Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-33
Dia menatap wajah cantik istrinya yang sedang tertidur lelap. Sesekali, mengusap keningnya dengan penuh kasih sayang. Dia terus memperhatikan setiap inci dari wajah istrinya itu. Terlihat dari sudut matanya, sepertinya dia sedang menahan rasa sesak di hati.
Dia mulai mengangkat tubuh mungil istrinya, ke atas tempat tidur. Menurunkannya dengan perlahan. Lalu, menyelimutinya dengan penuh kehati-hatian. Takut, bila sang istri terbangun dari tidurnya.
Dia mulai membuang nafas, berharap rasa sesak itu segera pergi. Dengan segera, dia mulai mencium kening istrinya. Lalu meninggalkannya sendirian.
Hari sudah pagi, Tasya mulai terbangun dari tidurnya. Wajah paginya, terlihat sangat bahagia. Sepertinya, semalam dia bermimpi indah?!
"Tunggu!" Tasya memperhatikan ke sekelilingnya.
"Kok aku bisa tidur di kasur sih?!" Tasya segera turun dari tempat tidur itu.
"Apa mimpi semalam itu nyata?" tanya Tasya pada dirinya sendiri.
Tanpa dikomandani, senyum di bibirnya mulai merekah. "Itu bukan mimpi!" serunya senang.
Dengan semangat, Tasya melakukan ritual paginya dengan ceria dan bahagia. Dimulai dari mandi, melaksanakan ibadah salat, hingga merapikan tempat tidur.
Dengan cepat, ia segera menuruni anak tangga. "Tasya, hati-hati! Jangan lari-lari seperti itu!" ucap Santi mengingatkan.
Tasya mulai mengontrol kecepatan kakinya dalam melangkah. Setibanya di dekat Santi, Tasya langsung memeluknya.
"Lho... lho... ada apa ini? Anak Mama sepertinya sedang bahagia!" ujar Santi, sedikit heran pada Tasya. Tidak biasanya dia terlihat semangat dan bahagia di pagi hari seperti ini.
"Biarkan Tasya memeluk Mama sebentar..."
Santi hanya bisa tersenyum, ia ikut bahagia jika Tasya merasa bahagia. Santi mulai mengelus puncak kepala Tasya dengan lembut.
"Mama, apa Angga masih ada di rumah?" tanya Tasya sambil melepas pelukannya.
Santi mengangguk, "Seperti biasa, dia sedang berolahraga. Sekarang kan hari minggu!" ujar Santi.
"Tasya akan memasak banyak makanan kalau begitu!" ucap Tasya bersemangat.
***
"Apa kau sudah pulang?"
"Tentu saja!" sahut Bije, ketus.
"Kalau begitu, tolong selidiki tentang asal-usul perusahaan Tunivs, beserta keluarganya!"
"Ya ampun, Ga... aku baru saja pulang!" Bije mengeluh. Karena, ia terus saja bolak-balik ke luar kota untuk mengurus pekerjaannya.
"Ini sangat penting. Kemarin, aku sedikit menyelidiki tentang perusahaan itu. Sepertinya ada yang aneh!" ujar Angga.
"Aneh apanya? Bukannya kau sudah tahu, kalau itu perusahaan milik ayahnya Mona?"
"Justru itu, ada hal yang baru aku ketahui. Pokoknya, kamu harus menyelidiki sampai ke akar-akarnya!"
"Aku sudah tahu!" ujar Bije, malas.
"Apa?" Angga mengorek telinganya, lalu menempelkan ponsel ke telinganya lagi.
"Aku sudah pernah menyelidiki perusahaan itu beserta asal-usulnya!"
"Itu kan dulu! Tapi ini berbeda, aku ingin kau menyelidiki lebih dalam lagi!"
"Iya, aku sudah menyelidiki semuanya. Saat ibumu meminta aku untuk menyelidiki istrimu, sebelum kalian resmi menikah."
"Hah? Kenapa kau tidak memberitahuku!" kata Angga, dengan nada kesal.
"Lalu, apa yang kau ketahui?" tambahnya.
"Begini, sebenarnya perusahaan itu milik almarhum Pak Wijaya. Dan seharusnya, perusahaan itu sekarang menjadi milik istrimu---" kalimatnya terpotong ketika Bije mulai menyadari ada yang mengganjal.
"Tunggu! Tadi kau bilang apa?!" spontan Bije menutup mulutnya.
"A-apa kau..."
Di sisi lain...
"Uhmm... ini terlihat sangat lezat, benarkan, Ma?"
Santi tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tentu saja! Angga pasti menyukainya!" ujar Santi.
"Apalagi, saat ini Angga hanya ingin memakan makanan yang kamu buat, Nak!" tambahnya.
"Tasya senang, karena Angga memakan makanan yang Tasya buat setiap hari!" ucapnya senang.
"Mama merasa heran, mengapa Angga tidak mual bila memakan masakan yang kamu buat? Sedangkan, bila memakan masakan Mama. Angga malah memuntahkannya!" kata Santi, heran.
"Tasya juga merasa begitu. Apa sebaiknya kita bawa Angga ke dokter saja, Ma?"
"Kita kan selalu membujuknya. Tapi, Angga tetap tidak mau!" ujar Santi, kecewa.
"Hmm..." Tasya memanyunkan bibirnya, lalu duduk di kursi yang ada di ruang makan itu.
***
Tasya terus menatap Angga yang sedang melahap makanan buatannya. Baginya, melihat suaminya memakan makanannya dengan nikmat. Sudah membuat perutnya terasa kenyang.
"Sayang, kok gak dimakan?" tanya Santi, menatap piring milik Tasya yang masih penuh.
"I-iya, Tasya makan kok!" Tasya segera melahap makanannya, sambil menatap wajah Angga.
"Ma, hari ini Angga ada urusan. Jadi, Angga gak bisa lama-lama..." ujarnya sambil membawa piring kotornya ke wastafel.
"Sayang, ini kan hari minggu! Kamu harus ada waktu untuk beristirahat!" kata Santi.
"Maaf, tapi ada hal penting yang harus Angga lakukan!" ujarnya, perlahan meninggalkan Santi dan Tasya.
Tasya memasang wajah cemberut, "Ma, kok Angga masih tetap ingin menghindari Tasya?" keluhnya sedih.
"Jangan bilang begitu, Angga bilang kan ada hal penting. Jadi, Angga tidak bermaksud menghindari kamu, Nak!" ujar Santi, berusaha menenangkan Tasya. Namun, Tasya tetap merasa tidak tenang.
Akhirnya, Tasya berniat untuk mengikuti ke manapun Angga pergi. Namun, tanpa sepengetahuan Santi maupun Angga sendiri. Ia bergegas ke luar rumah, setelah melihat Angga ke luar tadi. Sebelumnya, Tasya sudah memesan Taksi. Jadi, ketika Angga sudah pergi, Tasya bisa langsung mengikutinya menggunakan Taksi.
Tiba-tiba saja mobil Angga berhenti di sebuah taman. Angga terus berjalan, tanpa merasa ada orang yang mengikutinya. Sementara Tasya mengendap-endap, mengikuti Angga.
"Kok ke sini sih? Ada hal penting apa di taman?" Tasya memicingkan matanya.
"Mbak, lagi apa?" tanya seseorang, sambil menepuk pundak Tasya.
"Eh!" Tasya terkejut.
"A-anu... saya... saya mau masuk ke taman!" Tasya segera pergi dengan cepat. Namun, ia kehilangan jejak Angga.
Tasya menggerutu, "Ih! Ini semua gara-gara orang itu! Aku jadi kehilangan jejaknya!"
"Siapa sih tadi itu?" Tasya mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Angga... kamu di mana??" matanya melirik ke sana-sini. Tasya terus melangkah, sampai akhirnya ia menemukan Angga.
"Itu siapa ya?" gumamnya.
"Ih! Kamu ganggu tahu!" Tasya memarahi dedaunan yang menghalangi pandangannya.
Tasya sedikit bergeser dari tempatnya berdiri, "Lho... itu kan Mona!" seketika saja Tasya merasakan sesak. Ia mengepalkan tangannya dengan erat, matanya pun mulai berkaca-kaca. Apalagi saat Mona memeluk Angga di depan matanya. Membuat perasaannya sedih, marah, kecewa, sakit, semuanya menjadi satu.
"Jadi ini yang kamu bilang sangat penting?" Tasya mulai menjatuhkan air matanya.
Tasya segera pergi dari tempat itu, tidak peduli bila ada orang yang melihat keadaan terburuknya ini.
"Aku benci kamu!" jerit Tasya, dalam hati.
Tiba-tiba saja pandangannya mulai kabur. Tubuhnya mulai tidak seimbang.
BRAK!
Orang-orang di sekitarnya mulai mendekati, ketika tubuh Tasya sudah tergeletak di atas tanah.
"Tolong, wanita ini pingsan!" kata salah satu orang di sana.
Mereka segera membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ujar Angga.
"Em... makasih sayang, aku senang deh! Kamu bisa meluangkan waktu untukku!" ucap Mona, sambil bergelayut manja.
"Kenapa orang-orang itu berkumpul?" tanya Angga saat melihat beberapa orang sepertinya sedang panik.
"Ah! Mungkin mereka keluarga yang lagi piknik!" ucap Mona.
"Pak, Pak! Di sana ada apa ya?" tanya Angga, pada pria yang datang berlawanan arah darinya.
"Oh itu, tadi ada wanita pingsan. Tapi, sudah dibawa ke rumah sakit sekarang!" kata orang itu.
"Tuh kan sayang! Itu gak penting tahu!" ujar Mona.
"Makasih Pak!" ucap Angga berterima kasih sekaligus malu. Karena Mona malah terus menempel padanya dan malah menunjukkan sikap ketidakpeduliannya pada sesama.
***
Happy reading 🥰
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤