Rangga melemparkan bantal keatas lantai dan menyuruh Naya untuk tidur disana. Ia tak ingin satu ranjang bersama Naya.
Dengan pasrah Naya mengikuti keinginannya tanpa perlawanan sedikitpun. Ia tak mengira jika laki-laki itu akan memperlakukannya sampai seperti ini hanya karena ia adalah anak dari kedua orangtuanya yang tadinya menjadi pembantu dirumah ini.
Naya menatapnya nanar dan berjongkok lalu duduk diatas lantai. Hatinya terasa sakit dan perih, "Demi Allah aku juga tak sudi satu ranjang denganmu!" bisiknya dengan tangis tertahan.
Bagaimana kelanjutannya?
Cerita ini mengandung konten dewasa hanya untuk usia 21+.
Penasaran dengan jalan ceritanya? Baca selengkapnya.
COVER BY PEXELS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady B, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Naya
Rangga mendatangi Naya sepulang dari hotel untuk memberitahukan rencananya di hadapan kedua orangtua Naya. Lukman menghardik nya dengan ketus, "Apa maksud Tuan dengan semua itu?" tanyanya geram. "Apa Tuan mau menjadikan Naya sebagai simpanan!"
Naya dan Rangga terkejut, Marni berusaha menenangkan nya, "Jangan begini, Pak," pintanya.
Rangga berusaha untuk tetap sabar karena yang ia hadapi adalah orangtua wanita yang ia cintai, "Saya mencintai Naya dan tak bisa berpisah dengannya."
"Cinta tidak harus selalu bersama kecuali jika diikat dengan tali pernikahan," tandas Lukman.
"Tapi itu tak mungkin. Sekarang kita berada dalam ancaman Tias," dalih Rangga.
Lukman menarik nafas pendek dan menghembuskan nya berat. Ia berusaha berpikir apa yang harus dilakukannya sebagai seorang ayah demi Naya dan Rangga, "Menikah diam-diam."
Naya dan Rangga terkejut, "Maksud Bapak?" tanya Rangga.
"Nikahi Naya tanpa sepengetahuan siapapun. Setidaknya kalian telah terikat tali pernikahan dan halal di mata Allah."
Rangga tak pernah terpikirkan akan hal itu.
"Apa Mas bersedia?" tanya Naya.
Rangga menatapnya lekat. Demi wanita yang sangat ia cintai ini ia rela melakukan apapun, "Iya, aku setuju."
Naya tersenyum lega.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan rencana itu esok hari di sebuah masjid yang terletak lumayan jauh dari kawasan tempat tinggal mereka agar tak terendus oleh siapapun.
.....................
Rangga membeli cincin pernikahan di sebuah toko perhiasan sederhana bersama Marni dan Naya. Naya nampak terlihat bahagia hingga matanya berkaca-kaca ketika Rangga mencoba memasukkan cincin itu di jari tengahnya.
"Kamu suka?" tanya Rangga.
Naya mengangguk cepat, "Suka, Mas.
Mereka kemudian bergegas menuju masjid yang tempat pernikahan keduanya akan dilaksanakan.
13.00 wita:
Rangga menjabat tangan Lukman dan mengucapkan ijab kabul dengan lantang. "Saya terima nikah dan kawinnya Naya binti Lukman Asnawi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah?"
"Sah?"
"Alhamdulillah...." desah Lukman dan para saksi pernikahan itu yang merupakan teman dekat Lukman yang ia mintai tolong.
Naya lantas mencium tangan Rangga dan keduanya bertukar cincin.
Setelah acara pernikahan itu Rangga kembali ke hotel. Naya bersedih karena tak bisa berbulan madu karena keadaan tak memungkinkan untuk mereka menghabiskan waktu bersama.
Tepatnya ba' da isya Ilham mendatangi rumah Naya untuk memintanya menjadi pengasuh Sulaiman atas kesepakatannya dengan Rangga. Naya pun menyanggupinya dan akan datang kerumah keluarga Fatahillah keesokan harinya.
Ilham meminta klining service untuk membersihkan kamar Naya sepulangnya dari rumah wanita itu. Ia menata sedemikian rupa dan melengkapinya dengan fasilitas lengkap dan sedikit mewah agar Naya betah. Kamar itu terletak di samping kamar Sulaiman. "Akhirnya aku bisa dekat dengannya," batin Ilham memandangi kamar Naya yang tengah di tata rapi di depan pintu kamar itu.
09.00 wita:
Naya membereskan baju dan semua yang ia butuhkan selama tinggal di rumah keluarga Fatahillah. Marni memperhatikannya di depan pintu dengan tatapan sendu. Ia berat melepaskan Naya dan takut dengan apa yang akan ia alami karena akan tinggal lagi di rumah itu. Ia pun hanya bisa berdoa.
Naya mengangkat koper nya dan keluar dari kamarnya di ikuti Marni. Ilham bangkit dan membantunya membawakan koper itu.
"Baik-baik ya, Nak. Sering-sering hubungi Emak. Jangan simpan masalah mu sendirian. Cerita kalau ada apa-apa," pinta Marni lirih.
"Iya, Mak. Sekarang status ku adalah pekerja dan pasti aku akan sering-sering pulang," hibur Naya.
Marni memeluknya dan mencium kedua pipinya, "Hati-hati pintanya.
Naya melambaikan tangan kepada Marni. Sekalipun jarak rumah keluarga Fatahilllah dan rumah Marni sangat dekat tapi perpisahan dengan Naya terasa sulit bagi Marni mengingat hal buruk yang di alami putrinya.
Ilham dan Naya tiba. Tias dan Susan serta Rina menatap mobil Ilham kebingungan karena Ilham kembali pulang kerumah. Naya pun turun diikuti Ilham. Ketiga wanita itu terkejut dan Tias seketika bangkit. Ilham mengabil koper Naya dari dalam bagasi dan mempersilahkan Naya masuk kedalam rumah.
Naya menarik nafas mengumpulkan keberaniannya menghadapi Tias.
"Kenapa kamu balik kerumah ini?!" pekik Tias berang.
Susan dan Rina mendekat, "Kenapa kamu membawa Naya, Ilham?" tanya Susan bingung.
"Mulai detik ini Naya akan menjadi Sulaiman."
Mereka terkejut bukan main. Tias pun meradang, "Kakak apa-apaan! Kenapa wanita pembunuh ini malah dipekerjakan! Apa tak ada pengasuh lain yang bisa di sewa!"
"Ini keinginanku! Masalah mu dengan Naya tak ada sangkut pautnya dengan aku dan putra ku! Sebaiknya kamu jangan ikut campur dan mencoba mengendalikan apa pun di keluarga ini lagi!" bentak Ilham tegas menunjuk wajahnya.
Naya mengikuti Ilham menuju kamarnya tanpa mempedulikan Tias. Tias meremas majalah yang ada di tangannya saking kesal dengan apa yang dilakukan Ilham. Ia sangat takut jika Naya akan kembali dekat dan bisa merebut suaminya.
"Masukkan baju mu ke lemari. Istirahatlah, jika ada yang kurang langsung katakan saja padaku," pinta Ilham tegas dan meninggalkan Naya.
Naya tak mengira dengan apa yang di persiapkan Ilham untuknya, hingga ia berpikir jika Rangga ikut andil dengan fasilitas mewah yang ia terima, "Alhamdulillah," bisiknya seraya duduk di sisi ranjang nya, "Terimakasih Mas, Kak," gumam nya senang.
Tias berbicara tegas kepada Susan. Ia meminta agar Naya segera di keluarkan dari rumah itu, tetapi Susan menolak jika itu memang keinginan Ilham dan tak ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga putranya. Sementara Rina berpikir jika Ilham melakukan semua itu untuk memiliki Naya karena ia sangat mengetahui bagaimana perasaan Ilham kepada Naya.
"Apa Mama tak curiga jika wanita itu ingin kembali memiliki Rangga?" hardik Tias menjamah telapak tangan Susan untuk meyakinkannya. "Aku yakin wanita itu mempunyai niat untuk memikat Rangga kembali dan merebutnya dariku! Kasihani aku, Ma!"
Susan pun mengikuti keinginannya "Baiklah," ucapnya. "Mama akan bicara dengan Ilham." Ia segera menuju kamar Ilham dan berbicara dengannya empat mata di meja kerjanya.
"Mama ingin aku mengusir Naya?" tanya Ilham dengan suara agak melengking dan wajah dingin.
"Tindakan mu bisa berakibat buruk untuk rumah tangga adik mu," sergah Susan bimbang. Ia tahu alasan Ilham mempekerjakan Naya karena Naya sangat menyayangi Sulaiman. Tetapi ucapan Tias juga tak keliru karena ia tahu Rangga belum bisa melupakan Naya hingga detik ini.
"Semua ini tak ada kaitannya dengan Rangga. Rangga dan Naya sudah tak berhubungan lagi setelah perceraian mereka. Lagipula aku menyukai Naya. Mama pasti ingat bagaimana kasih sayang yang di tunjukkan Naya kepada Sulaiman. Hanya dia yang bisa ku percaya," jelasnya jujur. "Lagipula apa yang di lakukan Naya dulu karena ulah Tias juga. Dia wanita baik-baik, Ma."
Di luar kamarnya Rina dan Tias menguping pembicaraan mereka. Tias pun sedikit lega mendengar pengakuan Ilham dan juga meradang karena mengungkit apa yang telah ia lakukan dulu.
Bersambung....
maju ilham lindungi naya