Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.Pikiran Anin
"Danis, dia berpakaian rapi bahkan ia memakai jas dan itu Dafa yang menjemputnya?" Anin ternganga tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
"Apa, Danis menyembunyikan sesuatu dariku?" Kata Anin, ia sibuk dengan pikiran yang ada di otaknya.
Anin terdiam, ia hanya melihat mobil yang dinaiki Danis itu berlalu pergi. Ia kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat kerjanya. Ia juga membawa bekal yang tadi mau diberikan pada Danis tapi tidak jadi.
Sambil berjalan, pikiran Anin hanya Danis dan Danis, hingga waktu menyebrang ke tempat kerjanya Anin hampir saja tertabrak mobil untung Rifki langsung menarik Anin dengan cepat.
Kini Anin berada tepat di pelukan Rifki, Anin hanya terdiam sedangkan Rifki begitu kawatir pada Anin gadis yang selama ini ia sukai.
"Anin, kamu tidak apa-apa?" Tanya Rifki, ia melepaskan Anin dari pelukannya lalu menatap Anin dengan tatapan kawatir.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Anin dengan singkat.
"Danis, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Batin Anin dalam hatinya.
Anin kembali terdiam dan kembali melangkahkan langkah kakinya dengan langkah gontai.
Rifki menatap Anin, ia merasa hari ini Anin begitu berbeda dari hari-hari biasanya.
"Ada apa dengan Anin?" Rifki mengikuti langkah kaki Anin tepat dibelakangnya.
"Apa dia, sedang ada masalah?" Tanya Rifki pada dirinya sendiri.
Anin memberhentikan langkah kakinya, lalu ia menaruh semua barang-barangnya di loker tempat kerjanya.
Setelah menaruh semuanya, Anin berjalan menuju ke dapur tatapan Rifki tidak hilang dari Anin, ia terus menatap Anin dengan penuh rasa kawatir. Ia duduk disebuah kursi yang tidak jauh dari dapur.
Anin melakukan pekerjaannya dengan males.
"Danis, apa yang sebenarnya di sembunyikan dariku oleh dia?" Hati Anin terus bertanya-tanya.
Rifki berjalan menuju Anin sedang mengelap meja dapur.
"Anin, ikutlah denganku!" Kata Rifki, ia meraih tangan Anin dan langsung menarik untuk mengajaknya ke taman.
Sesampainya di halaman, Anin mengibaskan tangan Rifki dengan kasar.
"Maaf tuan, lepasankan tangan saya!" Kata Anin, tanpa menatap wajah Rifki.
"Apa, kamu sedang ada masalah?" Tanya Rifki, ia hendak mengangkat dagu Anin tapi dengan cepat ditepis oleh Anin.
"Maaf tuan, mohon jaga sikap tuan!" Anin menundukkan kepalanya.
Rifki hanya diam, ia duduk dikursi yang ada di halaman cafe miliknya.
"Maaf tuan, saya lanjutkan kerja saya dulu!" Anin berlalu pergi, ia meninggal Rifki begitu saja yang sedang duduk dikursi itu.
Rifki memegang kepalanya dengan kedua tangannya, ia bingung kenapa Anin tidak bisa menyukai dirinya sedikit saja. Padahal ia sudah berusaha mendapatkan hati dan perasaan Anin.
.
.
.
Danis..
Danis sudah sampai dikantor, ia sedang bertemu dengan klien diruang mitting. Kliennya hari ini adalah wanita cantik yang ternyata sudah lama menaksir dengan Danis. Jadi ia meminta Danis langsung yang menemui dirinya.
Dafa tidak bisa menolak, akhirnya ia menelpon Danis agar mau menemui klien yang katanya penting itu.
"Selamat pagi Tuan Danis, kenalkan saya Alona." Alona menyapa Danis dengan genit, ia mengulurkan tangannya dan Danis juga ikut mengelurkan tangan pada Alona.
"Kenalkan nona, saya Danis Kusuma." Jawab Danis, ia tidak membalas tatapan Alona.
"Dasar gadis genit," Batin Danis dalam hatinya.
Alona terus menjabat tangan Danis, bahkan ia juga memegangnya sambil memainkan tangan Danis. Membuat Danis merasa kesal tapi ia membiarkannya.
"Maaf nona, bisa anda melepaskan jabat tangan anda! Dan mari mulai mitting kita." Kata Danis dengan tatapan tegas, dalam hatinya sekarang hanya ingin cepat-cepat ketemu Anin dan ingin segera memeluknya.
Alona melepaskan jabatan tangannya dari tangan Danis, ia agak kesal karena merasa Danis itu sangat sombong.
Dafa mulai mempresentasikan mitting hari ini dengan begitu baik. Danis dan Alona sama-sama mendengarkan dengan baik.
Setengah jam telah berlalu, akhirnya mitting hari ini selesai, Danis juga menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan Alona.
"Semoga senang bekerja sama dengan perusahaanku tuan." Kata Alona, ia mengulurkan tangannya dan mereka saling berjabat tangan.
"Iya Nona Lona." Jawab Danis singkat.
Alona melepaskan jabat tangannya dari Danis, ia terus menatap Danis dengan tatapan lembut.
"Apa, boleh kita makan siang bersama dulu?" Tanya Alona, dengan penuh harap.
Danis menatap Dafa, lalu Dafa menganggukan kepalanya memberikan isyarat pada Danis agar menerima ajakan makan siang Alona.
"Baiklah, itung-itung untuk tanda kerja sama perusahaanku dan perusahaan dia." Batin Danis dalam hatinya.
.
.
Makan siang.
Setelah selesai mitting Danis, Alona dan Dafa, mereka makan siang bersama untuk merayakan kerja sama perusahaan mereka.
Siang ini, mereka menikmati makan siang bersama. Biarpun Danis saat ini sedang makan siang dengan kliennya tapi hati dan pikirannya tidak tenang dan ingin segera bertemu dengan Anin.
"Tuan Danis, apakah anda sudah punya kekasih?" Tanya Alona penasaran.
"Sudah nona." Jawab Danis singkat.
"Dafa, kamu temanin Nona Alona makan siang ya! Aku mau pergi dulu." Danis beranjak dari tempat duduknya, lalu ia berlalu pergi meninggalkan Dafa dan Alona yang sedang makan siang.
Dafa hanya menatap kepergian Danis dari restauran tempat mereka makan.
"Apakah, sebegitu tidak sabarnya dia bertemu dengan Anin?" Pikir Dafa dalam hatinya.
Alona merasa sangat kesal sekali, bisa-bisanya Danis meninggalkan dirinya saat makan siang bersama.
"Dasar, bisa-bisanya kamu bersikap tidak sopan denganku!" Batin Alona dalam hatinya.
Setelah Danis pergi, Alona juga beranjak dari tempat duduknya.
"Saya pergi dulu, kamu lanjutkan makannya saja Sekretaris Dafa!" Kata Alona, dengan tatapan sinis pada Dafa.
"Baik nona!" Jawab Dafa dengan singkat.
Alona meninggalkan restauran itu dengan begitu kesal.
.
.
Danis langsung naik taksi menuju Kerumahnya, setelah sampai dirumahnya Danis segera berganti pakaian dan langsung pergi menuju ke tempat kerjanya untuk bertemu Anin.
"Sayang, aku merindukanmu." Kata Danis, ia sudah tidak sabar bertemu dengan gadis yang sudah menjadi kekasihnya itu.
Danis melangkahkan kakinya dengan begitu bahagia, karena rasa rindunya akan segera terobati.
.
.
Sesampainya di depan tempat kerjanya, Danis melihat Anin sedang membuang sampah.
"Anin, kelak aku tidak akan membuatmu berkerja keras seperti ini lagi. Aku akan menjadikan kamu ratu dalam hidupku." Gumam Danis, sungguh ia tidak tega melihat wanita yang ia cintai berkerja keras seperti itu.
Danis melangkahkan kakinya menuju ke Anin berdiri.
"Anin....." Panggil Danis dengan lembut.
Anin menoleh tapi ia tidak tersenyum pada Danis, Danis bingung kenapa Anin hanya diam saja?
Danis mendekatkan dirinya pada Anin, ia berdiri tepat dihadapan Anin dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Sayang, apa kamu lelah?" Tanya Danis, ia mengusap rambut panjang Anin.
"Kamu bilang, kamu pergi menjenguk orang tuamu yang sakit. Tapi aku tadi pagi melihat kamu berpakaian rapi, bahkan kamu memakai setelan jas dan aku melihat Dafa menjemputmu." Kata Anin dengan penuh tanda tanya, sorot mata Anin meminta penjelasan pada Danis.
Danis terdiam.
"Apa tadi pagi, Anin melihat semuanya?" Batin Danis dalam hatinya.
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Anin dengan sorot mata tegas.
"Aku....."
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...