Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.
Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.
Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.
Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKANDAL
Flash Back On.
"Papah?"
"Bram?"
Patah hati seorang anak pada Orang Tuanya adalah ketika sang anak menyaksikan dengan mata kepala sendiri kecurangan dari orang tuanya. Dan itu sakitnya tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bram menjadi salah satu anak yang mengalami hal itu.
Beberapa hari sebelumnya.
Bram yang berada di apartemen tengah bertelepon dengan Sabrina sang mamah. Obrolan ringan antara ibu dan anak. Hingga Sabrina yang mengatakan sudah rindu pada Wijaya padahal baru ditinggal kemarin ke Paris.
"Paris?" Bram sedikit kaget mendengarnya. Karena dirinya juga tengah bersiap untuk pergi ke tempat yang sama.
Hingga mereka di pertemukan dalam penerbangan hari naas itu. Wijaya yang mengatakan pada Sabrina telah pergi sejak kemarin, nyatanya ia baru akan terbang hari itu. Hari yang sama dengan penerbangan Bram.
Satu kebohongan Wijaya pada sang istri. Dan sekarang, Bram justru menangkap basah dirinya yang dikenal setia dan berwibawa. Tengah berciuman mesra dengan seorang wanita tak tak sepantasnya. Anita, istri Mahendra, sang menantu.
"Apa yang Papah lakukan?" Bram berteriak penuh emosi. Beberapa penumpang lain sampai menoleh pada mereka.
Wijaya dan Anita lekas berdiri ketakutan, gugup. Gelagapan.
"Bram?" lirih Wijaya gemetaran.
"Diam, Pah? KETERLALUAN? BIN.A.TANG!" bukan salah Bram jika rasa hormatnya selama ini yang ia jaga kandas sudah. Semua berganti dengan murka.
"Kau Anita? Wanita iblis. Bisa-bisanya kau melakukan ini dengan Papahku?"
Flash Back Off.
...****************...
'DEG.'
Jantung Mahend serasa berhenti melihat rekaman video pada layar laptopnya yang tak jelas mengikuti tangan Bram yang terus bergerak. Namun suara mereka dengan jelas bisa terdengar. Dan video pertama yang menampilkan adegan ciuman antara Wijaya dengan Anita tampak begitu sempurna hingga Bram tersulut emosi.
"Tuan, mohon tenang, kita akan segera lepas landas. Mohon kembali duduk pada kursi masing-masing agar kita bisa lekas_?" suara seorang pramugari yang mencoba menenangkan menengahi situasi yang memanas. Namun terjeda kala Bram kembali berteriak dan memaki.
Hanya orang tak waras yang masih akan melanjutkan perjalanannya setelah mendapati peristiwa tabuh seperti itu.
Bram melangkahkan kaki cepat keluar menuruni tangga pesawat. Ia membatalkan perjalanannya.
"Braaamm?" suara Wijaya bergetar meneriaki nama putra pertamanya yang sudah keluar dari pesawat sambil mengusap air matanya.
Wijaya mengejar sang putra, meninggalkan Anita disana. Anita hanya menyunggingkan senyum sinis melihat pasangan anak dan ayah itu pergi.
Dalam video di layar laptop. Gambar yang ditangkap kamera jam tangan Bram tak lagi ada yang jelas. Terkadang gambar gedung jadi miring, kadang mobil yang nampak terjungkir. Itu karena tangan Bram yang terus bergerak.
Meski begitu, Mahend, Siya dan Tom masih terus menyimak isi dari video itu. Mereka memahami sampai pada titik Bram yang menaiki mobil taksi. Hanya suara mesin mobil yang menyala dan umpatan-umpatan Bram yang kini terdengar dari sound system' komputer. Sedangkan layar laptopnya sudah menggelap.
Hingga video itu berhenti. Habis. Tak ada yang bisa mereka lihat.
"Kenapa? Kenapa berhenti? Mana rekaman selanjutnya?" Siya berteriak panik. Layar laptop sudah tidak menunjukkan apapun.
"Durasinya sudah habis. Jam tangan itu memang hanya bisa merekam sampai 30 menit, jika ingin merekam selanjutnya harus kembali menekan power dan record." Mahend memberikan penjelasan pada Siya yang menangis sambil berteriak panik.
"Hiks hiks hiks."
"Lantas apa yang menyebabkan Kak Bram meninggal?" Tom gelisah dan penasaran. Belum ada kejelasan hingga sampai pada titik Bram ditemukan gantung diri.
"SKANDAL" jawab Mahend bergetar, tubuhnya terhuyung hampir jatuh, dan Tom lekas menopangnya. Siya pun lekas berdiri dan memegangi Mahend.
"Kau benar Siya. Kau tidak bersalah, Kak Bram tidak mungkin mati bunuh diri. Hiks hiks hiks!" Mahend tak kuasa menahan tangisnya. Dunianya semakin hancur, sakit ini berjuta kali lipat lebih sakit dari sakit sebelumnya.
"Mas?" lirih Siya.
"Kita ke kamar, Mahend? Kau tidak baik-baik saja." Tom membawa Mahend kembali ke kamarnya. Sepupunya telah mengetahui satu bukti yang sangat pahit. Yang tak kan bisa diutarakan seberapa perih dari itu semua.
Benar adanya, jika luka fisik bisa diobati dan pasti akan sembuh, namun luka dalam hati? Terkadang tak ada obatnya. Dan tak bisa disembuhkan.
Tom membaringkan Mahend di ranjang, Tom lantas menghubungi assistennya untuk datang membawa beberapa obat dan suntikan yang ia butuhkan. Mahend membutuhkan perawatan. Dan semua dilakukan dengan diam-diam.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Al dan Levi juga sudah bangun. Mereka bermain bersama di kamar Al.
Tom dan Siya berbicara berdua di taman belakang.
"Kau mau membantu kami, Siya? Aku tahu, kami bahkan tidak pantas untuk meminta apapun lagi padamu, kami merasa sangat malu." Tom berbicara.
"Katakan saja, Tom. Jika aku bisa melakukannya, pasti akan aku lakukan." jawab Siya.
"Aku ingin meminta padamu untuk merahasiakan semua ini dari Tante Sabrina. Kau bisa lihat sendiri, bagaimana Mahend yang begitu kuat langsung terjatuh rapuh mengetahui bukti itu, dan jika itu terjadi pada Tante Sabrina? Jantungnya sudah pernah terserang, Siya? Aku takut dia tidak akan tahan." Tom menjelaskan apa maksud dari permintaannya.
Air mata Siya menetes dan lekas mengusapnya.
"Tentu, Tom. Aku mengerti." jawab Siya.
"Terimakasih, Siya. Kau sangat baik. Bahkan meski setelah semua yang terjadi."
"Aku tidak ingin membahas hal itu, Tom!"
Tom mengangguk menanggapi ucapan Siya.
"Tapi aku masih belum puas, Siya. Rahasia tentang kematian Kak Bram belum sepenuhnya terungkap. Aku mencurigai Anita. Bahkan juga Paman Wijaya. Dan itu pasti sangat melukai Mahend saat ini." Tom menarik nafas dalam, dadanya sesak memikirkan ini semua.
"Jika apa yang kita pikirkan memang benar terjadi, maka mas Mahend dan mamah Sabrina adalah orang yang paling terluka sesugguhnya, Tom. Dan mungkin lebih sakit dari luka fisik yang kuterima selama ini. Meski tak seharusnya aku menerima apa yang bukan .enjadi salahku"
"Aku minta maaf, Siya. Mahend juga pasti menyesali perbuatannya padamu saat ini."
Mereka terus mengobrol. Hingga waktu makan malam tiba. Dan saat makan malam, Siya memberikan alasan pada Sabrina jika Mahend sibuk dan tak mau diganggu.
...****************...
Siya dan Al mengantar Tom dan Levi sampai depan mobil mereka yang sudah terparkir di halaman depan teras. Tom dan Levi akan pulang.
"Siya?"
"Hemm?"
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" pertanyaan Tom membawa keheningan sejenak.
Al hanya menatap Siya bingung sambil mendongakkan kepalanya, tangan Al bergandengan dengan tangan Siya. Sedangkan Levi berada pada gendongan Tom.
"Aku sudah pernah memikirkannya, dan sudah mengatakannya. Keputusanku tidak berubah. Dan Mahend harus memenuhi janjinya." jawab Siya yang dapat dimengerti oleh Tom, jika Siya tetap akan memilih berpisah.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Kami pulang dulu."
Mereka saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Hingga mobil Tom yang keluar dari gerbang utama sudah tak lagi terlihat.
"Siya? Apa ada sesuatu?" tanya Al curiga.
"Ada, jagoanku." ucap Siya ceria.
"Apa? Katakan padaku?" teriak Al pada Siya yang sudah berlari kecil meninggalkan Al di belakangnya.
"Kejar aku dulu, jika kau bisa menangkapku. Aku akan mengatakannya padamu?" Goda Siya.
"Si-yaa?" teriak Al sambil berlari mengejar Siya yang sudah memasuki rumah. Mereka berdua terus bermain kejar-kejaran hingga memasuki ruang tengah, gelak tawa keduanya terdengar riang gembira. Betapa bahagianya jika keluarga ini terisi penuh cinta.
Mahend yang berdiri pada dinding pembatas lantai atas melihat Siya dan Al yang bermain kejar-kejaran. Hatinya menghangat, tapi juga perih. Bahkan air matanya sudah menetes.
'Kau akan kehilangan Siya dari hidupmu, Al? Kita semua akan kehilangan dia, Siya pasti akan pergi, Al?' batin Mahend sakit membayangkan semua itu yang pasti akan terjadi, cepat atau lambat.
...****************...
tng ca w bla'in
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨