Vano yang mempunyai jiwa cassanova di jodohkan dengan Nadine,seorang gadis cantik yamg memiliki sifat bar-bar, blak-blakkan, dan juga jail..
Nadine yang sudah mengetahui jika Vano adalah seorang cassanova, membuat perjanjian, jika Vano tidak bisa menyentuhnya walaupun mereka sudah menikah nantinya..
Namun melihat sifat dan niat Vano yang tulus,Nadine akhirnya luluh..
Namun Vano sang cassanova ternyata manis dirumah dan liar di luar..
Ia masih saja berburu wanita di luaran sana seperti saat ia masih bujangan dulu..
Sifat nya itu akhirnya di ketahui Nadine,saat ia berencana menyiapkan kejutan kehamilan untuk Vano..
Apakah Nadine akan bertahan atau memilih mundur?
Apakah yang akan Vano perbuat selanjut nya..Dan bagaimana dengan nasib pernikahan mereka yang sebentar lagi akan ada kehadiran seorang anak..??
Yuk simak terus kisah nya,dan jangan lupa tinggalkan jejak agar author lebih semangat lagi untuk berkarya ya..
TERIMA KASIH..😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyonya_Doremi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Kita ke bar. Gue mau minum," jawab Vano singkat.
"Lo serius Van. Ingat istri sama calon anak lo masih di rawat bro," ucap Ricky yang tidak mengerti dengan jalan pikiran sahabatnya itu.
***
"Iya gue serius. Kalo lo gak mau anter gue gak masalah. Gue bisa sendiri," jawab Vano sensi.
"Ya bukan gitu Van. Lo kan udah janji sama istri dan juga keluarga lo, kalo lo gak bakal nakal lagi di luar. Gue sebagai sahabat cuma mau ingetin lo doang Vano," jelas Ricky kepada sahabatnya itu.
"Iya gue tau. Gue gak akan main perempuan lagi. Gue cuma mau minum doang kok. Kepala gue pusing bro, butuh hiburan," balas Vano lalu memejamkan matanya sejenak.
"Serah lo deh Van. Gue mah nurut aja," seru Ricky mengalah.
Tak butuh waktu lama, Vano dan Ricky sampai di bar tempat biasa kedua sahabat itu menghabiskan waktu setiap malamnya.
Vano langsung memesan minuman keras lalu menenggaknya langsung dari botol. Begitu juga Ricky, ia sama halnya dengan Vano. Sama-sama cassanova, tapi tak separah Vano yang tanpa jeda.
Saat mereka berdua duduk di tempatnya, para wanita yang sudah tau kalau mereka adalah tamu tetap di sana datang menghampiri kedua sahabat tersebut. Awalnya Ricky sempat mengusir para wanita cantik tersebut. Namun Vano melarangnya dan membiarkan wanita-wanita itu duduk menghampiri Vano dan Ricky.
"Vano ingat dong. Katanya lo cuma mau minum doang, gak lebih," ujar Ricky mencoba mengingatkan Vano.
"Udah biarin aja, lagian gue gak ngapa-ngapain kok. Mereka cuma duduk nemani kita," jawab Vano yang setengah mabuk.
Botol demi botol berhasil di habiskan oleh Vano sendirian. Sudah beberapa kali Ricky mengingatkan Vano untuk berhenti minum lagi. Namun sang cassanova itu kembali berulah. Ia sama sekali tidak mendengarkan sahabatnya. Malah Vano saat ini sudah merangkul beberapa wanita di kiri dan kanan nya.
Vano udah, lo ingat Nadine dan anak yang dia kandung dong. Kalo cara lo kayak gini, gimana dia bisa percaya sama lo. Harusnya lo yakini dia, bukannya seperti ini," ucap Ricky yang kesal dengan perilaku sahabatnya itu.
"Udahlah Rick, Nadine sekarang lagi istirahat dijagain sama mama dan papanya. Gue cuma hiburan sebentar kok. Lo kan tau gue cintanya cuma sama Nadine. Gak ada yang lain," ucap Vano lalu menciumi wanita-wanita yang ada di sampingnya.
"Gue ngerti lo cinta sama Nadine, tapi kalo lo kayak gini, itu sama saja lo nyakitin hati nya Nadine. Ntar kalo Nadine bener-bener pergi ninggalin lo baru nyesel lo," tutur Ricky yang sudah sangat kesal dengan sahabatnya itu. Ingin rasanya Ricky menyeret Vano ke laut dan mandiin dia di sana sekaligus nyuruh ustad buat ruqiyahin dia biar jin-jin yang ada di tubuh Vano pada berhamburan pergi. Ricky yang awalnya merasa menyesal karena telah menyebabkan rumah tangga Vano menjadi berantakan sekarang ia berpikir jika Vano memang pantas mendapatkan cobaan seperti sekarang ini. Vano memang seorang cassanova yang entah kapan hidayah akan datang menghampirinya.
"Vano lo mau kemana?" tanya Ricky. Tiba-tiba saja Vano sudah berdiri hendak meninggalkan mejanya.
"Biasa, gue mau ambil absen dulu," jawab Vano mabuk sambil menggandeng salah satu perempuan yang tadi menemaninya.
"Vano lo gak bisa gitu dong. Lo harus ikut gue pulang sekarang juga," balas Ricky yang hendak menyeret Vano keluar dari bar tersebut.
"Apaan sih lo Rick. Kalo lo mau, lo pilih juga dong wanita mana yang lo suka. Biar gue yang bayarin," ucap Vano menepis tangan Ricky dari lengannya.
"Gak. Gue gak butuh. Pokoknya sekarang lo pulang," balas Ricky kembali memegang lengan Vano yang sudah mabuk.
"Minggir," ujar Vano singkat. Ia mendorong Ricky hingga terjatuh ke tempat duduknya kembali, dan Vano segera pergi terseok-seok dengan di papah oleh wanita yang akan dia tiduri ke salah satu kamar di bar itu.
"Lo pasti nyesel Vano. Gak ngerti gue sama jalan pikiran lo," gumam Ricky kesal. Laki-laki tampan itu hanya bisa duduk dan kembali melanjutkan minumnya sembari menunggu Vano menyelesaikan urusannya.
Sementara di kamar bar, Vano yang sudah mabuk segera mencumbu dan menjelajahi tiap inci bagian tubuh wanita bayarannya itu. Vano seakan lupa dengan Nadine dan calon anaknya yang kini tengah berjuang untuk bisa pulih kembali.
Entah apa yang dirasakan Nadine, jika ia tau ternyata Vano belum sadar akan kesalahannya.
Dengan buas Vano menampilkan kepiawaiannya dalam urusan ranjang kepada wanita yang ia pilih untuk menemani malam panjangnya. Wanita mana yang mampu menolak pesona Vano sang cassanova.
Hampir dua jam Vano bermain panas dengan wanita bayarannya itu. Entah karena mabuk atau lupa, atau mungkin saja ia sengaja, kali ini Vano bermain tanpa menggunakan pengaman juniornya. Yang jelas saat ini Vano begitu menikmati permainan panasnya dengan wanita bayaran yang juga pernah melayani laki-laki lain selain Vano.
.
.
.
Sedangkan di rumah sakit, Nadine kembali histeris karena ia bermimpi memergoki Vano yang sedang bermain panas dengan wanita di luaran sana.
Elsa dan juga Leonardi kaget saat putrinya itu berteriak lalu menangis. Ia segera menekan tombol darurat yang ada di atas tempat tidur Nadine berharap dokter atau perawat segera datang.
Tak lama kemudian, dokter beserta perawat memasuki ruangan Nadine dan saat itu Nadine masih histeris.
Dokter memberikan suntik penenang agar Nadine kembali dapat beristirahat dengan nyaman kembali.
"Nadine kenapa Dok?" tanya Elsa khawatir.
"Ibu Nadine sepertinya mimpi buruk. Mungkin saja di sebabkan oleh tekanan yang ia rasakan jadi terbawa sampai ke alam mimpinya. Pasien telah saya berikan suntik penenang, agar beliau bisa beristirahat dengan nyaman. Mohon selalu untuk keluarga menjaga perasaan Ibu Nadine saat ini, dan jangan pernah biarkan pasien tinggal sendirian, takutnya nanti pasien dapat berbuat hal yang kita tidak inginkan," jelas dokter yang menangani Nadine.
"Baik dok. Terima kasih," seru Leonardi lemah.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi," pamit dokter meninggalkan ruangan Nadine.
"Ma, sepertinya kita harus pindahkan Nadine dari negara ini agar Vano tidak bisa lagi menemuinya. Papa takut jika Vano menemui Nadine, anak kita bisa semakin frustasi ma. Papa gak mau terjadi apa-apa sama Nadine. Biarlah Nadine sembuh dulu, baru kita akan membahas Vano kepadanya," usul Leonardi kepada istrinya.
"Mama setuju pa. Mama juga sempat berpikir seperti itu. Kalau begitu kita akan membawa Nadine pindah secepatnya tanpa sepengetahuan Vano," balas Elsa yang sependapat dengan suaminya. Kedua orang tua itu memandangi putrinya yang tidur lelap akibat obat penenang dari dokter. Mereka tidak menyangka karena perjodohan ini putrinya akan menderita sedemikian rupa ulah menantunya yang ternyata adalah seorang cassanova.
Mimpi indah memiliki cucu dan keluarga bahagia untuk putri semata wayangnya kini berubah menjadi mimpi buruk yang hadir dan menjadi kenyataan pahit untuk Nadine. Bahkan bayi yang sedang di kandung Nadine harus terlahir di tengah keluarga yang tidak utuh lagi.
Kedua orang tua itu berharap jika suatu saat nanti Nadine mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik dari menantunya Vano, dan menerima Nadine juga anaknya dengan tulus dan ikhlas.