menatap perempuan itu kemudian tersenyum lalu mengangguk setuju.
“Bagus! Ingat… perasaanmu adalah milikmu sendiri, kau berhak mencintainya, begitu juga dengan perasaanku yang milikku sendiri dan aku berhak untuk mencintaimu.”
“Anna…” panggil Dr. Lee lirih.
“Tidak! Jangan memintaku untuk tidak mencintaimu, aku juga tak akan memintamu untuk berhenti mencintainya. Tapi aku mohon untuk dua bulan ke depan, hanya dua bulan ke depan selama kau masih menjadi suamiku, ijinkan aku mencintaimu seutuhnya dan setelah itu… kau bisa kembali ke sisinya.”
Dr. Lee terdiam mendengar ucapan Anna, ia bisa melihat ketulusan dimata Anna tapi juga kesedihan. Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Dr. Lee tersenyum lalu mengangguk.
“Baiklah selama dua bulan ke depan, aku akan menjadi suami yang baik,” ucapnya sambil tersenyum yang membuat Anna ikut tersenyum, “Jadi, ayo kita lanjutkan kencan kita!” lanjutnya sambil merangkul bahu Anna dan mengajaknya berjalan.
“Kemana kita sekarang? Apa kau mau pergi nonton?” tanya Dr. Lee yang membuat Anna tersenyum lebar. Ya, selama dua bulan ini ia telah memutuskan akan menjadi seorang suami dan ayah terbaik bagi mereka berdua, setelah itu ia akan kembali kekehidupannya yang dulu.
*****
karyamu selalu menghibur..
untung gw baca Ayumi -Erik duluan,jadi paham alurnya