Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMUTAR BALIKKAN FAKTA
Waktu berlalu beberapa menit. Dewangga masih berdiri di halaman rumah ketika akhirnya Nafisa dan Yulia kembali keluar. Kali ini, mereka sudah membawa koper berisi pakaian milik Yulia.
Dewangga mengalihkan pandangan kepada keduanya. Ia kemudian melangkah mendekat ketika melihat Nafisa kesulitan membawa barang bawaan ibunya.
“Pak, kami sudah siap. Ayo berangkat sekarang,” ujar Nafisa.
Dewangga mengangguk singkat. “Hm.”
Ia segera meraih koper yang dibawa ibunya Nafisa. Namun saat hendak melangkah pergi.
“Pak Dewangga, bagaimana? Kapan Nyoba Rima pulih?”
Dewangga menghentikan langkahnya. Ia menoleh, mendapati lurah itu masih berusaha bersikap akrab.
Sudut bibir Dewangga terangkat tipis.
“Saya tidak suka orang munafik seperti Anda,” ucapnya dingin.
Senyum Pak Adi langsung memudar. Ia tampak hendak membalas, tetapi Dewangga sudah lebih dahulu memalingkan wajah.
Tanpa menunggu tanggapan, Dewangga kembali melangkah bersama Nafisa dan ibunya Nafisa.
Melihat kepergian mereka.
Damar masih mengikuti mengikuti punggung Yulia dan Nafisa yang semakin menjauh membuat rahangnya mengeras.
“Kenapa bisa?” gumamnya.
Damar mengepalkan tangan.
Namun, sebelum sempat memikirkan hal lain, suara panik Pak Adi terdengar di dekatnya.
“Gawat! Kalau sampai Pak Dewangga melaporkan kejadian ini kepada Nyonya Besar, hancur sudah jabatanku!”
Damar menoleh. Ia baru menyadari bahwa calon ayah mertuanya itu terlihat jauh lebih cemas daripada dirinya.
Pak Adi mengusap wajahnya kasar, kemudian berbalik menatapnya.
“Damar, katakan yang jujur. Apa benar wanita tadi istrimu?”
Damar terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya serba salah. Mengakui bahwa Yulia adalah istrinya berarti membenarkan semua perkataan perempuan itu di hadapan warga.
Damar tak langsung menjawab, netranya melirik ke arah kerumunan warga yang masih bertahan di halaman.
“Kenapa diam saja?” desak Pak Adi.
Damar mengembuskan napas panjang, lalu mendekat agar percakapan mereka tidak terdengar oleh orang lain.
“Kita bicarakan di dalam saja, Pak. Enggak enak dilihat banyak orang. Apalagi ada Laras.”
Ia melirik Laras yang masih berdiri dengan tubuh tertutup selimut.
“Sudah, ayo masuk.”
Pak Adi berjalan lebih dahulu menuju rumah dengan langkah lebar. Damar menyusul setelah berbalik menghampiri Laras.
“Kamu bisa berdiri?” tanyanya.
Laras mengangguk kecil.
Damar segera mengulurkan tangan untuk membantunya bangkit. Setelah Laras berdiri, ia merapikan selimut yang menyelimuti tubuh perempuan itu agar tidak tersingkap.
“Mas, aku malu sekali,” bisik Laras sambil mencengkeram lengan Damar.
Damar mengusap bahunya sekilas. “Sudah, kita masuk dulu. Nanti kita bicarakan semuanya.”
Ia kemudian merangkul Laras dan membawanya masuk ke rumah.
Setibanya di dalam rumah, Damar masih merangkul Laras. Pandangannya langsung tertuju pada Pak Adi yang sudah duduk di salah satu kursi kayu.
Ia mengalihkan pandangan kepada Laras yang masih bersembunyi di balik selimut.
“Pakai pakaianmu dan tunggu di kamar,” ujar Damar pelan.
Laras mengangguk.
“Duduk!”
Suara tegas itu membuat pandangannya beralih menatap Pak Adi.
Damar menelan ludah sebelum akhirnya melangkah mendekat dan duduk di hadapan pria paruh baya tersebut.
“Sekarang, jawab pertanyaan saya tadi.” Pak Adi menyilangkan tangan di depan dada. “Apa benar wanita itu istrimu?”
Damar menghela napas panjang. Ia tahu tidak bisa terus menghindar. Namun, ia juga tidak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya begitu saja.
“Iya, Pak. Wanita itu memang istri saya,” jawabnya akhirnya.
Pak Adi mengernyit. “Lalu, kenapa kamu bilang dia pembantumu?”
Damar menunduk sesaat, berpura-pura kesulitan menceritakan masalah yang menimpanya.
“Tapi, kami menikah karena tekanan warga, Pak. Semuanya bermula ketika saya masih menjadi suami Nafisa, perempuan yang sekarang menjadi calon istri Pak Dewangga.”
Ia berhenti sebentar, kemudian melanjutkan ceritanya dengan menyusun kata-kata agar dirinya tampak sebagai korban.
“Awalnya, Yulia adalah ibu mertua saya. Namun, dia justru menggoda saya sampai akhirnya rumah tangga saya dengan Nafisa hancur. Saya sudah berusaha menjaga jarak, tetapi dia terus memaksa. Bahkan, dia mengancam akan mempermalukan saya jika tidak menuruti keinginannya.”
Damar kemudian sengaja membuat jeda agar apak Adi penasaran.
“Lanjutkan.”
Damar mengangguk. “Saya akhirnya pasrah, Pak. Sampai Nafisa mengetahui hubungan kami dan menceraikan saya. Malam harinya setelah kami resmi bercerai, warga menggerebek rumah dan saat itu saya dirumah Yulia, lalu mereka memaksa kami menikah karena Yulia menuduh saya melecehkannya. Dia bahkan mengaku hamil anak saya.”
Ruang tengah mendadak sunyi.
Damar mengangkat pandangan sekilas. Pak Adi masih menatapnya, membuatnya sulit menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.
“Saya sudah berusaha membantah, Pak. Saya juga ingin melawan, tetapi keadaan saat itu gak memungkinkan. Yulia terus membuat keributan sampai akhirnya saya gak punya pilihan lain.”
Damar sengaja tidak menyebutkan bagian-bagian yang bisa membongkar kebohongannya.
“Saya berani bersumpah, Pak. Anak yang dikandung Yulia itu bukan anak saya,” tambahnya dengan nada meyakinkan.
Pak Adi menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.
“Cukup.”
Damar langsung terdiam. Ia menundukkan kepala, menunggu keputusan calon ayah mertuanya dengan jantung berdebar.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya pria itu kembali bersuara.
“Saya percaya sama kamu, Damar. Kamu mana mungkin melakukan hal kotor seperti itu?”
Damar hampir tak percaya mendengarnya.
Akhirnya.
Ia mengembuskan napas lega, lalu memberanikan diri menatap Pak Adi.
“Jadi, Bapak masih merestui hubungan saya dengan Laras?”
“Ya, jelas dong.” Pak Adi mengangguk mantap. “Saya tidak akan membiarkan masalah seperti ini menghalangi kebahagiaan anak saya. Yang penting, kamu harus bertanggung jawab dan membahagiakan Laras.”
Senyum lega langsung terukir di wajah Damar.
“Terima kasih, Pak. Saya berjanji akan membuat Laras bahagia.”
Pak Adi menunjuknya dengan tatapan serius.
“Saya pegang ucapanmu, Damar. Jangan sampai kamu mengecewakan saya.”
Damar mengangguk mantap. “Tentu, Pak.”
Di sisi lain.
Mobil yang tengah melaju menuju kota, Yulia duduk di kursi samping kemudi sambil menatap lurus ke arah jalanan beraspal yang membentang di hadapan mereka. Pepohonan dan bangunan di pinggir jalan silih berganti.
Namun pikirannya melayang pada sosok pria yang tadi telah menahan tubuhnya yang hampir terjatuh ke tanah.
‘Melihat pria seperti dia, kenapa aku jadi ingin ...’
Yulia segera menggeleng kecil, memutus pikirannya sendiri.
‘Enggak. Jangan mengulangi kesalahan yang sama.’
Yulia menunduk, meremas jemarinya di atas pangkuan. Ia tak ingin kembali terjerumus ke dalam perasaan yang salah, apalagi pada Dewangga yang merupakan calon suami Nafisa.
Nafisa yang duduk di kursi belakang mobil dengan ponsel di tangan. Sejak tadi, perhatiannya tertuju pada layar yang menampilkan rancangan dekorasi pertunangan dengan Dewangga. Ia memperbesar gambar rangkaian bunga, memastikan semuanya sesuai dengan keinginannya.
Setelah merasa puas, Nafisa memiringkan ponselnya ke arah pria yang duduk di sampingnya.
“Dekorasinya sudah jadi. Bagaimana menurut Bapak?”
Dewangga melirik layar ponsel itu sekilas.
“Bagus. Sesuai dengan yang kamu inginkan.”
Nafisa tersenyum tipis, lalu kembali menatap layar ponselnya.
“Cincin kita juga sudah jadi,” lanjut Dewangga. “Jony sudah mengambilnya.”
Nafisa mengangguk.
“Kalau seserahan, semuanya sesuai kesepakatan kita, kan?” tanya Dewangga.
“Iya, Pak.”
Namun, belum kembali memusatkan perhatiannya pada benda elektronik di tangannya, suara Yulia dari kursi depan membuatnya menoleh.
“Kalian sudah kenal berapa lama?”
Nafisa mengerjap. Ia menatap ibunya yang duduk di kursi penumpang depan, lalu melirik Dewangga.
“Kami sudah lama kenal,” jawab Dewangga tenang.
Ibunya Tampak mengangguk.
“Apa kamu dan keluargamu tahu kalau Nafisa seorang janda?”
Jemari Nafisa yang berada di atas pangkuan seketika saling bertaut.
Sebelum Nafisa sempat menjawab, Dewangga lebih dahulu angkat bicara.
“Sudah, Bu. Mereka tahu dan tidak mempermasalahkannya.”
Jawabannya terdengar begitu santai.
Dan bahkan ibunya tak berkata apapun lagi hingga akhirnya keheningan menyelimuti penjuru kabin mobil.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Oh ya, Nafisa.”
Suara ibunya kembali terdengar. Nafisa tak langsung menyahut.
“Ibu sudah tua. Di usia Ibu yang sekarang, Ibu malah sedang mengandung. Ayahmu juga sudah gak ada, sementara pria itu meninggalkan Ibu demi wanita yang dianggap lebih baik daripada Ibu.”
Bu Yulia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah putrinya dengan tatapan penuh harap.
“Bisa gak kamu bantu Ibu?”
Nafisa terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju pada ibunya.
“Bantu apa, Bu?” tanyanya.
“Membantu biaya kebutuhan ibu selama hamil?” tanya Bu Yulia.
Nafisa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Itu ... insyaallah, Bu. Aku bantu sebulan sekali. Ibu catat saja apa yang Ibu butuhkan, nanti aku usahakan.”
“Terima kasih, ya, Naf.”
Nafisa hanya membalas dengan senyum tipis.
Kling!
Suara notifikasi ponsel membuat Nafisa menunduk. Sebuah pesan masuk muncul di layar, menampilkan nama pengirim yang membuatnya spontan menoleh ke samping.
Dewangga ternyata sedang meliriknya.
Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum Nafisa kembali memusatkan perhatian pada ponselnya. Ia membuka pesan tersebut dan mulai membacanya.
Pak Dewangga: Nafisa, saya setuju dengan keputusanmu. Namun, setidaknya kamu harus menjaga jarak dengan ibumu agar kejadian sebelumnya tidak terulang lagi.
Nafisa membeku. Ia menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.
Perlahan, pandangannya terangkat ke arah kursi depan. Yulia sedang duduk dengan tenang, sesekali memandang jalanan di luar jendela.
‘Ibu ...’
Nafisa menelan ludah.
...
“Tidak semua orang yang kita maafkan bisa kembali kita percaya. Sebab, luka mungkin bisa sembuh, tetapi kenangan tentang pengkhianatan akan selalu mengajarkan kita untuk lebih berhati-hati.”
_Nafisa
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.