By She_Vent
Seperti orang yang hilang akal Kalycha senyum-senyum sendiri sambil menggigit kuku jari telunjuknya. Ia sangat terpesona dengan ketampanan pria yang berdiri di depannya itu.
"Hello... Are you okey?" Pria itu menjentikkan jarinya di depan Kalycha membuat Kalycha tersadar dari lamunannya.
"I'm fine. Sorry I did not mean it. (Saya baik, maaf saya tidak sengaja)"
"Oke ga masalah" menjawab dengan cool, lalu berjalan meninggalkan Kalycha. Namun baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar teriakan Kalycha.
"Kak... boleh minta nomor HPmu?"
🎀 Penasaran kelanjutan Ceritanya???
Kepoin yuk 😂
Semoga kamu semua terhibur 🤗
👉 Bebas Komentar apa saja yang penting tetep Sopan ya 👍
👉 Bebas Promo, Iklan dan Lain-lain
Disini mah kita BEBAS yang penting HAPPY 😃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon She_Vent, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Kalycha
Dor Dor Dor Doooorrr
Suara letusan senjata kembali menggema dari ruangan itu mengejutkan semua orang. Haidar yang berada didepan kembali membalikkan tubuhnya melihat apa yang sudah terjadi. Kalycha ketakutan ia mengalungkan tangannya erat dileher Haidar menenggelamkan wajahnya di dada bidang Haidar.
Haidar, Peter dan anak buahnya yang lain lalai, mereka melupakan seorang anak buah Brown yang dipukul Haidar dibagian kepalanya. Dia tiba-tiba tersadar dan mengambil senjatanya kemudian menembak Brown dan seketika anak buah Haidar yang masih siaga langsung menembak kepala orang itu. Peluru tembus dikening anak buah Brown.
Sementara Brown mendapatkan dua tembakan di punggung dan menembus jantungnya, membuat keduanya tewas ditempat.
"Aku takut Kak–." suara Kalycha tertahan oleh dada bidang Haidar.
"Kamu tenanglah semua akan baik-baik saja." Haidar masih menggendong Kalycha.
"Sepertinya dia memang sengaja menembak Tuan Brown, mereka benar-benar mengikuti sumpah Omerta mereka Tuan. Mereka bersedia mati dari pada sindikatnya terbongkar." ucap Peter.
"Sebaiknya kita cepat meninggalkan tempat ini. Apa kau sudah menyiapkan pesawatnya?" tanya Haidar pada Peter.
"Semua sudah beres Tuan."
"Aku harus membawa Nona Kalycha pulang malam ini juga. Dan bereskan semua sisanya jangan sampai mafia-mafia itu mengetahui siapa kita." Haidar memerintahkan Peter dan anak buahnya.
Peter membawa Haidar dan Kalycha menuju terdekat Bandara Franz Josef Strauss (Munich, Jerman) yang berjarak 118 km dari Fussen.
Semua barang-barang Kalycha yang di Apartemennya sudah dipindahkan anak buah Peter ke pesawat.
"Peter, semua pekerjaanku yang tertunda disini aku harap kau bisa menyelesaikannya. Apabila kau butuh bantuan kau bisa hubungi aku via email." ucap Haidar saat mereka sudah berada didalam mobil.
Haidar teringat pekerjaannya yang belum selesai karena insiden menghilangkannya Kalycha. Namun rapat penting yang harus ia selesaikan sudah beres sebelum kejadian itu terjadi.
Kalycha masih saja memeluk perut Haidar, ia terlelap karena kelelahan. Haidar saat tersiksa pasalnya kepala Kalycha berada di pahanya dan sesekali tak sengaja menyenggol yang tak seharusnya disentuh.
"Ternyata nih bocah manis juga kalau diam gini. Duh, si Juni pake acara bangun lagi." Haidar menyisihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Kalycha.
"Peter, sebelum berangkat kita singgah ke Restoran dulu. Aku rasa Nona belum makan."
"Baik Tuan." ucap Peter yang duduk dibelakang kemudinya.
Tak berapa lama mereka sampai di depan sebuah Restoran. Peter membuka pintu mobil untuk dua orang yang duduk dibangku penumpang.
"Nona. Nona–." Haidar menepuk pelan lengan Kalycha. "Bangun Nona, kita makan dulu."
Kalycha membuka matanya dan tanpa sengaja saat ia bangun tangannya menekan Juniornya Haidar.
"Auw. Sakit Nona." Batinnya. Haidar menahan sakit pada bagian juniornya dengan merapatkan bibirnya.
Kalycha tidak sadar kalau perbuatannya itu bisa saja membunuh Haidar.
"Apa kita sudah sampai Kak?" Kalycha belum sadar betul, ia mengedarkan pandangannya kesekitar tempat itu.
"Kita makan dulu, Aku lapar."
Kalycha melihat Haidar meringis menahan sakit.
"Kakak kenapa?" tanya Kalycha.
"Aku ga apa-apa Nona, kakiku hanya kram sedikit." Haidar memukul-mukul pelan pahanya ia sengaja berbohong karena tak mungkin baginya berkata yang sebenarnya. Lalu Haidar keluar dari mobil, ia masih menahan rasa sakit dibagian bawah miliknya. Ia mengulurkan tangannya membantu Kalycha keluar.
"Maaf ya Kak–." Kalycha menyambut uluran tangan Haidar.
"Iya ga apa-apa Nona, kita makan dulu. Setelah itu kita langsung pulang ke Indonesia. Apa Nona masih keberatan kalau kita pulang ke Indonesia?"
Kalycha yang berjalan disamping Haidar hanya menggelengkan kepalanya.
Peter sudah memilih tempat untuk mereka duduk. Beberapa orang anak buahnya masih mengawasi mereka takut ada yang menyerang mereka tiba-tiba.
"Peter, kau harus hati-hati dengan para mafia itu. Bisa saja mereka dendam dan akan membalas kita." ucap Haidar disela-sela mereka menikmati makanannya.
"Semua beres Tuan, dan anak buah Tuan Jack sudah memastikan tidak ada yang akan curiga kalau itu perbuatan kita. Lagi pula Brown hanya memakai anak buahnya saat melakukan penculikan Nona dia tidak melibatkan anggota mafianya. Hanya saja–." Peter menghentikan ucapannya.
"Ada apa Peter?"
"Orang yang menembak Tuan Brown itu tergabung dalam anggota mafia. Makanya dia menembak Tuan Brown. Namun kami sudah membereskan semuanya Tuan."
"Kalau terjadi sesuatu nanti, kau hubungi anak buah Jack. Mereka sudah lebih paham tentang para sindikat mafia itu."
"Baik Tuan."
Kalycha hanya diam menikmati makanannya airmatanya menetes mengingat Brown yang sudah meninggal. Meskipun Brown sudah jahat padanya tapi dia tetaplah adik dari Ibunya.
Haidar sadar akan kesedihan Kalycha ia mengelus punggung Kalycha, seolah memberi kekuatan padanya.
Selesai menikmati makanannya mereka kembali melanjutkan perjalannya ke Bandara untuk kembali ke Indonesia. Selama dalam perjalanan Kalycha tidak ingin sendirian, dirinya masih ketakutan. Bahkan saat dipesawat dirinya tetap tidak ingin sendirian.
"Nona sebaiknya Nona tidur saja." Haidar meminta Kalycha untuk berbaring di tempat tidur yang ada dipesawat itu.
Kalycha membaringkan tubuhnya, ia merasa sangat lelah. Apalagi sudah dua malam dirinya tidak tidur karena ketakutan. Haidar membantu menyelimuti tubuhnya.
"Kakak mau kemana?" Kalycha bangun saat melihat Haidar ingin melangkah keluar.
"Nona istirahat saja perjalanan kita masih jauh." jawabnya tanpa menghiraukan pertanyaan Kalycha.
"Aku takut Kak–, tolong jangan tinggalkan aku."
"Kenapa dia jadi manis begini. Kasihan dia, mungkin dia masih trauma dengan apa yang baru di alaminya." Haidar melihat wajah sendu Kalycha seperti ada yang tersentuh dihatinya.
"Baiklah." Haidar kembali dan duduk ditepi tempat tidur.
Tak berapa lama Haidar menemani Kalycha akhirnya putri kesayangan Tuannya itu tertidur lelap. Karena posisi tempat tidur itu hanya muat untuk satu orang akhirnya Haidar membenarkan posisi duduknya ia mengangkat kepala Kalycha dan meletakkannya diatas pahanya supaya dia dapat bersandar di dinding pesawat.
...🍥🍥🍥...
🏠 BRAMASTA
Pram, Nayla dan Oma Milah sudah tidak sabar menanti kepulangan Kalycha. Jarak tempuh antara Jerman ke Jakarta memakan waktu sekian 16 Jam perjalanan.
Mereka berangkat sekitar jam 10 malam dan akan tiba di Indonesia sekitar jam 2 siang. Ingin sekali Nayla ikut pergi menjemput Kalycha ke Bandara tapi Pram melarangnya karena selain macet pasti jalanan Ibukota sangat panas. Saat Nayla sakit muntah-muntah ternyata dirinya sedang Hamil. Itu sebabnya Pram melarangnya untuk ikut. Pram memintanya Ibunya untuk menemani Nayla dirumah.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.15 Wib saat Pram melihat jam tangannya. Pram menelpon Haidar, deringan ketiga barulah Haidar mengangkat teleponnya.
"Haidar kalian sudah dimana?"
"Ini sudah mau keluar Tuan."
Haidar sambil mendorong troli yang berisi koper miliknya dan juga koper Kalycha. Sementara Kalycha mengikutinya berjalan di sampingnya melenggang hanya membawa tas ransel kecil miliknya.
Haidar sudah melihat keberadaan Pram dan memutuskan panggilan teleponnya dan berjalan kearahnya.
"Daddy–." Kalycha berlari kearah Pram dan memeluk Pram.
Haidar hanya bisa memandangi dua anak beranak itu saling melepaskan rindunya. Pram mencium kedua pipi dan kening putrinya itu. Rasa bersalah dan rasa takut kehilangan Kalycha membuatnya menangis haru saat melihat putrinya pulang dengan selamat.
"Daddy maafkan Icha–." Kalycha terus saja menangis dalam pelukan Pram.
"Daddy yang salah sayang, seharusnya Daddy ga membiarkanmu pergi kesana." Penyesalan Pram yang teramat dalam yang membuatnya hampir saja kehilangan putrinya itu.
"Maafkan Icha Dad–. Mulai sekarang Icha akan jadi anak yang nurut, Icha ga akan nakal lagi Dad."
Apa iya Cicak bisa jadi anak Penurut? Kok Author ragu ya– 🤔
tpi mksh thor dh up