menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
"Bagaimana hasil apakakah semua berjalan degngan lancar?" tanya Mahendra
"Sudah pak, semuanya sudah beres." jawab Defano di seberang telfon.
"Bagus." seru Mahendra
"Tapi pak masalahnya tuan Kenzo sedikit khawatir pada kita, pasalnya ia sudah termakan omongan dari Indra Wijaya bahwa kita tidak akan bisa menjalankan proyek kali ini." khawatir Defano.
"Kau tenang saja, besok kita akan pergi ke negara Tuan Kenzo dan aku sendiri yang akan bicara langsung padanya, Tuan Kenzo tidak mungkin membatalkan perjanjian dengan kita karena jika dia membatalkan penyeludupan senjata kali ini, maka saham ku untuk perusahaannya yang ada di indonesia akan menjadi taruhannya, dia tidak mungkin berpaling dari ku hanya karena bisnis gelap ini dan menghancurkan anak perusahaan yang telah mati-matian ia bangun. kau sangat tau bukan saham terbesar yang masuk di perusahaan tuan Kenzo berasal dari ku, sementara Indra Wijaya tak memiliki kontribusi apa-apa." ucap Mahendra yakin akan rencananya.
Sementara Defano yang mendengar itu kini mengerti akan rencana tuannya Mahendra yang kekeh ingin berinvestasi pada perusahaan Kenzo yang ada di indonesia, Defano baru mengetahuinya hari ini.
"Baiklah pak saya mengerti, saya akan mengurus keberangkatan saya dan pak Mahendra sekarang." jawab Defano setelah mendengar penjelasan Mahendra.
"Ok baiklah." ucap Mahendra setelah itu memutuskan panggilan.
tok tok tok, bunyi kamar Rya yang di ketuk, Rya yang mengetahui siapa yang kini sedang mengganggunya kini melangkah dengan malas ke arah pintu kamar untuk membukanya.
"Ada apa lagi?" ucap Rya memandang malas ke arah Mahendra.
"Kenapa kau berekspresi seperti itu?" tanya Mahendra
"Kenapa kau menanyai sesuatu yang sudah kau ketahui, sudah jelas aku sangat malas bertemu dan berinteraksi dengan mu." batin Rya.
"Bukan apa-apa, kau ada perlu apa?" jawab Rya yang kembali menanyai Mahendra.
"Besok aku akan pergi ke luar kota, jadi aku akan meninggalkan kau sendiri di apartemen." jawab Mahendra yang sontak membuat Rya berbinar mendengar kabar bahagia itu.
"Benarkah, kau akan pergi? berapa lama? sebulan?." tanya Rya dengan senyum yang mengembang di wajahnya, sementara Mahendra sedikit kecewa akan ekspresi bahagia dari Rya itu.
"Tiga hari, dan kau tidak boleh melakukan apapun yang membuat ku marah, ingat perjanjian kita. kalau sampai kau berbuat kelewatan kau akan mengetahui akibatnya." ancam Mahendra yang kini membuat Rya menatap Mahendra tidak suka.
"Kau tenang saja, karena ketidak hadiran mu sudah menjadi kesenangan bagi ku." Batin Rya menghibur dirinya sendiri.
"Baikah tuan, aku sangat mengerti." ucap Rya lalu segera menutup kamarnya kembali.
Mahendra yang belum selesai bicara pada Rya terlihat emosi dan kembali mengetuk pintu kamar Rya lagi.
"Ada apa lagi?" ucap Rya yang nampak sangat kesal saat membuka pintu kamarnya.
"Aku belum selesai bicara, berikan nomor ponsel mu." ucap Mahendra menyerahkan ponselnya pada Rya.
"Huhh dasar." jawab Rya namun tetap mengambil ponsel Mahendra untuk mengisi nomor ponselnya.
"Tidak ada lagi bukan? kalau begitu aku mau istirahat" ucap Rya lalu kembali menutup pintu kamarnya dengan kasar.
Sementara Mahedra hanya bisa mendengus kesal.
***
kring kring kring, bunyi ponsel Rya yang mendapat panggilan yang ternyata dari sahabatnya Risa.
"Sebentar malam kau akan ke pesta ulang tahun kak Rangga kan?" tanya Risa di seberang telfon
"Astaga aku lupa untung kau mengingatkannya pada ku, pasti aku akan ke sana." jawab Rya yang ingat akan acara malam nanti.
"Kau memang selalu seperti itu, tapi kau tenang saja ada aku sahabat mu yang akan selalu mengingatkan semuanya pada mu." ucap Risa mebanggakan diri.
"Baiklah, sampai bertemu malam nanti." jawab Rya.
"Ok see you." ucap Risa lalu mematikan panggilan telfon.
"Bagaimana ini? apakah Mahendra akan mengizinkan ku?" monolog Rya pada dirinya sendiri.
Lalu ia keluar dari kamarnya dan ingin meminta izin pada Mahendra suaminya.
Rya tidak mendapati keberadaan Mahendra dan Rya berpikir mungkin Mahendra sedang berada di dalam kamarnya.
Rya lalu mengetuk kamar Mahendra dan tak lama kemudian kamar Mahendra terbuka.
"Ada apa?" kini berganti Mahendra yang menatapnya dengan sinis.
"Aa aku mau meminta izin pada mu bahwa aku akan pergi ke pesta ulang tahun teman ku malam nanti, apakah kau mengizinkan ku?" ucap Rya dengan sedikit ragu.
Mahendra yang mendengar Rya yang meminta izin padanya untuk pergi ke suatu tempat merasa senang, pasalnya ia merasa seperti di aggap oleh wanita yang sering membangkang atas semua perintah darinya.
"Tapi bila kau tidak mengizinkannya aku tetap akan pergi." ucap Rya kemudian yang membuat Mahendra kembali kesal, walau bagaimanapun Rya tetaplah wanita yang akan selalu melanggar perkataannya.
"Kau boleh pergi." Mahendra yang memberi izin.
"Benarkah?" ucap Rya yang kini berbinar.
"Tapi sebelum itu serahkan ponsel mu." ujar Mahendra
"Untuk apa kau meminta ponsel ku?" tanya Rya yang bingung.
"Serahkan saja, atau kau tidak akan menghadiri pesta itu." ancam Mahendra.
mendengar ancaman Mahendra, Rya langsung saja melesat pergi mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar tidurnya.
"Ini." ucap Rya menyerahkan ponselnya.
Mahendra mengambil ponsel Rya dan memasang aplikasi yang akan membuat Mahendra mengetahui keberadaan Rya pada ponselnya.
"Ini untuk berjaga-jaga, karena aku tau kau adalah gadis yang ceroboh, demi keamanan aku memasang pelacak pada ponsel mu." ucap Mahendra kembali menyerahkan ponsel Rya.
"Terserah kau saja." ucap Rya dan segera berbalik meninggalkan Mahendra.
"Ehh kau mau kemana?" tanya Mahendra menghentikan langkah Rya.
"Yahh tentu saja kembali ke kamar ku." ucap Rya berbalik menatap Mahendra.
"Apa kau lupa jam makan siang yang sudah kita lewati. sekarang aku lapar, pesanlah makanan untuk makan siang kita." perintah Mahendra pada Rya.
"Bukannya tadi kau bisa melakukannya sendiri, mengapa sekarang kau berpura-pura bodoh lagi?" ucap Rya yang kini kembali kesal pada Mahendra.
"Aku tidak pernah berpura-pura bodoh, aku hanya memantaskan tugas mu sebagai seorang istri yaitu menyediakan makanan untuk suami mu yaitu aku." jawab Mahendra yang kini tersenyum penuh kemenangan.
"Huhh dasar, tukang perintah." jawab Rya lalu kembali melangkah ke arah kamarnya dan meninggalikan Mahendra.
Sementara Mahendra kembali ke dalam kamarnya dengan senyum yang mengembang.
Rya lalu memesan mkanan, dan memilih menu yang akan ia makan bersama Mahendra.
setelah memilih menu makanan, Rya lalu duduk di sofa sambil menunggu kurir pengantar makanan.
Setelah kurir tiba Rya langsung saja menyiapkan makanan untuk ia dan juga Mahendra lalu memanggil Mahendra untuk segera makan siang.
Dan pada akhirnya mereka makan bersama dengan keheningan tanpa ada pembahasan lain, Mahendra hanya sesekali memandang Rya sambil tersenyum pada tingkah wanita itu tanpa di sadari oleh Rya.